Jumat, 30 Desember 2016

HUBUNGAN VERTIKAL DAN HUBUNGAN HORIZONTAL -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba"du.

Dhuribat 'alaihimuddzillatu aina maa tsuqifuu illaa bi hablimminallaahi wa hablimminannaas wa baa-uu bi ghadhabimminallaahi wa dhuribat 'alaihimul maskanah. Dzaalika bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi wa yaqtuluunal anbiyaa-i bighairil haq. Dzaalika bimaa 'ashau wa kaanuu ya'taduun. (Qur'an Surah Ali 'Imron : 112)
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah, dan mereka diliputi kerendahan, yang demikian itu karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah, dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar, yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."

Hablumminallah adalah tata hubungan yang diatur antara manusia dengan Tuhannya dalam hal 'ubudiyyah (ibadah vertikal). Sedangkan hablumminannas adalah tata hubungan yang diatur antara manusia dan makhluk lainnya dalam wujud 'amaliyyyah sosial (ibadah horizontal).

Cara pertama dan yang paling utama untuk membina hablumminallah adalah jangan sampai kita berbuat syirik kepadaNya, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik ashgar (syirik kecil) atau syirik khafiy (syirik tersembunyi). Syirik akbar adalah menyekutukan Allah, bahkan meminta bantuan kepada jin ataupun syetan termasuk syirik akbar. Sedangkan syirik ashgar atau syirik khafiy adalah beribadah yang bukan diniatkan semata-mata karena Allah Ta'ala, tetapi hanya mengharapkan pujian manusia terhadap ibadah yang dilakukannya. Kecuali jika ibadahnya itu dilakukan dengan niat untuk memotivasi orang lain, dalam rangka Dakwah dan Syi'ar Islam,  agar orang lain mau beribadah pula, maka itu sama sekali bukan termasuk syirik ashgar, malah hal itu termasuk yang dianjurkan.

Kemudian menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangaNya. Sebagai insan biasa, tentu dalam perjalannya akan menemui kendala dan rintangan dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebagai solusinya, Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa kepadaNya sebisa yang kita mampu.

Setelah itu jangan lupa berdo'a. Betapa angkuhnya kita sebagai manusia jika kita tidak pernah berdo'a kepada Allah. Mengapa kita harus berdo'a? Sebab do'a adalah otaknya ibadah dan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah Ta'ala. Do'a menjadi bukti benarnya iman dan pengenalan seseorang pada Allah Ta'ala. Do'a kita kepada Allah Ta'ala menunjukkan bahwa kita meyakini bahwa Allah itu ada dan Allah Maha Mencukupi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mampu.

Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga merupakan bagian dari hablumminallah. Realitanya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak bershalawat kepada Nabi. Betapa pelitnya kita sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, jika kita tidak bershalawat kepada beliau manakala disebut nama beliau. Siapa pun pasti mengakui bahwa beliau adalah kekasih Allah Ta'ala, dan kita sebagai ummatnya sangat mencintai beliau.

Akhlak yang baik terhadap sesama manusia menjadi wujud dari hablumminannas. Yang pertama harus dijaga dalam akhlak adalah hubungan kita kepada orang tua kita. Kuncinya, keridhoaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua. Saat kita tidak mengasihi orang tua kita, maka Allah pun akan enggan mengasihi kita. Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Al-Qomah radhiyallahu 'anhu pun sampai mengalami kesulitan dalam menghadapi sakaratul maut, karena ketiadaan ridha dari ibundanya yang mungkin bagi kita hanya disebabkan oleh suatu hal yang sepele. Melihat hal ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi sedih bukan kepalang. sebab beliau sangat paham betul akan ketaatan Al-Qomah kepada Allah dan RasulNya. Setelah adanya ancaman untuk membakar Al-Qomah, gertak yang berbentuk ancaman sebagai sebuah usaha terakhir untuk meluluhkan hati ibunda Al-Qomah, akhirnya nurani keibuan ibunda Al-Qomah muncul ke permukaan dan membuat hatinya luluh dan mau memaafkan Al-Qomah.

Bergaul dengan sesama manusia secara baik adalah satu rangkaian dengan taqwa serta menghapus keburukan dengan kebaikan. Rangkaiannya yang benar adalah taqwa -- menghapus keburukan dengan kebaikan -- bergaul dengan sesama manusia secara baik. Bila ada salah satu yang hilang atau pun dihilangkan, berarti ada mata rantai yang hilang. Hablumminallah dan hablumminannas, hubungan vertikal dan hubungan horizontal, ada pada ketiga prinsip tersebut.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  






Senin, 26 Desember 2016

INDAHNYA BERSUCI -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyara
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Syarat sah ibadah dalam Islam adalah thaharah atau bersuci. Bersuci dari hadats besar dan hadats kecil dengan sarana air atau dalam keadaan darurat menggunakan batu atau pun daun. Bersuci dengan cara berwudhu juga menggunakan air, atau dalam keadaan darurat menggunakan debu. Mandi pun, baik mandi wajib mau pun mandi sunnah Jum'at juga menggunakan air.

Seorang Pangeran Arab yang sudah agak uzur, ketika berobat dengan seorang dokter Arab yang bukan beragama Islam bertanya kepadanya, tentang cara menghindari penyakit stroke. Sambil tertawa ringan sang dokter yang beragama Nashrani itu menjawab, "Jawabannya ada di Kitab Suci anda. Lakukan saja cara bersuci menurut agama anda. Bila anda membersihkan hidung anda dengan air sambil menghirupnya sedikit dan mengeluarkannya, itu adalah obat untuk mencegah penyakit stroke."

Biasanya orang yang rutin berinsyiqaq dalam wudhunya, ia jarang sekali terkena penyakit pilek. Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim, beliau menganjurkan melakukan insyiqaq tiga kali dalam berwudhu setelah bangun dari tidur, sebab syetan menginap di rongga-rongga hidung.

Insyiqaq (menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali) bukanlah bagian dari rukun wudhu. Insyiqaq adalah sunnah berwudhu. Yang sunnah saja banyak memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani kita, apalagi yang wajib.

Seorang wanita petugas laundry di Inggris akhirnya masuk Islam setelah mendapati bahwa pakaian-pakaian orang-orang yang beragama Islam yang dicuci di tempat laundrynya tidaklah sejorok dan sebau orang-orang yang lainnya. Setelah mengetahui bahwa orang-orang Islam selalu bersuci setelah terkena hadats kecil dan hadats besar, dan mengetahui kelebihan-kelebihan dari bersuci ini, ia pun akhirnya  mengucapkan dua kalimah syahadah dan menjadi muallaf.

Beberapa manfaat dan hikmah bersuci  adalah, mendidik manusia agar senantiasa hidup bersih, menjaga diri dari penyakit, menjadi cermin keimanan seseorang, serta meningkatkan kualitas hidup seseorang. Bersuci dari hadats jasmani, menjadi jalan menuju kesucian rohani atau kesucian jiwa (tazkiyatunnafs). Kesucian rohani atau kesucian jiwa menjadi absurd tanpa kesucian jasmani.

Sudahkah kita bersuci dengan benar?

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

   

ARE WE MUSLIMS? -- By: Shabrun Jamil (An ordinary man working as Islamic Counselour at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdulillaahilladzii hadaanaa lihaadzaa wa maa kunnaa linahtadiya law laa an hadaanallaah
Wasshalaatu wassalaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin
Wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin.

Ammaa ba'du.

There are three pivotal questions that could be raised to us:

1. Since when we embrace Islam as our religion?
2. What is the hallmark of Islam as our religion?
3. What can abrogate Islam within ourselves?

The definite answers to these questions are:

1. We have been embracing Islam since we were in the womb of our mothers. Qur'an Surah Al-A'raf verse 172 stated:
Wa idz akhadza Rabbuka min banii Aadama min dzuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa. An taquuluu yaumal qiyaamati innaa kunnaa 'an hadzaa ghaafiliin.
"And (mention) when your Lord took from the children of Adam - from their loins - their descendents and made them testify of themselves (saying to them) "Am I not your Lord?" They said, "Yes, we have testified." lest you should say on the day of Resurrection,"Indeed, we were of this unaware."

2. The hallmark of Islam is soul and self purity, by looking up to Allah Ta'ala, looking to the middle to ourselves signs, and looking to the bottom to the nature and its surrounding.

3.  There are some cases that can abrogate Islam within ourselves, they are; making partner or partners to our Lord (Allah Ta'ala), forsaking five times prayer (Shalah) on purpose, convincing of other belief than Islam, conducting blasphemy of Qur'an and Sunnah, insulting Islam, and performing black magic.

Islam refers to the active submission to the One God, Allah Ta'ala. Otherwise, Islam doesn't mean the passive submission to the One God. Islam emphasizes the active submission, not the passive submission. We can conclude that Islam is a dynamic religion based on Qur'an and Sunnah. We can sense "delicious flavor" of Islam when we are performing active submission to Allah Ta'ala in various activities. There is no other resources which are more complet the Qur'an and Sunnah. Reciting Qur'an is very enjoyable. Learning Qur'an and Sunnah is also enjoyable. Believe it!

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 25 Desember 2016

SEMUA TAK SAMA, EGALITARIANISME DALAM PANDANGAN ALLAH YANG TAK MAMPU DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA (BAGIAN 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Karakteristik sebagai katalisator dan problem solver melekat pada diri junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua orang mengakui kesuksesannya mendominasi Jazirah Arab. Ia dinobatkan sebagai ahli perang yang cerdik, seorang manusia yang penuh loyalitas terhadap kemanusiaan, seorang yang ma'shum, juga kesetiaannya menghadapi penindasan dan penganiayaan. Ia dikenal sebagai sosok yang al-amin (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), tabligh (penyampai wahyu dan risalah kenabian), dan shiddiq (perkataannya selalu benar).

Bila kita ingin melihat egalitarianisme atau persamaan hak asasi manusia dalam Islam, maka lihatlah sosok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam merumskan sebuah Piagam yang kemudian disebut dengan Piagam Madinah, sebuah Piagam atau Pakta yang mengatur hak dan kewajian seluruh warga negara dan hubungan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sifatnya yang al-amin ketika mengemban amanah, membuat Piagam Madinah benar-benar teraplikasikan untuk rakyat Madinah secara keseluruhan. Ini adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

Berapa banyak Piagam atau Pakta atau pun Charter yang hanya tinggal tulisan dan tanda tangan di atas kertas. Banyak Nota-nota Kesepahaman yang awalnya sangat kencang dilaksanakan tapi lama kelamaan implementasinya menjadi melempem.

Shahiifatul Madiinah atau Konstitusi Madinah (Piagam Madinah) yang implementasinya sangat kuat menjadi tonggak sejarah awal egalitarianisme, empat belas abad sebelum adanya Universal Declaration of Human Rights.

Allah Ta'ala mengutus seorang manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ke muka bumi sebagai penutup Para Nabi dan Rasul. Egalitarianisme yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah egalitarianisme yang berdasarkan Wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Egalitarianisme transendetal tidaklah berlawanan dengan kehidupan dunia ini. Keilahian bukan semata masuk dalam ranah spiritual yang bersifat pribadi. Keilahian juga mencakup Spiritual Madani. Itulah mengapa bangunan egalitarianisme di negara Madinah disebut Civil Society atau masyarakat yang berperadaban.

Ketidaksamaan dalam kesamaan, dan kesamaan dalam ketidaksamaan, adalah sebuah keniscayaan hidup yang harus diakomodir. Saling mengisi, itulah kuncinya, untuk menjaga harmoni dalam irama hidup. Keadilan yang sebenarnya adalah mutlak milik Allah Ta'ala. Banyak hal dalam hidup ini yang kadang kala tak mampu dicerna oleh keterbatasan logika kita. Nabi Musa 'alahissalam pun akhirnya menyerah untuk mengikui Nabi Khidir 'alaihissalam. Allah Ta'ala menyuruh Nabi Musa 'alaihissalam untuk belajar kepada Nabi Khidir 'alahissalam dengan mengikuti perjalanannya. Namun apa daya, ilmu yang Allah Ta'ala berikan kepada Nabi Khidir 'alaihissalam tak mampu dicerna oleh logika berpikir Nabi Musa 'alaihissalam, walaupun pada zamannya Nabi Musa adalah orang yang paling pintar dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  




SEMUA TAK SAMA, EGALITARISME DALAM PANDANGAN ALLAH YANG TAK MAMPU DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA (Bagian I)-- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF di Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Seorang anak SD kelas lima mendapatkan nilai bagus ketika menerima rapor semesternya. Nilai itu ia dapatkan setelah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Sementara adiknya yang masih kelas dua SD, mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengan abangnya ketika menerima rapor semesternya. Setelah mengetahui adiknya mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengannya, kakaknya seketika melayangkan protes kepada orang tuanya. Isi dari protesnya itu adalah, mengapa adiknya yang belajarnya santai dan tidak sungguh-sungguh mendapatkan nilai yang sama bagus dengannya yang telah sangat giat dan sungguh-sungguh dalam belajar.

Tentu kedua orang tuanya dibuat bingung untuk menemukan jawaban yang tepat serta memuaskan anaknya yang masih duduk di kelas lima SD tersebut. Yang mampu dilakukan oleh kedua orang tuanya hanyalah mencari dan memberikan jawaban yang terbaik dan terbijak untuk anak mereka. Tapi untungnya, sang anak yang duduk di kelas lima SD tersebut karakternya lebih easy going dibandingkan adiknya yang masih duduk di kelas dua SD. Kejadian yang dirasakannya dianggapnya hanya sebagai angin lalu saja. Ia tetap menjadi dirinya sendiri yang tetap giat dan sungguh-sungguh dalam belajar, walaupun mungkin di dalam hatinya ia mengakui bahwa adiknya memang lebih pintar dari dirinya. Mungkin batinnya mengatakan bahwa adiknya yang biasa-biasa saja dalam belajar mendapatkan nilai bagus, apalagi jika adiknya belajar dengan sungguh-sungguh, bisa cumlaude nilainya. Namun demikian, ada dua nilai kelebihan yang dimiliki sang kakak, yaitu nilai kerja keras dan sifat easy going nya.

Dalam hidup ini, semua memang tak sama. Adil memang bukan berarti sama rata. Perpektif keadilan menurut manusia berbeda dengan keadilan Allah. Manusia menuntut egalitarisme dalam segala hal, namun kenyataannya situasi, keadaan, dan fakta yang terjadi sering kali tidak sama dan tidak sesuai dengan tuntutan manusia akan egalitarisme. Jangkauan akal manusia tentang keadilan Tuhan ternyata amat sangat terbatas. Akal manusia hanya mampu menjangkau keadilan dalam tataran perspektif, paradigma, dan stigma. Sedangkan keadilan Allah bersifat absolut. Tak ada yang sanggup masuk ke dalam absolutisme keadilan Tuhan. Allah bersifat AL-HAQQ (Yang Maha Benar). Manusia hanya sanggup mendekati nilai kebenaran, tapi bukan nilai kebenaran mutlak, sebab nilai kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Allah telah menetapkan Syari'atNya untuk dijalankan oleh hamba-hambaNya sebagai sebuah batasan norma-norma kehidupan. Namun demikian, Rahmat Allah yang begitu luas dan Kasih SayangNya membuat kita banyak mendapatkan keringanan dariNya.
Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu'aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih. Wa'fu'annaa waghfir lanaa war hamnaa. Anta Maulaanaa fanshurnaa 'alal qoumil kaafiriin. (Q.S. Al-Baqarah : 286).   

  

Sabtu, 17 Desember 2016

BELAJAR RIDHO TERHADAP QADHA DAN QADAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Belajar ridho terhadap Qadha dan Taqdir Allah Ta'ala berarti belajar untuk Qana'ah. Qana'ah adalah sikap menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat Qana'ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Alla Ta'ala.

Proses Qana'ah terjadi setelah adanya ikhtiyar dan ijtihad kita. Sangat tidak pantas bagi kita untuk ber-Qana'ah tanpa berusaha dan berupaya dengan maksimal. Belum apa-apa sudah bilang Qana'ah tanpa berupaya dan berusaha terlebih dahulu sebelumnya, jelas itu namanya Kasal atau sikap malas. Pelakunya disebut Kaslan atau orang malas. Allah melarang kita memiliki sifat Kasal tadi.

Qana'ah memiliki fungsi stabilisator, yakni seorang muslim yang memiliki sifat qana'ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. Qana'ah juga memiliki fungsi dinamisator, yaitu bahwa kekuatan batin akan mendorong seseorang untuk meraih kemenangan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah Ta'ala.

Ketika Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya, "Bagaiman hukum ridha kepada qadar (taqdir Allah), apakah do'a dapat mengubah Qadha?, beliau menjawab: "Ridha pada Qadar hukumnya wajib, karena hal itu termasuk kesempurnaan ridha terhadap rububiyyah Allah. Maka setiap mu'min harus ridha kepada Qadha Allah. Namun Muqadha (sesuatu yang diqadha atau ditetapkan sebelum taqdir) masih perlu dirinci, karena sesuatu yang diqadha berbeda dengan Qadha itu sendiri. Qadha adalah perbuatan Allah, sedangkan sesuatu yang diqadha adalah sesuatu yang dikenai Qadha. Maka Qadha yang merupakan perbuatan Allah harus kita relakan dalam kondisi apa pun, dan kita tidak boleh membencinya selamanya."

Kunci sikap ridha terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala adalah sikap Qana'ah. Tanpa password Q-a-n-a-a-h, tidak akan terbuka sikap ridha kita terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala. Dengan sikap Qana'ah, akan terimplementasi pula sikap hidup Radhiitu Billaahi Rabbaa, Wa Bil Islaami Diinaa, Wa Bi Muhammadin Nabiyyaa Wa Rasuulaa.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Jumat, 16 Desember 2016

NEVER GIVE UP ON ALLAH'S GRACE AND MERCY -- By: Shabrun Jamil (Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wal 'Aaqibatu Lil Muttaqiin
Wa Laa 'Udwaana Illaa 'Aladdzaalimiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Wa law laa fadhlullaahi 'alaikum wa rahmatuhuu fiddunyaa wal aakhirati lamassakum fii maa afadhtum fiihi 'adzaabun 'adziim.(Qur'an Surah An-Nur verse 14)
"And if it had not been for the favor of Allah upon you and His mercy in this world and the hereafter, you would have been touched for that (lie) in which you were involved by a great punishment."

'An Abdillaah ibni 'Abbaasin radhiyallaahu 'anhumaa 'an Rasulillaahi shallallaahu 'alaihi wa sallam fii maa yarwiihi 'an Rabbihii Tabaaraka Wa Ta'aalaa Qaala: Innallaaha katabal hasanaati wassayyi-aati tsumma bayyana dzaalika, faman hamma bihasanatin wa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa 'amilahaa katabahallaahu 'indahuu 'asyra hasanaatin ilaa sab'imi-ati dhi'fiin ilaa adh'aafin katsiirah. Wa in bi sayyi-atin fa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa'amilahaa katabahallaahu sayyi-atan waahidatan (rawaahul bukhaary wa muslim).
"On the authority of Abdullah ibn Abbas (may Allah be pleased with him) from the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) from what he has related from his Lord: Verily Allah Ta'ala has written down the good deeds and the evil deeds and then explained it (by saying): Whoever intended perform a good deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended to perform it and then did not perform it, then Allah writes it down with Himself as from ten good deeds up to seven hundred times, up to many times multiplied. And if he intended to perform an evil deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended it, and then perform it, then Allah writes it down as one evil deed."

Some of us might think that Islam teaches that paradise can be earned by one own's deeds. Actually, it is only Allah's Grace and His Mercy which allows us to enter paradise. Allah is The Forgiver, and to claim that man can grant forgiveness is to take away from Allah's Names and Attributes.

No one will attain eternal Salvation due to his own level of faith or deeds, but rather, it is only achieved through Allah's Grace. Even the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) would only enter paradise due to Allah's Grace.

Grace and Mercy are such elusive words in Qur'an. We might understand Grace as Loving, Mercy, Forgiveness, and Compassion. From an understanding of Grace and Mercy we have opportunity to know Allah better.

We have to keep all our hope to Allah, The Glorified, and never have hope in anyone other than Him, for indeed no one has hoped in other than Allah, The Exalted, but that he has been dissappointed. The greatest affliction is the severence of hope. Hope in the Mercy of Allah brings more success.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.





ANTITESA TERHADAP AJARAN ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Irghaaman Liman Jaahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyar
Allaahumma Fashalli Wa Sallim 'Alaa Haadzannabiyyil Kariim
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Pasca Perang Salib I & II serta pasca Perang Dunia kesatu dan kedua, orang-orang Barat sangat intens mempelajari Islam tanpa perlu memeluk agama Islam terlebih dahulu. Tujuannya adalah menguliti ajaran-ajaran Islam untuk kemudian merusak Islam dari dalam.  Kenyataannya, semakin mereka mempelajari Islam, semakin mereka menemukan kebenaran Islam. Namun demikian, tesis kebenaran ajaran Islam selalu mereka counter dengan membuat antitesis terhadap ajaran Islam. Orang-orang Barat yang mempelajari Islam kita sebut sebagai orientalis. Walaupun sebenarnya arti orientalis adalah orang-orang yang mempelajari masalah ketimuran (orientalisme), namun stigma orang-orang Barat yang mempelajari Islam telah terlanjur mengakar.

Para orientalis, menurut Edward W Said yang juga seorang orientalis, memiliki beberapa kelemahan. Satu kelemahan yang paling mendasar adalah para orientalis tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab (sastra dan gramatikanya) yang memadai, sehingga tidak memiliki sense of language atau rasa bahasa yang cukup, dan membuat konteksnya tidak sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Pada hakikatnya, pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun Al-Qur'an juga dipelajari oleh orang-orang Yahudi Madinah. Mereka mempelajari Al-Qur'an bukan untuk mengimaninya, tetapi malah mengolok-oloknya. Olokan-olokan kaum Yahudi terhadap ayat-ayat Allah dalam Kitab-kitab suciNya sudah dilakukan sejak zaman para Nabi terdahulu. Bahkan mereka sengaja merubah ayat-ayat Allah. Kitab Injil telah menjadi korban kejahilan mereka, apalagi Kitab Taurat. Bahkan akhirnya kaum Yahudi menggunakan Kitab karangan mereka sendiri, yaitu Tabut.

Afatathma'uuna ayyu'minuu lakum wa qad kaana fariiqumminhum yasma'uuna kalaamallaahi tsumma yuharrifuunahuu mimba'di maa 'aqaluuhu wa hum ya'lamuun. (Q.S. 2: 75)
"Maka apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya."

Adakah Al-Qur'an dan As-Sunnah mengalami perubahan sampai saat ini. Seringkali Al-Qur'an dinistakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab, baik dengan dalih ilmiah maupun dengan dalih politik. Tapi tetap, Al-Qur'an terjaga keasliannya.

Iblis la'natullah dan syetan-syetan akan terus berusaha dengan segala upaya untuk membuat kita ragu dengan tesis kebenaran ajaran Islam. Sampai saat menjelang sakaratul maut, syetan akan terus berusaha untuk menggelincirkan keyakinan kita terhadap ajaran Islam. Di situlah pertarungan seorang manusia dalam melepas masa hidup di dunia, apakah husnul khatimah ataukah suu-ul khatimah.

Mudah-mudahan kehidupan kita berakhir dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.








Selasa, 13 Desember 2016

ANTITESA TERHADAP AGAMA ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 1)-- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Ketika saya kecil, banyak orang yang mengakronimkan ISLAM sebagai singkatan dari I(Isya), S(Shubuh). L(Lohor atau Dzuhur), A(Ashar), dan M(Maghrib)."Plesetan positif" ini seperti layaknya "ijtihad" khayalak umum. Sah-sah saja mereka memberikan stigma seperti itu, sebab tiang-tiang Agama Islam adalah 5 shalat fardhu tadi.

Kata ISLAM secara lughawiy adalah bentuk mashdar (infinitive) dari kata aslama -yuslimu. Islam memiliki beberapa makna, yaitu damai, penyerahan total kepada Allah, bersih dan suci, serta selamat dan sejahtera.

Dalam kaca mata terminologi, Islam diistilahkan sebagai "ketundukan seorang hamba kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul khususnya Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam yang dijadikan pedoman hidup, juga sebagai hukum atau aturan Allah Ta'ala yang dapat membimbing ummat manusia ke jalan yang lurus, menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat."

Banyak orang yang berusaha untuk mengorek-ngorek Agama Islam, ajaran Islam, Kitab Suci Agama Islam, hukum Islam, bahkan mengulitinya, hanya dengan satu tujuan, yaitu menemukan kelemahan Islam untuk mengolok-oloknya. Kenyataannya, semakin Islam dipelajari dengan benar, semakin mereka menemukan kebenaran Islam, kesesuaian hukum Islam dengan fitrah manusia. Semakin mereka mengorek-ngorek Kitab Suci Agama Islam (Al-Qur'an Al-Karim), semakin mereka menemukan kesesuaian Al-Qur'an dengan fenomena alam semesta dan fenomena makhluk yang ada di muka bumi, khususnya makhluk yang bernama manusia.

Itulah mengapa Islam dianggap sebagai sebuah tesis kebenaran. Namun demikian, banyak orang yang berusaha membuat antitesis terhadap Islam. Upaya-upaya membuat antitesis terhadap Islam bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bukan pemeluk Agama Islam, bahkan sekelompok pemeluk Agama Islam pun melakukannya.

Islam adalah Islam, agama yang rahmatan lil 'aalamiin. Islam tidak bisa diaduk dengan kapitalis, sekularis, liberalis, sosialis, dan komunis.  Tesis kebenaran Islam adalah Islam itu sendiri. Antitesis terhadap Islam adalah ajaran-ajaran yang sudah disebutkan tadi. Al-Qur'an adalah Al-Qur'an, dan memiliki metodologi penafsirannya sendiri. Al-Qur'an tidak bisa digiring kepada metodologi penafsiran heurmeneutika, sebuah metodologi penafsiran Bibel.

Begitu besarnya dana yang digelontorkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk membalikkan tesis kebenaran menjadi antitesis. Gelontoran dana super besar itu diterima dengan sigap dan cepat para sarjana dan tokoh muslim. Tanpa kebulatan iman di dada, hukum supply and demand proyek besar penggerusan Agama Islam pun jadi berlaku. Ada yang awalnya hanya dijebak saja, tapi lama kelamaan semakin ketagihan dan semakin padam cahaya Islam di dalam dadanya.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

     

Senin, 12 Desember 2016

MECCA LIBERATION, A GREAT HISTORY OF ISLAM -- By: Shabrun Jamil (Islamic Counselor of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.

The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam saw in his dream one that the believers would enter Masjidil Haram and walk around the Ka'bah. The next day he immediately gave this good news to his ummah, since they had migrated from Mecca to Medina with him and supposed that they had not been able to return.

Laqad shadaqallaahu rasuulahurru'yaa bilhaqqi latadkhulunnal masjidal haraama insyaa Allaahu aaminiina muhalliqiina ru-uusakum wa muqasshiriina laa takhaafuun. Fa'alima maa lam ta'lamuu fa ja'ala min duuni dzaalika fathan qariibaa (Surah Al-Fath verse 27).
"Allah has confirm His messenger's vision with truth: You will enter the Masjid al-Haram (the Sacred Mosque) in safety, Allah willing, shaving your head and cutting your hair without any fear. He knew what you did not know and ordained, in place of this, an imminent victory."

The Meccan tribe of Quraysh and the Muslim Community in Medina signed a 10 year-truce c alled Treaty of Hudaybiyah in 628 CE. The Arab tribes were given the option of joining on of these two parties, the Muslims or Quraysh. As a result, Banu Bakr joined Quraysh, and Khuza'ah joined Muhammad. They then lived in peace for some time, but ulterior motives stretching back t the pre-Islamic period, ignited by unabated fire of revenge, triggered fresh hostilities. Banu Bakr, without concern for the provisions of the treaty, attacked Banu Khuza'a in a place called Al-Wateer in Sha'ban, in 8 AH. Qurasyh helped Banu Bakr with men and arms, taking advantag of the dark night. Pressed by their enemies, the trbesmen of Khuza'a sought the Holy Sanctuary, but here too, their lives were no spared, and contrary to all accepted traditions, Nawfal, the chief of Banu Bakr, chased them in the sanctified area, where no blood should be shed, and massacred his adversaries. Khuza'a at once sent a delegation to Medina to inform Muhammad of this breach of truce and to seek help from Muslims o Medina as their allies.

Right after the incident, Quraysh sent a delegation to Muhammad, petitioning to maintain the treaty with the Muslims and offering material compensation. The Muslim forces had gathered in strength t settle account with Quraysh and for the final attack and the opening of Meca. On the eve of the opening, Abu Sufyan adopted Islam. When asked by Muhammad, he conceded that the Meccan gods had proved powerless and that there was indeed 'no god but Allah', the first part of the Islamic confession of aith. In turn, Muhammad declared Abu Sufyan's house a sanctuary because he was the present chief, and that all th others were gathered over his territory.

When Sa'ad passed by Abu Sufyan with th banner of the Prophet on the day Mecca was liberated, he announced, "O Abu Sufyan! Today is a day of slaghter! Today the unlawful will be lawful! Today Allah wll disgrace the Quraish! So the Messenger of Allah, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam said, "O Abu sufyan, today is a day of mercy. Today Allah will honor the Quraysh."

Such a great history had been made by over 10,000 Muslims who liberated Mecca in a very peace situation. TAKBIR, TAHLIL, TAHMID, reverberated in the sky of Mecca.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHAU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.






Sabtu, 10 Desember 2016

KAMI MERINDUKANMU WAHAI RASULULLAH (Bagian 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna 'alannabiyy yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. (Q. S. Al-Ahzaab ayat 56).
"Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

Makna shalawat Allah kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah pujian Allah kepada Nabi di hadapan para malaikatNya. Shalawat malaikat kepada Nabi adalah mendo'akan beliau. Shalawat ummatnya berarti permohonan ampun kepada beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan rasulNya Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para malaikat, dan para malaikat pun mendoakan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam yang terendah, yaitu bumi.

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Man shallaa 'alayya aw sa-ala lii al-wasiilata haqqat 'alaihi syafaa'atii yaumal qiyaamah. "Barang siapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapat wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa'atku pada Hari Kiamat nanti."

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, man shallaa 'alayyaa waahidatan shallallaahu 'alaihi 'asyran. "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (H.R. Muslim)

Aktsiruu 'alayyaa minasshalaati fii kulli yaumi jumu'ah fa inna shalaata ummatii tu'radhu 'alayya fii kulli yaumi jumu'ah, fa man kaana aktsaruhum 'alayya shalaatan kaana aqrabuhum minnii manzilatan. "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Karena shalawat ummatku akan diperlihatkan kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Barang siapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat nanti." (H.R. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, derajat haditsnya adalah hasan lighairihi).

Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah kekasih Allah Ta'ala. Begitu besarnya cinta Allah Azza Wa Jalla kepada hamba dan Nabinya. Terlebih lagi kita sebagai hamba Allah Ta'ala. Bila kita belum mencintai Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam, berarti ada yang salah dengan diri kita. Mungkin kita belum terbiasa menjalankan sunnah-sunnahnya. Atau mungkin pula kita amat jarang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Keterkaitan antara meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan pertanda kesempurnaan imannya.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.






Kamis, 08 Desember 2016

KAMI MERINDUKANMU WAHAI RASULULLAH (Bagian 1) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqqi Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Muhammadin Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Dari manakah Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam berasal? Semua pasti bisa menjawab, bahwa beliau berasal dari Jazirah Arab, tepatnya dari Mekkah. Apakah sama watak Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa salllam dengan watak orang-orang Arab pada umumnya. Bagi yang telah mempelajari Sirah Nabawiyyah (Sejarah Nabi) dan lama bergaul dengan orang-orang Arab selama bertahun-tahun dan tinggal di negara Arab pula, pasti akan menemukan perbedaan yang sangat jauh antara watak orang-orang Arab pada umumnya dengan watak Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam seperti yang diungkapkan dalam Sirah Nabawiyyah.

Sampai saat ini watak orang-orang Arab memang masih dikenal keras. Tetapi watak Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam amat lembut dan amat mulia. Hanya orang-orang Arab yang mempraktekkan Sirah Nabawiyyah sajalah yang mampu  bersikap lembut dan bersikap mulia. Dalam hal ini saja sudah terbukti bahwa Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah di muka bumi ini bukan hanya untuk orang-orang Arab, tetapi untuk sekalian alam. Apa jadinya Jazirah Arab tanpa diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Syeikh (Prof. Dr.) Maliki Al-Hasani (Allah Yarham) pernah dbukakan kassyaf  oleh Allah Ta'ala ketika berada di dalam ruangan makam Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dari garis Hasan (cucukda Nabi). Ketika itu beliau melihat sosok Nabi yang sedang mencari orang-orang Indonesia seraya berkata; "mana orang-orang Indonesia, aku mencintai mereka dan mereka mencintaiku". Sejak mengalami kejadian itu, Syeikh Maliki datang ke Indonesia dan mengunjungi sebagian Ulama-ulama yang ada di Indonesia. :Tentu saja Ulama-ul khair  (Ulama yang lurus) dan bukan Ulama-ussuu (Ulama yang sudah tidak lurus lagi), sebab Ulama-ul khair adalah para pewaris Nabi.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di dunia, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebut umatnya sebanyak tiga kali ummatii..ummaatii...ummatii...(ummatku...ummatku...ummatku). Begitu besar cinta Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi  wa sallam kepada ummatnya. Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kullu Nabiyyin sa-ala su-aalan aw qaala likulli Nabiyyin da'watun qad da'aa bihaa fastujiiba faja'altu da'watii syafaa'atan li-ummatii yaumal qiyaamah. "Semua Nabi memohon permohonan, atau semua Nabi mempunyai do'a yang ketika mereka berdo'a dikabulkan, maka kujadikan do'aku adalah syafaat untuk ummatku di Hari Kiamat". 

Minggu, 04 Desember 2016

SWEET MEMORY OF 212 , THE POWER OF DZIKRULLAH ON JUMU'AH KUBRO -- By: Shabrun Jamil (Islamic Conselour of Religious Affair Ministry of Tangerang District)




Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


The National Movement To Guard Indonsian Council of Ulama's Fatwa (GNPF MUI) has been succeded in organizing 212 Rally last Friday with estimated over 7 million  participants.Muslim's people came from various provinces to gather at Monas Park as the hub of the 212 rally. In fact, 212 participants overwhelmed until Cempaka Putih Road. They hailed TAKBIR and Shalawat from the start of their trip from their own district.

Muslims people waived some flags of "Laa Ilaaha Illallaah Muhammadurrasuulullah" along with "Red & White" National Flag. Takbir...Takbir..and Takbir. Shalawat....Shalawat...and Shalawat.   The rally is full of dzikrullah and shalawat. These shaking words really shake participants' hearts. Even the viewers  of some TV channels are completely amazed by this news, since they testify that Monas and HI surroundings are overwhelmed by 212 rally Muslims participants.

Indonesians witnessed this hillarious gathering through some channels of television and social media. Most of the people showed their amazement on this rally. At the hub of the venue of the rally, many national leaders delivered their speech. They are Habib Riziq Syihab, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Arifin Ilham, Aa Gym, K.H. Saefudin Amsir, Police General Tito Karnavian and many more. Over 7 million participants of the rally hailed TAKBIR in most of the time. In the middle of the rally, the participants were told to stand up and sing the National anthem of Indonesia. Right after National anthem, TAKBIR..TAKBIR...TAKBIR..were hailed again and again.

The rally of 212 is all about belief's call. It is about Al-Qur'an's call. The rally participants were just called to show the greatness of Qur'an, after the blasphemy of Qur'an Surah Al-Ma'idah verse 51 which was committed by Basuki Tjahaya Purnama. He is suspected of Qur'an blaphemy by Police, as his case now has been carried on to General Attorney.

It seemed that the rally participants were called directly by Allah Ta'ala. For the sake of Allah, there is no one of any big bosses sponsored them. Even they sponsored their own selves. They really showed the truth of Qur'an verse, wa ta'aawanuu 'alal birri wat taqwaa wa laa ta'aawanuu 'alal itsmi wal 'udwaan.

The participants spontanously cried togother upon a very touching pray led by ustadz Arifin Ilham. Amid his pray, Ustadz Arifin Ilham pleaded The Almighty Allah with a humble heart that Basuki Tjahaya Purnama would convert to Islam. Generally, the pray begged The Almighty Allah for the goodness of the country.

At last, The President of Republic of Indonesia, Joko Widodo, together with the Vice President Jusuf Kalla, TNI General Gatot Nurmantyo, and many ministers, came to the venue of the rally to attend Jumu'ah prayer. Takbir voices reverberated in the sky of Jakarta. We did Jumu'ah prayer amid a blessing rain.

Upon leaving the venue arter finishing the rally, the participants clean the spot from rubbish and put all the rubbish in the garbage bags which were available at every corner of the venue.

The rally left a clean condition at Monas Park, as the management of Monas admitted it. The rally of 212 really represented Islam values at whole, phisycally and spiritually. The rally of 212 was well organized, and the participants were well mannered.

Indonesia belongs to Allah Ta'ala. The Almighty Allah has bestowed Muslims to manage this country.

Praise be to Allah, we are 212 alumni.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ANSTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Rabu, 30 November 2016

A BLESSING UNIVERSAL RELIGION (PART 1) -- By: Shabrun Jamil (An Islamic Counselor at Rligious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'aladdiini  kullihii wa law karihal kaafiruun
Allaahumma fashalli wa sallim wa baarik 'alaa Sayyidinaa Muhammad
Wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


It is no doubt that Islam is a blessing universal religion in that its Prophet was sent to all humankind of the world, whatever their race, colour, culture, traditions and geographical location, as stated by the Qur'an Surah Al-Anbiya verse 107: WA MAA ARSALNAAKA ILLAA RAHMATAN LIL 'AALAMIIN.
"We have only sent you (O Muhammad) as a mercy to all the worlds."

All different human traditions are respected by Islam, and it does not require new Muslims to change their own traditions unless they contradict some of the Islamic teachings. In other word, any tradition that go against Islamic teachings has to be changed and replaced with a better replacement. Muslims' tradition that are not in accordance with Islam as well as its teachings must not be considered 'Islamic'.

Countless blessings upon us has been bestowed by Allah. He has created everything in the universe for us: the sun, the moon, the heavens and the earth, and some more countless things.

Allah's favours upon us are very great. He has chosen us and made us the best community that has ever been brought forth for the good of mankind. In order to sustain benefiting from such immense blessing, we need to express gratefulness to Allah for bestowing such a favour upon us.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA
ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.






Selasa, 29 November 2016

PEMBUNUHAN KARAKTER, SEBUAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Biyadihil Mulku Wa Huwa 'Alaa Kulli Syai-in Qadiir.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Habiibinaa Wa Syafii'inaa Wa Dukhrinaa Wa Maulaanaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Yaa ayyuhalladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun bi nabain fatabayyanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin. (Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6).
"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya."

Yaa ayyuhalladziina aamanujtanibuu katsiiran minaddzanni inna ba'dhadzzanni itsmun wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhan. (Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12)
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berprasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah saling mencela satu sama lainnya."

Annannabiyya shallallaahu 'alaihi wa sallama qaala: alaa ukhbirukum bikhiyaarikum. qaaluu: balaa yaa Rasuulallaah, qaala: alladziina ru-uu dzukirallaahu Ta'aalaa, qaala alaa ukhbirukum bisyiraarikum, al-musaa-uuna binnamiimati wal mufsiduuna bainal ahibbati, al-baaghuuna lil burraa-i (rawaahu Ahmad).
"Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kalian aku beritahu siapa orang-orang terbaik di antara kalian?" Para Sahabat menjawab: "Mau, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Yaitu orang-orang yang jika terlihat maka nama Allah yang pasti disebut-sebut.." Beliau melanjutkan, "Maukah kalian aku beritahu siapa orang-orang yang terburuk di antara kalian? Yaitu orang-orang yang suka ke sana ke mari menebarkan desas-desus, merusak (hubungan) di antara orang-orang yang mencintai, dan berusaha menimbulkan kerusakan serta dosa di tengah-tengah orang-orang yang bersih."

Banyak kita temui pada masa kini sekelompok orang atau beberapa kelompok yang gigih dalam usaha-usahanya untuk mencoreng reputasi seseorang. Hal-hal seperti ini memiliki sebuah istilah populer, yaitu pembunuhan karakter. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar terhadap orang yang dituju. Pembunuhan karakter merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik dan dapat berupa argumen ad hominem. Ad Hominem berarti tertuju pada pribadi atau karakter seseorang, suatu upaya untuk menyerang  kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut. Penalaran Ad Hominem biasanya dipandang sebagai kesesatan logika. 

Biasanya ada satu hal yang pasti dilakukan oleh para pembunuh karakter bila mana mengalami jalan buntu, baik itu dalangnya maupun pelakunya, yaitu menghalalkan segala cara. Namanya juga membunuh karakter seseorang, jelas menggunakan cara yang tidak halal. Praktek pembunuhan karakter tak terlepas dari usaha perebutan kekuasaan, jabatan, atau pun perebutan uang.

Usaha pembunuhan karakter biasanya masuk lewat jalur pergunjingan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pergunjingan (baik bersifat nyata maupun virtual) sulit dihindari oleh manusia dalam statusnya sebagai makhluk sosial. Dalam kesehariannya manusia saling berbicara tentang hal-hal ringan, sekedar berbasa-basi, dan saling bertukar canda. Namun kadang kala percakapan akan berlangsung eksesif (berlebihan). Sebagai konsekwensinya, percakapan eksesif akan mengarah kepada pergunjingan sehingga membuka dan menyebarkan aib orang lain.

Biasanya pembunuhan karakter dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah cara terselubung melalui fitnah yang sengaja disebar. Cara kedua adalah cara terbuka melalui propaganda. media massa dan pencitraan negatif. Berita atau informasi yang disuguhkan terus menerus, secara tidak langsung akan mencuci otak para pemirsanya dan menanamkan nilai-nilai baru sebagaimana dimuat dalam berita tersebut.

Biasanya korban pembunuhan karakter adalah individu yang terlibat persaingan. Bisa pula korbannya adalah seseorang yang mempunyai status sosial yang tinggi, mempunyai pengaruh, kekuasaan, dan reputasi. Yang paling sering menjadi korban pembunuhan karakter tingkat tinggi adalah yang merepresentasikan kekuatan ideologis, teoritis, sosial politik, partai, atau pun pergerakan massa.

Ya ALLAH Ya Rabb! Lindungilah kami dari pembunuhan karakter! Amin!

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.












URGENSI SEJARAH (BAGIAN 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.


Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Kitabnya Al-Muqaddimah, mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat, umat manusia, peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat, seperti kelahiran, keramah tamahan, dan solidaritas golongan, tentang revolusi dan pemberontakan rakyat melawan golongan lain. akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara dengan tingkatan bermacam-macam kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencapai kemajuan kehidupannya, berbagai macam ilmu pengetahuan, dan pada umumnya tentang segala macam perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.

Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan sosiologi dengan observasi sejarah. Menurut Ibnu Khaldun, suatu fenomena sosial mustahil muncul dengan sendirinya. Selalu ada faktor pemicu seseorang atau sekumpulan masyarakat untuk melakukan perbuatan tersebut. Selain itu, suatu peristiwa juga pasti memiliki kaitan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya, yang menjadi faktor pemicu dari rangkaian peristiwa tersebut.

Rangkaian peristiwa yang terjadi akan memberikan makna pada sejarah. Sejarah adalah hasil dari proses dialektika manusia dengan sesamanya serta dengan alam tempat manusia tinggal. Sejarah bukanlah dongeng yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebaliknyam, ia adalah realitas empiris yang benar-benar terjadi. Untuk menjadi otentitasnya, sejarah perlu pembuktian. Karena dengan begitu banyaknya versi-versi sejarah yang berseliweran, dikhawatirkan akan mencederai sejarah itu sendiri.

Banyak kata dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Arab. Salah satu contohnya adalah kata "kursi" yang berasala dari kursiyyun, sebuah kata dalam Bahasa Arab. Demikian pula hanya dengan kata "sejarah". Secara etimologi, "sejarah" berasal dari Bahasa Arab, yaitu syajaratun atau syarajah, yang artinya adalah pohon. Pohon adalah simbol kehidupan. Di dalam pohon terdapat bagian-bagian seperti batang, ranting, daun, akar, dan buah. Bagian-bagian dari pohon itu memiliki hubungan yang sangat terkait dan membentuk pohon tersebut menjadi hidup. Ada dinamika yang bersifat aktif. Dinamika tersebut terus-menerus terjadi beriringan dengan waktu dan ruang di mana kehidupan itu ada. Sama seperti pohon, sejarah bersifat dinamis. Tidak ada sejarah yang bersifat statis. Dinamika sejarah adalah sebuah keniscayaan.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA  ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

URGENSI SEJARAH (Bagian 1) Oleh: Shabrun Jamil -- Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaabba Wahdah
Allaahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.

URGENSI SEJARAH



Sebanyak dua pertiga dari isi keseluruhan Al-Qur'an Al-Karim adalah kisah masa lalu. Kisah di sini adalah sebuah realita yang telah berlalu, dan itu yang disebut dengan sejarah.  "Yang lalu biarlah berlalu", ungkapan tersebut memiliki relevansi dalam konteks memaafkan kesalahan orang lain yang bersifat individu, bukan dalam konteks sejarah.  Al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 18 sangat menekankan pentingnya memperhatikan sejarah untuk keberlangsungan masa depan. Kita memang tidak hidup pada masa lalu, tetapi masa lalu akan membawa kita ke masa depan.

Pesan-pesan sejarah dapat kita tangkap untuk kembali menciptakan sejarah. Allah Ta'ala memberikan tuntunan kepada kita bahwa untuk mencapai masa depan, kita harus menoleh sebentar ke masa lalu. Sejarah memberikan kita pelajaran yang sangat berharga bagi kita sebagai pelaku sejarah, agar kita dapat menciptakan sejarah yang benar.

Al-Qur'an Surah Hud ayat 120 menjelaskan kepada kita tentang empat fungsi sejarah: Wa kullan naqusshu 'alaika min anbaa-irrusuli maa nutsabbitu bihii fu-aadaka wa jaa-aka fii haadzihil haqqu wa mau'idzatuwwadzikraa lil mu'umininn.
"Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu kami teguhkan hatimu, dan di dalamnya telah Kami teguhkan kepadamu (segala) kebenaran, nasehat (pelajaran), dan peringatan bagi orang yang beriman."

Empat fungsi sejarah menurut ayat tersebut di atas adalah:
1. Sejarah berfungsi sebagai peneguh hati.
2. Sejarah berfungsi sebagai pengajaran.
3. Sejarah berfungsi sebagai peringatan.
4. Sejarah berfungsi sebagai sumber kebenaran.

Dari masa ke masa, sejarah dan peradaban Islam menjadi bagian terpenting yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan kaum muslimin. Melalui pemahaman sejarah dengan baik dan benar, kaum muslimin dapat bercermin untuk mengambil banyak pelajaran, dan membenahi kesalahan dan kekurangan di masa lalu sehingga kejayaan dan kemuliaan dunia dan akhiran akan dapat diraih.

Keberadaan sejarah dapat memberikan kesadaran waktu, yaitu kesadaran bahwa kehidupan akan senantiasa mengalami, pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan.

Menurut Louis Gotschalk dan Nugroho Notosusanto, ada enam manfaat dari sejarah, yaitu:
1. Edukatif.
2. Inspiratif.
3. Instruktif.
4. Rekreatif.
5. Pendidikan politik.
5. Pendidkan masa depan.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU  ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Jumat, 25 November 2016

HAYYA 'ALAL FALAAH (LET'S HURRY TO SUCCESS) By: Shabrun Jamil (Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaahilladzii Khalaqassamaawaati Wal Ardha Wa Maa Fiihinna
Allaahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aali Sayyidinaa Muhammad  Wa Shahbihii Wa Man Waalah.


Ammaa Ba'du.




Falaah is the Arabic word for success. Muslims of all ethnicities are familiar with this word. We hear it every day in the call of prayer, "....Hayya 'alal falaah! (Let's hurry to success). Come to prayer means come to success. Such words are the call saying to the believers. We will find success in the prayer, in sustaining our connection to Allah Ta'ala.

We could say that the definition of success includes our trust in God. Do what is required, make an effort, and leave the revenue to God. Our Prophet Muhammad peace be upon him has explained to the believers that all their affairs are amazing. He said in his Hadits: "How wonderful is the affair of the believer, for his affairs are all good, and it applies to no one but the believer. If something good happens to him, he is thankful for it, and that is good for him. If something bad happens to him, he bears it with patience and that is good for him." Trusting Allah Ta'ala means that there is no failure. Barriers and difficulties just a minor glitch on the road to ultimate success.

Someone is considered successful and on the road to ultimate success because of his attitude, his intention, and his ability to trust God's promise.

Qad aflaha man zakkaahaa. Wa qad khaaba man dassaahaa. He will indeed be successful  who purifies his ownself. And he will indeed fails who corrupts his ownself. (Qur'an Surah Assyamsy verses 9-10).

The moment when we are successful and the way how to be successful are taught by Allah Ta'ala throughout the Qur'an. God also tells us when we are failing, and when in fact we are losing or in lose. However, success in Islam is not only one way success (merely in the world), but also two ways success (in the world and in hereafter).



SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.










NASEHAT ADALAH SPIRIT AGAMA (BAGIAN 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullaahu berkata: "Sesungguhnya aku sedang menasehati kamu, bukanlah berarti akulah yang terbaik dalam kalangan kamu. Bukan juga yang paling shaleh dalam kalangan kamu, karena aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu menyampaikan dakwah apabila dia sempurnya, niscaya tidak akan ada pendakwah.Maka akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan."

Seringkali Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada Abu Dzar Al-Ghifari. Nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari bukan semata hanya untuk dirinya saja, tetapi juga untuk ummat Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam.

Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyampaikan empat poin penting sebagai nasehat kepada Abu Dzar Al-Ghifary, yang menjadi bekal yang sangat berharga dalam hidup.
Empat hal tersebut adalah:
1. Yaa Abaa Dzarrin, jaddidissafiinata fa innal bahra 'amiiqun.
    Wahai Abu Dzar, perbaikilah perahumu, karena lautan ini teramat dalam.
2.Wa Khudzizzaada kaamilan, fa innassafara ba'iidun.
   Persiapkanlah bekal yang cukup, karena perjalanan ini teramat jauh.
3. Wa khaffifil hamla fa innal 'aqabata ku'uudun.
    Ringankanlah beban bawaanmu, karena pendakian ini akan sangat melelahkan.
4. Wa akhlishil 'amala, fa innannaaqida bashiirun.
    Dan ikhlaskanlah perbuatanmu karena Sang Maha Peneliti Amal (Allah Ta'ala) Maha Melihat.

"Kendaraan" untuk perjalanan mengarungi kehidupan ini harus kita rawat secara apik. Rusak sedikit saja "kendaraan" kita, akan membuat perahu tenggelam, pesawat oleng dan jatuh, mobil akan mogok di tengah jalan. Yang dimaksud dengan "kendaraan" di sini adalah hati yang lapang.

Yang menjadi bahan bakarnya adalah sabar, syukur, ikhlas, dan tawakkal.

Bekalnya adalah ilmu dan amal. Ilmu yang diamalkan dan amaliah yang berdasarkan ilmu. Ilmu tanpa amal akan lumpuh. Amal tanpa ilmu akan buta.

Syarat diterimanya amal perbuatan yang berdasarkan ilmu adalah ikhlas, dan itu tidak bisa ditawar-tawa lagi. Ikhlas adalah urusan hati. Yang menguasai hati manusia adalah Allah Ta'ala. Para malaikat hanya bertugas mencatat amal perbuatan manusia saja. Para malaikat tidak tahu menahu soal hati manusia. Mungkin saja para malaikat ditipu oleh manusia dengan banyak amal perbuatan yang kelihatan baik, tetapi Allah 'Azza Wa Jalla sama sekali tidak akan pernah ditipu. Kesombongan (takabbur, kibriya) akan menghancurkan amal baik. Sifat hasad dan dengki akan membakar amal baik. Celaan yang menyertai sedekah akan menghapus amal sedekah.
Sifat riya (hanya semata-mata mengharapkan pujian manusia) juga akan menghapus amal perbuatan baik. Namun harus dibedakan, antara sifat riya dan menceritakan nikmat Allah. Menceritakan nikmat Allah yang kita terima adalah sebuah perintah, dan itu disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Addluha.

Ya Allah Ya Rabb! Jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Amin.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  


Senin, 21 November 2016

NASEHAT ADALAH SPIRIT AGAMA (BAGIAN 1) Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Li Yudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin

Ammaa Ba'du.


'An Abii Ruqayyah Tamiim ibnu Aus Ad-Daari radhiyallaahu 'anhu annannabiyya shallaahu 'alaihi wa sallama qaala: Addiinu An-Nashiihatu, qulnaa liman? qaala: lillaahi wa li kitaabihii wa lirasuulihii wa li a-immatil muslimiina wa 'aammatihim (rawaahu muslim).
"Dari Abi Ruqayyah Tamim ibnu Aus Ad-Daari radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Agama adalah nasehat, kami bertanya: Untuk siapa? Nabi menjawab: Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan ummat mereka (HR. Muslim)."

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa yang termasuk nasehat kepada Allah adalah dengan berjihad  melawan orang-orang yang kufur kepadaNya dan berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah. Makna nasehat untuk Allah adalah beriman kepadaNya, menafikan sekutu bagiNya, tidak mengingkari Sifat-sifatNya. mensifatkan Allah dengan sifat-sifat yang sempurna dan mulia, mensucikan Allah dari semua sifat-sifat yang kurang.

Syeikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nasehat untuk KitabNya adalah dengan meyakini bahwasanya Al-Qur'an itu Kalamullah Ta'ala. Oleh karenanya kaum muslimin wajib mengimani kandungannya, wajib mengamalkannya, memuliakannya, dan membacanya dengan sebenar-benarnya, mengutamakannya dari selainnya, serta penuh perhatian untuk mendapatkan ilmu-ilmunya.

Maksud dari nasehat untuk Rasulnya adalah, meyakini bahwa beliau adalah seutama-utama makhluk dan kekasihNya. Allah mengutusnya kepada para hambaNya agar beliau mengeluarkan mereka dari segala kegelapan kepada cahaya, menjelaskan kepada mereka hal-hal apa yang membuat bahagia dan hal-hal apa yang membuat sengsara, menerangkan kepada mereka jalan Allah yang lurus agar mereka mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari kepedihan api nereka, serta dengan mencintainya, memuliakannya, mengikutinya, agar tidak ada kesempitan di dadanya terhadap apa-apa yang beliau shallahu 'alaihi wa sallam putuskan.

Arti dari nasehat untuk para pemimpin kaum muslimin adalah, ketaatan kepada pemegang urusan kaum muslimin selama bukan dalam perkara maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Ta'ala. Nasehat untuk pemimpin kaum muslimin juga berarti, memperbaiki keadaan mereka, membersihkan kerusakan mereka, menyeru mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, serta mendo'akan mereka agar mendapat kebaikan, sebab dalam kebaikan mereka berarti kebaikan juga bagi rakyat, dan kerusakan mereka berarti kerusakan pula bagi rakyat.

Maksud dari nasehat untuk kaum muslimin pada umumnya adalah dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, melarang mereka berbuat keburukan, membimbing mereka kepada petunjuk, mencegah mereka dari kesesatan, Karena mereka semua adalah hamba-hamba Allah, maka haruslah bagi seorang hamba untuk memandang mereka dengan lensa yang satu, yaitu lensa kebenaran.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.





AGAMA ADALAH NASEHAT (BAGIAN ) -- Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin

Ammaa Ba'du

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu haditsnya, 'An Abii Ruqayyah Tamiim ibni Aus Addaari radhiyallaahu 'anhu annannabiyyaa shallaahu 'alaihi wa sallama qaala: Ad-Diinu An-Nashiihatu, qulnaa liman? qaala lillaahi wa likitaabihii wa lirasuulihii wa li-aimmatil muslimiina wa 'aammatihim (rawaahu muslim).


KUN FAYAKUUUUUUN...bukan KUN FAYAKUN ! Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin

Ammaa Ba'du.

KUN FAYAKUUUUUUN....bukan KUN FAYAKUN! Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Dalam kajian Majlis Ta'lim Virtual Beit El Hikma kali saya mengangkat tema tersebut dengan tujuan untuk mengingatkan kembali diri saya pribadi juga para pembaca yang budiman, bahwasanya bacaan yang benar dalam Al-Qur'an adalah Kun Fayakuuuuun (panjangnya dua sampai enam harakat) dan bukan Kun Fayakun (tanpa panjang harakat sama sekali). Oleh karenanya, paradigma berpikir yang semestinya adalah paradigma berpikir Kun Fayakuuuun, dan bukan paradigma berpikir Kun Fayakun. Terdapat delapan ayat yang menjelaskan Kalimah Allah tersebut di dalam Al-Qur'an. Kedelapan ayat tersebut adalah

Minggu, 20 November 2016

MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Asslamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wal-'aaqibatu Lil Muttaqiin.
Wa Laa 'Udwaana Illaa 'Aladdzaalimiin.

Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Muhammadin
Al-Faatihi Limaa Ughliqa Wal Khaatimi Limaa Sabaqa
Wan-Naashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Haadii Ilaa Shiraathikal Mustaqiim
Shallaahu 'Alaihi Wa 'Alaa Aalihii Wa Ashhaabihii Haqqa Qadrihii Wa Miqdaarihil 'Adziim.

Ammaa Ba'du.

MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 2)
Oleh: Shabrun Jamil (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Kab. Tangerang)

Mukjizat terbesar Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an. Telah dibuktikan oleh para waliyullah bahwa dengan keberkahan wirid Al-Qur'an segala permasalahan dalam hidup, atas izin Allah, mendapatkan jalan keluar, pikiran yang tenang, dan hati yang lapang. Para ilmuwan (baik ilmu eksak maupun ilmu sosial), juga membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah sumber segala ilmu pengetahun. Pancaran Al-Qur'an memberikan keajaiban dan keilmiahan sekaligus.

Nabi Shalih diutus oleh Allah Ta'ala untuk kaum Tsamud. Nabi Hud diutus olehNya untuk kaum 'Ad.
Firman Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an Surah Al-Fajr ayat 6-9: Alam tara kaifa fa'ala rabbuka bi'aad. Irama dzaatil 'imaad. Allatii lam yukhlaq mitsluhaa fil bilaad. Wa tsamuudalladziina jaabusshakhra bil waad. 
"Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) 'Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum 'Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah."

Di sebuah lokasi bernama Hisn Al-Ghurab dekat dengan kota Aden, Yaman, ditemukan sebuah naskah kuno beraksara Hymarite (Arab lama) yang bertuliskan, "Kami memerintah dengan menggunakan hukum Hud." Setelah dilakukan penggalian pada tahun 1980, ditemukan sebuah lempeng kuno bertulis, "Shamutu, Ad, dan Iram."

Pada tahun 1992 Nicholas Clapp menemukan perkiraan lokasi kota Iram (Ubhur). Dengan menggunakan jasa pesawat ulang alik Challenger dengan sistem SIR (Satelite Image Radar) dan jasa satelit Perancis dengan sistem penginderaan optik, mereka menemukan sebuah citra (image) digital berupa garis putih di kedalaman 183 meter di bawah pasir, yang merupakan rute kafilah dengan jarak ratusan kilometer. Penggalian Nicholas Clapp pun dilanjutkan. Sebulan kemudian, Clapp menemukan bangunan segi delapan dengan menara-menara yang tingginya mencapai sembilan meter.

Seorang ilmuwan Perancis, Profesor Maurice Bucaile, mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk melakukan sebuah penelitian. Bucaile berhasil membuktikan bahwa Fir'aun mati tenggelam di dalam laut. Ini terbukti dari bekas-bekas garam yang ditemukan di sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya Bucaile berkata: "Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Qur'an tentang tubuh Fir'aun yang sekarang berada di ruang mumi Museum Mesir di Kota Kairo. Penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran Al-Qur'an."

Maurice Bucaile bukan hanya meneliti Fir'aun. Banyak penelitian yang telah dilakukannya terhadap fenomena alam. Pada tahun 1976, sang profesor (yang akhirnya masuk Islam) membukukan hasil penelitiannya dengan judul La Bible, Le Coran et La Science (Bible, Al-Qur'an, dan pengetahuan modern).

Saya pribadi (alhamdulillah) telah membaca buku tersebut (versi terjemahan Indonesianya) hingga khatam ketika saya masih kuliah. Namun buku tersebut sudah tidak ada lagi di tangan saya, sebab dipinjam oleh seseorang (pada tahun 90-an) yang saya sendiri sampai lupa siapa yang meminjamnya. Bagaimana pun juga saya sangat senang bila buku tersebut berpindah ke tangan banyak orang, sebab dengan demikian banyak orang pula yang akan membacanya.

Kebenaran tidak memandang dunia Timur dan dunia Barat. Kebajikan tidak dapat diukur dalam versi dunia Timur dan dunia Barat. Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang universal bagi dunia Timur, Barat, Utara, maupun Selatan. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 177:
Laisal birra an tuwalluu wujuuhakum qibalal masyriqi wal maghribi walaakinnal birra man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wal malaaikati wal kitaabi wan nabiyyiina wa aatal maala 'alaa hubbihii dzawil qurbaa wal yataaamaa wal masaakiina wabnassabiili wassaa-ilina wa firriqaabi wa aqaamasshalaata wa aatazzakaata wal muufuuna bi'ahdihim idzaa 'aahaduu wasshaabiriina fil ba'saa-i waddharraa-i wa hiinal ba'si. Ulaa-ikalladziina shadaquu wa ulaa-ika humul muttaquun.

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab suci, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Jumat, 18 November 2016

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 1)

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 1): Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin. Wasshalaatu Wassala...

MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 1)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

MEMBUKTIKAN KEAGUNGAN AL-QUR'AN (BAGIAN 1)

Apakah kita meyakini mukjizat Al-Qur'an? Saya yakin kita semua pasti menjawab bahwa tanpa diragukan lagi kita  seratus persen meyakini mukjizat Al-Qur'an.

Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam diberikan bukti secara langsung oleh Allah Ta'ala akan kerasulannya dengan selalu bertemu Malaikat Jibril, dan diperjalankan olehNya dengan peristiwa Isra dan Mi'raj.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam sangat penasaran dengan pembuktian Tuhannya, apalagi ayah dan ibunya serta  saudara-saudaranya adalah penyembah patung. Allah Ta'ala menyuruhnya memotong seekor burung menjadi empat bagian, lalu masing-masing bagian yang terpisah diletakkan di empat sudut yang letaknya berjauhan. Kemudian Nabi Ibrahim 'alaihissalam disuruh untuk memanggil burung tersebut. Atas mukjizat yang diberikan oleh Allah Ta'ala, potongan-potongan burung itu menyatu kembali dan terbang.

Kita sebagai ummat Nabi Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam pun membutuhkan pembuktian mukjizat Al-Qur'an, sebagai penguat keimanan kita.

Seorang Ilmuwan Perancis, Maurice Buchail, menyatakan keislamannya setelah menemukan banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang terbukti dengan fenomena alam. Seperti peredaran matahari pada porosnya (Surah Yasin) dan terpisahnya air laut yang asin dan air laut yang tawar di wilayah perairan Bahrain dan Brazil (Surah Ar-Rahman).

Ada pula seorang pakar genetika, Robert Guilhem, yang mendekarasikan keislamannya setelah terkagum-kagum dengan ayat Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah ayat 228) yang berbicara tentang masa 'iddah (yaitu masa tunggu selama tiga bulan bagi wanita, untuk boleh menikah lagi) bagi wanita muslimah yang dicerai atau ditinggal mati oleh suaminya seperti yang diatur dalam Islam.

Dalam penelitiannya Gulheim membutktikan bahwa jejak rekam seorang laki-laki di tubuh wanita akan hilang setelah tiga bulan. Ia yakin dengan bukti-bukti ilmiahnya. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnuya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan, maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25 - 30 persen. Dan, setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan.

Dalam penelitian Guilhem terhadap wanita-wanita non muslim di Amerika Serikat, ditemukan bahwa sebagian besar dari mereka memiliki 2 sampai 3 sidik laki-laki. Berarti kebanyakan dari mereka memang bersetubuh dengan lebih dari satu lelaki. Bahkan dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa istrinya sendiri memiliki rekam sidik laki-laki selain darinya. Berdasarkan hasil tes DNA, dari tiga anaknya dengan istrinya tersebut, hanya satu yang memiliki sidiknya, sedangkan dua anaknya yang lain memiliki lebih dari satu sidik laki-laki.

Kesimpulan dari Hipotesis Guilhem, wanita muslimah adalah wanita yang paling bersih di dunia.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Rabu, 16 November 2016

EMPAT PILAR SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 4

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Innal Hamda Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruh
Wa Natuubu Ilaih
Wa Na'uudzu Billahi Min Syuruuri Anfusinaa Wa Min Sayyi-aati A'maalinaa
Man Yahdihillaahu Fa Laa Mudlilla Lah
Wa Man Yudhlil Fa Laa Haadiya Lah

Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin

Ammaa Ba'du.

EMPAT PILAR SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 4


Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ara-aitum law anna naharan bibaabi ahadikum, yaghtasilu fiihi kulla yaumin khamsan, maa taquulu dzaalika yabqaa min darnihii, qaaluu laa yabqaa min darnihii syai-an. Qaaluu: fadzaalika mithlusshalawaatil khamsi yamhullaahu bihal khathayaa. 
"Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai (yang sangat jernih) di depan pintu salah satu rumah kalian, yang di sana kalian mandi lima kali sehari, apakah kalian akan mengatakan masih tersisa kotoran di badan kalian? Mereka menjawab: Tidak tersisa sesuatu pun dari kotoran. Beliau bersabda: Maka itu adalah perumpamaan shalat lima waktu, yang dengannya Allah menghapus segala dosa dan kesalahan."


Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah rahimahumullah meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu: Undzuruu ilaa man asfala minkum, wa laa tandzuruu ilaa man fawqakum, Fahal ajdaru allaa tazdaruu ni'matallaahi 'alaikum.
"Lihatlah kepada yang di bawah kalian, jangan melihat kepada yang di atas kalian, aku khawatir kalian akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian."


Masih dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: Maa min yaumin yushbihul 'ibaadu fiihi illaa malakaani yanzilaani fayaquulu ahaduhumaa: Allaahua a'thi munfiqan khalafan, wa yaquulul aakhar: Allaahumma a'thi mumsikan talifan.
"Tidaklah seorang hamba melewati sebuah pagi kecuali turun dua malaikat dan berkata salah seorang di antaranya: Ya Allah berilah orang yang berinfaq ganti yang lebih, dan berkata malaikat lainnya: Ya Allah berilah orang yang kikir kebinasaan."

Ketika bermukim di Kota Dammam, Saudi Arabia, saya mengalami sebuah pengalaman unik dan amat berharga untuk dijadikan sebagai sebuah pelajaran. Saat itu tepat Hari Senin sore, menjelang Maghrib. Kebetulan saya bersama dua orang kawan yang sama-sama berasal dari Indonesia (Nurzaman dari Solo dan Nanan Yahya yang asli betawi) sedang berpuasa sunnah. Masing-masing dari kami membungkus tiga buah kurma dengan kertas tisu, sebagaimana ta'jil didahului dengan tiga buah kurma yang menjadi sunnah Rasul. Setelah sampai di masjid dan usai melaksanakan shalat tahiyyatul masjid, karena waktu azan Maghrib semakin dekat, kami membuka bungkusan kertas tisu yang masing-masing kami bawa yang berisikan masing-masing tiga buah kurma. Tiba-tiba Abu 'Ali, salah satu pengurus DKM Masjid tersebut, memberi salam kepada kami. Walaupun berkewarganegaraan Saudi Arabia, tetapi Abu 'Ali sebenarnya berasal dari Yaman.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alakassalam!"
"Antum shaa-imuun (kalian berpuasa)?"
 "Aywah, nahnu shaa-imuun (ya, kami berpuasa)"
"istand syuwayya, ana aatiikal moyah (tunggu sebentar, saya akan ambilkan air)"
Tak lama kemudian Abu 'Ali kembali ke masjid dengan membawa tiga gelas air putih yang segar. Air putih yang segar itu pun kami terima dengan suka cita.
"Maa yunsaa yaa ikhwah, ad-du'aa-u lii (jangan lupa saudara-saudaraku, berdo'alah untukku)
"Insyaa Allaah yaa abuuy, nad'ullaaha lakal khair (Insya Allah, Pak. kami akan mendo'akan kebaikan untukmu)"

Perkataannya ini diucapkan olehnya berulang-ulang. Kami begitu trenyuh dengan kesungguhannya demi mendapatkan fadhilah amal dari memberi minum orang berpuasa. Kami trenyuh dengan kesungguhannya demi mendapatkan do'a orang berpuasa. Kami masih ingat bahwa gerakannya keluar masjid untuk mengambil air minum dan gerakannya masuk masjid untuk memberikan air minum seperti gerakan orang bergegas. Walaupun hanya memberi minum orang berpuasa, sangat jelas sekali bahwa Abu 'Ali bergerak dan bergegas menuju ampunan Allah Ta'ala.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. .






EMPAT PILAR SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 2

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah
Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah

Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin

Ammaa Ba'du

EMPAT PILAR SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 2

Ada banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang sabar. Di antaranya adalah Surah Al-Baqarah ayat 153, Surah Al-Baqarah ayat 200, Surah Ali Imron ayat 155, Surah Az-Zumar ayat 10, Surah As-Syura ayat 43, Surah Muhammad ayat 31, Surah Thaha ayat 132, Surah Al-Insan ayat 23-24, Surah Al-Kahfi ayat 28, dan Surah Yusuf ayat 33.

Dalam sebuah hadits dari Abi Malik Al-Harits ibnu 'Ashim al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: At-Thahuuru syathrul iimaan, wal hamdulillaahi tamla-ul miizaan, wa subhaanallaah wal-hamdulillaahi tamla-aani aw tamla-u maa bainassamaawaati wal ardhi, wasshalaatu nuurun, wasshadaqatu burhaanun, wasshabru dhiyaa-un, wal-qur-aanu hujjatun laka aw 'alaika, kullunnaasi yaghduu fabaai'u nafsihii, famu'tiquhaa aw muubiquhaa (rawaahu muslim).
"Kebersihan adalah sebagian dari iman, ucapan al-hamdulillah memenuhi timbangan, ucapan subhanallah dan al-hamdulillah memenuhi apa yang ada di langit dan bumi, shalat adalah cahaya, shadaqah adalah sebuah bukti penunjuk, sabar adalah penerang, Al-Qur'an adalah petunjuk untukmu atau atasmu, setiap manusia pergi dan menjual dirinya, apakah membelenggunya atau melepaskannya (HR. Muslim)."

Para pembaca yang budiman, waktu maghrib telah tiba, saya akan lanjutkan tulisan tentang empat pilar seorang muslim setelah Isya.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA WA ATUUBU ILAIKA.



Senin, 14 November 2016

EMPAT PILAR HIDUP SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 1

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'aalamiin.
Wasshalaatu was salaamu asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin.
Sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadin.
Wa 'alaa aalihii wa shabihii ajma'iin,

Ammaa ba'du.

EMPAT PILAR HIDUP SEORANG MUSLIM (SABAR, SHALAT, SYUKUR, SEDEKAH) -- BAGIAN 1

Sejatinya seorang muslim dalam kehidupannya selalu dihiasi dengan sabar, shalat, syukur, dan sedekah. Keempat pilar ini akan menjadi bekal hidup yang sangat berharga bagi seorang muslim. Takaran keempat pilar tersebut (sabar, shalat, syukur, dan sedekah) tidak akan sebanding dengan apa pun yang ada di dunia ini. Kesuksesan, kebahagiaan, kemenangan, akan dapat diraih oleh seorang muslim dengan empat pilar ini.

Untuk apa kita melakoni empat pilar yang dahsyat ini? Apa manfaat sabar, shalat, syukur, dan sedekah? Seberapa penting empat pilar yang dahsyat ini dalam kehidupan kita?

Untuk apa kita berperilaku sabar? Sabar akan memberi ketenangan pada tubuh dan pikiran. Sabar akan membuat kita menikmati proses yang kita jalani dalam setiap episode kehidupan kita. Sabar akan menjadi penyeimbang tempo dalam lingkungan. Sabar akan membuat hidup kita damai. Sabar juga menjauhkan kita dari penyakit.

Apa manfaat shalat? Shalat merupakan wujud pengabdian kita pada Sang Khaliq. Shalat akan menjauhkan kita dari keburukan. Seringkali dengan menegakkan shalat, ada kejadian yang tak terduga di hari yang kita jalani. Gerakan shalat yang benar akan mencegah kita dari resiko osteoporosis. Shalat adalah waktu yang paling ijabah dalam berdo'a. Shalat akan mencegah kita dari resiko penyakit jantung dan ginjal.Shalat akan membantu kinerja kelenjar tiroid pada waktu shubuh. Shalat akan menentukan keikhlasan beragama dan kemunafikan seseorang. Rupa wajah orang-orang yang shalat akan lebih berseri.

Buat apa kita bersyukur? Dengan bersyukur kesehatan akan lebih terjaga. Syukur akan meningkatkan kesejahteraan. Orang yang bersyukur akan menjadi teman yang lebih baik bagi orang lain. Dengan bersyukur tidur akan lebih nyenyak. Rasa syukur akan memperkuat hubungan dengan pasangan. Rasa syukur akan menjaga kesehatan jantung. Dengan bersyukur sistem kekebalan akan lebih sehat. Rasa syukur akan mencegah emosi negatif akibat datangnya musibah.

Sedekah itu apa gunanya? Energi sedekah akan menyembuhkan penyakit. Energi sedekah akan memberi rasa bahagia. Dengan sedekah usia kita akan lebih berkah serta meringankan sakaratul maut. Sedekah akan mendekatkan pada terkabulnya hajat. Energi sedekah akan menolak bencana. Energi sedekah akan menambah rezeki. Orang yang bersedekah akan menempati naungan pada Hari Kiamat.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  



Sabtu, 12 November 2016

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MANAGING PATIENCE (PART 2)

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MANAGING PATIENCE (PART 2): Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh. Alhamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'alaa Rasu...

MANAGING PATIENCE (PART 2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh.

Alhamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni Abdillaah
Wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa mawwaalah

Ammaa ba'du.

Managing Patience (Part 2)

Allah Subhaanahuu Wa Ta'aala has created, sustained, and educated this universe (including human being) with His Great Patience. The Great Patience of God never gives any threat or danger over Him. Unlike The Almighty God, human's patience in most of the time is caused by his discrepency in dealing with someting or by his fear over something or someone. Nevertheless, such weakness actually could be covered by patience. Basically patience is empowering human and not weakening. There is a secret beyond all secrests within patience. There is a big power which would be yielded from patience.

When we want something, we want it immediately right now. We demand to have it now. We will take what we can get now, rather than waiting a little for something better. This is an instict we are born with, the instinct to satisfy our needs whenever we are able to. This is an instinct we picked up from the dawn of time.

Our instinct could be countered by patience. It is something which must be learned and practiced. It is not something which comes naturally to us. Those who master patience become more successful than those who can not.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aala has taught us how to grasp success, as He said in Qur'an Surah Ali 'Imron verse 200: "Yaa ayyuhalladziina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu wattaqullaaha la'allakum tuflihuun."

From this verse of Qur'an we might jump into conclusion that there are four keys to success, they are: 1. Patience; 2. Endurance of patience; 3. Prousional to next step to move on; 4. TAQWA.

Patience without moving on to the next step will never work. There is a Law of Attraction in this universe, so willy-nilly, we have to follow this law. Our move has to be in rhythm with this universe, for The Almighty Allah has created it for us.

SubhaanaKallaahumma wa bihamdiKa asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruKa wa atuubu ilaKa

Jumat, 11 November 2016

MANAGING OUR PATIENCE (PART I)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh.

Alhamdu Lillaahilladzii biyadiHilmulku wa Huwa 'alaa kulli syai-in Qodiir.
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa Muhammadin
wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin.

Ammaa ba'du.

MANAGING OUR PATIENCE (PART I)

Managing our patience is in proportion to managing our emotion, whereas emotion has to do with our memory as well as our experience. Whenever something bad happens to us, it possibly would stimulate our response of emotion. Emotion has a close relationship with what we call as life value. As something against our life value happens, our response of emotion will immediately appear.

Emotion is an energy which is able to influence our life. That is why emotional intelligence has a pivotal role in someone's life. We go through some experiences which bring about any kinds of energy that affect our feeling and our daily life as well. Some energy are powerful and are recognized so easily Meanwhile, some other energy are sensed only based on intuition. Things that are being spoken, being thought, or being conducted, will produce energy which influence us as well as people around us.

Allah Subhaanahuu Wa Ta'aalaa has been exceptionally Merciful as to provide us with tips to remain steadfast in times of trial.

"Wasta'iinuu bisshabri was shalaah wa innahaa lakabiiratun illaa 'alal khaasyi'iin : And seek help in patience and shalat and truly it is extremely heavy and hard except for humbly submissive (to Allah)" (Qur'an Surah Al-Baqarah Verse 45).

The Prophet Muhammad peace be upon him never expressed his anger with his hand. Instead, he used only mild words. In fact those that did not know him well did not even suspect that he was angry. He preferred to be queit rather than expressing his anger openly. His anger was purely for the sake of God, he did not fly off the handle, rant and rave, or make people fear to be in his presence.

Emotion is very natural for human, but anger is very powerful and can vary in intensity from mild irritation to intense fury and rage. Intense fury and rage itself can be destructive. For it can create a desire for revenge and push a person to strike out at the object of his anger. It is impossible for someone to avoid it completely, because it is natural. However, it is possible for us to understand anger and thus control it.

SubhaanaKallaahumma Wa Bi HamdiKa Asyhadu allaa ilaaha illaa Anta astaghfiruKa wa atuubu IlaiKa.

Kamis, 10 November 2016

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 2)

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 2): Bismillahirrahmanirrahim. Asslamu'alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh. Alhamdu Lillaahilladzii 'allamal insaana  bil qolami wa &#...

ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 2)

Bismillahirrahmanirrahim.
Asslamu'alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh.

Alhamdu Lillaahilladzii 'allamal insaana  bil qolami wa 'allamal insaana maa lam ya'lam.
Allaahumma Shalli wa Salllim wa Baarik 'alaa Sayyidinaa Muhammadin al-faatihi limaa ughliqa wal khaatimi limaa sabaqa wannaashiril haqqi bil haqqi wal haadii ilaa shiraathikal mustaqiim, Shallaahu 'alaihi wa 'alaa Aalihii wa Ashhaabihii haqqa qadrihii wa miqdaarihil 'adziim.
Ammaa ba'du.


ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 2)

Begitu istimewanya adab bertetangga dalam etika Islam, hingga Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam bersaba dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar dan 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma: "maa zaala Jibriilu yuushiinii bil jaari hattaa dzanantu annahuu sayuuritsuhu (rawaahul bukhaary wa muslim)", yang artinya: "Selalu Jibril menasehatiku tentang tetangga hingga aku berprasangka seakan-akan Jibril akan memberikan warisan kepada tetangga (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallaahu 'alaihi wa sallam juga menganjurkan untuk tidak malu memberikan hadiah kepada tetangga, dan menganjurkan untuk tidak minder dalam memberikan hadiah. Tujuannya tentu saja untuk memperkuat ikatan silaturrahmi antar tetangga sehingga menciptakan spirit yang harmonis dalam tatanan kehidupan bertetangga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Yaa nisaa-ul muslimaat: laa tahqiranna jaaratun lijaaratihaa wa lau firsanu syaatin (rawaahul bukhaary wa muslim)", yang artinya: "Wahai wanita-wanita muslimat, janganlah sekali-kali seorang tetangga merasa terhina dengan tetangga lainnya walaupun hanya dengan kikil kambing (HR. Bukhari dan Muslim)"

Berkenaan dengan memberikan hadiah kepada tetangga, Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah dinasehati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Yaa Abaa Dzarrin, idzaa thabakhta maraqatan faaktsir maa-haa wa ta'aahad jiiraanaka (rawaahu muslim)", yang artinya: "Wahai Abu Dzar, jika engkau masak sayuran maka perbanyaklah kuahnya dan bagikannlah kepada tetanggamu (HR. Muslim)"

Tidak bisa kita pungkiri dalam hidup ini, terkadang kita harus berhadapan dengan orang yang kita anggap tidak baik di ligkungan sekitar, termasuk tetanggga. Sindiran, cibiran, hingga tak diajak bertegur sapa, barangkali pernah kita alami. Cukup bisa dimaklumi sebenarnya. Namanya juga kehidupan dunia, pasti ada "lover", "follower", bahkan mungkin "hater".

Terkadang hidup ini bagaikan lelucon. Bisa jadi orang yang tadinya baik-baik kepada kita, tiba-tiba menjadi benci kepada kita. Dari sini muncul sebuah pertanyaan, kenapa seseorang bisa tiba-tiba benci kepada orang lain? Menurut ilmu psikologi, hal ini terjadi dari pikiran sadar kita yang menyerap atau menerima respon dan masuk ke dalam otak, kemudian lambat laun tertanam dalam syaraf-syaraf pikiran kita dan akhirnya sampai masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Pikiran kita pada akhirnya sedikit demi sedikit terkontaminasi oleh perasaan tersebut.

Hendaknya kita tetap bersabar dan berlapang dada menghadapi tetangga yang berperilaku negatif kepada kita. Sebelum kita terbawa emosi, kita analisa dulu perbuatan mereka. Bisa saja mereka mengalami himpitan-himpitan psikologis sehingga mereka mereka berperilaku kepada kita seperti orang stres. Namun demikian, tidak perlu kita khawatir dan terlena dengan keadaan tersebut. Manakala kita memberikan radiasi energi perilaku positif kepada energi perilaku negatif mereka, maka yakinlah bahwa lambat laun energi negatif yang melekat kepada perilaku mereka pasti akan sirna.

Do'a para malaikat selalu mengiringi orang-orang yang bersabar. Kuantum energi do'a yang luar biasa ini menjadi sugesti yang sangat dahsyat, sehingga orang yang bermaksud menghinakan kita justru justru bisa  berbalik kepadanya. Tapi buka itu yang kita harapkan. Yang kita harapkan adalah kembalinya tetangga yang berperilaku negatif tersebut ke jalan yang benar.

Tentu sabar yang dimaksud dalam hal ini adalah sabar dalam menjalani sebuah kebenaran, dan bukan sabar dalam mempertahankan kesalahan. Sabar adalah sebuah keniscayaan yang harus ditempuh dalam hidup bertetangga. Prinsip bertetangga bukanlah prinsip "menang atau kalah", tetapi prinsip bertetangga adalah prinsip win-win solution atau sama-sama menang.

Sungguh Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala urusan agama dan dunianya. Perkara besar hingga perkara kecil, semua dijelaskan oleh Islam.


SubhaanaKallaahumma wa bihamdiKa, asyhadu allaa ilaaha illaa ANTA, astaghfiruKa wa atuubu ilaiK.


MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: Bismillahirrahmanirrahim.Assalamu'alaikum Wa Rahm...

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahm...
: Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh. Al-Hamdulillahilladzii khalaqal insaan, wa 'allamahul bay...