Kamis, 26 Januari 2017

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MEMAKNAI KALIMAH THAYYIBAH -- Oleh: Shabrun Jamil ...

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: MEMAKNAI KALIMAH THAYYIBAH -- Oleh: Shabrun Jamil ...: Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Li Haadzaa Wa Maa Kunnaa ...

MEMAKNAI KALIMAH THAYYIBAH -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Li Haadzaa
Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

ALLAH Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ibrahim ayat 24 sampai 26:
Alam tara kaifa dharaballaahu matsalan kalimatan thayyibatan kasyajaratin thayyibatin ashluhaa tsaabitun wa far'uhaa fissamaa. Tu'tii ukulaha kulla hiinin biizni rabbihaa wa yadhribullaahul amtsaala linnaasi la'allahum yatadzakkaruun. Wa matsalu kalimatin khabiitsatin kasyajaratin khabiitsatinijtutssat min fawqil ardhi maa lahaa min qaraa.
"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya, dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun."

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Kalimah Thayyibah adalah Syahadat yang berbunyi Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullaah. Juga maksud dari Kalimah Thayyibah adalah Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir. Orang-orang beriman yang selalu membaca Kalimah Thayyibah, maka Kalimah Thayyibah ini akan mengakar di hati, dan implementasi dari Kalimah Thayyibah yang berupa amal perbuatan yang baik akan menjulang ke langit. Kalimah Thayyibah bagaikan pohon yang baik, yang akarnya tertanam di setiap qolbu orang beriman dan cabang-cabangnya berupa perkataan yang melibatkan lisan dan perbuatan yang melibatkan seluruh anggota tubuh menjulang ke langit yang setiap saat dibawa oleh Malaikat ke langit sehingga menjadi sebuah energi yang baik.

Kalimah Thayyibah berarti Kalimah yang baik. Kalimat Tauhid adalah kalimat yang baik. Juga termasuk kalimat yang baik adalah segala kalimat yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kepada kemungkaran. Kalimat tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga tulisan. Kalimat sangat erat hubungannya dengan linguistik atau hal yang berhubungan dengan bahasa. Dalam linguistik dikatakan bahwa kumpulan huruf akan menjadi kata, kumpulan kata akan menjadi kalimat, kumpulan kalimat akan menjadi paragraf, kumpulan paragraf akan menjadi wacana, dan seterusnya.

Kalimat yang dihasilkan oleh lisan berhubungan dengan ucapan dan pendengaran. Sedangkan kalimat yang dihasilkan oleh tulisan berhubungan dengan tulisan dan bacaan. Berarti kalimat yang baik berkaitan dengan ucapan, pendengaran, tulisan, dan bacaan. Ucapan dengan kata-kata yang baik, mendengar kata-kata yang baik, menulis sesuatu yang baik dengan kata-kata yang baik, membaca tulisan mengenai sesuatu yang baik, termasuk dalam rangkaian kalimat yang baik, dan itu semua termasuk Kalimah Thayyibah.

Pohon Kalimah Thayyibah berakar pada Syahadat, Tauhid, Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir. Pohon Kalimah Thayyibah menghasilkan beragam cabang dan ranting berupa ucapan, pendengaran, tulisan, bacaan, serta tindakan atau perbuatan.

Al-Qur'an apabila dibaca dan dipelajari tentu akan menjadi Kalimah Thayyibah, apalagi jika diamalkan. Buku-buku kumpulan hadits apabila dibaca dan dipelajari jelas akan menjadi Kalimah Thayyibah, lebih-lebih jika diamalkan. Nasehat yang baik seperti ceramah, khutbah, pesan guru kepada murid-muridnya, pesan pimpinan kepada anak buahnya, semua itu termasuk Kalimah Thayyibah. Tulisan-tulisan yang baik dalam bentuk kutipan, artikel, ataupun buku, serta tulisan-tulisan lainnya, baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy, semuanya adalah termasuk Kalimah Thayyibah.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.      

Senin, 23 Januari 2017

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: DIA MEMBERIKAN SURPRISE KEPADA HAMBANYA -- Oleh: S...

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: DIA MEMBERIKAN SURPRISE KEPADA HAMBANYA -- Oleh: S...: Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulill...

DIA MEMBERIKAN SURPRISE KEPADA HAMBANYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aaalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.

Allah Ta'ala menjamin rezeki setiap makhluk hidup yang terlahir di dunia ini. Meskipun begitu, Allah Ta'ala memerintahkan setiap makhluknya untuk menjemput rezeki yang telah disediakan.
Hal ini membuat manusia menjadi giat mengais rezeki, bahkan tanpa terasa sampai saling berlomba-lomba untuk medapatkannya. Manusia usia produktif yang malas berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki, biasanya mendapatkan "hukuman alam", dan pasti akan mendapatkan peringatan dari lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerjanya.

Secara normatif rezeki akan kita dapat setelah kita berusaha, dan takaran rezekinya bisa diukur. Dengan berusaha untuk menghasilkan penjualan sekian, akan mendapatkan sekian. Dengan bekerja akan mendapatkan gaji bulanan.

Namun demikian ada kalanya penghasilan dan rezeki manusia tidak mampu dicerna oleh logika kita.
Hukum ekonomi rezeki tidaklah seragam, dan tidaklah sama antara segolongan manusia dengan segolongan manusia lainnya.

Belum tentu manusia pandai memiliki penghasilan yang lebih besar dari manusia yang tidak pandai. Seringkali orang bodoh dalam hal ilmu malah memiliki harta yang melimpah ruah sehingga melebihi harta orang pintar dalam hal ilmu dan pengetahuan. Memang betul ada segelintir orang pintar yang memiliki limpahan harta. Tetapi realitanya, orang yang pintar tidak serta merta menjamin akan menjadi kaya raya. Mengapa demikian? Orang pintar tidak memberikan rezeki. Allah Ta'ala lah yang memberikan rezeki. Seandainya orang berilmu mampu memberikan rezeki, maka semua orang akan meminta rezeki kepada orang berilmu. Nyatanya, rezeki dan harta melimpah adalah kuasa Allah Ta'ala.  

Itulah mengapa Allah Ta'ala menjadikan segolongan manusia berkelebihan dibandingkan segolongan manusia lainnya. Orang yang tidak berkelebihan harta, tidak perlu minder kepada orang yang berkelibahan harta, apalagi sampai hasad dan dengki.

Bagi orang beriman, kekayaan bukanlah harta dalam bentuk materi, melainkan kekayaan ada dalam iman dan hati. Belum tentu orang kaya raya secara materi akan bahagia, dan belum tentu pula orang yang tidak kaya atau orang memiliki keterbatasan harta akan menderita. Orang yang kaya dengan iman dan kaya dengan hatinya pasti akan selalu mengingat Tuhannya, sehingga selalu memohon ampun kepada Tuhannya. Orang-orang yang seperti ini yang selalu diberikan pemberian yang mengejutkan atau pun surprise oleh Allah ta'ala, dalam bentuk apa pun, baik dalam bentuk materi maupun bentuk immateri. Allah Ta'ala selalu memberikan hadiah surprise kepada hamba-hambaNya, sebab Dia menjamin rezeki dari arah yang tak terduga kepada hamba-hambaNya yang selalu beristighfar (memohon ampunanNya) dan bertawakkal (berserah diri kepadaNya dalam setiap usahanya).

Kita sebagai manusia yang dhaif kadang kala tidak sanggup menepati semua janji kita, tetapi Allah Ta'ala tidak pernah ingkar terhadap seluruh janjiNya. Dia pasti menepati semua janjiNya. Terkadang kita tidak sabar menunggu janjiNya, padahal Dia selalu memberikan surprise  kepada hamba-hambaNya.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Sabtu, 21 Januari 2017

KORIDOR TRAVELING DALAM AGAMA (BAGIAN KE-2) -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Asslamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Shadaqa Wa'dah
Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Positif atau negatifnya traveling tergantung kepada niat traveler (pelaku traveling) itu sendiri. Traveling yang bertujuan untuk ibadah dan tujuan positif lainnya sangat dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Contohnya adalah traveling untuk penelitian dan ilmu pengetahuan, tadabbur alam, bersilaturrahmi, serta berdakwah.

Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang menganjurkan kita untuk traveling. Ayat-ayatnya adalah sebegai berikut:

Qad khalat min qabliku sunanun fasiiruu fil ardhi fandzuruu kaifa kaana 'aaqibatul mukaddzibiin. (Q.S. Ali 'Imron : 137)
"Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

Qul siiruu fil ardhi fandzuruu kaifa kaana 'aaqibatul mukaddzibiin. (Q.S. Al-An'am : 11)
"Katakanlah (Muhammad), 'Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."

Qul siiruu fil ardhi fandzuruu kaifa kaana 'aaqibatul mujrimiin. (Q.S. An-Naml : 69)
"Katakanlah (Muhammad), 'Berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa."

Awalam yasiiruu fil ardhi fayandzuruu kaifa kaana 'aaqibatulladziina min qablihim kaanuu asyadda minkum quwwatan wa atsaarul ardha wa 'amaruuhaa aktsara mimmaa 'amaruuhaa wa jaa-athum rusuluhum bil bayyinaati fa maa kaanallaahu liyadzlimahum walaakin kaanuu anfusahum yadzlimuun. (Q.S. Ar-Ruum : 9)
"Dan tidaklah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Maka Allah sama sekali tidak berlaku zalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri."

Qul siiruu fil ardhi fandzuruu kaifa kaana 'aaqibatulladziina min qablu kaana aktsaruhum musyrikiin. (Q.S. Ar-Ruum : 42)
"Katakanlah (Muhammad), 'bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."

Huwalladzii ja'ala lakumul ardha dzaluulan famsyuu fii manaakibihaa wa kuluu min rizqihii wa ilahinnusyuur. (Q.S. Al-Mulk : 15)
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah menjelajahi, maka jelajahilahdi segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Semua orang tahu pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman tidak akan banyak kita dapat jika hanya berdiam diri di rumah atau pun lingkungan sekitar rumah. Pengalaman akan kita dapat bila kita mengunjungi tempat-tempat lain selain tempat kita sendiri, dan itulah yang banyak orang sebut dengan traveling atau bepergian. Bumi selalu berputar, maka kita sebagai penduduk bumi pun harus berputar pula. Kehidupan yang dinamis menuntut kita untuk bersikap dinamis pula, mempersiapkan diri dengan perubahan yang pasti akan terjadi dalam hidup kita.

Selamat ber-traveling!

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Jumat, 20 Januari 2017

KORIDOR TRAVELING DALAM AGAMA (BAGIAN Ke-1) -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiya-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Traveling atau Rihlah menjadi bagian penting dari sebuah proses pembelajaran. Kita dapat memetik pelajaran baru ketika kita pergi ke beberapa tempat, atau mengunjungi beberapa orang. Orang selalu datang dan pergi dan waktu selalu silih berganti. Jangankan pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, ke tempat yang pernah kita kunjungi pun, bila lama tak kita datangi, pasti akan ditemukan banyak perubahan.

Ada banyak manfaat traveling yang dirasakan banyak orang, seperti mengunjungi tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, belajar mandiri, lebih mengenal sifat asli diri sendiri maupun rekan perjalanan, menghilangkan stres akibat kesibuka sehari-hari, menambah wawasan, memotivasi diri sendiri, dan menyadari betapa kecilnya kita di dunia ini.

Sebelum menerima tugas kenabian, Rasulullah shallaahu 'alaihi wa sallam telah banyak melakukan traveling dalam ekspedisi dagangnya. Pekerjaannya sebagai penggembala pada masa kecilnya, traveling ke berbagai negara dalam rangka ekspedisi dagang ketika remaja, membuatnya menjadi pribadi yang matang setelah dewasa.

Pada masa awal penyebaran Islam, traveling menjadi salah satu unsur yang menyebabkan tersebar luasnya Islam. Makam Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah seorang Sahabat Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, menjadi salah satu contoh bukti kegiatan traveling yang dilakukan oleh Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk menyebarkan agama Islam. Hingga akhirnya peradaban Cina atau Tiongkok pernah dibangun oleh Dinasti Ming yang merupakan Kekaisaran Muslim selama hampir 300 tahun (1368-1644). Bahkan pada masa itu, kalender Islam menjadi kalender resmi selama Dinasti Ming. Di antara masa-masa kejayaan Dinasti Ming, Laksamana Cheng Ho (1371 - 1435) mengembara ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara, hingga akhirnya ia menemukan benua Amerika.

Kegiatan traveling juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Imam Bukhari memverifikasi ribuan Hadits dengan melakukan traveling. Begitu juga dengan Imam Muslim. Keduanya menghasilkan Kitab kumpulan Hadits "Shahih Bukhari Muslim."

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA


Rabu, 18 Januari 2017

KEMATIAN SEBAGAI ALARM KEHIDUPAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu ‘Alaa Rasuulillah
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba’du.


Umumnya manusia mengklaim bahwa mereka mengerti apa arti kehidupan. Realitanya? Banyak manusia yang tidak paham arti kehidupan. Buktinya? Banyak dari mereka yang hanya berlomba-lomba meraih kesenangan-kesenangan hidup duniawi . Mereka berprinsip bahwa mereka dapat menikmati kehidupan, seperti halnya tumbuhan yang berawal dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa adanya kebangkitan serta hisab atau perhitungan.

Untuk apa kita hidup? Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat: 56 menjawabnya:
Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun.
“(Allah berkalam) dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanyalah untuk menyembahKu.”

Berapa lamakah sebenarnya kita hidup di dunia? Al-Qur’an menjelaskan bahwa satu hari kehidupan di akhirat sama dengan seribu tahun kehidupan di dunia  Bila satu hari dihitung dua puluh empat jam, maka satu hari di akhirat sama dengan delapan ratus tujuh puluh enam ribu jam di dunia. Berapa lamakah kita hidup di dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat? Bila kita kalkulasikan dengan segala keterbatasan kalkulasi yang bersifat manusiawi, maka kehidupan 1 hari di dunia sama dengan 0,00006575342 jam di akhirat. Jumlah itu sangat jauh kurangnya dari ukuran 1 jam. Betapa sebentarnya kita hidup di dunia ini.

Sekarang mungkin kita masih terbawa dengan perasaaan bahwa hidup kita ini lama dan langgeng dengan segala cita-cita dan perencanaan yang kita pikirkan.

Namun seketika semua itu akan hilang.
Seketika semua yang digenggam akan lenyap.
Kapankah? Ketika ajal menjemput.
Tatkala tiba saatnya, tiada lagi kesempatan untuk memperbaiki amal perbuatan.
Hanya tiga perkara yang mampu merevisi hasil perhitungan amal perbuatan;
Shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan oleh banyak orang, serta anak shaleh yang selalu mendo’akan.

Sebelum tiba ajal, waktu seperti lama dan biasa-biasa saja. Namun ketika tanda-tanda kematian hadir di pelupuk mata tanpa mampu dilihat oleh orang lain selain dirinya, waktu begitu terasa cepat dan sekejap.

Kita ambil analogi ketika kita masih menjalani kehidupan di dunia ini. Tatkala jatuh tempo atau tiba saatnya untuk membayar apa pun, atau menyerahkan apa pun, tak terasa waktu seperti cepat berlalu, tahu-tahu sudah jatuh tempo.
Baik materi maupun immateri, baik fisika maupun metafisika, semua berlaku hukum relativitas. Di dunia ini tidak ada satu pun ukuran dan satuan yang mutlak. Yang mutlak hanyaah ukuran yang telah  ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Allah telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kita sebagai makhlukNya. Kehidupan adalah ujian, begitu pun kematian juga merupakan ujian. Outputnya adalah nilai amal perbuatan. Hasil ujian yang berupa nilai amal perbuatan tidak diumumkan di dunia ini, tetapi diumumkan di Hari Pengadilan Allah kelak.

Sering-seringlah mengingat kematian, agar hidup di dunia tidak terlena dan terperosok.

Kehidupan bertanya kepada kematian, “Mengapa  banyak yang mencintai sekaligus membenciku?”
Kematian menjawab, “Karena engkau adalah kebohongan yang menyenangkan.”
Lalu Kematian bertanya, “Mengapa banyak yang membenciku?”
Kehidupan menjawab, “Karena engkau adalah kebenaran yang menyakitkan.”

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Jumat, 13 Januari 2017

BAYARAN KONTAN UNTUK SEDEKAH -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni Abillaah
Wa ‘alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba’du.


Setelah akad  dan  resepsi nikah, sepasang pengantin baru dari Riyadh, ibu kota Saudi Arabia, memutuskan tinggal di sebuah apartemen. Baru saja selesai merapihkan sedikit barang yang mereka bawa ke apartemen tersebut, tiba-tiba HP sang pengantin lelaki berdering.
“Halo Aiman, kamu sekarang tinggal di mana?”
“Di apartemen.”
“Apartemen apa?”
“Apartemen El-Rasheed di Corniche Street.”
“Bersama istrimu?”
“Ya, tentu saja. Aku kan sekarang sudah punya istri.”
“Baiklah. Begini kawan. Kami sedang dalam perjalanan menuju Jeddah. Kami ingin sekali mampir di apartemenmu. Apakah kamu keberatan?”
“Apakah kalian tahu apartemen tempat kami tinggal sekarang?”
“Tentu saja kawan. Kami sudah hafal Corniche Street.”

Pengantin wanita yang mendengar pembicaraan suaminya via HP jelas kaget mendengarnya. Malam-malam begini mampir di tempat pengantin baru, mengganggu saja. Demikian kira-kira ucapan batinnya.

Setengah jam kemudian HP pengantin pria kembali berdering.
“Kami sudah sampai, sobat!”
Tak berselang lama bel pun berbunyi. Ternyata sahabat pengantin pria tersebut menelpon tepat di depan pintu apartemen tempatnya tinggal. Ketika pintu dibuka, ia masih menempelkan HP di daun telinganya.
Ternyata yang datang bukan satu orang, tapi sepuluh orang kawan-kawan akrabnya. Lalu mereka saling berpelukan dan memberikan ucapan selamat kepada sahabat mereka, sang pengantin baru.

“Nura, tolong siapkan makanan untuk sebelas orang!” ujar pengantin pria kepada istrinya.
Tentu saja sang istri geram bukan kepalang, ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya, tapi malu karena banyak tamu. Ingin sekali ia minta dipulangkan ke rumah orang tuanya.
Betapa tidak, pengantin baru yang seharusnya menikmati malam pertama malah disuruh masak untuk sebelas orang.

“Aiman, mohon maaf telah merepotkan. Terima kasih atas jamuan makan yang telah diberikan. Kami tahu kalau malam-malam begini  mengganggu kalian sebagai pengantin baru. Tapi kami bersepuluh telah nazar tanpa sepengetahuanmu, jika kamu langsung tinggal di apartemen setelah menikah, kami akan mengumpulkan uang masing-masing lima ribu riyal untuk diberikan kepada kamu.”

Mereka lalu berpamitan pulang. Mendengar pembicaraan tadi, istri Aiman benar-benar tak kuasa menahan tumpahan air matanya. Ia menangis sesunggukan bukan karena minta dipulangkan ke rumah orang tuanya. Hatinya trenyuh dengan kenyataan yang dialaminya bahwa sedekah memuliakan tamu langsung dibayar kontan oleh Allah Ta’ala.

Sepuluh orang sahabat Aiman memberikan uang 50.000 riyal kepada suaminya, sungguh tidak diduga-duga. Dengan kurs rupiah sekarang, mereka mendapatkan rezeki tak terduga setara dengan 180 juta rupiah. Masya Allah!

Seraya memeluk suaminya sambal menangis, sang pengantin wanita menyesal karena telah berburuk sangka terhadap para tamu yang notabene adalah sahabat karib suaminya. Ia baru ‘ainul yaqin, menjadi yakin karena membuktikan dengan mata kepala sendiri, bahwa sedekah memuliakan tamu memiliki keutamaan yang besar, sebagai wujud dari keimanan seseorang, bahkan kali ini Allah Ta’ala langsung membayarnya dengan kontan.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Selasa, 10 Januari 2017

MENEMPATKAN SABAR PADA POSISINYA YANG BENAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaaahi Rabbil 'Aalamiin.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syariika Lah
Irghaaman Li Man Jahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh
Sayyidul Khalaa-iqi Wal Basyar
Allaahumm Fa Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Allah S.W.T menciptakan, memelihara dan membina alam semesta ini (termasuk manusia sebagai makhlukNya) dengan keMahaSabaranNya. Allah S.W.T. amatlah Sabar dengan segenap kekuasaan dan kehebatanNya. Dia Maha Sabar sekalipun kesabaranNya tidak akan pernah mampu memberikan ancaman bahaya dan rasa sakit terhadap diriNya. Sangat berbeda dengan TuhanNya, kesabaran manusia kadang disebabkan karena kelemahannya menghadapi sesuatu atau bisa pula ketika takut terhadap seseorang. Namun demikian, kelemahan manusia yang seperti itu dapat ditutupi dengan kesabaran. Kesabaran pada dasarnya akan menguatkan manusia, bukan melemahkan. Sabar merupakan sebuah kekuatan, dan tidaklah sabar itu menjadi sebuah kelemahan. Ada “rahasia di balik rahasia” dalam kesabaran itu sendiri. Ada kekuatan dahsyat yang akan muncul dari kesabaran yang dilakoni.

Generasi sebelum kita telah mengajarkan bahwa kesabaran adalah sebuah kebajikan. Kesabaran menjadi sebuah kebajikan yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Amat mudah diucapkan kepada orang lain, tapi sulit dilakukan oleh diri sendiri. Tantangannya pun terasa amat berat, terutama ketika kita masuk ke dalam lingkaran krisis. Namun setelah kita keluar dari pusaran krisis, dan setelah berterima kasih kepada Allah Ta’ala, tidak salah rasanya bila kita  juga ingin memberikan apresiasi kepada “kesabaran” itu sendiri.  Sabar amat identik dengan memaafkan. Walaupun keduanya amat sulit untuk dilakukan, namun buah dan hasil keduanya akan kembali kepada diri sendiri dan menjelma sebagai sebuah kekuatan dan hasil yang dahsyat. Bahkan Allah S.W.T. menyebutkan dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 43 bahwa “sabar” dan “memaafkan” adalah termasuk sebuah kebajikan yang amat mulia. Artinya, jika kita ingin melakukan sebuah kebajikan yang amat mulia, maka sifat “sabar” dan sifat “memaafkan” harus melekat pada diri kita.

Kesabaran dalam mencapai tujuan strategis menjadi faktor terpenting dalam hidup kita. Jika kita ingin sukses di dunia dan di akhirat kita harus bersabar. Secara transendental sabar dijadikan separuhnya iman. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahwa iman itu terbagi dua, separuhnya ada pada sabar dan separuhnya lagi terdapat di dalam syukur (Hadits Riwayat Al-Baihaqi). Pertanyaannya sekarang adalah, apakah yang dimaksud dengan sabar? Banyak teori yang menjelaskan tentang sabar. Pada umumnya orang-orang menstigmakan sabar sebagai keadaan menunggu dalam sebuah kesulitan. Biasanya  seseorang akan menghindari sesuatu yang dinamakan sabar, kecuali bila ia berada dalam keadaan terdesak dan tidak punya pilihan lain.  Dalam melakoni kesabaran itu sendiri, dibutuhkan proses waktu untuk melewati hadangan-hadangan yang sulit.
 Ketika ditimpa beragam masalah dan kesulitan, sikap sabar menjadi sebuah kebutuhan  akhlak dan etika yang terbentuk dari sebuah kombinasi antara ketenangan dan keberanian. Bisa juga sikap sabar dianggap sebagai sebuah kekuatan untuk melawan kesedihan dan derita.  Manakala kita melihat masalah sebagai sebuah sumber musibah, maka jiwa kita akan jauh dari rasa tenang dan selalu diliputi rasa kecemasan. Namun jika kita menganggap masalah sebagai pembelajaran atau guru kehidupan yang dapat menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka jiwa kita akan menjadi jiwa yang tenang dalam menghadapi problematika kehidupan dalam bentuk apa pun. Dekati masalah yang kita hadapi dan jadikan masalah itu sebagai sahabat, bukan sebagai musuh yang harus dijauhi. Kehidupan membawa jutaan masalah. Kematian pun tetap membawa  masalah. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menjauhi masalah.

Kesabaran dan kedisiplinan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kita harus bersabar untuk menjadi sabar. Ketika seseorang bertahan menghadapi masalah dalam situasi yang sulit, bukan berarti dia hanya duduk berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban yang akan terjadi. Kesabaran tidaklah sama dengan mengabaikan waktu. Untuk mencapai kemajuan dan kemenangan, kesabaran harus dibarengi dengan daya tahan sabar itu sendiri, juga persiapan untuk membuat langkah selanjutnya ataupun move on.

 Allah S.W.T. telah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imron ayat 200, bahwa empat kunci kemenangan dan keberhasilan adalah: SABAR, DAYA TAHAN SABAR,  PERSIAPAN UNTUK MEMBUAT LANGKAH SELANJUTNYA alias move on, dan setelah itu:  TAQWA.  Kesabaran yang tanpa move on tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Allah S.W.T. telah menciptakan alam semesta, dan alam semesta ini selalu bergerak. Ada hukum tarik menarik (Law of Attraction) di alam semesta ini, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kita pun harus mengikuti hukum alam tersebut. Untuk itu kita harus selalu bergerak mengikuti irama alam ini. Apakah sama kesabaran yang selalu bergerak (dinamis dan move on) dengan kesabaran yang hanya berdiam diri (statis)?

Tangkaplah cahaya Ilahi dengan kesabaran. Kesabaran bagi manusia merupakan Dhiya (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan hidup di dunia. Demikian pesan Nabi Muhammad s.a.w. melalui riwayat Imam Muslim. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur, dan bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. Berarti bukan hanya ketika bersyukur kita memuji Allah S.W.T., ketika bersabar (karena ditimpa musibah) pun kita tetap memuji Allah. Dalam Hadits riwayat Turmudzi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka.”

Kesabaran amat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, dan bahkan menjadi kunci penting untuk mencapai kebahagiaan kita. Bersabar juga berarti mampu menunggu dengan tenang dan khidmat di tengah rasa frustasi dan tekanan. Di mana pun ada rasa frustasi dan rasa tertekan, maka di situlah kesempatan kita untuk melatih kesabaran. Kesabaran akan menjadi pembeda antara rasa khawatir dan rasa tenang. Agamawan maupun filosof, semuanya telah lama memberikan angka kredit yang sangat tinggi kepada kesabaran sebagai sebuah kebajikan. Penelitian-penelitian masa kini telah menemukan bahwa  hal-hal positif dan baik akan benar-benar datang kepada orang-orang yang mampu bersabar.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa kita harus menggali  lebih dalam kesabaran kita dalam hidup. Orang-orang yang bersabar akan menikmati kesehatan mental yang lebih baik. Orang-orang yang bersabar tidak akan banyak mengalami depresi dan emosi negatif, sebab mereka mampu mengatasi situasi-situasi yang membuat orang emosi dan tertekan. Mereka juga memposisikan diri mereka untuk berpikir waras dan merasa terkoneksi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan, serta memiliki perasaan yang lebih lepas dan bebas. Orang-orang yang bersabar akan menjadi teman yang lebih baik dan tetangga yang lebih baik. Dalam hubungan atau relasi antar personal, kesabaran akan membentuk sebuah kebaikan. Bayangkanlah seorang sahabat yang dapat membuat kita merasa nyaman ketika kita berada dalam keadaan hati yang sedang remuk dirundung masalah yang sangat berat yang sepertinya sulit untuk dihilangkan. Bahkan orang-orang yang sabar cenderung lebih kooperatif, memiliki rasa empati, dan biasanya lebih pemaaf. Dalam hubungan berkelompok, kesabaran dapat menjadi salah satu dari fondasi masyarakat yang berperadaban. Kesabaran akan menjadi perekat kebersamaan dalam bermasyarakat.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Senin, 09 Januari 2017

SABAR BEGITU INDAHNYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilahi
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Ya’qub a.s. pernah mengatakan bahwa kesabaran itu indah. Fashabrun Jamiil, maka itulah kesabaran yang indah, demikian ujarnya dalam kesedihan yang mendalam. Saudara-saudara Yusuf berpura-pura menangis di depan ayahanda mereka, Ya’qub a.s., seraya memberikan baju yang tadinya dikenakan oleh Yusuf. Baju tersebut dilumuri darah, lalu kakak-kakaknya yang berjumlah sepuluh orang itu mengatakan bahwa Yusuf telah dimakan serigala. Padahal sesungguhnya Yusuf dibuang ke sebuah dasar sumur yang terletak sangat jauh dari kota tempat tinggal mereka. Sementara adik Yusuf, Bunyamin, tidak diajak oleh mereka.

Suatu ketika Yusuf menceritakan kepada ayahandanya, bahwa ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semuanya bersujud kepadanya. Lalu Ya’qub menyuruh Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya, karena dikhawatirkan dengan kedengkian kepada Yusuf mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakannya.

Kakak-kakak Yusuf  merasa bahwa ayah mereka lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin adiknya dibandingkan mereka. Sebenarnya bukan seperti itu. Kakak-kakak Yusuf memiliki sifat dan watak yang kurang baik lagi sombong. Sementara Yusuf dan Bunyamin memiliki watak dan sifat yang baik. Orang tua mana pun di dunia ini pasti lebih mencintai anaknya yang dinilai baik di mata orang tuanya.

Mereka bersekongkol untuk membunuh Yusuf, tetapi salah seorang di antara mereka tidak setuju dan memberikan saran agar Yusuf dimasukkan saja ke dasar sumur supaya dipungut oleh musafir yang kebetulan lewat. Setelah selesai merencanakan makar, mereka menghadap ayahanda mereka dan membujuknya habis-habisan agar mau mengizinkan mereka membawa Yusuf pergi bermain. Ya’qub keberatan, khawatir bila Yusuf ikut bersama mereka, satu waktu mereka lengah, Yusuf menghilang dan akhirnya dimakan serigala. Dengan segala daya dan upaya mereka meyakinkan ayahanda mereka bahwa mereka akan selalu menjaganya. Bahkan mereka mengatakan bahwa tidak mungkin Yusuf dimakan serigala karena mereka adalah orang-orang yang kuat.

Setelah melaksanakan makar, mereka datang kepada ayah mereka pada petang harinya sambil menangis. “Maafkan kami ayah. Kami pergi berlomba dengan meninggalkan Yusuf di belakang barang-barang kami, lalu ia dimakan serigala. Kami tahu, ayah tidak akan percaya kepada kami sekali pun kami berkata benar,” ujar salah seorang di antara mereka sambil pura-pura menangis sesunggukan.

Mereka menunjukkan baju Yusuf yang sebenarnya telah mereka lumuri dengan darah palsu. Sang ayah dengan kesedihannya yang mendalam berkata kepada mereka, “sabarlah yang terbaik bagiku. Hanya kepada Allah lah aku memohon pertolonganNya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

Singkat cerita, Yusuf kecil dijual oleh musafir yang menemukannya di sumur. Ia lalu dibeli dan diangkat anak oleh pembesar Mesir. Setelah  besar, karena kelebihan ilmunya dan kemampuan takwil mimpinya, ia diberikan kepercayaan jabatan. Ia menapaki karirnya hingga akhirnya ia diangkat menjadi seorang perdana menteri. Semua itu ia dapatkan setelah melalui banyak cobaan dan penderitaan. Bahkan ia sempat dipenjara karena difitnah oleh Zulaikha. Yusuf a.s. tetap sabar menjalani lika-liku hidup karena yakin Allah masih memberikan kasih sayangNya.

Ketika sebelas saudaranya datang menghadap sang perdana menteri untuk meminta bantuan pangan karena di kampung halamannya sedang paceklik, saudara-saudaranya belum mengetahui bahwa ia adalah Yusuf yang pernah mereka musuhi dan mereka buang ke dasar sumur. Akan tetapi Yusuf, dengan firasat dan intuisinya yang tajam, mengetahui bahwa mereka adalah saudara-saudanya. Terlebih setelah mengetahui asal daerah mereka, yang memang menjadi kampung halaman dan tempat tinggal Yusuf ketika ia masih kecil. Mereka diperintahkan oleh Yusuf untuk kembali ke Palestina dengan membawa baju miliknya untuk diberikan kepada ayahanda mereka. Yusuf juga memerintahkan saudara-saudaranya untuk membawa serta ayah mereka ketika kembali ke Mesir. Sementara adiknya, Bunyamin, tetap tinggal di istana atas perintah Yusuf dan tidak diperbolehkan pulang. Bunyamin dituduh mencuri barang istana, padahal barang tersebut sengaja ditaruh oleh Yusuf agar Bunyamin bisa tinggal bersamanya di istana.

Setelah sampai di Palestina, saudara-saudara Yusuf memberikan baju titipan Yusuf kepada ayah mereka. Seraya memegang baju Yusuf, ia mencium baju tersebut seraya berkata, “sesungguhnya aku mencium bau Yusuf. Ini pasti baju Yusuf.” Intuisi sang ayah langsung muncul. Air matanya bercucuran tak tertahankan. Saudara-saudara Yusuf saling berpandangan satu sama lain dengan wajah kaget. Apakah benar yang menjadi Perdana Menteri itu Yusuf? Demikian pertanyaan yang terbersit dalam hati dan pikiran masing-masing.

Saudara-saudara Yusuf dan ayahnya pergi ke Mesir untuk menemui perdana menteri. Sesampainya mereka di sana, berkatalah Yusuf, “Aku adalah Yusuf yang dulu hilang.” Makin tegang saja wajah saudara-saudaranya. Setelah mendengar ucapan sekaligus pengakuan Yusuf dan yakin akan kebenaran ucapannya, kesebelas saudara Yusuf beserta ayahnya langsung sujud sebagai tanda penghormatan mereka kepada Yusuf. Benarlah apa yang dilihat oleh Yusuf dalam mimpinya ketika masih kecil dulu. Sebelum saudara-saudaranya minta maaf, Yusuf berkata: “Aku telah memaafkan apa yang telah kalian perbuat kepadaku saat aku masih kecil dulu.” Mereka pun akhirnya berpelukan dengan keharuan yang luar biasa.

Sungguh kesabaran itu sebenarnya indah. Memang proses menjalankan kesabaran itu pahit. Tapi pahitnya itu seperti jamu yang menyehatkan, atau seperti buah pare yang memiliki gizi, bisa juga seperti kopi yang nikmat dan memberikan banyak manfaat untuk kesehatan, tentu dengan porsinya yang tidak berlebihan. Mengkonsumsi kopi, asalkan diimbangi dengan minum air putih dan diminum setelah mengkonsumsi makanan agar lambung tidak kaget, ternyata memberikan beberapa manfaat untuk kesehatan kita. Kopi bisa meningkatkan energi, dapat membantu membakar lemak. Kafein di dalam kopi bisa meningkatkan kinerja fisik. Kopi juga mengandung nutrisi penting dalam bijinya, yaitu vitamin B2, vitamin B5, dan vitamin B3. Kopi bisa menurunkan resiko diabetes dan menurunkan resiko Parkinson. Peminum kopi juga memiliki resiko rendah dari beberapa jenis kanker. Kopi tidak menyebabkan penyakit jantung, malahan dapat menurunkan resiko stroke. Kopi juga merupakan salah satu sumber antioksidan.

Sabar pun asal dilakukan dengan benar dan tahu ilmunya, akan meningkatkan energi kita dan menghancurkan mental block (penghalang dan perintang mentalitas). Sabar juga dapat meningkatkan kinerja fisik kita. Sabar dapat menjadi bahan bakar untuk etos kerja dan perjuangan kita. Sabar dapat menjadi “antioksidan” untuk penyakit stes, depresi, jantung, dan “penuaan dini”.

Masih banyak orang yang mempersepsikan sabar sebagai sebuah kenyataan pahit, padahal pahitnya itu ibarat pahitnya rasa kopi yang sebenarnya nikmat dan bermanfaat. Sabar itu juga seperti struktur bagian lidah, yang pahit di pangkal tetapi manis di ujung. Allah Ta’ala menciptakan anatomi lidah kita dengan rasa pahit di bagian belakang atau pangkal, asam dan asin di bagian samping, dan manis di bagian ujungnya. Walau pun ada teori yang menyatakan bahwa varian rasa tidak terfokus pada bagian-bagian tertentu di lidah, tetap saja semua rasa yang masuk ke dalam mulut, sensornya terdapat pada lidah, bukan pada gigi atau pun gusi. Demikian pula halnya dengan hidup kita. Hari ini merasakan pahit, esoknya merasakan manis, esoknya lagi merasakan asam, manis lagi, pahit lagi, asin lagi, asam lagi, manis lagi, dan seterusnya…dan seterusnya. Kita nikmati saja semua varian rasa hidup tersebut. Bila semua varian rasa hidup itu dinikmati dengan kesabaran, maka hasilnya akan luar biasa. Al-Hasan Zainal Abidin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya kesabaran adalah salah satu harta simpanan kebaikan, dan Allah hanya akan memberikannya kepada hamba yang mulia di sisiNya.”              

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Sabtu, 07 Januari 2017

MENATA DAN MENGELOLA SABAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.



Mengelola sabar berbanding simetris dengan mengelola emosi. Emosi amat erat hubungannya dengan daya ingat dan pengalaman kita. Bila hal buruk terjadi pada diri kita, maka kemungkinan besar akan merangsang respon emosi kita. Emosi bisa juga berhubungan erat dengan apa yang kita anggap sebagai nilai kehidupan. Ketika terjadi tantangan terhadap nilai kehidupan kita, maka respon emosi kita akan muncul.

Emosi adalah sebuah energi yang dapat mempengaruhi kehidupan kita. Itulah mengapa kepandaian emosi memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan seseorang. Kita mengalami dan menghasilkan segala bentuk energi yang mempengaruhi perasaan kita dan apa yang kita jalani dalam hari-hari kita. Sebagian energi memiliki cukup kekuatan dan mudah dikenali.  Sedangkan energi yang lain seringkali hanya dirasakan berdasarkan intuisi. Segala hal yang diucapkan, segala hal yang dipikirkan, dan segala hal yang dilakukan, semuanya menghasilkan energi yang mempengaruhi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ada dua kutub energi yang mempengaruhi emosi, yaitu kutub energi positif dan kutub energi negatif. Sebagian orang menghasilkan energi positif, sedangkan sebagian lainnya menghasilkan energi negatif. Ukurannya tergantung kualitas hidup seseorang. Inilah yang mereflesikan perbuatan atau pun pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang. Pikiran, tujuan, dan perilaku akan memicu emosi yang memberikan label kepada energi, yaitu label positif dan label negatif.

Seringkali kita menghadapi situasi negatif dalam hidup kita. Bereaksi negatif dalam situasi negatif tentu akan membuang energi. Ada baiknya kita belajar mengubah sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif. Nabi Muhammad s.a.w. yang dilempari batu oleh penduduk Thaif ketika berdakwah di sana bahkan membalas perlakuan negatif mereka dengan do’a beliau: “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Kekuatan energi positif yang terpancar dari do’a Sang Nabi akhirnya mampu membuat semua penduduk Thaif di kemudian hari mendapatkan hidayah dari Allah S.W.T.

Seorang Imam Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As-Sudais, masa kecilnya terkenal dengan kenakalannya dan selalu membuat ulah sehingga membuat pusing kedua orang tuanya. Namun di setiap ulah kenakalannya, ibunya selalu berkata walaupun hatinya menahan kesal, “Abdurrahman, kelak kamu akan menjadi Imam Masjidil Haram, sudah jangan nakal, diam.” Ternyata,  kekuatan energi perkataan seorang ibu yang diucapkan berulang-ulang menjadi kenyataan. Setelah dewasa Abdurrahman As-Sudais menjadi Imam Masjidil Haram. Mungkin jika yang diucapkan oleh ibunda Abdurrahman As-Sudais adalah kata-kata negatif dan sumpah serapah selama bertahun-tahun,  Abdurrahman As-Sudais tidak akan mendapatkan pencapaian positif seperti sekarang ini.

Pancaran energi positif sebagai reaksi dari energi negatif juga terjadi pada ibunda Thomas Alva Edison. Dianggap sebagai anak bodoh di sekolahnya, Edison dikembalikan oleh pihak sekolah kepada orang tuanya. Guru kelas Edison menuliskan sepucuk surat kepada ibunda Edison yang isinya, “didiklah anakmu, karena anakmu memiliki kecerdesan yang khusus.” Pada awalnya ibunda Edison merasa kaget dan agak tersinggung setelah anaknya dikembalikan kepadanya oleh pihak sekolah. Dengan telaten dan tekun ibunda Edison mendidik anaknya. Ia berkeyakinan bahwa anaknya tidak sebodoh asumsi pihak sekolahnya. Dan akhirnya fakta berbicara, Thomas Alva Edison menjadi penemu lampu pijar yang jasanya masih dirasakan sampai sekarang dan bahkan sampai nanti. Setelah melakukan seribu kali eksperimen dan baru berhasil pada eksperimen yang terakhir, ia mengatakan bahwa ia tidak melakukan sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali percobaan yang gagal, tapi ia melakukan sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali percobaan yang belum tuntas.

Setiap orang pasti memiliki emosi positif dan menginginkan emosi positif tersebut tidak terganggu dengan emosi negatif. Kesenangan adalah emosi positif. Rasa terima kasih juga emosi positif. Demikian pula dengan ketertarikan, harapan, kebanggaan, inspirasi, kekaguman, cinta, semua itu termasuk emosi positif.

Sebaliknya, tidak ada orang yang menginginkan emosi negatif, walaupun emosi negatif telah menjadi keniscayaan yang pasti terjadi pada manusia. Tak seorang pun menginginkan rasa frustasi, rasa khawatir, rasa amarah, rasa benci, dan rasa kecewa.

Orang yang tersisihkan dari tempat dan posisinya pasti merasakan emosi negatif. Namun demikian, menuruti emosi negatif tentu akan menambah penderitaan. Bila kita mampu mengelola kesabaran kita dalam menghadapi emosi negatif, maka emosi negatif tersebut akan mampu kita konversikan menjadi emosi positif.

Sejarah merekam perjalanan Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. yang dibantu para Sahabat, mengalami situasi terisolir dan bahkan seperti terusir dari Mekkah kota kelahirannya. Nabi s.a.w. dan para Sahabat tetap sabar dan move on dalam menghadapi situasi yang sangat sulit. Sifat sabar mereka refleksikan dengan mengatasi rasa frustasi, fokus kepada mindset mereka, mengatur dan mendisain kembali arah dan tujuan mereka, serta menghadapi situasi yang sulit dengan kelapangan hati.  Kemudian mereka move on dan mengambil keputusan untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah). Apa yang terjadi kemudian? Di Madinah mereka berhasil membuat tatanan kenegaraan yang bersifat civil society atau masyarakat yang berperadaban, bahkan mereka mampu merebut kembali Kota Makkah. Sepeninggal Nabi Muhammad s.a.w., pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., Ummat Islam mampu menaklukkan Romawi dan Persia. Luar biasa dahsyatnya energi sabar yang mampu mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Manakala kita menemukan gejala ketidaksabaran, maka langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah menemukan penyebab ketidaksabaran yang sesungguhnya. Banyak hal yang menjadi pemicu ketidaksabaran kita. Bisa jadi penyebabnya adalah orang-orang yang kita temui, ucapan-ucapan yang terdengar di telinga kita, atau situasi-situasi tertentu. Pada hakikatnya penyebab ketidaksabaran itu adalah diri kita sendiri dalam menghadapi pemicu-pemicu ketidaksabaran. Kita membutuhkan pendingin ketika menghadapi cuaca panas. Kita butuh pakaian hangat ketika menghadapi cuaca dingin. Ketika hujan kita membutuhkan payung. Dalam keadaan paceklik kita harus hemat. Peluru tidak akan lepas jika tidak ditarik pemantiknya oleh kita. Pemicu-pemicu ketidaksabaran diibaratkan sebagai pemantik puluru. Kitalah yang memutuskan apakah akan menarik pemantik senjata atau tidak.

Kuasailah amarah sebelum rasa amarah itu menguasai kita. Memang betul rasa amarah adalah suatu rasa yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Tetapi bila rasa amarah  terlepas dari kontrolnya dan berubah menjadi destruktif, maka akan menjadi masalah baru buat kita, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam kehidupan kita secara luas. Bagaimana cara menguasai amarah kita? Pertama, atur dulu irama nafas kita yang sempat terengah-engah karena rasa amarah kita. Tempo nafas sangat mempengaruhi suasana hati dan alur pikiran kita. Kedua, ucapkanlah kalimat-kalimat yang dapat menenangkan hati kita. Banyak-banyaklah menyebut Asma Allah atau bershalawatlah kepada Nabi. Ketiga, mainkan imajinasi kita. Bukalah memori kita saat kita merasakan senang atau merasakan pengalaman yang menyenangkan. Lepaskanlah tangan kita dari pelatuk atau pemantik peluru amarah, agar peluru amarah tidak terlepas dan melukai siapa pun.

Frustasi dan rasa amarah memberikan dampak yang cukup besar bagi emosi dan fisik kita. Mencurahkan isi hati dan perasaan amarah kita dengan membicarakannya dengan seseorang atau mengalihkannya kepada kegiatan lain dapat meringankan beban perasaan tersebut. Jangan biarkan rasa amarah dan rasa frustasi menjadi berkembang hingga kita tidak mampu lagi mengatasinya.

Rasa frustasi, rasa khawatir, rasa amarah, rasa kecewa, tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Perasaan-perasaan itu bisa juga menghasilkan sesuatu yang positif. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Caranya? Ubah perasaan-perasaan negatif itu sehingga bertransformasi menjadi energi emosi positif. Maksudnya? Jangan mengkonsumsi dan menelan perasaan-perasaan negatif tersebut, tapi gunakan perasaan-perasaan negatif itu untuk menginspirasi diri kita ke arah yang lebih baik. Bersikap kreatif, ya, sekali lagi, bersikap kreatif! Berfikir kreatif, itu sudah biasa. Namun bersikap kreatif, itu luar biasa. Berfikir kreatif dan bersikap kreatif, keduanya akan menjadi satu kombinasi yang dahsyat dan luar biasa.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA
ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Jumat, 06 Januari 2017

WE NEED LIGHT TO GUIDE US (PART 2) -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as Islamic Counselor of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Shadaqa Wa'dahuu Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa ba'du.

Shiraatillaahilladzii lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi alaa ilallaahi tashiirul umuur. (Assyuuraa verse 53).
"Verily, you (O, Muhammad) are indeed guiding (mankind) to straight path".

Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) was commanded by Allah to convey the truth to all mankind. Later on they have the choice to do as they wish. When a person obeys, he will benefit for himself, and when he disobeys, he will harm himself.

The natural state of man (fitrah) is imprinted in Islam as the religion of reason and thought. The Almighty Allah has discerned the truth from falsehood. He has allowed good things and disallowed evil things.

There are four types of guidance mentioned in the Qur'an, according to Syeikh Ibn Al-Qayyim.
1. General guidance that is given to all creation.
2. Guidance that is in the form of explanation and education by way of defining the two paths of good and evil.
3. Guidance that is tawfiq (a specific type of divine guidance) and inspiration (ilham) from Allah to be guided to the truth of Iman (faith) and Islam (submission).
4. Guidance that is in the next life, by which one shall be guided to paradise.

Yet according to Syeikh Ibn Al-Qayyim, there are further ten levels of guidance that need to be attained for one to be truly guided:
1. Be granted guidance of knowledge and clarity in order for one to know and reach the truth.
2. For the capacity to be guided.
3. Make one desirous of guidance.
4. Make one act upon the guidance.
5. Make one remain steadfast of guidance.
6. Remove all barriers and obstructions that impede guidance.
7. Be granted a distinctive and detailed level of guidance on the path itself and its stations.
8. Be granted sight of one's ultimate goal along the path to be alerted to it so that one can perceive it on the journey, catching sight of it without being blocked from seeing it.
9. Make one aware of destitution and desperate need for guidance from Allah over and above all necessities.
10. Make one see the two misguided paths that veer off from the path of guidance.

Allah Ta'ala instruct us to ask for guidance to the straight path (As-Shiraath Al-Mustaqiim).

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 01 Januari 2017

WE NEED LIGHT TO GUIDE US (Part 1) -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

We need light to guide us since we live our lives in this world. It is the earth, especially together with the life it supports. Lifeworld may be conceived as a universe of what is self-evident or given. Life is the period during which something inanimate or abstract continues to exist, function, or be valid. To wonder about the meaning of life is an extremely important activity, life does have substantial meaning, and there are, in fact, a range of practial steps we can take to ensure we end up leading lives of maximal meaningfulness.

Sometimes we come across challenging times in our lives. It happens when things are not just going our way and we don't know what to do. Usually our response depends on who we are and the options we have available.

The Qur'an and The Sunnah. Yes, The Qur'an and The Sunnah are the only guide a believer will have recourse to throughout his life. The valid reference source to see how The Qur'an has been put into practice is the life and actions of our Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Without Qur'an and Sunnah, we will walk in the darkness in our life. They our light that we need to lead our life. The real truth belongs to Allah's teaching, so we have to follow His teachings. which are covered and included in Qur'an. The massages of Qur'an are imprinted inside the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Our Prophet's ethics, morals, really represents Qur'an.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.