Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba"du.
Dhuribat 'alaihimuddzillatu aina maa tsuqifuu illaa bi hablimminallaahi wa hablimminannaas wa baa-uu bi ghadhabimminallaahi wa dhuribat 'alaihimul maskanah. Dzaalika bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi wa yaqtuluunal anbiyaa-i bighairil haq. Dzaalika bimaa 'ashau wa kaanuu ya'taduun. (Qur'an Surah Ali 'Imron : 112)
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah, dan mereka diliputi kerendahan, yang demikian itu karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah, dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar, yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."
Hablumminallah adalah tata hubungan yang diatur antara manusia dengan Tuhannya dalam hal 'ubudiyyah (ibadah vertikal). Sedangkan hablumminannas adalah tata hubungan yang diatur antara manusia dan makhluk lainnya dalam wujud 'amaliyyyah sosial (ibadah horizontal).
Cara pertama dan yang paling utama untuk membina hablumminallah adalah jangan sampai kita berbuat syirik kepadaNya, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik ashgar (syirik kecil) atau syirik khafiy (syirik tersembunyi). Syirik akbar adalah menyekutukan Allah, bahkan meminta bantuan kepada jin ataupun syetan termasuk syirik akbar. Sedangkan syirik ashgar atau syirik khafiy adalah beribadah yang bukan diniatkan semata-mata karena Allah Ta'ala, tetapi hanya mengharapkan pujian manusia terhadap ibadah yang dilakukannya. Kecuali jika ibadahnya itu dilakukan dengan niat untuk memotivasi orang lain, dalam rangka Dakwah dan Syi'ar Islam, agar orang lain mau beribadah pula, maka itu sama sekali bukan termasuk syirik ashgar, malah hal itu termasuk yang dianjurkan.
Kemudian menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangaNya. Sebagai insan biasa, tentu dalam perjalannya akan menemui kendala dan rintangan dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebagai solusinya, Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa kepadaNya sebisa yang kita mampu.
Setelah itu jangan lupa berdo'a. Betapa angkuhnya kita sebagai manusia jika kita tidak pernah berdo'a kepada Allah. Mengapa kita harus berdo'a? Sebab do'a adalah otaknya ibadah dan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah Ta'ala. Do'a menjadi bukti benarnya iman dan pengenalan seseorang pada Allah Ta'ala. Do'a kita kepada Allah Ta'ala menunjukkan bahwa kita meyakini bahwa Allah itu ada dan Allah Maha Mencukupi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mampu.
Shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga merupakan bagian dari hablumminallah. Realitanya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak bershalawat kepada Nabi. Betapa pelitnya kita sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, jika kita tidak bershalawat kepada beliau manakala disebut nama beliau. Siapa pun pasti mengakui bahwa beliau adalah kekasih Allah Ta'ala, dan kita sebagai ummatnya sangat mencintai beliau.
Akhlak yang baik terhadap sesama manusia menjadi wujud dari hablumminannas. Yang pertama harus dijaga dalam akhlak adalah hubungan kita kepada orang tua kita. Kuncinya, keridhoaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua. Saat kita tidak mengasihi orang tua kita, maka Allah pun akan enggan mengasihi kita. Sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang bernama Al-Qomah radhiyallahu 'anhu pun sampai mengalami kesulitan dalam menghadapi sakaratul maut, karena ketiadaan ridha dari ibundanya yang mungkin bagi kita hanya disebabkan oleh suatu hal yang sepele. Melihat hal ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi sedih bukan kepalang. sebab beliau sangat paham betul akan ketaatan Al-Qomah kepada Allah dan RasulNya. Setelah adanya ancaman untuk membakar Al-Qomah, gertak yang berbentuk ancaman sebagai sebuah usaha terakhir untuk meluluhkan hati ibunda Al-Qomah, akhirnya nurani keibuan ibunda Al-Qomah muncul ke permukaan dan membuat hatinya luluh dan mau memaafkan Al-Qomah.
Bergaul dengan sesama manusia secara baik adalah satu rangkaian dengan taqwa serta menghapus keburukan dengan kebaikan. Rangkaiannya yang benar adalah taqwa -- menghapus keburukan dengan kebaikan -- bergaul dengan sesama manusia secara baik. Bila ada salah satu yang hilang atau pun dihilangkan, berarti ada mata rantai yang hilang. Hablumminallah dan hablumminannas, hubungan vertikal dan hubungan horizontal, ada pada ketiga prinsip tersebut.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Jumat, 30 Desember 2016
Senin, 26 Desember 2016
INDAHNYA BERSUCI -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyara
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Syarat sah ibadah dalam Islam adalah thaharah atau bersuci. Bersuci dari hadats besar dan hadats kecil dengan sarana air atau dalam keadaan darurat menggunakan batu atau pun daun. Bersuci dengan cara berwudhu juga menggunakan air, atau dalam keadaan darurat menggunakan debu. Mandi pun, baik mandi wajib mau pun mandi sunnah Jum'at juga menggunakan air.
Seorang Pangeran Arab yang sudah agak uzur, ketika berobat dengan seorang dokter Arab yang bukan beragama Islam bertanya kepadanya, tentang cara menghindari penyakit stroke. Sambil tertawa ringan sang dokter yang beragama Nashrani itu menjawab, "Jawabannya ada di Kitab Suci anda. Lakukan saja cara bersuci menurut agama anda. Bila anda membersihkan hidung anda dengan air sambil menghirupnya sedikit dan mengeluarkannya, itu adalah obat untuk mencegah penyakit stroke."
Biasanya orang yang rutin berinsyiqaq dalam wudhunya, ia jarang sekali terkena penyakit pilek. Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim, beliau menganjurkan melakukan insyiqaq tiga kali dalam berwudhu setelah bangun dari tidur, sebab syetan menginap di rongga-rongga hidung.
Insyiqaq (menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali) bukanlah bagian dari rukun wudhu. Insyiqaq adalah sunnah berwudhu. Yang sunnah saja banyak memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani kita, apalagi yang wajib.
Seorang wanita petugas laundry di Inggris akhirnya masuk Islam setelah mendapati bahwa pakaian-pakaian orang-orang yang beragama Islam yang dicuci di tempat laundrynya tidaklah sejorok dan sebau orang-orang yang lainnya. Setelah mengetahui bahwa orang-orang Islam selalu bersuci setelah terkena hadats kecil dan hadats besar, dan mengetahui kelebihan-kelebihan dari bersuci ini, ia pun akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah dan menjadi muallaf.
Beberapa manfaat dan hikmah bersuci adalah, mendidik manusia agar senantiasa hidup bersih, menjaga diri dari penyakit, menjadi cermin keimanan seseorang, serta meningkatkan kualitas hidup seseorang. Bersuci dari hadats jasmani, menjadi jalan menuju kesucian rohani atau kesucian jiwa (tazkiyatunnafs). Kesucian rohani atau kesucian jiwa menjadi absurd tanpa kesucian jasmani.
Sudahkah kita bersuci dengan benar?
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyara
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Syarat sah ibadah dalam Islam adalah thaharah atau bersuci. Bersuci dari hadats besar dan hadats kecil dengan sarana air atau dalam keadaan darurat menggunakan batu atau pun daun. Bersuci dengan cara berwudhu juga menggunakan air, atau dalam keadaan darurat menggunakan debu. Mandi pun, baik mandi wajib mau pun mandi sunnah Jum'at juga menggunakan air.
Seorang Pangeran Arab yang sudah agak uzur, ketika berobat dengan seorang dokter Arab yang bukan beragama Islam bertanya kepadanya, tentang cara menghindari penyakit stroke. Sambil tertawa ringan sang dokter yang beragama Nashrani itu menjawab, "Jawabannya ada di Kitab Suci anda. Lakukan saja cara bersuci menurut agama anda. Bila anda membersihkan hidung anda dengan air sambil menghirupnya sedikit dan mengeluarkannya, itu adalah obat untuk mencegah penyakit stroke."
Biasanya orang yang rutin berinsyiqaq dalam wudhunya, ia jarang sekali terkena penyakit pilek. Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim, beliau menganjurkan melakukan insyiqaq tiga kali dalam berwudhu setelah bangun dari tidur, sebab syetan menginap di rongga-rongga hidung.
Insyiqaq (menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali) bukanlah bagian dari rukun wudhu. Insyiqaq adalah sunnah berwudhu. Yang sunnah saja banyak memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani kita, apalagi yang wajib.
Seorang wanita petugas laundry di Inggris akhirnya masuk Islam setelah mendapati bahwa pakaian-pakaian orang-orang yang beragama Islam yang dicuci di tempat laundrynya tidaklah sejorok dan sebau orang-orang yang lainnya. Setelah mengetahui bahwa orang-orang Islam selalu bersuci setelah terkena hadats kecil dan hadats besar, dan mengetahui kelebihan-kelebihan dari bersuci ini, ia pun akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah dan menjadi muallaf.
Beberapa manfaat dan hikmah bersuci adalah, mendidik manusia agar senantiasa hidup bersih, menjaga diri dari penyakit, menjadi cermin keimanan seseorang, serta meningkatkan kualitas hidup seseorang. Bersuci dari hadats jasmani, menjadi jalan menuju kesucian rohani atau kesucian jiwa (tazkiyatunnafs). Kesucian rohani atau kesucian jiwa menjadi absurd tanpa kesucian jasmani.
Sudahkah kita bersuci dengan benar?
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
ARE WE MUSLIMS? -- By: Shabrun Jamil (An ordinary man working as Islamic Counselour at Religious Affair Ministry of Tangerang District)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdulillaahilladzii hadaanaa lihaadzaa wa maa kunnaa linahtadiya law laa an hadaanallaah
Wasshalaatu wassalaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin
Wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin.
Ammaa ba'du.
There are three pivotal questions that could be raised to us:
1. Since when we embrace Islam as our religion?
2. What is the hallmark of Islam as our religion?
3. What can abrogate Islam within ourselves?
The definite answers to these questions are:
1. We have been embracing Islam since we were in the womb of our mothers. Qur'an Surah Al-A'raf verse 172 stated:
Wa idz akhadza Rabbuka min banii Aadama min dzuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa. An taquuluu yaumal qiyaamati innaa kunnaa 'an hadzaa ghaafiliin.
"And (mention) when your Lord took from the children of Adam - from their loins - their descendents and made them testify of themselves (saying to them) "Am I not your Lord?" They said, "Yes, we have testified." lest you should say on the day of Resurrection,"Indeed, we were of this unaware."
2. The hallmark of Islam is soul and self purity, by looking up to Allah Ta'ala, looking to the middle to ourselves signs, and looking to the bottom to the nature and its surrounding.
3. There are some cases that can abrogate Islam within ourselves, they are; making partner or partners to our Lord (Allah Ta'ala), forsaking five times prayer (Shalah) on purpose, convincing of other belief than Islam, conducting blasphemy of Qur'an and Sunnah, insulting Islam, and performing black magic.
Islam refers to the active submission to the One God, Allah Ta'ala. Otherwise, Islam doesn't mean the passive submission to the One God. Islam emphasizes the active submission, not the passive submission. We can conclude that Islam is a dynamic religion based on Qur'an and Sunnah. We can sense "delicious flavor" of Islam when we are performing active submission to Allah Ta'ala in various activities. There is no other resources which are more complet the Qur'an and Sunnah. Reciting Qur'an is very enjoyable. Learning Qur'an and Sunnah is also enjoyable. Believe it!
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdulillaahilladzii hadaanaa lihaadzaa wa maa kunnaa linahtadiya law laa an hadaanallaah
Wasshalaatu wassalaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin
Wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin.
Ammaa ba'du.
There are three pivotal questions that could be raised to us:
1. Since when we embrace Islam as our religion?
2. What is the hallmark of Islam as our religion?
3. What can abrogate Islam within ourselves?
The definite answers to these questions are:
1. We have been embracing Islam since we were in the womb of our mothers. Qur'an Surah Al-A'raf verse 172 stated:
Wa idz akhadza Rabbuka min banii Aadama min dzuhuurihim dzurriyyatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa. An taquuluu yaumal qiyaamati innaa kunnaa 'an hadzaa ghaafiliin.
"And (mention) when your Lord took from the children of Adam - from their loins - their descendents and made them testify of themselves (saying to them) "Am I not your Lord?" They said, "Yes, we have testified." lest you should say on the day of Resurrection,"Indeed, we were of this unaware."
2. The hallmark of Islam is soul and self purity, by looking up to Allah Ta'ala, looking to the middle to ourselves signs, and looking to the bottom to the nature and its surrounding.
3. There are some cases that can abrogate Islam within ourselves, they are; making partner or partners to our Lord (Allah Ta'ala), forsaking five times prayer (Shalah) on purpose, convincing of other belief than Islam, conducting blasphemy of Qur'an and Sunnah, insulting Islam, and performing black magic.
Islam refers to the active submission to the One God, Allah Ta'ala. Otherwise, Islam doesn't mean the passive submission to the One God. Islam emphasizes the active submission, not the passive submission. We can conclude that Islam is a dynamic religion based on Qur'an and Sunnah. We can sense "delicious flavor" of Islam when we are performing active submission to Allah Ta'ala in various activities. There is no other resources which are more complet the Qur'an and Sunnah. Reciting Qur'an is very enjoyable. Learning Qur'an and Sunnah is also enjoyable. Believe it!
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Minggu, 25 Desember 2016
SEMUA TAK SAMA, EGALITARIANISME DALAM PANDANGAN ALLAH YANG TAK MAMPU DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA (BAGIAN 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Karakteristik sebagai katalisator dan problem solver melekat pada diri junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua orang mengakui kesuksesannya mendominasi Jazirah Arab. Ia dinobatkan sebagai ahli perang yang cerdik, seorang manusia yang penuh loyalitas terhadap kemanusiaan, seorang yang ma'shum, juga kesetiaannya menghadapi penindasan dan penganiayaan. Ia dikenal sebagai sosok yang al-amin (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), tabligh (penyampai wahyu dan risalah kenabian), dan shiddiq (perkataannya selalu benar).
Bila kita ingin melihat egalitarianisme atau persamaan hak asasi manusia dalam Islam, maka lihatlah sosok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam merumskan sebuah Piagam yang kemudian disebut dengan Piagam Madinah, sebuah Piagam atau Pakta yang mengatur hak dan kewajian seluruh warga negara dan hubungan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sifatnya yang al-amin ketika mengemban amanah, membuat Piagam Madinah benar-benar teraplikasikan untuk rakyat Madinah secara keseluruhan. Ini adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Berapa banyak Piagam atau Pakta atau pun Charter yang hanya tinggal tulisan dan tanda tangan di atas kertas. Banyak Nota-nota Kesepahaman yang awalnya sangat kencang dilaksanakan tapi lama kelamaan implementasinya menjadi melempem.
Shahiifatul Madiinah atau Konstitusi Madinah (Piagam Madinah) yang implementasinya sangat kuat menjadi tonggak sejarah awal egalitarianisme, empat belas abad sebelum adanya Universal Declaration of Human Rights.
Allah Ta'ala mengutus seorang manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ke muka bumi sebagai penutup Para Nabi dan Rasul. Egalitarianisme yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah egalitarianisme yang berdasarkan Wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Egalitarianisme transendetal tidaklah berlawanan dengan kehidupan dunia ini. Keilahian bukan semata masuk dalam ranah spiritual yang bersifat pribadi. Keilahian juga mencakup Spiritual Madani. Itulah mengapa bangunan egalitarianisme di negara Madinah disebut Civil Society atau masyarakat yang berperadaban.
Ketidaksamaan dalam kesamaan, dan kesamaan dalam ketidaksamaan, adalah sebuah keniscayaan hidup yang harus diakomodir. Saling mengisi, itulah kuncinya, untuk menjaga harmoni dalam irama hidup. Keadilan yang sebenarnya adalah mutlak milik Allah Ta'ala. Banyak hal dalam hidup ini yang kadang kala tak mampu dicerna oleh keterbatasan logika kita. Nabi Musa 'alahissalam pun akhirnya menyerah untuk mengikui Nabi Khidir 'alaihissalam. Allah Ta'ala menyuruh Nabi Musa 'alaihissalam untuk belajar kepada Nabi Khidir 'alahissalam dengan mengikuti perjalanannya. Namun apa daya, ilmu yang Allah Ta'ala berikan kepada Nabi Khidir 'alaihissalam tak mampu dicerna oleh logika berpikir Nabi Musa 'alaihissalam, walaupun pada zamannya Nabi Musa adalah orang yang paling pintar dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Karakteristik sebagai katalisator dan problem solver melekat pada diri junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua orang mengakui kesuksesannya mendominasi Jazirah Arab. Ia dinobatkan sebagai ahli perang yang cerdik, seorang manusia yang penuh loyalitas terhadap kemanusiaan, seorang yang ma'shum, juga kesetiaannya menghadapi penindasan dan penganiayaan. Ia dikenal sebagai sosok yang al-amin (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), tabligh (penyampai wahyu dan risalah kenabian), dan shiddiq (perkataannya selalu benar).
Bila kita ingin melihat egalitarianisme atau persamaan hak asasi manusia dalam Islam, maka lihatlah sosok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam merumskan sebuah Piagam yang kemudian disebut dengan Piagam Madinah, sebuah Piagam atau Pakta yang mengatur hak dan kewajian seluruh warga negara dan hubungan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sifatnya yang al-amin ketika mengemban amanah, membuat Piagam Madinah benar-benar teraplikasikan untuk rakyat Madinah secara keseluruhan. Ini adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Berapa banyak Piagam atau Pakta atau pun Charter yang hanya tinggal tulisan dan tanda tangan di atas kertas. Banyak Nota-nota Kesepahaman yang awalnya sangat kencang dilaksanakan tapi lama kelamaan implementasinya menjadi melempem.
Shahiifatul Madiinah atau Konstitusi Madinah (Piagam Madinah) yang implementasinya sangat kuat menjadi tonggak sejarah awal egalitarianisme, empat belas abad sebelum adanya Universal Declaration of Human Rights.
Allah Ta'ala mengutus seorang manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ke muka bumi sebagai penutup Para Nabi dan Rasul. Egalitarianisme yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah egalitarianisme yang berdasarkan Wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Egalitarianisme transendetal tidaklah berlawanan dengan kehidupan dunia ini. Keilahian bukan semata masuk dalam ranah spiritual yang bersifat pribadi. Keilahian juga mencakup Spiritual Madani. Itulah mengapa bangunan egalitarianisme di negara Madinah disebut Civil Society atau masyarakat yang berperadaban.
Ketidaksamaan dalam kesamaan, dan kesamaan dalam ketidaksamaan, adalah sebuah keniscayaan hidup yang harus diakomodir. Saling mengisi, itulah kuncinya, untuk menjaga harmoni dalam irama hidup. Keadilan yang sebenarnya adalah mutlak milik Allah Ta'ala. Banyak hal dalam hidup ini yang kadang kala tak mampu dicerna oleh keterbatasan logika kita. Nabi Musa 'alahissalam pun akhirnya menyerah untuk mengikui Nabi Khidir 'alaihissalam. Allah Ta'ala menyuruh Nabi Musa 'alaihissalam untuk belajar kepada Nabi Khidir 'alahissalam dengan mengikuti perjalanannya. Namun apa daya, ilmu yang Allah Ta'ala berikan kepada Nabi Khidir 'alaihissalam tak mampu dicerna oleh logika berpikir Nabi Musa 'alaihissalam, walaupun pada zamannya Nabi Musa adalah orang yang paling pintar dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
SEMUA TAK SAMA, EGALITARISME DALAM PANDANGAN ALLAH YANG TAK MAMPU DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA (Bagian I)-- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF di Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Seorang anak SD kelas lima mendapatkan nilai bagus ketika menerima rapor semesternya. Nilai itu ia dapatkan setelah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Sementara adiknya yang masih kelas dua SD, mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengan abangnya ketika menerima rapor semesternya. Setelah mengetahui adiknya mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengannya, kakaknya seketika melayangkan protes kepada orang tuanya. Isi dari protesnya itu adalah, mengapa adiknya yang belajarnya santai dan tidak sungguh-sungguh mendapatkan nilai yang sama bagus dengannya yang telah sangat giat dan sungguh-sungguh dalam belajar.
Tentu kedua orang tuanya dibuat bingung untuk menemukan jawaban yang tepat serta memuaskan anaknya yang masih duduk di kelas lima SD tersebut. Yang mampu dilakukan oleh kedua orang tuanya hanyalah mencari dan memberikan jawaban yang terbaik dan terbijak untuk anak mereka. Tapi untungnya, sang anak yang duduk di kelas lima SD tersebut karakternya lebih easy going dibandingkan adiknya yang masih duduk di kelas dua SD. Kejadian yang dirasakannya dianggapnya hanya sebagai angin lalu saja. Ia tetap menjadi dirinya sendiri yang tetap giat dan sungguh-sungguh dalam belajar, walaupun mungkin di dalam hatinya ia mengakui bahwa adiknya memang lebih pintar dari dirinya. Mungkin batinnya mengatakan bahwa adiknya yang biasa-biasa saja dalam belajar mendapatkan nilai bagus, apalagi jika adiknya belajar dengan sungguh-sungguh, bisa cumlaude nilainya. Namun demikian, ada dua nilai kelebihan yang dimiliki sang kakak, yaitu nilai kerja keras dan sifat easy going nya.
Dalam hidup ini, semua memang tak sama. Adil memang bukan berarti sama rata. Perpektif keadilan menurut manusia berbeda dengan keadilan Allah. Manusia menuntut egalitarisme dalam segala hal, namun kenyataannya situasi, keadaan, dan fakta yang terjadi sering kali tidak sama dan tidak sesuai dengan tuntutan manusia akan egalitarisme. Jangkauan akal manusia tentang keadilan Tuhan ternyata amat sangat terbatas. Akal manusia hanya mampu menjangkau keadilan dalam tataran perspektif, paradigma, dan stigma. Sedangkan keadilan Allah bersifat absolut. Tak ada yang sanggup masuk ke dalam absolutisme keadilan Tuhan. Allah bersifat AL-HAQQ (Yang Maha Benar). Manusia hanya sanggup mendekati nilai kebenaran, tapi bukan nilai kebenaran mutlak, sebab nilai kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Allah telah menetapkan Syari'atNya untuk dijalankan oleh hamba-hambaNya sebagai sebuah batasan norma-norma kehidupan. Namun demikian, Rahmat Allah yang begitu luas dan Kasih SayangNya membuat kita banyak mendapatkan keringanan dariNya.
Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu'aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih. Wa'fu'annaa waghfir lanaa war hamnaa. Anta Maulaanaa fanshurnaa 'alal qoumil kaafiriin. (Q.S. Al-Baqarah : 286).
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Seorang anak SD kelas lima mendapatkan nilai bagus ketika menerima rapor semesternya. Nilai itu ia dapatkan setelah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Sementara adiknya yang masih kelas dua SD, mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengan abangnya ketika menerima rapor semesternya. Setelah mengetahui adiknya mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengannya, kakaknya seketika melayangkan protes kepada orang tuanya. Isi dari protesnya itu adalah, mengapa adiknya yang belajarnya santai dan tidak sungguh-sungguh mendapatkan nilai yang sama bagus dengannya yang telah sangat giat dan sungguh-sungguh dalam belajar.
Tentu kedua orang tuanya dibuat bingung untuk menemukan jawaban yang tepat serta memuaskan anaknya yang masih duduk di kelas lima SD tersebut. Yang mampu dilakukan oleh kedua orang tuanya hanyalah mencari dan memberikan jawaban yang terbaik dan terbijak untuk anak mereka. Tapi untungnya, sang anak yang duduk di kelas lima SD tersebut karakternya lebih easy going dibandingkan adiknya yang masih duduk di kelas dua SD. Kejadian yang dirasakannya dianggapnya hanya sebagai angin lalu saja. Ia tetap menjadi dirinya sendiri yang tetap giat dan sungguh-sungguh dalam belajar, walaupun mungkin di dalam hatinya ia mengakui bahwa adiknya memang lebih pintar dari dirinya. Mungkin batinnya mengatakan bahwa adiknya yang biasa-biasa saja dalam belajar mendapatkan nilai bagus, apalagi jika adiknya belajar dengan sungguh-sungguh, bisa cumlaude nilainya. Namun demikian, ada dua nilai kelebihan yang dimiliki sang kakak, yaitu nilai kerja keras dan sifat easy going nya.
Dalam hidup ini, semua memang tak sama. Adil memang bukan berarti sama rata. Perpektif keadilan menurut manusia berbeda dengan keadilan Allah. Manusia menuntut egalitarisme dalam segala hal, namun kenyataannya situasi, keadaan, dan fakta yang terjadi sering kali tidak sama dan tidak sesuai dengan tuntutan manusia akan egalitarisme. Jangkauan akal manusia tentang keadilan Tuhan ternyata amat sangat terbatas. Akal manusia hanya mampu menjangkau keadilan dalam tataran perspektif, paradigma, dan stigma. Sedangkan keadilan Allah bersifat absolut. Tak ada yang sanggup masuk ke dalam absolutisme keadilan Tuhan. Allah bersifat AL-HAQQ (Yang Maha Benar). Manusia hanya sanggup mendekati nilai kebenaran, tapi bukan nilai kebenaran mutlak, sebab nilai kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Allah telah menetapkan Syari'atNya untuk dijalankan oleh hamba-hambaNya sebagai sebuah batasan norma-norma kehidupan. Namun demikian, Rahmat Allah yang begitu luas dan Kasih SayangNya membuat kita banyak mendapatkan keringanan dariNya.
Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu'aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih. Wa'fu'annaa waghfir lanaa war hamnaa. Anta Maulaanaa fanshurnaa 'alal qoumil kaafiriin. (Q.S. Al-Baqarah : 286).
Sabtu, 17 Desember 2016
BELAJAR RIDHO TERHADAP QADHA DAN QADAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Belajar ridho terhadap Qadha dan Taqdir Allah Ta'ala berarti belajar untuk Qana'ah. Qana'ah adalah sikap menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat Qana'ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Alla Ta'ala.
Proses Qana'ah terjadi setelah adanya ikhtiyar dan ijtihad kita. Sangat tidak pantas bagi kita untuk ber-Qana'ah tanpa berusaha dan berupaya dengan maksimal. Belum apa-apa sudah bilang Qana'ah tanpa berupaya dan berusaha terlebih dahulu sebelumnya, jelas itu namanya Kasal atau sikap malas. Pelakunya disebut Kaslan atau orang malas. Allah melarang kita memiliki sifat Kasal tadi.
Qana'ah memiliki fungsi stabilisator, yakni seorang muslim yang memiliki sifat qana'ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. Qana'ah juga memiliki fungsi dinamisator, yaitu bahwa kekuatan batin akan mendorong seseorang untuk meraih kemenangan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah Ta'ala.
Ketika Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya, "Bagaiman hukum ridha kepada qadar (taqdir Allah), apakah do'a dapat mengubah Qadha?, beliau menjawab: "Ridha pada Qadar hukumnya wajib, karena hal itu termasuk kesempurnaan ridha terhadap rububiyyah Allah. Maka setiap mu'min harus ridha kepada Qadha Allah. Namun Muqadha (sesuatu yang diqadha atau ditetapkan sebelum taqdir) masih perlu dirinci, karena sesuatu yang diqadha berbeda dengan Qadha itu sendiri. Qadha adalah perbuatan Allah, sedangkan sesuatu yang diqadha adalah sesuatu yang dikenai Qadha. Maka Qadha yang merupakan perbuatan Allah harus kita relakan dalam kondisi apa pun, dan kita tidak boleh membencinya selamanya."
Kunci sikap ridha terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala adalah sikap Qana'ah. Tanpa password Q-a-n-a-a-h, tidak akan terbuka sikap ridha kita terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala. Dengan sikap Qana'ah, akan terimplementasi pula sikap hidup Radhiitu Billaahi Rabbaa, Wa Bil Islaami Diinaa, Wa Bi Muhammadin Nabiyyaa Wa Rasuulaa.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilaih
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Belajar ridho terhadap Qadha dan Taqdir Allah Ta'ala berarti belajar untuk Qana'ah. Qana'ah adalah sikap menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat Qana'ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Alla Ta'ala.
Proses Qana'ah terjadi setelah adanya ikhtiyar dan ijtihad kita. Sangat tidak pantas bagi kita untuk ber-Qana'ah tanpa berusaha dan berupaya dengan maksimal. Belum apa-apa sudah bilang Qana'ah tanpa berupaya dan berusaha terlebih dahulu sebelumnya, jelas itu namanya Kasal atau sikap malas. Pelakunya disebut Kaslan atau orang malas. Allah melarang kita memiliki sifat Kasal tadi.
Qana'ah memiliki fungsi stabilisator, yakni seorang muslim yang memiliki sifat qana'ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. Qana'ah juga memiliki fungsi dinamisator, yaitu bahwa kekuatan batin akan mendorong seseorang untuk meraih kemenangan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah Ta'ala.
Ketika Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya, "Bagaiman hukum ridha kepada qadar (taqdir Allah), apakah do'a dapat mengubah Qadha?, beliau menjawab: "Ridha pada Qadar hukumnya wajib, karena hal itu termasuk kesempurnaan ridha terhadap rububiyyah Allah. Maka setiap mu'min harus ridha kepada Qadha Allah. Namun Muqadha (sesuatu yang diqadha atau ditetapkan sebelum taqdir) masih perlu dirinci, karena sesuatu yang diqadha berbeda dengan Qadha itu sendiri. Qadha adalah perbuatan Allah, sedangkan sesuatu yang diqadha adalah sesuatu yang dikenai Qadha. Maka Qadha yang merupakan perbuatan Allah harus kita relakan dalam kondisi apa pun, dan kita tidak boleh membencinya selamanya."
Kunci sikap ridha terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala adalah sikap Qana'ah. Tanpa password Q-a-n-a-a-h, tidak akan terbuka sikap ridha kita terhadap Qadha dan Qadar Allah Ta'ala. Dengan sikap Qana'ah, akan terimplementasi pula sikap hidup Radhiitu Billaahi Rabbaa, Wa Bil Islaami Diinaa, Wa Bi Muhammadin Nabiyyaa Wa Rasuulaa.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Jumat, 16 Desember 2016
NEVER GIVE UP ON ALLAH'S GRACE AND MERCY -- By: Shabrun Jamil (Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wal 'Aaqibatu Lil Muttaqiin
Wa Laa 'Udwaana Illaa 'Aladdzaalimiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Wa law laa fadhlullaahi 'alaikum wa rahmatuhuu fiddunyaa wal aakhirati lamassakum fii maa afadhtum fiihi 'adzaabun 'adziim.(Qur'an Surah An-Nur verse 14)
"And if it had not been for the favor of Allah upon you and His mercy in this world and the hereafter, you would have been touched for that (lie) in which you were involved by a great punishment."
'An Abdillaah ibni 'Abbaasin radhiyallaahu 'anhumaa 'an Rasulillaahi shallallaahu 'alaihi wa sallam fii maa yarwiihi 'an Rabbihii Tabaaraka Wa Ta'aalaa Qaala: Innallaaha katabal hasanaati wassayyi-aati tsumma bayyana dzaalika, faman hamma bihasanatin wa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa 'amilahaa katabahallaahu 'indahuu 'asyra hasanaatin ilaa sab'imi-ati dhi'fiin ilaa adh'aafin katsiirah. Wa in bi sayyi-atin fa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa'amilahaa katabahallaahu sayyi-atan waahidatan (rawaahul bukhaary wa muslim).
"On the authority of Abdullah ibn Abbas (may Allah be pleased with him) from the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) from what he has related from his Lord: Verily Allah Ta'ala has written down the good deeds and the evil deeds and then explained it (by saying): Whoever intended perform a good deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended to perform it and then did not perform it, then Allah writes it down with Himself as from ten good deeds up to seven hundred times, up to many times multiplied. And if he intended to perform an evil deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended it, and then perform it, then Allah writes it down as one evil deed."
Some of us might think that Islam teaches that paradise can be earned by one own's deeds. Actually, it is only Allah's Grace and His Mercy which allows us to enter paradise. Allah is The Forgiver, and to claim that man can grant forgiveness is to take away from Allah's Names and Attributes.
No one will attain eternal Salvation due to his own level of faith or deeds, but rather, it is only achieved through Allah's Grace. Even the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) would only enter paradise due to Allah's Grace.
Grace and Mercy are such elusive words in Qur'an. We might understand Grace as Loving, Mercy, Forgiveness, and Compassion. From an understanding of Grace and Mercy we have opportunity to know Allah better.
We have to keep all our hope to Allah, The Glorified, and never have hope in anyone other than Him, for indeed no one has hoped in other than Allah, The Exalted, but that he has been dissappointed. The greatest affliction is the severence of hope. Hope in the Mercy of Allah brings more success.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wal 'Aaqibatu Lil Muttaqiin
Wa Laa 'Udwaana Illaa 'Aladdzaalimiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Wa law laa fadhlullaahi 'alaikum wa rahmatuhuu fiddunyaa wal aakhirati lamassakum fii maa afadhtum fiihi 'adzaabun 'adziim.(Qur'an Surah An-Nur verse 14)
"And if it had not been for the favor of Allah upon you and His mercy in this world and the hereafter, you would have been touched for that (lie) in which you were involved by a great punishment."
'An Abdillaah ibni 'Abbaasin radhiyallaahu 'anhumaa 'an Rasulillaahi shallallaahu 'alaihi wa sallam fii maa yarwiihi 'an Rabbihii Tabaaraka Wa Ta'aalaa Qaala: Innallaaha katabal hasanaati wassayyi-aati tsumma bayyana dzaalika, faman hamma bihasanatin wa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa 'amilahaa katabahallaahu 'indahuu 'asyra hasanaatin ilaa sab'imi-ati dhi'fiin ilaa adh'aafin katsiirah. Wa in bi sayyi-atin fa lam ya'malhaa katabahallaahu 'indahuu hasanatan kaamilatan, wa in hamma bihaa fa'amilahaa katabahallaahu sayyi-atan waahidatan (rawaahul bukhaary wa muslim).
"On the authority of Abdullah ibn Abbas (may Allah be pleased with him) from the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) from what he has related from his Lord: Verily Allah Ta'ala has written down the good deeds and the evil deeds and then explained it (by saying): Whoever intended perform a good deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended to perform it and then did not perform it, then Allah writes it down with Himself as from ten good deeds up to seven hundred times, up to many times multiplied. And if he intended to perform an evil deed, but did not do it, then Allah writes it down with Himself as a complete good deed. And if he intended it, and then perform it, then Allah writes it down as one evil deed."
Some of us might think that Islam teaches that paradise can be earned by one own's deeds. Actually, it is only Allah's Grace and His Mercy which allows us to enter paradise. Allah is The Forgiver, and to claim that man can grant forgiveness is to take away from Allah's Names and Attributes.
No one will attain eternal Salvation due to his own level of faith or deeds, but rather, it is only achieved through Allah's Grace. Even the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) would only enter paradise due to Allah's Grace.
Grace and Mercy are such elusive words in Qur'an. We might understand Grace as Loving, Mercy, Forgiveness, and Compassion. From an understanding of Grace and Mercy we have opportunity to know Allah better.
We have to keep all our hope to Allah, The Glorified, and never have hope in anyone other than Him, for indeed no one has hoped in other than Allah, The Exalted, but that he has been dissappointed. The greatest affliction is the severence of hope. Hope in the Mercy of Allah brings more success.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
ANTITESA TERHADAP AJARAN ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Irghaaman Liman Jaahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyar
Allaahumma Fashalli Wa Sallim 'Alaa Haadzannabiyyil Kariim
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Pasca Perang Salib I & II serta pasca Perang Dunia kesatu dan kedua, orang-orang Barat sangat intens mempelajari Islam tanpa perlu memeluk agama Islam terlebih dahulu. Tujuannya adalah menguliti ajaran-ajaran Islam untuk kemudian merusak Islam dari dalam. Kenyataannya, semakin mereka mempelajari Islam, semakin mereka menemukan kebenaran Islam. Namun demikian, tesis kebenaran ajaran Islam selalu mereka counter dengan membuat antitesis terhadap ajaran Islam. Orang-orang Barat yang mempelajari Islam kita sebut sebagai orientalis. Walaupun sebenarnya arti orientalis adalah orang-orang yang mempelajari masalah ketimuran (orientalisme), namun stigma orang-orang Barat yang mempelajari Islam telah terlanjur mengakar.
Para orientalis, menurut Edward W Said yang juga seorang orientalis, memiliki beberapa kelemahan. Satu kelemahan yang paling mendasar adalah para orientalis tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab (sastra dan gramatikanya) yang memadai, sehingga tidak memiliki sense of language atau rasa bahasa yang cukup, dan membuat konteksnya tidak sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pada hakikatnya, pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun Al-Qur'an juga dipelajari oleh orang-orang Yahudi Madinah. Mereka mempelajari Al-Qur'an bukan untuk mengimaninya, tetapi malah mengolok-oloknya. Olokan-olokan kaum Yahudi terhadap ayat-ayat Allah dalam Kitab-kitab suciNya sudah dilakukan sejak zaman para Nabi terdahulu. Bahkan mereka sengaja merubah ayat-ayat Allah. Kitab Injil telah menjadi korban kejahilan mereka, apalagi Kitab Taurat. Bahkan akhirnya kaum Yahudi menggunakan Kitab karangan mereka sendiri, yaitu Tabut.
Afatathma'uuna ayyu'minuu lakum wa qad kaana fariiqumminhum yasma'uuna kalaamallaahi tsumma yuharrifuunahuu mimba'di maa 'aqaluuhu wa hum ya'lamuun. (Q.S. 2: 75)
"Maka apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya."
Adakah Al-Qur'an dan As-Sunnah mengalami perubahan sampai saat ini. Seringkali Al-Qur'an dinistakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab, baik dengan dalih ilmiah maupun dengan dalih politik. Tapi tetap, Al-Qur'an terjaga keasliannya.
Iblis la'natullah dan syetan-syetan akan terus berusaha dengan segala upaya untuk membuat kita ragu dengan tesis kebenaran ajaran Islam. Sampai saat menjelang sakaratul maut, syetan akan terus berusaha untuk menggelincirkan keyakinan kita terhadap ajaran Islam. Di situlah pertarungan seorang manusia dalam melepas masa hidup di dunia, apakah husnul khatimah ataukah suu-ul khatimah.
Mudah-mudahan kehidupan kita berakhir dalam keadaan husnul khatimah. Amin.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Irghaaman Liman Jaahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyar
Allaahumma Fashalli Wa Sallim 'Alaa Haadzannabiyyil Kariim
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Pasca Perang Salib I & II serta pasca Perang Dunia kesatu dan kedua, orang-orang Barat sangat intens mempelajari Islam tanpa perlu memeluk agama Islam terlebih dahulu. Tujuannya adalah menguliti ajaran-ajaran Islam untuk kemudian merusak Islam dari dalam. Kenyataannya, semakin mereka mempelajari Islam, semakin mereka menemukan kebenaran Islam. Namun demikian, tesis kebenaran ajaran Islam selalu mereka counter dengan membuat antitesis terhadap ajaran Islam. Orang-orang Barat yang mempelajari Islam kita sebut sebagai orientalis. Walaupun sebenarnya arti orientalis adalah orang-orang yang mempelajari masalah ketimuran (orientalisme), namun stigma orang-orang Barat yang mempelajari Islam telah terlanjur mengakar.
Para orientalis, menurut Edward W Said yang juga seorang orientalis, memiliki beberapa kelemahan. Satu kelemahan yang paling mendasar adalah para orientalis tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab (sastra dan gramatikanya) yang memadai, sehingga tidak memiliki sense of language atau rasa bahasa yang cukup, dan membuat konteksnya tidak sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Pada hakikatnya, pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun Al-Qur'an juga dipelajari oleh orang-orang Yahudi Madinah. Mereka mempelajari Al-Qur'an bukan untuk mengimaninya, tetapi malah mengolok-oloknya. Olokan-olokan kaum Yahudi terhadap ayat-ayat Allah dalam Kitab-kitab suciNya sudah dilakukan sejak zaman para Nabi terdahulu. Bahkan mereka sengaja merubah ayat-ayat Allah. Kitab Injil telah menjadi korban kejahilan mereka, apalagi Kitab Taurat. Bahkan akhirnya kaum Yahudi menggunakan Kitab karangan mereka sendiri, yaitu Tabut.
Afatathma'uuna ayyu'minuu lakum wa qad kaana fariiqumminhum yasma'uuna kalaamallaahi tsumma yuharrifuunahuu mimba'di maa 'aqaluuhu wa hum ya'lamuun. (Q.S. 2: 75)
"Maka apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya."
Adakah Al-Qur'an dan As-Sunnah mengalami perubahan sampai saat ini. Seringkali Al-Qur'an dinistakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab, baik dengan dalih ilmiah maupun dengan dalih politik. Tapi tetap, Al-Qur'an terjaga keasliannya.
Iblis la'natullah dan syetan-syetan akan terus berusaha dengan segala upaya untuk membuat kita ragu dengan tesis kebenaran ajaran Islam. Sampai saat menjelang sakaratul maut, syetan akan terus berusaha untuk menggelincirkan keyakinan kita terhadap ajaran Islam. Di situlah pertarungan seorang manusia dalam melepas masa hidup di dunia, apakah husnul khatimah ataukah suu-ul khatimah.
Mudah-mudahan kehidupan kita berakhir dalam keadaan husnul khatimah. Amin.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Selasa, 13 Desember 2016
ANTITESA TERHADAP AGAMA ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 1)-- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Ketika saya kecil, banyak orang yang mengakronimkan ISLAM sebagai singkatan dari I(Isya), S(Shubuh). L(Lohor atau Dzuhur), A(Ashar), dan M(Maghrib)."Plesetan positif" ini seperti layaknya "ijtihad" khayalak umum. Sah-sah saja mereka memberikan stigma seperti itu, sebab tiang-tiang Agama Islam adalah 5 shalat fardhu tadi.
Kata ISLAM secara lughawiy adalah bentuk mashdar (infinitive) dari kata aslama -yuslimu. Islam memiliki beberapa makna, yaitu damai, penyerahan total kepada Allah, bersih dan suci, serta selamat dan sejahtera.
Dalam kaca mata terminologi, Islam diistilahkan sebagai "ketundukan seorang hamba kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul khususnya Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam yang dijadikan pedoman hidup, juga sebagai hukum atau aturan Allah Ta'ala yang dapat membimbing ummat manusia ke jalan yang lurus, menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat."
Banyak orang yang berusaha untuk mengorek-ngorek Agama Islam, ajaran Islam, Kitab Suci Agama Islam, hukum Islam, bahkan mengulitinya, hanya dengan satu tujuan, yaitu menemukan kelemahan Islam untuk mengolok-oloknya. Kenyataannya, semakin Islam dipelajari dengan benar, semakin mereka menemukan kebenaran Islam, kesesuaian hukum Islam dengan fitrah manusia. Semakin mereka mengorek-ngorek Kitab Suci Agama Islam (Al-Qur'an Al-Karim), semakin mereka menemukan kesesuaian Al-Qur'an dengan fenomena alam semesta dan fenomena makhluk yang ada di muka bumi, khususnya makhluk yang bernama manusia.
Itulah mengapa Islam dianggap sebagai sebuah tesis kebenaran. Namun demikian, banyak orang yang berusaha membuat antitesis terhadap Islam. Upaya-upaya membuat antitesis terhadap Islam bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bukan pemeluk Agama Islam, bahkan sekelompok pemeluk Agama Islam pun melakukannya.
Islam adalah Islam, agama yang rahmatan lil 'aalamiin. Islam tidak bisa diaduk dengan kapitalis, sekularis, liberalis, sosialis, dan komunis. Tesis kebenaran Islam adalah Islam itu sendiri. Antitesis terhadap Islam adalah ajaran-ajaran yang sudah disebutkan tadi. Al-Qur'an adalah Al-Qur'an, dan memiliki metodologi penafsirannya sendiri. Al-Qur'an tidak bisa digiring kepada metodologi penafsiran heurmeneutika, sebuah metodologi penafsiran Bibel.
Begitu besarnya dana yang digelontorkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk membalikkan tesis kebenaran menjadi antitesis. Gelontoran dana super besar itu diterima dengan sigap dan cepat para sarjana dan tokoh muslim. Tanpa kebulatan iman di dada, hukum supply and demand proyek besar penggerusan Agama Islam pun jadi berlaku. Ada yang awalnya hanya dijebak saja, tapi lama kelamaan semakin ketagihan dan semakin padam cahaya Islam di dalam dadanya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Ketika saya kecil, banyak orang yang mengakronimkan ISLAM sebagai singkatan dari I(Isya), S(Shubuh). L(Lohor atau Dzuhur), A(Ashar), dan M(Maghrib)."Plesetan positif" ini seperti layaknya "ijtihad" khayalak umum. Sah-sah saja mereka memberikan stigma seperti itu, sebab tiang-tiang Agama Islam adalah 5 shalat fardhu tadi.
Kata ISLAM secara lughawiy adalah bentuk mashdar (infinitive) dari kata aslama -yuslimu. Islam memiliki beberapa makna, yaitu damai, penyerahan total kepada Allah, bersih dan suci, serta selamat dan sejahtera.
Dalam kaca mata terminologi, Islam diistilahkan sebagai "ketundukan seorang hamba kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul khususnya Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam yang dijadikan pedoman hidup, juga sebagai hukum atau aturan Allah Ta'ala yang dapat membimbing ummat manusia ke jalan yang lurus, menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat."
Banyak orang yang berusaha untuk mengorek-ngorek Agama Islam, ajaran Islam, Kitab Suci Agama Islam, hukum Islam, bahkan mengulitinya, hanya dengan satu tujuan, yaitu menemukan kelemahan Islam untuk mengolok-oloknya. Kenyataannya, semakin Islam dipelajari dengan benar, semakin mereka menemukan kebenaran Islam, kesesuaian hukum Islam dengan fitrah manusia. Semakin mereka mengorek-ngorek Kitab Suci Agama Islam (Al-Qur'an Al-Karim), semakin mereka menemukan kesesuaian Al-Qur'an dengan fenomena alam semesta dan fenomena makhluk yang ada di muka bumi, khususnya makhluk yang bernama manusia.
Itulah mengapa Islam dianggap sebagai sebuah tesis kebenaran. Namun demikian, banyak orang yang berusaha membuat antitesis terhadap Islam. Upaya-upaya membuat antitesis terhadap Islam bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bukan pemeluk Agama Islam, bahkan sekelompok pemeluk Agama Islam pun melakukannya.
Islam adalah Islam, agama yang rahmatan lil 'aalamiin. Islam tidak bisa diaduk dengan kapitalis, sekularis, liberalis, sosialis, dan komunis. Tesis kebenaran Islam adalah Islam itu sendiri. Antitesis terhadap Islam adalah ajaran-ajaran yang sudah disebutkan tadi. Al-Qur'an adalah Al-Qur'an, dan memiliki metodologi penafsirannya sendiri. Al-Qur'an tidak bisa digiring kepada metodologi penafsiran heurmeneutika, sebuah metodologi penafsiran Bibel.
Begitu besarnya dana yang digelontorkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk membalikkan tesis kebenaran menjadi antitesis. Gelontoran dana super besar itu diterima dengan sigap dan cepat para sarjana dan tokoh muslim. Tanpa kebulatan iman di dada, hukum supply and demand proyek besar penggerusan Agama Islam pun jadi berlaku. Ada yang awalnya hanya dijebak saja, tapi lama kelamaan semakin ketagihan dan semakin padam cahaya Islam di dalam dadanya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Senin, 12 Desember 2016
MECCA LIBERATION, A GREAT HISTORY OF ISLAM -- By: Shabrun Jamil (Islamic Counselor of Religious Affair Ministry of Tangerang District)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam saw in his dream one that the believers would enter Masjidil Haram and walk around the Ka'bah. The next day he immediately gave this good news to his ummah, since they had migrated from Mecca to Medina with him and supposed that they had not been able to return.
Laqad shadaqallaahu rasuulahurru'yaa bilhaqqi latadkhulunnal masjidal haraama insyaa Allaahu aaminiina muhalliqiina ru-uusakum wa muqasshiriina laa takhaafuun. Fa'alima maa lam ta'lamuu fa ja'ala min duuni dzaalika fathan qariibaa (Surah Al-Fath verse 27).
"Allah has confirm His messenger's vision with truth: You will enter the Masjid al-Haram (the Sacred Mosque) in safety, Allah willing, shaving your head and cutting your hair without any fear. He knew what you did not know and ordained, in place of this, an imminent victory."
The Meccan tribe of Quraysh and the Muslim Community in Medina signed a 10 year-truce c alled Treaty of Hudaybiyah in 628 CE. The Arab tribes were given the option of joining on of these two parties, the Muslims or Quraysh. As a result, Banu Bakr joined Quraysh, and Khuza'ah joined Muhammad. They then lived in peace for some time, but ulterior motives stretching back t the pre-Islamic period, ignited by unabated fire of revenge, triggered fresh hostilities. Banu Bakr, without concern for the provisions of the treaty, attacked Banu Khuza'a in a place called Al-Wateer in Sha'ban, in 8 AH. Qurasyh helped Banu Bakr with men and arms, taking advantag of the dark night. Pressed by their enemies, the trbesmen of Khuza'a sought the Holy Sanctuary, but here too, their lives were no spared, and contrary to all accepted traditions, Nawfal, the chief of Banu Bakr, chased them in the sanctified area, where no blood should be shed, and massacred his adversaries. Khuza'a at once sent a delegation to Medina to inform Muhammad of this breach of truce and to seek help from Muslims o Medina as their allies.
Right after the incident, Quraysh sent a delegation to Muhammad, petitioning to maintain the treaty with the Muslims and offering material compensation. The Muslim forces had gathered in strength t settle account with Quraysh and for the final attack and the opening of Meca. On the eve of the opening, Abu Sufyan adopted Islam. When asked by Muhammad, he conceded that the Meccan gods had proved powerless and that there was indeed 'no god but Allah', the first part of the Islamic confession of aith. In turn, Muhammad declared Abu Sufyan's house a sanctuary because he was the present chief, and that all th others were gathered over his territory.
When Sa'ad passed by Abu Sufyan with th banner of the Prophet on the day Mecca was liberated, he announced, "O Abu Sufyan! Today is a day of slaghter! Today the unlawful will be lawful! Today Allah wll disgrace the Quraish! So the Messenger of Allah, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam said, "O Abu sufyan, today is a day of mercy. Today Allah will honor the Quraysh."
Such a great history had been made by over 10,000 Muslims who liberated Mecca in a very peace situation. TAKBIR, TAHLIL, TAHMID, reverberated in the sky of Mecca.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHAU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam saw in his dream one that the believers would enter Masjidil Haram and walk around the Ka'bah. The next day he immediately gave this good news to his ummah, since they had migrated from Mecca to Medina with him and supposed that they had not been able to return.
Laqad shadaqallaahu rasuulahurru'yaa bilhaqqi latadkhulunnal masjidal haraama insyaa Allaahu aaminiina muhalliqiina ru-uusakum wa muqasshiriina laa takhaafuun. Fa'alima maa lam ta'lamuu fa ja'ala min duuni dzaalika fathan qariibaa (Surah Al-Fath verse 27).
"Allah has confirm His messenger's vision with truth: You will enter the Masjid al-Haram (the Sacred Mosque) in safety, Allah willing, shaving your head and cutting your hair without any fear. He knew what you did not know and ordained, in place of this, an imminent victory."
The Meccan tribe of Quraysh and the Muslim Community in Medina signed a 10 year-truce c alled Treaty of Hudaybiyah in 628 CE. The Arab tribes were given the option of joining on of these two parties, the Muslims or Quraysh. As a result, Banu Bakr joined Quraysh, and Khuza'ah joined Muhammad. They then lived in peace for some time, but ulterior motives stretching back t the pre-Islamic period, ignited by unabated fire of revenge, triggered fresh hostilities. Banu Bakr, without concern for the provisions of the treaty, attacked Banu Khuza'a in a place called Al-Wateer in Sha'ban, in 8 AH. Qurasyh helped Banu Bakr with men and arms, taking advantag of the dark night. Pressed by their enemies, the trbesmen of Khuza'a sought the Holy Sanctuary, but here too, their lives were no spared, and contrary to all accepted traditions, Nawfal, the chief of Banu Bakr, chased them in the sanctified area, where no blood should be shed, and massacred his adversaries. Khuza'a at once sent a delegation to Medina to inform Muhammad of this breach of truce and to seek help from Muslims o Medina as their allies.
Right after the incident, Quraysh sent a delegation to Muhammad, petitioning to maintain the treaty with the Muslims and offering material compensation. The Muslim forces had gathered in strength t settle account with Quraysh and for the final attack and the opening of Meca. On the eve of the opening, Abu Sufyan adopted Islam. When asked by Muhammad, he conceded that the Meccan gods had proved powerless and that there was indeed 'no god but Allah', the first part of the Islamic confession of aith. In turn, Muhammad declared Abu Sufyan's house a sanctuary because he was the present chief, and that all th others were gathered over his territory.
When Sa'ad passed by Abu Sufyan with th banner of the Prophet on the day Mecca was liberated, he announced, "O Abu Sufyan! Today is a day of slaghter! Today the unlawful will be lawful! Today Allah wll disgrace the Quraish! So the Messenger of Allah, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam said, "O Abu sufyan, today is a day of mercy. Today Allah will honor the Quraysh."
Such a great history had been made by over 10,000 Muslims who liberated Mecca in a very peace situation. TAKBIR, TAHLIL, TAHMID, reverberated in the sky of Mecca.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHAU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Sabtu, 10 Desember 2016
KAMI MERINDUKANMU WAHAI RASULULLAH (Bagian 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna 'alannabiyy yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. (Q. S. Al-Ahzaab ayat 56).
"Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
Makna shalawat Allah kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah pujian Allah kepada Nabi di hadapan para malaikatNya. Shalawat malaikat kepada Nabi adalah mendo'akan beliau. Shalawat ummatnya berarti permohonan ampun kepada beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan rasulNya Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para malaikat, dan para malaikat pun mendoakan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam yang terendah, yaitu bumi.
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Man shallaa 'alayya aw sa-ala lii al-wasiilata haqqat 'alaihi syafaa'atii yaumal qiyaamah. "Barang siapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapat wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa'atku pada Hari Kiamat nanti."
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, man shallaa 'alayyaa waahidatan shallallaahu 'alaihi 'asyran. "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (H.R. Muslim)
Aktsiruu 'alayyaa minasshalaati fii kulli yaumi jumu'ah fa inna shalaata ummatii tu'radhu 'alayya fii kulli yaumi jumu'ah, fa man kaana aktsaruhum 'alayya shalaatan kaana aqrabuhum minnii manzilatan. "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Karena shalawat ummatku akan diperlihatkan kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Barang siapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat nanti." (H.R. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, derajat haditsnya adalah hasan lighairihi).
Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah kekasih Allah Ta'ala. Begitu besarnya cinta Allah Azza Wa Jalla kepada hamba dan Nabinya. Terlebih lagi kita sebagai hamba Allah Ta'ala. Bila kita belum mencintai Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam, berarti ada yang salah dengan diri kita. Mungkin kita belum terbiasa menjalankan sunnah-sunnahnya. Atau mungkin pula kita amat jarang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Keterkaitan antara meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan pertanda kesempurnaan imannya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna 'alannabiyy yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. (Q. S. Al-Ahzaab ayat 56).
"Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
Makna shalawat Allah kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah pujian Allah kepada Nabi di hadapan para malaikatNya. Shalawat malaikat kepada Nabi adalah mendo'akan beliau. Shalawat ummatnya berarti permohonan ampun kepada beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah Ta'ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan rasulNya Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para malaikat, dan para malaikat pun mendoakan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam yang terendah, yaitu bumi.
Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Man shallaa 'alayya aw sa-ala lii al-wasiilata haqqat 'alaihi syafaa'atii yaumal qiyaamah. "Barang siapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapat wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa'atku pada Hari Kiamat nanti."
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, man shallaa 'alayyaa waahidatan shallallaahu 'alaihi 'asyran. "Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (H.R. Muslim)
Aktsiruu 'alayyaa minasshalaati fii kulli yaumi jumu'ah fa inna shalaata ummatii tu'radhu 'alayya fii kulli yaumi jumu'ah, fa man kaana aktsaruhum 'alayya shalaatan kaana aqrabuhum minnii manzilatan. "Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Karena shalawat ummatku akan diperlihatkan kepadaku pada setiap Hari Jum'at. Barang siapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat nanti." (H.R. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro, derajat haditsnya adalah hasan lighairihi).
Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah kekasih Allah Ta'ala. Begitu besarnya cinta Allah Azza Wa Jalla kepada hamba dan Nabinya. Terlebih lagi kita sebagai hamba Allah Ta'ala. Bila kita belum mencintai Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam, berarti ada yang salah dengan diri kita. Mungkin kita belum terbiasa menjalankan sunnah-sunnahnya. Atau mungkin pula kita amat jarang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Keterkaitan antara meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan pertanda kesempurnaan imannya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Kamis, 08 Desember 2016
KAMI MERINDUKANMU WAHAI RASULULLAH (Bagian 1) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqqi Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Muhammadin Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Dari manakah Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam berasal? Semua pasti bisa menjawab, bahwa beliau berasal dari Jazirah Arab, tepatnya dari Mekkah. Apakah sama watak Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa salllam dengan watak orang-orang Arab pada umumnya. Bagi yang telah mempelajari Sirah Nabawiyyah (Sejarah Nabi) dan lama bergaul dengan orang-orang Arab selama bertahun-tahun dan tinggal di negara Arab pula, pasti akan menemukan perbedaan yang sangat jauh antara watak orang-orang Arab pada umumnya dengan watak Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam seperti yang diungkapkan dalam Sirah Nabawiyyah.
Sampai saat ini watak orang-orang Arab memang masih dikenal keras. Tetapi watak Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam amat lembut dan amat mulia. Hanya orang-orang Arab yang mempraktekkan Sirah Nabawiyyah sajalah yang mampu bersikap lembut dan bersikap mulia. Dalam hal ini saja sudah terbukti bahwa Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah di muka bumi ini bukan hanya untuk orang-orang Arab, tetapi untuk sekalian alam. Apa jadinya Jazirah Arab tanpa diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Syeikh (Prof. Dr.) Maliki Al-Hasani (Allah Yarham) pernah dbukakan kassyaf oleh Allah Ta'ala ketika berada di dalam ruangan makam Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dari garis Hasan (cucukda Nabi). Ketika itu beliau melihat sosok Nabi yang sedang mencari orang-orang Indonesia seraya berkata; "mana orang-orang Indonesia, aku mencintai mereka dan mereka mencintaiku". Sejak mengalami kejadian itu, Syeikh Maliki datang ke Indonesia dan mengunjungi sebagian Ulama-ulama yang ada di Indonesia. :Tentu saja Ulama-ul khair (Ulama yang lurus) dan bukan Ulama-ussuu (Ulama yang sudah tidak lurus lagi), sebab Ulama-ul khair adalah para pewaris Nabi.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di dunia, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebut umatnya sebanyak tiga kali ummatii..ummaatii...ummatii...(ummatku...ummatku...ummatku). Begitu besar cinta Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam kepada ummatnya. Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kullu Nabiyyin sa-ala su-aalan aw qaala likulli Nabiyyin da'watun qad da'aa bihaa fastujiiba faja'altu da'watii syafaa'atan li-ummatii yaumal qiyaamah. "Semua Nabi memohon permohonan, atau semua Nabi mempunyai do'a yang ketika mereka berdo'a dikabulkan, maka kujadikan do'aku adalah syafaat untuk ummatku di Hari Kiamat".
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqqi Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Muhammadin Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Dari manakah Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam berasal? Semua pasti bisa menjawab, bahwa beliau berasal dari Jazirah Arab, tepatnya dari Mekkah. Apakah sama watak Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa salllam dengan watak orang-orang Arab pada umumnya. Bagi yang telah mempelajari Sirah Nabawiyyah (Sejarah Nabi) dan lama bergaul dengan orang-orang Arab selama bertahun-tahun dan tinggal di negara Arab pula, pasti akan menemukan perbedaan yang sangat jauh antara watak orang-orang Arab pada umumnya dengan watak Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam seperti yang diungkapkan dalam Sirah Nabawiyyah.
Sampai saat ini watak orang-orang Arab memang masih dikenal keras. Tetapi watak Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam amat lembut dan amat mulia. Hanya orang-orang Arab yang mempraktekkan Sirah Nabawiyyah sajalah yang mampu bersikap lembut dan bersikap mulia. Dalam hal ini saja sudah terbukti bahwa Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah di muka bumi ini bukan hanya untuk orang-orang Arab, tetapi untuk sekalian alam. Apa jadinya Jazirah Arab tanpa diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Syeikh (Prof. Dr.) Maliki Al-Hasani (Allah Yarham) pernah dbukakan kassyaf oleh Allah Ta'ala ketika berada di dalam ruangan makam Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dari garis Hasan (cucukda Nabi). Ketika itu beliau melihat sosok Nabi yang sedang mencari orang-orang Indonesia seraya berkata; "mana orang-orang Indonesia, aku mencintai mereka dan mereka mencintaiku". Sejak mengalami kejadian itu, Syeikh Maliki datang ke Indonesia dan mengunjungi sebagian Ulama-ulama yang ada di Indonesia. :Tentu saja Ulama-ul khair (Ulama yang lurus) dan bukan Ulama-ussuu (Ulama yang sudah tidak lurus lagi), sebab Ulama-ul khair adalah para pewaris Nabi.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di dunia, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebut umatnya sebanyak tiga kali ummatii..ummaatii...ummatii...(ummatku...ummatku...ummatku). Begitu besar cinta Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam kepada ummatnya. Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kullu Nabiyyin sa-ala su-aalan aw qaala likulli Nabiyyin da'watun qad da'aa bihaa fastujiiba faja'altu da'watii syafaa'atan li-ummatii yaumal qiyaamah. "Semua Nabi memohon permohonan, atau semua Nabi mempunyai do'a yang ketika mereka berdo'a dikabulkan, maka kujadikan do'aku adalah syafaat untuk ummatku di Hari Kiamat".
Minggu, 04 Desember 2016
SWEET MEMORY OF 212 , THE POWER OF DZIKRULLAH ON JUMU'AH KUBRO -- By: Shabrun Jamil (Islamic Conselour of Religious Affair Ministry of Tangerang District)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
The National Movement To Guard Indonsian Council of Ulama's Fatwa (GNPF MUI) has been succeded in organizing 212 Rally last Friday with estimated over 7 million participants.Muslim's people came from various provinces to gather at Monas Park as the hub of the 212 rally. In fact, 212 participants overwhelmed until Cempaka Putih Road. They hailed TAKBIR and Shalawat from the start of their trip from their own district.
Muslims people waived some flags of "Laa Ilaaha Illallaah Muhammadurrasuulullah" along with "Red & White" National Flag. Takbir...Takbir..and Takbir. Shalawat....Shalawat...and Shalawat. The rally is full of dzikrullah and shalawat. These shaking words really shake participants' hearts. Even the viewers of some TV channels are completely amazed by this news, since they testify that Monas and HI surroundings are overwhelmed by 212 rally Muslims participants.
Indonesians witnessed this hillarious gathering through some channels of television and social media. Most of the people showed their amazement on this rally. At the hub of the venue of the rally, many national leaders delivered their speech. They are Habib Riziq Syihab, Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Arifin Ilham, Aa Gym, K.H. Saefudin Amsir, Police General Tito Karnavian and many more. Over 7 million participants of the rally hailed TAKBIR in most of the time. In the middle of the rally, the participants were told to stand up and sing the National anthem of Indonesia. Right after National anthem, TAKBIR..TAKBIR...TAKBIR..were hailed again and again.
The rally of 212 is all about belief's call. It is about Al-Qur'an's call. The rally participants were just called to show the greatness of Qur'an, after the blasphemy of Qur'an Surah Al-Ma'idah verse 51 which was committed by Basuki Tjahaya Purnama. He is suspected of Qur'an blaphemy by Police, as his case now has been carried on to General Attorney.
It seemed that the rally participants were called directly by Allah Ta'ala. For the sake of Allah, there is no one of any big bosses sponsored them. Even they sponsored their own selves. They really showed the truth of Qur'an verse, wa ta'aawanuu 'alal birri wat taqwaa wa laa ta'aawanuu 'alal itsmi wal 'udwaan.
The participants spontanously cried togother upon a very touching pray led by ustadz Arifin Ilham. Amid his pray, Ustadz Arifin Ilham pleaded The Almighty Allah with a humble heart that Basuki Tjahaya Purnama would convert to Islam. Generally, the pray begged The Almighty Allah for the goodness of the country.
At last, The President of Republic of Indonesia, Joko Widodo, together with the Vice President Jusuf Kalla, TNI General Gatot Nurmantyo, and many ministers, came to the venue of the rally to attend Jumu'ah prayer. Takbir voices reverberated in the sky of Jakarta. We did Jumu'ah prayer amid a blessing rain.
Upon leaving the venue arter finishing the rally, the participants clean the spot from rubbish and put all the rubbish in the garbage bags which were available at every corner of the venue.
The rally left a clean condition at Monas Park, as the management of Monas admitted it. The rally of 212 really represented Islam values at whole, phisycally and spiritually. The rally of 212 was well organized, and the participants were well mannered.
Indonesia belongs to Allah Ta'ala. The Almighty Allah has bestowed Muslims to manage this country.
Praise be to Allah, we are 212 alumni.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ANSTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Langganan:
Komentar (Atom)
