Sabtu, 21 Oktober 2017

BANGSA INDONESIA PUN BERTERIMA KASIH KEPADA SANTRI -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim. Al-Hamdu Lillaahi Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Wa 'Alaa Aalihii Wa Man Waalah. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang dicetuskan oleh Hadhratussyeikh Hasyim Asy'ari, menjadi tonggak sejarah kobaran jihad perlawanan mengusir kekuatan kolonial Belanda. Puncaknya adalah perang 10 November 1945 di Surabaya yang menjadi perang terdahsyat sepanjang sejarah perjuangan bangsa pada masa kolonial. Para prajurit yang ikut berperang saat itu terdiri dari TKR (Sekarang TNI), Laskar Hizbullah (bentukan Nahdhatul Ulama) dan Hizbul Wathan (bentukan Muhammadiyah). Bila dibuat perbandingan secara akumulatif, dua pertiga atau komponen terbanyak adalah dari unsur santri (Laskar Hizbullah dan Laskar Hizbul Wathan). Kakek penulis sendiri, almarhum Abdullah, tergabung dalam Laskar Hizbullah dan ikut perang 10 November di front terdepan. Semasa hidupnya beliau pernah menuturkan, bahwa front terdepan diisi oleh TKR, Laskar Hizbullah dan Laskar Hizbul Wathan yang berasal dari pesantren-pesantren besar di Jawa Timur. Ada pun front di belakangnya diisi oleh santri-santri utusan pesantren-pesantren yang berasal dari Jawa Barat dan Banten. Front terdepan ber"alutista" senjata-senjata berat pada zamannya. Sedangkan front belakang ber"alutista" bambu runcing. Cerita bambu runcing memang benar adanya. Pasukan di front belakang yang menggunakannya. Bambu-bambu runcing itu telah di"isi" oleh kiyai atau ajengannya dengan energi dzikrullah. Dengan pekikan Allahu Akbar yang membahana di langit Surabaya, bambu-bambu runcing itu hanya dipegang dan kemudian terbang sendiri. Menyadari mayoritas prajurit yang berjuang saat itu adalah para santri, Bung Tomo berkali-kali meneriakkan Kalimat Takbir dalam pidatonya di radio pada saat perang berkecamuk. Hasilnya? Surabaya kembali direbut. Almarhum kakek penulis datang ke pondok pesantren Tebuireng pada tahun 1940-an atas biaya Sultan Abdul Kahir III (Raja Bima yang terakhir). Beliau dikirim oleh Sultan Abdul Kaher III ke Tebuireng bersama beberapa pemuda lainnya. Mungkin sinonimnya di zaman sekarang adalah beasiswa dari raja kesultanan Bima. Saat itu banyak kesultanan Islam di berbagai belahan Nusantara (yang terakhir tentunya) mengirim para pemuda untuk untuk menuntut ilmu di pulau Jawa, sebab ketika itu Pulau Jawa menjadi pusat kemajuan pesantren di Nusantara. Trend tersebut akhirnya menjadi blessing in disguise (berkah tersembunyi). Kombinasi para pemuda dari Pulau Jawa dan dari daerah luar Jawa menjadi punggawa Laskar Hizbullah dan Hizbul Wathan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahkan mengakui bahwa yang paling banyak berjasa dalam banyak perang kemerdekaan adalah para santri, bukan TNI. Maksud beliau, TNI banyak berjasa, tetapi santri paling banyak berjasa. Santri harus banyak memegang peranan dalam membangun peradaban bangsa. Santri harus menjadi penyetir mobil. Jangan sampai santri menjadi pendorong mobil terus, yang setelah lelah mendorong mobil lalu ditinggal oleh yang menyetir mobil. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Kamis, 05 Oktober 2017

IMPROVING OUR STRENGTHS, MINIMIZING OUR WEAKNESSES -- By: Shabrun Jamil Baharun (An Ordinary Man, Working As PAIF at Religious Affairs Ministry of Tangerang District, Indonesia)

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. AL-HAMDU LILLAAHI WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. It is no doubt that everyone has strength and weakness. Even the strongest man or woman must have any weakness, and the weakest man or woman must have any strength actually. What we need to do is how to maximize our strength and how to minimize our weakness. We will never be perfect, that is the truth. We will always have weaknesses that will accompany us throughout our life. We will be set on a downward spiral, whenever we focus on weaknesses. We have to stop focusing on weaknesses, for it will lower our self-esteem and blur our vision. Focusing too much on our weaknesses is the reason why we get stuck doing things we are not good at. We have to understand both our strength and our weaknesses. All successful persons have one thing in common. They are maximizing their potential in the area of their focus. This is inevitably very valuable lesson for us. We don’t have to try to be everything to everybody, and we don’t have to pretend to know it all. Turn our focus away from our weaknesses and start discovering our core strength. Our next step will be to focus on expanding our strength and maximizing our potential. The Prophet Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam said, “the strong mukmin is better than the weak mukmin.” SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 01 Oktober 2017

HINDARI BANYAK HUTANG -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional, Kemenag. Kab. Tangerang)

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. AL-HAMDU LILLAAHI WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. Dalam salah satu doanya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Mengapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Jika seseorang berhutang, apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). Dalam hadits lain yang juga riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa meminjam harta orang lain dengan niat ingin mengembalikannya, Allah akan mengembalikan pinjaman itu, namun siapa yang meminjamnya dengan niat ingin merugikannya (orang yang dipinjam), maka Allah akan merugikannya (orang yang meminjam).” Dalam Islam, berhutang diperbolehkan bagi mereka yang memerlukannya. Meskipun begitu, tidak boleh dijadikan sebagai cara yang ditempuh untuk bermegah-megah, atau dengan leluasa dibuat tanpa keperluan dan bukan dengan asas yang benar dan syar’i. Banyak faktor yang menyebabkan tabiat suka berhutang, yaitu cinta akan dunia, tamak (rakus), riya dan mengharapkan pujian orang lain, takabbur (arogan), shum’ah (berbangga diri) dan suka pamer, serta tidak pandai bersyukur. Sangat tidak baik jika kita masih memiliki prinsip, “negara saja banyak hutang, masak saya tidak boleh banyak hutang?” Sejatinya kita mulai dari diri pribadi kita terlebih dahulu untuk tidak banyak berhutang. Banyak hutang adalah sebuah jeratan fatamorgana, yang mana semakin bertambah jumlah hutang kita, semakin bertambah pula jumlah penderitaan dan kesengsaraan hidup kita. Lalu bagaimana solusi agar kita terlepas dari jeratan hutang? Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini menjadi jawabannya: “Hakiem bin Hizam radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, dan dahulukan keluargamau (orang-orang yang wajib kamu belanjai), dan sebaik-sebaik sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta), maka Allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang merasa sudah cukup (berusaha untuk merasa cukup), maka Allah akan membantu memberinya kekayaan (kecukupan).’” SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.