Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmtullah Wa Barakatuh.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
During the Month of Rabi'ul Awwal, which is the third month in the Islamic calendar, many Muslims celebrate Mawlid - the birthday of the Islamic prophet, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The date of birth of of Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam is believed to have been on the twelfth of this month.
Despite the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam himself never celebrated the Mawlid, he encouraged Muslims to fast on Mondays of every week for his birthday being on Monday.
In Arabic language, the word "Rabi'" means "spring" whereas Al-awwal means "the first". Thus, "Rabi' al-awwal" means "the first spring". The "spring" is the end to winter (symbol of sadness) and consequently the start of happiness.
There are some great Islamic historical events in this month. The greatest historical event of this month is the birthday of The Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The Hijra (migration) took place in this month. The marriage of The Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam to Khadijah binti Khuwailid happened in this month. The first mosque in Islam is the Quba Mosque, which is built in this month as well.
We strongly miss you...O....the prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.....
Shalluu 'alannabiyy.......
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaih....Wa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin....
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA........
MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA
Rabu, 21 November 2018
Rabu, 04 Juli 2018
FANATISME BUKAN AKAR RADIKALISME -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Pada Kementerian Agama Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaah Was Shalaatu Was Salaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
Banyak pihak yang memaksakan opini bahwa fanatik adalah akarnya radikal. Namun bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang jernih dan tidak sempit tetap berkeyakinan bahwa fanatisme sama sekali bukan akar radikalisme. Para pengamat dan pembuat kebijakan bisa menjadi keliru bila masih mempersamakan antara radikal dan fanatik. Yang harus kita hindari adalah menyelesaikan masalah dengan mengorbankan orang atau kelompok yang sebenarnya tidak bersalah.
Kerancuan istilah yang digunakan akan menciptakan stigma negatif. Hal inilah yang sangat perlu kita luruskan. Pengertian fanatik dan radikal sangatlah berbeda. Istilah radikal berada setingkat di bawah istilah teroris, dan selalu menjadi konotasi negatif. Sedangkan fanatik bukanlah radikal. Bisa dimungkinkan bahwa orang yang fanatik memiliki sikap dan pikiran yang moderat bahkan mungkin agak liberal. Bandingkan dengan radikal yang sama sekali tidak mau bersikap dan berpikir moderat apalagi liberal.
Dalam sebuah sidang umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres pernah mengingatkan agar berhati-hati menggunakan terminologi radikalisme. Ia menyatakan bahwa terminologi radikalisme dipakai oleh dunia global, dan penafsiran dari kata tersebut ada yang mengandung perspektif positif. Pada abad ke 18, kelompok yang dicap radikal oleh pihak Kerajaan Inggris justru membawa kemajuan bagi bangsa Britania Raya. Saat itu kelompok yang dianggap radikal berhadapan langsung dengan konservatisme Kerajaan.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fanatik adalah kepercayaan dan keyakinan yang teramat kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan arti radikalisme menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Fanatik lebih berkonotasi kepada gairah, atau gairah yang sangat kuat. Suka atau tidak harus kita akui bahwa justru fanatisme agama menjadi modal besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Hubbul Wathan Minal Iman" (Cinta negara sebagian dari iman) menjadi ruh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.
Agama tidak membuat masyarakat menjadi radikal. Orang menjadi radikal karena menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.
Agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Semakin fanatik seseorang dalam beragama, maka semakin kuat ia menebarkan rahmat kepada sesama.
Fanatisme merupakan ruh yang teramat kuat terhadap kepercayaan atau pun keyakinan. Sedangkan radikalisme adalah egoisme tingkat tinggi dari sebuah ideologi yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara ekstrim, apa pun agama, kelompok, suku, dan rasnya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Al-Hamdu Lillaah Was Shalaatu Was Salaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
Banyak pihak yang memaksakan opini bahwa fanatik adalah akarnya radikal. Namun bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang jernih dan tidak sempit tetap berkeyakinan bahwa fanatisme sama sekali bukan akar radikalisme. Para pengamat dan pembuat kebijakan bisa menjadi keliru bila masih mempersamakan antara radikal dan fanatik. Yang harus kita hindari adalah menyelesaikan masalah dengan mengorbankan orang atau kelompok yang sebenarnya tidak bersalah.
Kerancuan istilah yang digunakan akan menciptakan stigma negatif. Hal inilah yang sangat perlu kita luruskan. Pengertian fanatik dan radikal sangatlah berbeda. Istilah radikal berada setingkat di bawah istilah teroris, dan selalu menjadi konotasi negatif. Sedangkan fanatik bukanlah radikal. Bisa dimungkinkan bahwa orang yang fanatik memiliki sikap dan pikiran yang moderat bahkan mungkin agak liberal. Bandingkan dengan radikal yang sama sekali tidak mau bersikap dan berpikir moderat apalagi liberal.
Dalam sebuah sidang umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres pernah mengingatkan agar berhati-hati menggunakan terminologi radikalisme. Ia menyatakan bahwa terminologi radikalisme dipakai oleh dunia global, dan penafsiran dari kata tersebut ada yang mengandung perspektif positif. Pada abad ke 18, kelompok yang dicap radikal oleh pihak Kerajaan Inggris justru membawa kemajuan bagi bangsa Britania Raya. Saat itu kelompok yang dianggap radikal berhadapan langsung dengan konservatisme Kerajaan.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fanatik adalah kepercayaan dan keyakinan yang teramat kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan arti radikalisme menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Fanatik lebih berkonotasi kepada gairah, atau gairah yang sangat kuat. Suka atau tidak harus kita akui bahwa justru fanatisme agama menjadi modal besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Hubbul Wathan Minal Iman" (Cinta negara sebagian dari iman) menjadi ruh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.
Agama tidak membuat masyarakat menjadi radikal. Orang menjadi radikal karena menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.
Agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Semakin fanatik seseorang dalam beragama, maka semakin kuat ia menebarkan rahmat kepada sesama.
Fanatisme merupakan ruh yang teramat kuat terhadap kepercayaan atau pun keyakinan. Sedangkan radikalisme adalah egoisme tingkat tinggi dari sebuah ideologi yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara ekstrim, apa pun agama, kelompok, suku, dan rasnya.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Jumat, 16 Maret 2018
KOPI (Kajian Online Perkara Iman) Bagian 1 -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag Kab. Tangerang)
بسم اللّه الرّحمن الرّحيم
الحمد للّه والصّلاة والسّلام على رسول اللّه محمّد بن عبد اللّه وعلى آله وصحبه ومن والاه . أمّا بعد .
Yuk, minum KOPI (Kajian Online Perkara Iman)!
Iman dan taqwa ada di dalam dada (hati sanubari). Kadarnya berbeda-beda tingkatannya antara seseorang dengan yang lainnya. Para sahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam di zaman mereka terdahulu menyebutkan bahwa iman ini terkadang bertambah dan terkadang berkurang, terkadang naik dan terkadang turun. Apatah lagi di zaman kita saat ini. Tantangan iman di zaman sekarang ini sungguh jauh lebih berat. Iman bukan lagi hanya naik dan turun, tetapi bisa masuk dan keluar. Terkadang di dalam dada ini amat takut mengerjakan dosa sebab iman sedang bersemayam dalam hati. Tapi terkadang hasutan syaithan dan nafsu, mengusir iman dari tempat persemayamannya di dalam hati.
Betapa beruntunglah orang-orang yang meskipun berada di zaman yang penuh dengan fitnah, namun senantiasa berpegang pada ajaran Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam. Sebagaimana dalam sebuah hadits, yang maknanya, “Barangsiapa berpegang pada Sunnahku di saat ummatku diliputi kerusakan, maka baginya pahala 100 syuhada”. .
Banyak wanita yang membuka aurat-aurat mereka, namun para muslimah tetap kokoh dalam berhijab, semoga Allah memasukkan mereka yang kokoh berhijab ke dalam golongan utama yang medapatkan pahala 100 syuhada. Betapa banyak orang yang mencampuradukkan hartanya dengan harta-harta syubhat bahkan haram, namun banyak pula yang masih tetap teguh dalam mencari nafkah hanya harta yang halal saja dan selalu menghindari yang tidak halal, dan semoga Allah memasukkan mereka dan keluarga mereka (golongan yang tetap teguh) ke dalam golongan yang dijanjikan 100 pahala syuhada. Manakala kebanyakan orang menimbun hartanya sebab takut tertimpa kefakiran dan tak yakin pada janji Allah bahwa setiap sedekah akan Allah balas dengan rezeki berlipat, tetapi kita senantiasa mendawamkan sedekah bahkan wakaf, maka semoga Allah menggolongkan kita sebagai penerima pahala 100 pahala orang yang syahid di jalan Allah. Para syuhada berjuang dengan jiwa mereka, sementara kita berjuang dengan harta kita. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 15, yang maknanya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Cintailah Allah dan RasulNya. Cintailah para Ulama-ul-khair yang menjadi pewaris para Nabi. Do’akan para Ulama-us-su’ agar kembali mendapatkan Hidayah dan Nur (cahaya) Allah. Bergaullah dengan orang-orang Shalih. Bila kita bergaul dengan orang-orang Shalih, meskipun kita sendiri belum benar-benar menjadi orang Shalih, mereka (orang-orang Shalih) pasti akan mendo’akan kebaikan untuk kita tanpa kita sadari. Boleh bergaul dengan siapa saja (ukhuwwah basyariyah), tetapi jangan keluar dari lingkaran orang-orang Shalih
سبحانك اللّهمّ وبحمد ك أشهد أن لّا إله إلّا أنت أستغفرك وأتوب إليك
الحمد للّه والصّلاة والسّلام على رسول اللّه محمّد بن عبد اللّه وعلى آله وصحبه ومن والاه . أمّا بعد .
Iman dan taqwa ada di dalam dada (hati sanubari). Kadarnya berbeda-beda tingkatannya antara seseorang dengan yang lainnya. Para sahabat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam di zaman mereka terdahulu menyebutkan bahwa iman ini terkadang bertambah dan terkadang berkurang, terkadang naik dan terkadang turun. Apatah lagi di zaman kita saat ini. Tantangan iman di zaman sekarang ini sungguh jauh lebih berat. Iman bukan lagi hanya naik dan turun, tetapi bisa masuk dan keluar. Terkadang di dalam dada ini amat takut mengerjakan dosa sebab iman sedang bersemayam dalam hati. Tapi terkadang hasutan syaithan dan nafsu, mengusir iman dari tempat persemayamannya di dalam hati.
Betapa beruntunglah orang-orang yang meskipun berada di zaman yang penuh dengan fitnah, namun senantiasa berpegang pada ajaran Rasulullah shallallaahu’alaihiwasallam. Sebagaimana dalam sebuah hadits, yang maknanya, “Barangsiapa berpegang pada Sunnahku di saat ummatku diliputi kerusakan, maka baginya pahala 100 syuhada”. .
Banyak wanita yang membuka aurat-aurat mereka, namun para muslimah tetap kokoh dalam berhijab, semoga Allah memasukkan mereka yang kokoh berhijab ke dalam golongan utama yang medapatkan pahala 100 syuhada. Betapa banyak orang yang mencampuradukkan hartanya dengan harta-harta syubhat bahkan haram, namun banyak pula yang masih tetap teguh dalam mencari nafkah hanya harta yang halal saja dan selalu menghindari yang tidak halal, dan semoga Allah memasukkan mereka dan keluarga mereka (golongan yang tetap teguh) ke dalam golongan yang dijanjikan 100 pahala syuhada. Manakala kebanyakan orang menimbun hartanya sebab takut tertimpa kefakiran dan tak yakin pada janji Allah bahwa setiap sedekah akan Allah balas dengan rezeki berlipat, tetapi kita senantiasa mendawamkan sedekah bahkan wakaf, maka semoga Allah menggolongkan kita sebagai penerima pahala 100 pahala orang yang syahid di jalan Allah. Para syuhada berjuang dengan jiwa mereka, sementara kita berjuang dengan harta kita. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 15, yang maknanya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Cintailah Allah dan RasulNya. Cintailah para Ulama-ul-khair yang menjadi pewaris para Nabi. Do’akan para Ulama-us-su’ agar kembali mendapatkan Hidayah dan Nur (cahaya) Allah. Bergaullah dengan orang-orang Shalih. Bila kita bergaul dengan orang-orang Shalih, meskipun kita sendiri belum benar-benar menjadi orang Shalih, mereka (orang-orang Shalih) pasti akan mendo’akan kebaikan untuk kita tanpa kita sadari. Boleh bergaul dengan siapa saja (ukhuwwah basyariyah), tetapi jangan keluar dari lingkaran orang-orang Shalih
سبحانك اللّهمّ وبحمد ك أشهد أن لّا إله إلّا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Rabu, 20 Desember 2017
PELAJARILAH BAHASA ARAB, PENTING!. Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Pada Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin. Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
INNAA ANZALNAAHU QUR'AANAN 'ARABIYYAN LA'ALLAKUM TA'QILUUN. " Sesungguhnya Kami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab agar kalian mengerti." (Al-Qur'an Surah Yusuf Ayat 2).
Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).
Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “Bolehkah seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris untuk membantu dakwah ?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat, mempelajari bahasa Inggris tidak diragukan lagi merupakan sebuah sarana. Bahasa Inggris menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk tujuan yang baik, dan akan menjadi jelek jika digunakan untuk tujuan yang jelek. Namun yang harus dihindari adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab karena hal itu tidak boleh. Aku mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab, bahkan sebagian mereka yang tertipu lagi mengekor (meniru-niru), mengajarkan anak-anak mereka ucapan “selamat berpisah” bukan dengan bahasa kaum muslimin. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berkata “bye-bye” ketika akan berpisah dan yang semisalnya. Mengganti bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang paling mulia, dengan bahasa Inggris adalah haram. Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana untuk berdakwah maka tidak diragukan lagi kebolehannya bahwa kadang-kadang hal itu bisa menjadi wajib. Walaupun aku tidak mempelajari bahasa Inggris namun aku berangan-angan mempelajarinya. terkadang aku merasa sangat perlu bahasa Inggris karena penterjemah tidak mungkin bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku secara sempurna.” (Kitabul ‘Ilmi).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).
Setidaknya ada 7 alasan mengapa kita harus mempelajari Bahasa Arab.
Alasan Pertama: Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur'an Al-Karim. Bahasa Al-Qur'an Al-Karim lebih indah daripada Sastra dan Bahasa Arab terindah yang pernah ada di dunia ini.
Alasan Kedua: Mempelajari Bahasa Arab akan memudahkan kita dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan, dan mengamalkan isi Al-Qur'an.
Alasan Ketiga: Orang yang memahami Bahasa Arab, terutama kaedah-kaedahnya, akan lebih mudah memahami Islam dibandingkan orang yang tidak mempelajarinya sama sekali. Bahkan para orientalis Barat harus mempelajari kaedah-kaedah Bahasa Arab terlebih dahulu sebelum memahami Al-Qur'an. Akhirnya mereka mengakui bahwa Bahasa Al-Qur'an adalah bahasa terindah dibandingkan bahasa-bahasa dunia lainnya yang pernah mereka pelajari.
Alasan Keempat: Dengan memahami Bahasa Arab, akan mudah bagi kita untuk menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama.
Alasan Kelima: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, bahasa yang lembut, dan lebih mengenakkan hati serta menentramkan jiwa.
Alasan Keenam: Telah terbukti bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang paling lurus, mudah dpahami, dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia.
Alasan Ketujuah: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Asal muasal serta akar bahasa dunia adalah Bahasa Arab. Nabi Adam 'alaihissalam berkomunikasi dalam Bahasa Arab, yang kemudian berkembang menjadi bahasa-bahasa yang berbeda di dunia. Junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan Bahasa Arab. Penduduk surga nanti pun berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin. Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
INNAA ANZALNAAHU QUR'AANAN 'ARABIYYAN LA'ALLAKUM TA'QILUUN. " Sesungguhnya Kami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab agar kalian mengerti." (Al-Qur'an Surah Yusuf Ayat 2).
Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).
Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “Bolehkah seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris untuk membantu dakwah ?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat, mempelajari bahasa Inggris tidak diragukan lagi merupakan sebuah sarana. Bahasa Inggris menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk tujuan yang baik, dan akan menjadi jelek jika digunakan untuk tujuan yang jelek. Namun yang harus dihindari adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab karena hal itu tidak boleh. Aku mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab, bahkan sebagian mereka yang tertipu lagi mengekor (meniru-niru), mengajarkan anak-anak mereka ucapan “selamat berpisah” bukan dengan bahasa kaum muslimin. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berkata “bye-bye” ketika akan berpisah dan yang semisalnya. Mengganti bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang paling mulia, dengan bahasa Inggris adalah haram. Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana untuk berdakwah maka tidak diragukan lagi kebolehannya bahwa kadang-kadang hal itu bisa menjadi wajib. Walaupun aku tidak mempelajari bahasa Inggris namun aku berangan-angan mempelajarinya. terkadang aku merasa sangat perlu bahasa Inggris karena penterjemah tidak mungkin bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku secara sempurna.” (Kitabul ‘Ilmi).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).
Setidaknya ada 7 alasan mengapa kita harus mempelajari Bahasa Arab.
Alasan Pertama: Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur'an Al-Karim. Bahasa Al-Qur'an Al-Karim lebih indah daripada Sastra dan Bahasa Arab terindah yang pernah ada di dunia ini.
Alasan Kedua: Mempelajari Bahasa Arab akan memudahkan kita dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan, dan mengamalkan isi Al-Qur'an.
Alasan Ketiga: Orang yang memahami Bahasa Arab, terutama kaedah-kaedahnya, akan lebih mudah memahami Islam dibandingkan orang yang tidak mempelajarinya sama sekali. Bahkan para orientalis Barat harus mempelajari kaedah-kaedah Bahasa Arab terlebih dahulu sebelum memahami Al-Qur'an. Akhirnya mereka mengakui bahwa Bahasa Al-Qur'an adalah bahasa terindah dibandingkan bahasa-bahasa dunia lainnya yang pernah mereka pelajari.
Alasan Keempat: Dengan memahami Bahasa Arab, akan mudah bagi kita untuk menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama.
Alasan Kelima: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, bahasa yang lembut, dan lebih mengenakkan hati serta menentramkan jiwa.
Alasan Keenam: Telah terbukti bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang paling lurus, mudah dpahami, dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia.
Alasan Ketujuah: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Asal muasal serta akar bahasa dunia adalah Bahasa Arab. Nabi Adam 'alaihissalam berkomunikasi dalam Bahasa Arab, yang kemudian berkembang menjadi bahasa-bahasa yang berbeda di dunia. Junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan Bahasa Arab. Penduduk surga nanti pun berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Senin, 20 November 2017
ABUNDANT LOVE IN THE MONTH OF RABI'UL AWWAL -- BY: SHABRUN JAMIL BAHARUN (AN ORDINARY MAN WORKING AS ISLAMIC COUNSELOR FOR RELIGIOUS AFFAIRS MINISTRY OF TANGERANG DISTRICT, INDONESIA)
Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Mawlaana Muhammadin, Sayyidil Khalaaiqi Wal Basyar, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
What month is this month? November? Sorry, I don't mean that month of AD, although you HAVE answered correctly. I mean the Lunar or Hijriyah month. Thus, the appropriate answer is RABI'UL AWWAL.
What's on in Rabi'ul Awwal?
This month is the third month in the Islamic calender. The majority of Muslims believe the date of birth of Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam to have been on the twelfth of this month. Rabi' Al-Awwal or Rabi'ul Awwal means First Spring (Rabi' = Spring and Awwal = First). So the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam is believed to have been born on the first spring.
The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam was born in state of full of love, peace, and mercy. Everything in this universe is greeting him. The Almighty ALLAH Ta'ala attributes His Greeting as special blessing for the ultimate Prophet. His Angels also convey their greetings to Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. What about us? We are completely told to convey our greetings to our beloved Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Even trees, stones, and animals know that Muhammad is the chosen creature to be the ultimate Prophet with all the love and peace in the universe.
If we really want to reach Allah's love, we have to follow the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. That is truly definite. Denying the ultimate Prophet is such a big sin? It is impossible to love Allah Ta'ala without loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The mercy of Allah Ta'ala cannot reach us except by means of the Prophet Muhammad, by believing in him, loving him, being loyal to him and following him. This is the means by which Allah Ta'ala will save us from punishment in this world and The Hereafter. In other words, the good and the safe life in this world and the Hereafter is merely reached by means of loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Have we loved Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam until he is dearer to our own selves?
How many times do we recite Shalawat upon Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam a day?
Have we applied his Sunnahs (his teachings) in our daily life?
O our beloved Prophet....we are really missing you.....
SHALLUU 'ALANNABIYY.....
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Mawlaana Muhammadin, Sayyidil Khalaaiqi Wal Basyar, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
What month is this month? November? Sorry, I don't mean that month of AD, although you HAVE answered correctly. I mean the Lunar or Hijriyah month. Thus, the appropriate answer is RABI'UL AWWAL.
What's on in Rabi'ul Awwal?
This month is the third month in the Islamic calender. The majority of Muslims believe the date of birth of Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam to have been on the twelfth of this month. Rabi' Al-Awwal or Rabi'ul Awwal means First Spring (Rabi' = Spring and Awwal = First). So the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam is believed to have been born on the first spring.
The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam was born in state of full of love, peace, and mercy. Everything in this universe is greeting him. The Almighty ALLAH Ta'ala attributes His Greeting as special blessing for the ultimate Prophet. His Angels also convey their greetings to Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. What about us? We are completely told to convey our greetings to our beloved Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Even trees, stones, and animals know that Muhammad is the chosen creature to be the ultimate Prophet with all the love and peace in the universe.
If we really want to reach Allah's love, we have to follow the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. That is truly definite. Denying the ultimate Prophet is such a big sin? It is impossible to love Allah Ta'ala without loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The mercy of Allah Ta'ala cannot reach us except by means of the Prophet Muhammad, by believing in him, loving him, being loyal to him and following him. This is the means by which Allah Ta'ala will save us from punishment in this world and The Hereafter. In other words, the good and the safe life in this world and the Hereafter is merely reached by means of loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Have we loved Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam until he is dearer to our own selves?
How many times do we recite Shalawat upon Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam a day?
Have we applied his Sunnahs (his teachings) in our daily life?
O our beloved Prophet....we are really missing you.....
SHALLUU 'ALANNABIYY.....
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Kamis, 16 November 2017
SABAR ITU MEMANG KEREN (BAGIAN KE-2) Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Allah S.W.T. telah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imron ayat 200, bahwa empat kunci kemenangan dan keberhasilan adalah: SABAR, DAYA TAHAN SABAR, PERSIAPAN UNTUK MEMBUAT LANGKAH SELANJUTNYA alias move on, dan setelah itu: TAQWA. Kesabaran yang tanpa move on tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Allah S.W.T. telah menciptakan alam semesta, dan alam semesta ini selalu bergerak. Ada hukum tarik menarik (Law of Attraction) di alam semesta ini, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kita pun harus mengikuti hukum alam tersebut. Untuk itu kita harus selalu bergerak mengikuti irama alam ini. Apakah sama kesabaran yang selalu bergerak (dinamis dan move on) dengan kesabaran yang hanya berdiam diri (statis)?
Tangkaplah cahaya Ilahi dengan kesabaran. Kesabaran bagi manusia merupakan Dhiya (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan hidup di dunia. Demikian pesan Nabi Muhammad s.a.w. melalui riwayat Imam Muslim. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur, dan bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. Berarti bukan hanya ketika bersyukur kita memuji Allah S.W.T., ketika bersabar (karena ditimpa musibah) pun kita tetap memuji Allah. Dalam Hadits riwayat Turmudzi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka.”
Ada beberapa alasan mendasar mengapa kita harus menggali lebih dalam kesabaran kita dalam hidup. Orang-orang yang bersabar akan menikmati kesehatan mental yang lebih baik. Orang-orang yang bersabar tidak akan banyak mengalami depresi dan emosi negatif, sebab mereka mampu mengatasi situasi-situasi yang membuat orang emosi dan tertekan. Mereka juga memposisikan diri mereka untuk berpikir waras dan merasa terkoneksi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan, serta memiliki perasaan yang lebih lepas dan bebas. Orang-orang yang bersabar akan menjadi teman yang lebih baik dan tetangga yang lebih baik. Dalam hubungan atau relasi antar personal, kesabaran akan membentuk sebuah kebaikan. Bayangkanlah seorang sahabat yang dapat membuat kita merasa nyaman ketika kita berada dalam keadaan hati yang sedang remuk dirundung masalah yang sangat berat yang sepertinya sulit untuk dihilangkan. Bahkan orang-orang yang sabar cenderung lebih kooperatif, memiliki rasa empati, dan biasanya lebih pemaaf. Dalam hubungan berkelompok, kesabaran dapat menjadi salah satu dari fondasi masyarakat yang berperadaban. Kesabaran akan menjadi perekat kebersamaan dalam bermasyarakat.
Kesabaran akan membantu meraih tujuan-tujuan kita. Jika kita ingin meraih tujuan yang telah dirancang dan mencapai keberhasilan, maka kita harus mengasah dan mengelola kesabaran kita. Bukan berarti kita hanya duduk dan menunggu saja. Sekali lagi bukan. Malah kita harus mengerjakannya terlebih dahulu, menempatkan fondasinya, kemudian membangunnya. Manakala kita mengabaikan proses alam ini, itu sama artinya kita melawan hukum alam, dan akhirnya kita akan terpental.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
SABAR ITU MEMANG KEREN (BAGIAN I) -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammadin
Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Allah S.W.T menciptakan, memelihara dan membina alam semesta ini (termasuk manusia sebagai makhlukNya) dengan keMahaSabaranNya. Allah S.W.T. amatlah Sabar dengan segenap kekuasaan dan kehebatanNya. Dia Maha Sabar sekalipun kesabaranNya tidak akan pernah mampu memberikan ancaman bahaya dan rasa sakit terhadap diriNya. Sangat berbeda dengan TuhanNya, kesabaran manusia kadang disebabkan karena kelemahannya menghadapi sesuatu atau bisa pula ketika takut terhadap seseorang. Namun demikian, kelemahan manusia yang seperti itu dapat ditutupi dengan kesabaran. Kesabaran pada dasarnya akan menguatkan manusia, bukan melemahkan. Sabar merupakan sebuah kekuatan, dan tidaklah sabar itu menjadi sebuah kelemahan. Ada “rahasia di balik rahasia” dalam kesabaran itu sendiri. Ada kekuatan dahsyat yang akan muncul dari kesabaran yang dilakoni.
Kesabaran dan kedisiplinan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kita harus bersabar untuk menjadi sabar. Ketika seseorang bertahan menghadapi masalah dalam situasi yang sulit, bukan berarti dia hanya duduk berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban yang akan terjadi. Kesabaran tidaklah sama dengan mengabaikan waktu. Untuk mencapai kemajuan dan kemenangan, kesabaran harus dibarengi dengan daya tahan sabar itu sendiri, juga persiapan untuk membuat langkah selanjutnya ataupun move on.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammadin
Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Allah S.W.T menciptakan, memelihara dan membina alam semesta ini (termasuk manusia sebagai makhlukNya) dengan keMahaSabaranNya. Allah S.W.T. amatlah Sabar dengan segenap kekuasaan dan kehebatanNya. Dia Maha Sabar sekalipun kesabaranNya tidak akan pernah mampu memberikan ancaman bahaya dan rasa sakit terhadap diriNya. Sangat berbeda dengan TuhanNya, kesabaran manusia kadang disebabkan karena kelemahannya menghadapi sesuatu atau bisa pula ketika takut terhadap seseorang. Namun demikian, kelemahan manusia yang seperti itu dapat ditutupi dengan kesabaran. Kesabaran pada dasarnya akan menguatkan manusia, bukan melemahkan. Sabar merupakan sebuah kekuatan, dan tidaklah sabar itu menjadi sebuah kelemahan. Ada “rahasia di balik rahasia” dalam kesabaran itu sendiri. Ada kekuatan dahsyat yang akan muncul dari kesabaran yang dilakoni.
Kesabaran dan kedisiplinan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kita harus bersabar untuk menjadi sabar. Ketika seseorang bertahan menghadapi masalah dalam situasi yang sulit, bukan berarti dia hanya duduk berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban yang akan terjadi. Kesabaran tidaklah sama dengan mengabaikan waktu. Untuk mencapai kemajuan dan kemenangan, kesabaran harus dibarengi dengan daya tahan sabar itu sendiri, juga persiapan untuk membuat langkah selanjutnya ataupun move on.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Langganan:
Komentar (Atom)