Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmtullah Wa Barakatuh.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
During the Month of Rabi'ul Awwal, which is the third month in the Islamic calendar, many Muslims celebrate Mawlid - the birthday of the Islamic prophet, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The date of birth of of Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam is believed to have been on the twelfth of this month.
Despite the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam himself never celebrated the Mawlid, he encouraged Muslims to fast on Mondays of every week for his birthday being on Monday.
In Arabic language, the word "Rabi'" means "spring" whereas Al-awwal means "the first". Thus, "Rabi' al-awwal" means "the first spring". The "spring" is the end to winter (symbol of sadness) and consequently the start of happiness.
There are some great Islamic historical events in this month. The greatest historical event of this month is the birthday of The Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The Hijra (migration) took place in this month. The marriage of The Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam to Khadijah binti Khuwailid happened in this month. The first mosque in Islam is the Quba Mosque, which is built in this month as well.
We strongly miss you...O....the prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.....
Shalluu 'alannabiyy.......
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaih....Wa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin....
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA........
Rabu, 21 November 2018
Rabu, 04 Juli 2018
FANATISME BUKAN AKAR RADIKALISME -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Pada Kementerian Agama Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaah Was Shalaatu Was Salaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
Banyak pihak yang memaksakan opini bahwa fanatik adalah akarnya radikal. Namun bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang jernih dan tidak sempit tetap berkeyakinan bahwa fanatisme sama sekali bukan akar radikalisme. Para pengamat dan pembuat kebijakan bisa menjadi keliru bila masih mempersamakan antara radikal dan fanatik. Yang harus kita hindari adalah menyelesaikan masalah dengan mengorbankan orang atau kelompok yang sebenarnya tidak bersalah.
Kerancuan istilah yang digunakan akan menciptakan stigma negatif. Hal inilah yang sangat perlu kita luruskan. Pengertian fanatik dan radikal sangatlah berbeda. Istilah radikal berada setingkat di bawah istilah teroris, dan selalu menjadi konotasi negatif. Sedangkan fanatik bukanlah radikal. Bisa dimungkinkan bahwa orang yang fanatik memiliki sikap dan pikiran yang moderat bahkan mungkin agak liberal. Bandingkan dengan radikal yang sama sekali tidak mau bersikap dan berpikir moderat apalagi liberal.
Dalam sebuah sidang umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres pernah mengingatkan agar berhati-hati menggunakan terminologi radikalisme. Ia menyatakan bahwa terminologi radikalisme dipakai oleh dunia global, dan penafsiran dari kata tersebut ada yang mengandung perspektif positif. Pada abad ke 18, kelompok yang dicap radikal oleh pihak Kerajaan Inggris justru membawa kemajuan bagi bangsa Britania Raya. Saat itu kelompok yang dianggap radikal berhadapan langsung dengan konservatisme Kerajaan.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fanatik adalah kepercayaan dan keyakinan yang teramat kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan arti radikalisme menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Fanatik lebih berkonotasi kepada gairah, atau gairah yang sangat kuat. Suka atau tidak harus kita akui bahwa justru fanatisme agama menjadi modal besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Hubbul Wathan Minal Iman" (Cinta negara sebagian dari iman) menjadi ruh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.
Agama tidak membuat masyarakat menjadi radikal. Orang menjadi radikal karena menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.
Agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Semakin fanatik seseorang dalam beragama, maka semakin kuat ia menebarkan rahmat kepada sesama.
Fanatisme merupakan ruh yang teramat kuat terhadap kepercayaan atau pun keyakinan. Sedangkan radikalisme adalah egoisme tingkat tinggi dari sebuah ideologi yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara ekstrim, apa pun agama, kelompok, suku, dan rasnya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Al-Hamdu Lillaah Was Shalaatu Was Salaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
Banyak pihak yang memaksakan opini bahwa fanatik adalah akarnya radikal. Namun bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang jernih dan tidak sempit tetap berkeyakinan bahwa fanatisme sama sekali bukan akar radikalisme. Para pengamat dan pembuat kebijakan bisa menjadi keliru bila masih mempersamakan antara radikal dan fanatik. Yang harus kita hindari adalah menyelesaikan masalah dengan mengorbankan orang atau kelompok yang sebenarnya tidak bersalah.
Kerancuan istilah yang digunakan akan menciptakan stigma negatif. Hal inilah yang sangat perlu kita luruskan. Pengertian fanatik dan radikal sangatlah berbeda. Istilah radikal berada setingkat di bawah istilah teroris, dan selalu menjadi konotasi negatif. Sedangkan fanatik bukanlah radikal. Bisa dimungkinkan bahwa orang yang fanatik memiliki sikap dan pikiran yang moderat bahkan mungkin agak liberal. Bandingkan dengan radikal yang sama sekali tidak mau bersikap dan berpikir moderat apalagi liberal.
Dalam sebuah sidang umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres pernah mengingatkan agar berhati-hati menggunakan terminologi radikalisme. Ia menyatakan bahwa terminologi radikalisme dipakai oleh dunia global, dan penafsiran dari kata tersebut ada yang mengandung perspektif positif. Pada abad ke 18, kelompok yang dicap radikal oleh pihak Kerajaan Inggris justru membawa kemajuan bagi bangsa Britania Raya. Saat itu kelompok yang dianggap radikal berhadapan langsung dengan konservatisme Kerajaan.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fanatik adalah kepercayaan dan keyakinan yang teramat kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan arti radikalisme menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Fanatik lebih berkonotasi kepada gairah, atau gairah yang sangat kuat. Suka atau tidak harus kita akui bahwa justru fanatisme agama menjadi modal besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Hubbul Wathan Minal Iman" (Cinta negara sebagian dari iman) menjadi ruh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.
Agama tidak membuat masyarakat menjadi radikal. Orang menjadi radikal karena menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.
Agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Semakin fanatik seseorang dalam beragama, maka semakin kuat ia menebarkan rahmat kepada sesama.
Fanatisme merupakan ruh yang teramat kuat terhadap kepercayaan atau pun keyakinan. Sedangkan radikalisme adalah egoisme tingkat tinggi dari sebuah ideologi yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara ekstrim, apa pun agama, kelompok, suku, dan rasnya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Jumat, 16 Maret 2018
KOPI (Kajian Online Perkara Iman) Bagian 1 -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag Kab. Tangerang)
بسم اللّه الرّحمن الرّحيم
الحمد للّه والصّلاة والسّلام على رسول اللّه محمّد بن عبد اللّه وعلى آله وصحبه ومن والاه . أمّا بعد .
Yuk, minum KOPI (Kajian Online Perkara Iman)!
Iman dan taqwa ada di dalam dada (hati sanubari). Kadarnya berbeda-beda tingkatannya antara seseorang dengan yang lainnya. Para sahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam di zaman mereka terdahulu menyebutkan bahwa iman ini terkadang bertambah dan terkadang berkurang, terkadang naik dan terkadang turun. Apatah lagi di zaman kita saat ini. Tantangan iman di zaman sekarang ini sungguh jauh lebih berat. Iman bukan lagi hanya naik dan turun, tetapi bisa masuk dan keluar. Terkadang di dalam dada ini amat takut mengerjakan dosa sebab iman sedang bersemayam dalam hati. Tapi terkadang hasutan syaithan dan nafsu, mengusir iman dari tempat persemayamannya di dalam hati.
Betapa beruntunglah orang-orang yang meskipun berada di zaman yang penuh dengan fitnah, namun senantiasa berpegang pada ajaran Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam. Sebagaimana dalam sebuah hadits, yang maknanya, “Barangsiapa berpegang pada Sunnahku di saat ummatku diliputi kerusakan, maka baginya pahala 100 syuhada”. .
Banyak wanita yang membuka aurat-aurat mereka, namun para muslimah tetap kokoh dalam berhijab, semoga Allah memasukkan mereka yang kokoh berhijab ke dalam golongan utama yang medapatkan pahala 100 syuhada. Betapa banyak orang yang mencampuradukkan hartanya dengan harta-harta syubhat bahkan haram, namun banyak pula yang masih tetap teguh dalam mencari nafkah hanya harta yang halal saja dan selalu menghindari yang tidak halal, dan semoga Allah memasukkan mereka dan keluarga mereka (golongan yang tetap teguh) ke dalam golongan yang dijanjikan 100 pahala syuhada. Manakala kebanyakan orang menimbun hartanya sebab takut tertimpa kefakiran dan tak yakin pada janji Allah bahwa setiap sedekah akan Allah balas dengan rezeki berlipat, tetapi kita senantiasa mendawamkan sedekah bahkan wakaf, maka semoga Allah menggolongkan kita sebagai penerima pahala 100 pahala orang yang syahid di jalan Allah. Para syuhada berjuang dengan jiwa mereka, sementara kita berjuang dengan harta kita. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 15, yang maknanya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Cintailah Allah dan RasulNya. Cintailah para Ulama-ul-khair yang menjadi pewaris para Nabi. Do’akan para Ulama-us-su’ agar kembali mendapatkan Hidayah dan Nur (cahaya) Allah. Bergaullah dengan orang-orang Shalih. Bila kita bergaul dengan orang-orang Shalih, meskipun kita sendiri belum benar-benar menjadi orang Shalih, mereka (orang-orang Shalih) pasti akan mendo’akan kebaikan untuk kita tanpa kita sadari. Boleh bergaul dengan siapa saja (ukhuwwah basyariyah), tetapi jangan keluar dari lingkaran orang-orang Shalih
سبحانك اللّهمّ وبحمد ك أشهد أن لّا إله إلّا أنت أستغفرك وأتوب إليك
الحمد للّه والصّلاة والسّلام على رسول اللّه محمّد بن عبد اللّه وعلى آله وصحبه ومن والاه . أمّا بعد .
Iman dan taqwa ada di dalam dada (hati sanubari). Kadarnya berbeda-beda tingkatannya antara seseorang dengan yang lainnya. Para sahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam di zaman mereka terdahulu menyebutkan bahwa iman ini terkadang bertambah dan terkadang berkurang, terkadang naik dan terkadang turun. Apatah lagi di zaman kita saat ini. Tantangan iman di zaman sekarang ini sungguh jauh lebih berat. Iman bukan lagi hanya naik dan turun, tetapi bisa masuk dan keluar. Terkadang di dalam dada ini amat takut mengerjakan dosa sebab iman sedang bersemayam dalam hati. Tapi terkadang hasutan syaithan dan nafsu, mengusir iman dari tempat persemayamannya di dalam hati.
Betapa beruntunglah orang-orang yang meskipun berada di zaman yang penuh dengan fitnah, namun senantiasa berpegang pada ajaran Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam. Sebagaimana dalam sebuah hadits, yang maknanya, “Barangsiapa berpegang pada Sunnahku di saat ummatku diliputi kerusakan, maka baginya pahala 100 syuhada”. .
Banyak wanita yang membuka aurat-aurat mereka, namun para muslimah tetap kokoh dalam berhijab, semoga Allah memasukkan mereka yang kokoh berhijab ke dalam golongan utama yang medapatkan pahala 100 syuhada. Betapa banyak orang yang mencampuradukkan hartanya dengan harta-harta syubhat bahkan haram, namun banyak pula yang masih tetap teguh dalam mencari nafkah hanya harta yang halal saja dan selalu menghindari yang tidak halal, dan semoga Allah memasukkan mereka dan keluarga mereka (golongan yang tetap teguh) ke dalam golongan yang dijanjikan 100 pahala syuhada. Manakala kebanyakan orang menimbun hartanya sebab takut tertimpa kefakiran dan tak yakin pada janji Allah bahwa setiap sedekah akan Allah balas dengan rezeki berlipat, tetapi kita senantiasa mendawamkan sedekah bahkan wakaf, maka semoga Allah menggolongkan kita sebagai penerima pahala 100 pahala orang yang syahid di jalan Allah. Para syuhada berjuang dengan jiwa mereka, sementara kita berjuang dengan harta kita. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 15, yang maknanya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Cintailah Allah dan RasulNya. Cintailah para Ulama-ul-khair yang menjadi pewaris para Nabi. Do’akan para Ulama-us-su’ agar kembali mendapatkan Hidayah dan Nur (cahaya) Allah. Bergaullah dengan orang-orang Shalih. Bila kita bergaul dengan orang-orang Shalih, meskipun kita sendiri belum benar-benar menjadi orang Shalih, mereka (orang-orang Shalih) pasti akan mendo’akan kebaikan untuk kita tanpa kita sadari. Boleh bergaul dengan siapa saja (ukhuwwah basyariyah), tetapi jangan keluar dari lingkaran orang-orang Shalih
سبحانك اللّهمّ وبحمد ك أشهد أن لّا إله إلّا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Langganan:
Komentar (Atom)