Selasa, 28 Maret 2017

RICHNESS WITHIN SELF SATISFACTION -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working As An Islamic Counselor of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.


What can influence us in a positive way? The appropriate answer for this question is: Life Satisfaction. It can reflect experiences that have influenced a person in a positive way. Thus, it has the ability to motivate people to pursue and reach their goals. Two kinds of emotions that may influence how people perceive their lives, are Hope and Optimism. They are usually oriented towards the reaching of goals and the perception of those goals. On the contrary, pessimism is related to symptoms in depression.

Usually a person is deemed as rich if he owns lots of property, Indeed, everyone likes to be rich, Yet the richness in fact cause burden to human beings, for the wealth and property have to be looked after, it has to be taken care, Unless, it will be destroyed,

Therefore, what is the meaning of richness? Richness has to do with happiness, and happiness is closely related to Self Satisfaction. It means a feeling of being very pleased or satisfied with ourselves and what we have done

Anyone who  dissatisfies with his own condition will have the spark, the motivation, the will to take all effort to learn and try new things to improve himself.  He will be changing, growing, moving, and creating, to reach his self satisfaction. We lead our lives in various situation. Life always changes, grows, and moves all the time.

So, who are rich people? They are the ones who feel, sense, and experience self satisfation. For that reason, when we are not experiencing Self Satisfaction, even if we have big property and wealth, we never feel rich. Richness is deep inside Self Satisfaction.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.




Minggu, 19 Maret 2017

ENERGI DAN SINERGI TOLONG MENOLONG -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.


Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya satu sama lainnya. Oleh karenanya, kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa semua yang ada di alam ini adalah berpasang-pasangan dan berbeda-beda. Konsekwensinya adalah, semua energi yang ada di alam semesta ini saling bersinergi. Mengenal satu sama lainnya merupakan perintah Allah. Konsekwensi logisnya, tolong menolong menjadi sebuah keniscayaan. Namun demikian, tolong menolong dalam keburukan dan permusuhan sangat dilarang olehNya. Allah Ta'ala sangat menganjurkan, bahkan memerintahkan tolong menolong dalam kebaikan.

Diriwayatkan oleh 'Umar bin Jabir, bahwa pada suatu hari, di kala beliau ('Umar bin Jabir) sedang beristirahat bersama-sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang satu kaum yang sangat miskin dalam kehidupannya sehari-hari.  Pekerjaan mereka adalah sebagai pemburu, keadaan ekonomi mereka sangat lemah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam amat simpati dan berubah wajah menampakkan kesedihan. Oleh kerana kaum ini mengalami keterbelakangan ekonomi dan berhajat kepada pertolongan pada waktu itu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  masuk ke dalam rumah kediamannya, kemudian beliau keluar dan menyuruh Bilal mengumandangkan azan dengan tujuan memanggil orang ramai supaya berkumpul. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sunnah dua rakaat dan kemudian  berpidato dengan tujuan meminta orang ramai agar memberi pertolongan dan bantuan kepada kaum yang datang supaya dapat melapangkan keadaan ekonomi kaum tersebut. Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki bersedekah dengan memberi uang, pakaian dan juga bahan-bahan makanan, selepas itu diikuti beberapa orang lelaki yang terdiri dari  golongan Ansar dengan memberi bantuan seperti makanan, pakaian yang secukupnya kepada kabilah tersebut, sehinggalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Bersedekahlah kamu walaupun sebiji buah tamar (kurma)", kata kata Rasulullah itu memperlihatkan wajahnya kembali bersinar putih bersih tanda kegembiraan di atas sambutan oleh orang ramai itu, kemudian Rasulullah bersabda:‘Siapa saja yang menyumbang ke arah pembangunan Islam akan satu sumbangan yang baik, maka baginya pahala di atas apa yang disumbangkan dan pahala orang yang beramal dengan sumbangan tersebut dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka, dan siapa saja yang menyumbang dalam Islam ke arah keburukan adalah baginya dosa dan dosa orang yang beramal dengannya selepas dari mereka, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka yang sedia ada.’ (Riwayat Muslim).

Janji Allah Ta'ala untuk orang yang bersedekah adalah ditambahkan dan diberkahi hartanya. Sementara janji dan bisikan Iblis La'natullah kepada orang yang bersedekah adalah tertimpanya kemiskinan karena berkurangnya harta. Janji manakah yang kita yakini? Tentu saja janji Allah Ta'ala.

Percayakah kita bahwa jika kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 1 untuk bersedekah, hasilnya bukan 9? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 19? Percayakah kita bahwa bila kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 2 untuk bersedekah, hasilnya bukan 8? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 28?
Bagaimana bisa?
Janji Allah Ta'ala, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Berarti dua kebaikan akan dibalas dengan dua puluh kebaikan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Investasi sedekah bukan hanya investasi akhirat, tetapi terintegrasikan antara investasi dunia dan investasi akhirat. Allah Ta'ala menciptakan alam ini dengan hukum tarik menarik (law of attraction)nya. Dia telah menciptakan sistem kinerja alam. Frekwensi kebaikan maupun keburukan yang kita berikan akan disambut oleh alam, yang dengan sistem kinerjanya, akan bekerja untuk memberikan ganjaran.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



Rabu, 15 Maret 2017

PEMBERDAYAAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah.
Ammaa Ba'du.

Seorang mantan sopir angkot 07 yang sehari-hari nongkrong di lapangan masjid Ar-Royan pada suatu malam datang menghampiriku. Kebetulan aku memarkir mobilku di halaman masjid tersebut, dengan membayar infaq sebesar seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulannya. Setelah menyalamiku, ia menawarkan diri untuk menservice mobilku yang kebetulan memang sedang bermasalah dengan perangkatnya.
"Pak Haji, boleh saya membetulkan mobil pak haji, saya lihat sudah sebulan mobil Pak Haji diparkir saja dan tidak pernah keluar."
"Memangnya ente bisa sercive mobil?"
"Bisa dong Pak Haji, saya kan bekas sopir angkot"
"Yakin bisa?"
"Insya Alah, Pak Haji?"
"Ok kalau begitu, ini kuncinya. Kalau  ada yang harus dibeli, bilang ke saya."
"Siap Pak Haji."
Keesokan harinya ia datang ke rumahku.
"Sudah selesai Pak Haji," ujarnya seraya memberikan kunci mobil kepadaku.
"Apanya yang rusak, Mat?"
"Cuma kebel starternya saja yang putus."
"Pantasan akinya masih bagus tapi kok tidak bisa distarter. Kok kamu bisa ya, Mat?"
"Namanya juga pernah lama nyupir ankot, Pak Haji. Saya sudah pengalaman nyalain mobil tanpa starter, cuma nempelin kabel starter, terus nyala deh, he..he..he.."
"Berarti saya nyalain mobil harus nempelin kabel starter dulu?"
"Ya enggak, Pak Haji. Kan sudah saya rapihkan semua, jadi starter mobilnya pake kunci mobil."

Sehari-hari Amat hanya nongkrong saja di depan halaman masjid. Ia sudah berhenti dari dunia supir angkot. Sudah berbulan-bulan ia sama sekali tidak mempunyai pekerjaan yang pasti alias menganggur. Istrinya pun tidak bekerja. Dua-duanya tidak memiliki penghasilan yang pasti. Bersama kedua anak mereka, ia dan keluarganya hidup di bawah standar kehidupan primer.
Pernah satu waktu ia menawarkan dirinya menjadi supir pribadiku. Dari mana saya bisa menggajinya. Aku ini bukanlah seorang pejabat sekelas kepala kantor, pengusaha besar pun tidak.

Lama-lama aku kasihan juga melihatnya terus menganggur. Inilah sebenarnya kesempatan saya beribadah dan beramal sosial dengan cara memberdayakannya. Akhirnya ia kutawarkan untuk menjual fried chicken dengan gerobak stainless second yang dibeli seharga tiga juta rupiah. Memang modalnya cukup menguras isi tabunganku, lima juta delapan ratus ribu rupiah untuk membeli gerobak stainless beserta seluruh peralatannya. Tapi kalau dihitung-hitung, sejumlah uang yang aku keluarkan memiliki multi manfaat. Membantu saudara sesama ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memberdayakan ekonomi ummat.
Niat awal adalah pemberdayaan ekonomi ummat. Menurut sahabatku Habib Syakir yang sudah sukses dengan perusahaannya lewat success strory-nya, ibarat menyetir mobil, saya sudah masuk ke gigi satu. Jangan dulu berharap banyak untung pada masa-masa awal usaha, yang penting adalah sustainability ketersinambungan usaha dan perputaran serta jangan sampai terputus, apa pun yang terjadi, walau harus nombok sekalipun. Dalam bahasa agamanya adalah: ber-ISTIQOMAH. 
Dunia kewirausahaan menjadi dunia yang sama sekali baru bagiku.Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam lingkarannya. Bagaimana pun aku harus tetap istiqomah pada niat awalku, yaitu pemberdayaan ekonomi ummat.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.