Rabu, 20 Desember 2017

PELAJARILAH BAHASA ARAB, PENTING!. Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Pada Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin. Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

INNAA ANZALNAAHU QUR'AANAN 'ARABIYYAN LA'ALLAKUM TA'QILUUN. " Sesungguhnya Kami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab agar kalian mengerti." (Al-Qur'an Surah Yusuf Ayat 2).

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “Bolehkah seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris untuk membantu dakwah ?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat, mempelajari bahasa Inggris tidak diragukan lagi merupakan sebuah sarana. Bahasa Inggris menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk tujuan yang baik, dan akan menjadi jelek jika digunakan untuk tujuan yang jelek. Namun yang harus dihindari adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab karena hal itu tidak boleh. Aku mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab, bahkan sebagian mereka yang tertipu lagi mengekor (meniru-niru), mengajarkan anak-anak mereka ucapan “selamat berpisah” bukan dengan bahasa kaum muslimin. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berkata “bye-bye” ketika akan berpisah dan yang semisalnya. Mengganti bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang paling mulia, dengan bahasa Inggris adalah haram. Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana untuk berdakwah maka tidak diragukan lagi kebolehannya bahwa kadang-kadang hal itu bisa menjadi wajib. Walaupun aku tidak mempelajari bahasa Inggris namun aku berangan-angan mempelajarinya. terkadang aku merasa sangat perlu bahasa Inggris karena penterjemah tidak mungkin bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku secara sempurna.” (Kitabul ‘Ilmi).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Setidaknya ada 7 alasan mengapa kita harus mempelajari Bahasa Arab. 

Alasan Pertama: Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur'an Al-Karim. Bahasa Al-Qur'an Al-Karim lebih indah daripada Sastra dan Bahasa Arab terindah yang pernah ada di dunia ini. 

Alasan Kedua: Mempelajari Bahasa Arab akan memudahkan kita dalam menghafalkan, memahami, mengajarkan, dan mengamalkan isi Al-Qur'an. 

Alasan Ketiga: Orang yang memahami Bahasa Arab, terutama kaedah-kaedahnya, akan lebih mudah memahami Islam dibandingkan orang yang tidak mempelajarinya sama sekali. Bahkan para orientalis Barat harus mempelajari kaedah-kaedah Bahasa Arab terlebih dahulu sebelum memahami Al-Qur'an. Akhirnya mereka mengakui bahwa Bahasa Al-Qur'an adalah bahasa terindah dibandingkan bahasa-bahasa dunia lainnya yang pernah mereka pelajari. 

Alasan Keempat: Dengan memahami Bahasa Arab, akan mudah bagi kita untuk menggali ilmu dari ulama secara langsung atau membaca berbagai karya ulama.

Alasan Kelima: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, bahasa yang lembut, dan lebih mengenakkan hati serta menentramkan jiwa. 

Alasan Keenam: Telah terbukti bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang paling lurus, mudah dpahami, dan mudah digunakan sebagai hukum bagi manusia. 

Alasan Ketujuah: Bahasa Arab adalah bahasa yang paling mulia. Asal muasal serta akar bahasa dunia adalah Bahasa Arab. Nabi Adam 'alaihissalam berkomunikasi dalam Bahasa Arab, yang kemudian berkembang menjadi bahasa-bahasa yang berbeda di dunia. Junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan Bahasa Arab. Penduduk surga nanti pun berkomunikasi dalam Bahasa Arab. 

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. 









Senin, 20 November 2017

ABUNDANT LOVE IN THE MONTH OF RABI'UL AWWAL -- BY: SHABRUN JAMIL BAHARUN (AN ORDINARY MAN WORKING AS ISLAMIC COUNSELOR FOR RELIGIOUS AFFAIRS MINISTRY OF TANGERANG DISTRICT, INDONESIA)

Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin, Sayyidinaa Wa Mawlaana Muhammadin, Sayyidil Khalaaiqi Wal Basyar, Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

 Ammaa Ba'du.

What month is this month? November? Sorry, I don't mean that month of AD, although you HAVE answered correctly.  I mean the Lunar or Hijriyah month. Thus, the appropriate answer is RABI'UL AWWAL.

What's on in Rabi'ul Awwal?

This month is the third month in the Islamic calender. The majority of Muslims believe the date of birth of Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam to have been on the twelfth of this month. Rabi' Al-Awwal or Rabi'ul Awwal means First Spring (Rabi' = Spring and Awwal = First). So the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam is believed to have been born on the first spring.

The Prophet Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam was born in state of full of love, peace, and mercy. Everything in this universe is greeting him. The Almighty ALLAH Ta'ala attributes His Greeting as special blessing for the ultimate Prophet. His Angels also convey their greetings to Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. What about us? We are completely told to convey our greetings to our beloved Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Even trees, stones, and animals know that Muhammad is the chosen creature to be the ultimate Prophet with all the love and peace in the universe.

If we really want to reach Allah's love, we have to follow the Prophet Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. That is truly definite. Denying the ultimate Prophet is such a big sin? It is impossible to love Allah Ta'ala without loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. The mercy of Allah Ta'ala cannot reach us except by means of the Prophet Muhammad, by believing in him, loving him, being loyal to him and following him. This is the means by which Allah Ta'ala will save us from punishment in this world and The Hereafter. In other words, the good and the safe life in this world and the Hereafter is merely reached by means of loving Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Have we loved Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam until he is dearer to our own selves?
How many times do we recite Shalawat upon Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam a day?
Have we applied his Sunnahs (his teachings) in our daily life?

O our beloved Prophet....we are really missing you.....
SHALLUU 'ALANNABIYY.....

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.




  

Kamis, 16 November 2017

SABAR ITU MEMANG KEREN (BAGIAN KE-2) Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin. Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin. Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin. Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin. Ammaa Ba'du. Allah S.W.T. telah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imron ayat 200, bahwa empat kunci kemenangan dan keberhasilan adalah: SABAR, DAYA TAHAN SABAR, PERSIAPAN UNTUK MEMBUAT LANGKAH SELANJUTNYA alias move on, dan setelah itu: TAQWA. Kesabaran yang tanpa move on tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Allah S.W.T. telah menciptakan alam semesta, dan alam semesta ini selalu bergerak. Ada hukum tarik menarik (Law of Attraction) di alam semesta ini, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kita pun harus mengikuti hukum alam tersebut. Untuk itu kita harus selalu bergerak mengikuti irama alam ini. Apakah sama kesabaran yang selalu bergerak (dinamis dan move on) dengan kesabaran yang hanya berdiam diri (statis)? Tangkaplah cahaya Ilahi dengan kesabaran. Kesabaran bagi manusia merupakan Dhiya (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan hidup di dunia. Demikian pesan Nabi Muhammad s.a.w. melalui riwayat Imam Muslim. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur, dan bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. Berarti bukan hanya ketika bersyukur kita memuji Allah S.W.T., ketika bersabar (karena ditimpa musibah) pun kita tetap memuji Allah. Dalam Hadits riwayat Turmudzi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka.” Ada beberapa alasan mendasar mengapa kita harus menggali lebih dalam kesabaran kita dalam hidup. Orang-orang yang bersabar akan menikmati kesehatan mental yang lebih baik. Orang-orang yang bersabar tidak akan banyak mengalami depresi dan emosi negatif, sebab mereka mampu mengatasi situasi-situasi yang membuat orang emosi dan tertekan. Mereka juga memposisikan diri mereka untuk berpikir waras dan merasa terkoneksi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan, serta memiliki perasaan yang lebih lepas dan bebas. Orang-orang yang bersabar akan menjadi teman yang lebih baik dan tetangga yang lebih baik. Dalam hubungan atau relasi antar personal, kesabaran akan membentuk sebuah kebaikan. Bayangkanlah seorang sahabat yang dapat membuat kita merasa nyaman ketika kita berada dalam keadaan hati yang sedang remuk dirundung masalah yang sangat berat yang sepertinya sulit untuk dihilangkan. Bahkan orang-orang yang sabar cenderung lebih kooperatif, memiliki rasa empati, dan biasanya lebih pemaaf. Dalam hubungan berkelompok, kesabaran dapat menjadi salah satu dari fondasi masyarakat yang berperadaban. Kesabaran akan menjadi perekat kebersamaan dalam bermasyarakat. Kesabaran akan membantu meraih tujuan-tujuan kita. Jika kita ingin meraih tujuan yang telah dirancang dan mencapai keberhasilan, maka kita harus mengasah dan mengelola kesabaran kita. Bukan berarti kita hanya duduk dan menunggu saja. Sekali lagi bukan. Malah kita harus mengerjakannya terlebih dahulu, menempatkan fondasinya, kemudian membangunnya. Manakala kita mengabaikan proses alam ini, itu sama artinya kita melawan hukum alam, dan akhirnya kita akan terpental. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

SABAR ITU MEMANG KEREN (BAGIAN I) -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammadin
Wa 'Alaa Alihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

 Ammaa Ba'du.

Allah S.W.T menciptakan, memelihara dan membina alam semesta ini (termasuk manusia sebagai makhlukNya) dengan keMahaSabaranNya. Allah S.W.T. amatlah Sabar dengan segenap kekuasaan dan kehebatanNya. Dia Maha Sabar sekalipun kesabaranNya tidak akan pernah mampu memberikan ancaman bahaya dan rasa sakit terhadap diriNya. Sangat berbeda dengan TuhanNya, kesabaran manusia kadang disebabkan karena kelemahannya menghadapi sesuatu atau bisa pula ketika takut terhadap seseorang. Namun demikian, kelemahan manusia yang seperti itu dapat ditutupi dengan kesabaran. Kesabaran pada dasarnya akan menguatkan manusia, bukan melemahkan. Sabar merupakan sebuah kekuatan, dan tidaklah sabar itu menjadi sebuah kelemahan. Ada “rahasia di balik rahasia” dalam kesabaran itu sendiri. Ada kekuatan dahsyat yang akan muncul dari kesabaran yang dilakoni. 

Kesabaran dan kedisiplinan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kita harus bersabar untuk menjadi sabar. Ketika seseorang bertahan menghadapi masalah dalam situasi yang sulit, bukan berarti dia hanya duduk berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban yang akan terjadi. Kesabaran tidaklah sama dengan mengabaikan waktu. Untuk mencapai kemajuan dan kemenangan, kesabaran harus dibarengi dengan daya tahan sabar itu sendiri, juga persiapan untuk membuat langkah selanjutnya ataupun move on.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Sabtu, 21 Oktober 2017

BANGSA INDONESIA PUN BERTERIMA KASIH KEPADA SANTRI -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim. Al-Hamdu Lillaahi Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Wa 'Alaa Aalihii Wa Man Waalah. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang dicetuskan oleh Hadhratussyeikh Hasyim Asy'ari, menjadi tonggak sejarah kobaran jihad perlawanan mengusir kekuatan kolonial Belanda. Puncaknya adalah perang 10 November 1945 di Surabaya yang menjadi perang terdahsyat sepanjang sejarah perjuangan bangsa pada masa kolonial. Para prajurit yang ikut berperang saat itu terdiri dari TKR (Sekarang TNI), Laskar Hizbullah (bentukan Nahdhatul Ulama) dan Hizbul Wathan (bentukan Muhammadiyah). Bila dibuat perbandingan secara akumulatif, dua pertiga atau komponen terbanyak adalah dari unsur santri (Laskar Hizbullah dan Laskar Hizbul Wathan). Kakek penulis sendiri, almarhum Abdullah, tergabung dalam Laskar Hizbullah dan ikut perang 10 November di front terdepan. Semasa hidupnya beliau pernah menuturkan, bahwa front terdepan diisi oleh TKR, Laskar Hizbullah dan Laskar Hizbul Wathan yang berasal dari pesantren-pesantren besar di Jawa Timur. Ada pun front di belakangnya diisi oleh santri-santri utusan pesantren-pesantren yang berasal dari Jawa Barat dan Banten. Front terdepan ber"alutista" senjata-senjata berat pada zamannya. Sedangkan front belakang ber"alutista" bambu runcing. Cerita bambu runcing memang benar adanya. Pasukan di front belakang yang menggunakannya. Bambu-bambu runcing itu telah di"isi" oleh kiyai atau ajengannya dengan energi dzikrullah. Dengan pekikan Allahu Akbar yang membahana di langit Surabaya, bambu-bambu runcing itu hanya dipegang dan kemudian terbang sendiri. Menyadari mayoritas prajurit yang berjuang saat itu adalah para santri, Bung Tomo berkali-kali meneriakkan Kalimat Takbir dalam pidatonya di radio pada saat perang berkecamuk. Hasilnya? Surabaya kembali direbut. Almarhum kakek penulis datang ke pondok pesantren Tebuireng pada tahun 1940-an atas biaya Sultan Abdul Kahir III (Raja Bima yang terakhir). Beliau dikirim oleh Sultan Abdul Kaher III ke Tebuireng bersama beberapa pemuda lainnya. Mungkin sinonimnya di zaman sekarang adalah beasiswa dari raja kesultanan Bima. Saat itu banyak kesultanan Islam di berbagai belahan Nusantara (yang terakhir tentunya) mengirim para pemuda untuk untuk menuntut ilmu di pulau Jawa, sebab ketika itu Pulau Jawa menjadi pusat kemajuan pesantren di Nusantara. Trend tersebut akhirnya menjadi blessing in disguise (berkah tersembunyi). Kombinasi para pemuda dari Pulau Jawa dan dari daerah luar Jawa menjadi punggawa Laskar Hizbullah dan Hizbul Wathan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahkan mengakui bahwa yang paling banyak berjasa dalam banyak perang kemerdekaan adalah para santri, bukan TNI. Maksud beliau, TNI banyak berjasa, tetapi santri paling banyak berjasa. Santri harus banyak memegang peranan dalam membangun peradaban bangsa. Santri harus menjadi penyetir mobil. Jangan sampai santri menjadi pendorong mobil terus, yang setelah lelah mendorong mobil lalu ditinggal oleh yang menyetir mobil. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Kamis, 05 Oktober 2017

IMPROVING OUR STRENGTHS, MINIMIZING OUR WEAKNESSES -- By: Shabrun Jamil Baharun (An Ordinary Man, Working As PAIF at Religious Affairs Ministry of Tangerang District, Indonesia)

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. AL-HAMDU LILLAAHI WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. It is no doubt that everyone has strength and weakness. Even the strongest man or woman must have any weakness, and the weakest man or woman must have any strength actually. What we need to do is how to maximize our strength and how to minimize our weakness. We will never be perfect, that is the truth. We will always have weaknesses that will accompany us throughout our life. We will be set on a downward spiral, whenever we focus on weaknesses. We have to stop focusing on weaknesses, for it will lower our self-esteem and blur our vision. Focusing too much on our weaknesses is the reason why we get stuck doing things we are not good at. We have to understand both our strength and our weaknesses. All successful persons have one thing in common. They are maximizing their potential in the area of their focus. This is inevitably very valuable lesson for us. We don’t have to try to be everything to everybody, and we don’t have to pretend to know it all. Turn our focus away from our weaknesses and start discovering our core strength. Our next step will be to focus on expanding our strength and maximizing our potential. The Prophet Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam said, “the strong mukmin is better than the weak mukmin.” SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 01 Oktober 2017

HINDARI BANYAK HUTANG -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional, Kemenag. Kab. Tangerang)

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM. AL-HAMDU LILLAAHI WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. Dalam salah satu doanya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Mengapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Jika seseorang berhutang, apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). Dalam hadits lain yang juga riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa meminjam harta orang lain dengan niat ingin mengembalikannya, Allah akan mengembalikan pinjaman itu, namun siapa yang meminjamnya dengan niat ingin merugikannya (orang yang dipinjam), maka Allah akan merugikannya (orang yang meminjam).” Dalam Islam, berhutang diperbolehkan bagi mereka yang memerlukannya. Meskipun begitu, tidak boleh dijadikan sebagai cara yang ditempuh untuk bermegah-megah, atau dengan leluasa dibuat tanpa keperluan dan bukan dengan asas yang benar dan syar’i. Banyak faktor yang menyebabkan tabiat suka berhutang, yaitu cinta akan dunia, tamak (rakus), riya dan mengharapkan pujian orang lain, takabbur (arogan), shum’ah (berbangga diri) dan suka pamer, serta tidak pandai bersyukur. Sangat tidak baik jika kita masih memiliki prinsip, “negara saja banyak hutang, masak saya tidak boleh banyak hutang?” Sejatinya kita mulai dari diri pribadi kita terlebih dahulu untuk tidak banyak berhutang. Banyak hutang adalah sebuah jeratan fatamorgana, yang mana semakin bertambah jumlah hutang kita, semakin bertambah pula jumlah penderitaan dan kesengsaraan hidup kita. Lalu bagaimana solusi agar kita terlepas dari jeratan hutang? Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini menjadi jawabannya: “Hakiem bin Hizam radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, dan dahulukan keluargamau (orang-orang yang wajib kamu belanjai), dan sebaik-sebaik sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta), maka Allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang merasa sudah cukup (berusaha untuk merasa cukup), maka Allah akan membantu memberinya kekayaan (kecukupan).’” SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Sabtu, 30 September 2017

غنى النفس – تمام الغنى (محرر: صبرجميل باھرون -- رجل عادي, الجاھل والفقير إلى الله).

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. غنى النفس – تمام الغنى (محرر: صبرجميل باھرون -- رجل عادي, الجاھل والفقير إلى الله). حملناھمّاعظيماعند ما قدّمنا طلبا إلى اللّه عزّوجلّ, فنعمل لما خلقنااللّه له من عبادته سبحانه وتعالى وفعل كلّ عمل خيريحبّه اللّه ويرضاه وأن نبتعد عن كلّ مافيه ضررأخطرلنا أولإخواننا. فينبغى لنا أن نسعى لطلب الرزق بعزة النّفس لابذاتھا,وأن لايكون ذالك على حساب ديننا, فلا نبيع ديننا بعرض من الدنيا بل نكون دائما واثقين من أنّ اللّه رازقنا. فقد قال اللّه تعلى فى الحديث القدسي (من شغله القرآن وذكري أعطيته أفضل) سبحانك اللھمّ وبحمدك أشھد أن لاّإله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك.

Jumat, 01 September 2017

عيدالأضحى المبارك : درس الطاعة والتعاون (محرر: صبرجميل باھرون -- رجل عادي, الجاھل والفقير إلى الله).

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. عيدالأضحى المبارك : درس الطاعة والتعاون (محرر: صبرجميل باھرون -- رجل عادي, الجاھل والفقير إلى الله). لقد علّم الله تعالى رسوله إبراھيم عليه الصلاة والسلام نموذاج الحج والأضحية حيث أكمله بخاتم نبيّه محمّد صلّى الله عليه وسلّم فأنزل الله سورة الماٸدة الآية٣فى حجّة الوداع "اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا". إنّ الحج وعيد الأضحى ليس مجرّدالواجبات فحسب وإنّما درس ثمين وقيمة عظيمة فيھما وھي الطاعة إلى الله والرسول والتعاون على البرّوالتقوى, وطبعا النشر بشعاٸر الله. لا شكّ أنّ الإخلاص ھوالرّوح لكلّ الأعمال وھو جزء من الإيمان كما أنّ الإيمان ھو التصديق بالقلب والإقرار باللسان والعمل بالأركان أوالجوارى. سبحانك اللھمّ وبحمدك أشھد أن لاّإله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك.

Senin, 28 Agustus 2017

"CASING" TETAP SAJA SAMA, WALAUPUN "DALEMAN"NYA BISA TERTUKAR -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Pada Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim. Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu "Alaa Rasuulillaah Wa 'Alaa Aalihii Wa Man Waalah. Ammaa Ba'du. Perubahan zaman telah membawa kita kepada perubahan pola hidup serta cara pandang hidup. Allah Ta'ala menciptakan kita berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan, ada tua, ada muda, dan seterusnya. "Casing" manusia yang diciptakan olehNya telah dibuat permanen, ada "casing" laki-laki, ada "casing" perempuan. Namun dalam realitanya, "spec" atau pun isinya bisa juga tertukar. Ada yang "casing"nya laki-laki tapi "spec" atau "daleman"nya perempuan. Sebaliknya, ada pula yang "casing"nya perempuan namun "spec" atau "daleman"nya laki-laki. Dalam kehidupan kita, hal-hal seperti itu bukanlah sesuatu yang "absurd", sebab dalam hidup ini ada hukum "probabilitas" atau "ketermungkinan". Normalnya satu ditambah satu menghasilkan angka dua. Namun dalam kehidupan nyata, ada saja kasus yang terjadi bahwa satu ditambah satu tetap menghasilkan angka satu, atau mungkin nol, atau minus, atau bisa juga menjadi seratus. Fisik laki-laki tapi pembawaan perempuan, atau sebaliknya fisik perempuan tapi pembawaan laki-laki, mungkin sejak zaman dahulu kala memang sudah ada. Di era modern sekarang ini, banyak peran laki-laki yang diambil alih oleh perempuan, khususnya peran pencari nafkah. Tuntutan kesetaraan gender(walaupun dalam beberapa kasus malah "kebablasan"), juga telah setaranya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan, memperkuat hal ini. Dalam beberapa kasus, berapa banyak laki-laki yang masih dalam usia produktif tidak memiliki kesempatan bekerja. Biasanya mereka kena PHK dan sudah "mentok" melamar pekerjaan ke sana ke mari. Mau berdagang juga tak punya modal. Kalau pun punya modal, sulit menjalankan roda perniagaannya karena tidak punya bakat berdagang dan intuisi dagangnya pun sangat lemah. Yang terjadi malah kehabisan modal, bahkan hutang ke sana ke mari. Akhirnya istrinyalah yang bekerja, sementara suaminya di rumah menjaga anak-anaknya. Apalagi biasanya perusahaan dan pabrik yang lebih membutuhkan tenaga kerja wanita dibanding tenaga kerja pria. Bahkan banyak yang mengadu nasib menjadi TKW di luar negeri, dengan meninggalkan suami dan anak-anaknya selama bertahun-tahun, walaupun dalam banyak kasus sangatlah beresiko. Umumnya, pasangan suami istri yang mengalami hal seperti di atas pada awalnya mengalami disorientasi gender, seperti "casing" yang tertukar "spec" atau "daleman"nya. Yang perempuan seperti menjalani peran sebagai "suami" yang mencari nafkah, dan yang laki-laki seperti menjalankan peran sebagai "istri" yang menjaga dan merawat anak-anaknya. Setelah lama beradaptasi, memang seperti biasa saja rasanya. Tapi tetap saja masih tersisa rasa canggung, masing-masing merasa seperti tertukar "daleman". Walaupun "daleman" seperti tertukar, tetap saja "casing" tidak akan bisa tertukar sampai bumi berhenti berputar. "Daleman" bisa direkayasa, tapi "casing" hanya Allah Ta'ala yang mampu merekayasa. Tertukarnya "daleman" hanyalah bersifat kasuistik, tidak bisa disandarkan sebagai sebuah pembenaran. Allah Ta'ala telah menciptakan "casing" manusia dengan proporsinya sekaligus. Ada "casing" laki-laki dengan sifat-sifatnya yang telah Allah rancang, dan ada "casing" perempuan dengan sifat-sifatnya yang telah Allah tentukan. "Casing" itulah yang kita kenal dengan kodrat. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Sabtu, 26 Agustus 2017

DUNIA VIRTUAL ITU NYATA, BERDAKWAHLAH DI SANA -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai Penyuluh Agama Islam Pada Kementerian Agama Kab. Tangerang)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. AL-HAMDU LILLAAH WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. Tugas Penyuluh Agama adalah menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat dalam bahasa agama. Analoginya dalam bahasa Agama Islam, tugas Penyuluh Agama Islam adalah Dakwah. Secara epistimologi, Dakwah memiliki arti menyeru. Ada tiga variable Dakwah yang harus dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Islam, yaitu Dakwah secara verbal (Da’wah billisan), Dakwah dengan pelaksanaan kegiatan (Da’wah bil hal), dan Dakwah dengan tulisan (Da’wah bil qalam). Variabel Dakwah yang pertama dan kedua (Da’wah bil lisan dan Da’wah bil hal) sudah sangat sering dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Namun variabel Dakwah yang terakhir disebut (Da’wah bil qalam), amat sangat jarang dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Dakwah dengan tulisan (Da’wah bil qalam) termasuk dalam kategori Kalimah Thayyibah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24 sampai 26: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya, dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan Kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa ketika kita menyampaikan sesuatu kepada publik maka penyampaiannya harus sesuai dengan kadar akal pikiran mereka. Untuk publik yang masih konvensional, sampaikan dengan cara yang konvensional. Namun bagi publik yang sudah sangat familiar dengan media online, maka disampaikan dengan cara digital pula. Dakwah harus mampu mengimbangi era digital, maka tak heran jika lahir pula Dakwah online. Hal ini tentu saja terdengar sangat tidak lazim. Mengapa tak lazim? Sebab Dakwah online masih jarang dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam buku (kitab)nya yang berjudul As-Shahwah Al-Islamiyyah Dhawabith Wa Tawjihat menyatakan bahwa, “wajib menggunakan sarana-sarana informasi dan media dalam berdakwah, karena hal itu termasuk yang dapat menegakkan hujjah (argumentasi).” Seorang Penyuluh Agama harus memiliki “senjata pamungkas” untuk melakukan “counter” terhadap serangan dekadensi moral dan bibit-bibit penyelewengan agama yang datang bertubi-tubi melalui dunia online atau dunia maya. Bisa dengan membuat penyuluhan agama dalam bentuk parodi di channel youtube, bisa pula dengan membuat blog yang mengkhususkan diri pada penyuluhan-penyuluhan permasalahan sosial keagamaan. Mengapa masalah keagamaan dijadikan satu paket dengan masalah sosial? Sebab segala hal pasti bermuara kepada masalah sosial, karena kita adalah makhluk sosial. Matematika, fisika, kimia, bahkan teknologi pun ujung-ujungnya adalah untuk kemaslahatan sosial. Ketika urusan-urusan sosial tatanannya dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka tugas kita adalah memperbaiki kebocoran-kebocoran tatanan sosial tersebut. Dakwah kreatif melalui Media Sosial perlu dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Islam. Prinsipnya adalah universalime, sebab Islam adalah Agama yang universal. Bila sudah membuat akun blog, cara-cara yang mesti ditempuh adalah; membuat konten yang bermanfaat, menyesuaikan dengan trend yang ada, serta mengemasnya secara menarik. Jadilah motivator bagi pembaca blog. Hindari konflik antar golongan agama dan jangan mencela antar golongan agama, sebab bila seorang Penyuluh Agama Islam melakukannya, maka ia sudah tidak lagi melakukan pesan pembangunan dalam Bahasa Agama. Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam merepresentasikan sosoknya sebagai agama yang membangun, sejuk, inklusif, dan membumi dengan masyarakat. Secara historis, seperti inilah wajah Islam di Nusantara. Dakwah secara online sama pentingnya dengan Dakwah konvensional melalui tatap muka. Hal-hal yang berhubungan dengan dunia maya seperti media sosial atau media online memiliki payung hukum yang kuat, yakni Undang-Undang Informasi Teknologi Elektronik (UU ITE), sama halnya dengan kehidupan konvensional di dunia nyata, yang memiliki payung hukum KUHP dan KUHAP. Saat ini ada kecenderungan masyarakat yang belajar agama melalui google. Kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, sebab google sendiri hanyalah mesin pencari segala informasi. Ibarat HP dan televisi, google hanyalah berfungsi sebagai pemancar. Lebih dari itu, google adalah “mesin ajaib” penyimpan data dan informasi. Di sinilah sebenarnya peran Penyuluh Agama Islam sangat dibutuhkan. Para Penyuluh seyogyanya banyak menyimpan data dan informasi keagamaan di mesin google, dengan cara banyak menulis masalah-masalah sosial keagamaan di media online, sehingga hak para pengguna mesin google untuk mencari pencerahan secara online pun masih bisa dipenuhi. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 20 Agustus 2017

دع ما يريبك (محرر:صبرجميل باھرون – رجل عادي,الجاھل إلى الله والفقيرإلى الله)

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد. دع ما يريبك (محرر:صبرجميل باھرون – رجل عادي,الجاھل إلى الله والفقيرإلى الله) إن لدينا ھمة وعزم في أن نحصل على تطورات وآفاق المستقبل, فخبرة الحياة االلتي سرنا بھا تعلمنا دروسا ثمينة في مجال شتى, حيث أن التركيز مھم جدا في المناھج اللتي نستخدمھا. كنا في بعض الأحيان حيرانين وغير متأكدين في تطبيق الإجراءات رغم أن الشك والريب لا ينفعانا أبدا, فعلينا التفاؤل في كل النشاطات ولا ينبغي لنا التشاؤم فيھا. (دع ما يريبك إلى ما لا يريبك) ھذا ما قاله النبي صلى الله عليه وسلم في حديثه الكريم, و قال الإمام الشافعي رحمه الله في قاعدة أصول الفقه: اليقين لا يزال باالشك, حيث أن اليقين ھواليقين في البروليس اليقين في الإثم. اليقين ھو مبدأ من مبادئ الحياة, والشك مفسدھا. اليقين لابد مع الإحتياط, فھل يستوى الإحتياط والشك, إنما الإحتياط يمشي مع اليقين ويوجد الشك بسبب الإستعجال من غير اليقين والإحتياط. سبحانك اللھم وبحمدك أشھد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.

Sabtu, 29 Juli 2017

AL-QUR'AN IS OUR COMPANY -- BY: SHABRUN JAMIL BAHARUN ( AN ORDINARY MAN WORKING AS AN ISLAMIC COUNSELOR OF RELIGIOUS AFFAIR MINISTRY OF TANGERANG DISTRICT, BANTEN, INDONESIA)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.
ALHAMDULILLAAH WASSHALAATU WASSALAAMU 'ALAA RASUULILLAH
WA 'ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAWWAALAH.

AMMAA BA'DU.

Since The Qur'an becomes the final Message from Allah Ta'ala to humanity, it always accompanies us wherever and whenever we live in this world. Most of the time, we are unconscious that The Qur'an accompanies this universe including the earth that we live on. It is the Holy Book as well as the Divine Book for the Muslims and its authority is unchallengeable. As the basis of Islam, it constitutes the foundation, as it is the direct Word of Allah and the remaining building of which is the Sunnah (the example) of the Prophet (peace be upon him), which is what Allah has preferred for the Muslims. If we like to see  the beauty of the Qur'an, we have to read it, listen to it, and ponder over its meaning. Al-Qur´an has said: "If the whole of mankind and jinns were to gather together to produce the like of this Qur´an, they could not produce the like thereof, even if they backed up each other with help and support."

How many times do we recite The Qur'an a day? How many verses of The Qur'an we recite a day?
What do we feel when we recite The Qur'an every day?
What do we feel when we don't recite The Qur'an every day?
What do we feel when we make The Qur'an as our Company?
What do we feel when we don't make The Qur'an as our Company?
Such rethorial questions above make us contemplating our lives, here in this world and Hereafter upon Judgement Day.

Don't we really want The Qur'an to be our Intercessory in Hereafter?
Don't we really want The Qur'an to be our Company in the Judgement Day?

Yes, it is, The Qur'an uses Arabic language. But remember!!! Arabic of Qur'an language is completely different from Arabic that commonly used all over the world. Even Arabian must study how to read The Qur'an acurately as well as understand it correctly. Arabic of Qur'an language is above the top special Arabic language.

Al-Qur'an is leading us, guiding us to the Lord's Light, and giving us Lord's Mercy.

Never miss Al-Qur'an. Read and recite The Qur'an daily, as It is our Company.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.





Kamis, 20 Juli 2017

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: BERSYUKUR PASCA MUSIBAH -- OLEH: SHABRUN JAMIL (OR...

MAJLIS TA'LIM BEIT EL HIKMA: BERSYUKUR PASCA MUSIBAH -- OLEH: SHABRUN JAMIL (OR...: BISMILLAAH WASSHALAATU WASSALAAMU 'ALAA RASUULILLAAH WA 'ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAWWAALAH AMMAA BA'DU. Setelah kecel...

BERSYUKUR PASCA MUSIBAH -- OLEH: SHABRUN JAMIL (ORANG AWAM PEGIAT DAKWAH, BEKERJA SEBAGAI PENYULUH AGAMA ISLAM KEMENAG KAB. TANGERANG)

BISMILLAAH
WASSHALAATU WASSALAAMU 'ALAA RASUULILLAAH
WA 'ALAA AALIHII WA SHAHBIHII WA MAWWAALAH

AMMAA BA'DU.

Setelah kecelakaan motor yang saya alami di Kresek pada Hari Selasa pagi yang lalu, karyawan Enjoy Chicken saya satu-satunya mengatakan kepada saya sambil mengurut kaki dan tangan saya, bahwa orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang rajin mengucapkan kata syukur. Menurutnya, mendapatkan musibah saja masih bersyukur, untung tidak lebih parah, atau untung masih selamat tidak sampai mati, serta untung dan untung lainnya. Apalagi kalau mendapatkan rezeki nomplok dalam jumlah besar, langsung sujud syukur atau mungkin speechless (tak mampu berkata apa-apa) karena saking kagetnya ditomplok rezeki besar.

Walaupun karyawan saya satu-satunya ini tidak mengetahui dalil-dalil naqlinya, tapi dalil 'aqlinya sudah mendekati kebenaran. Syukur memang harus diterapkan dalam segala kondisi, senang maupun susah, dalam kenikmatan maupun ketika ditimpa musibah. Sikap hidup Nabi Sulaiman 'alaihissalam memberikan inspirasi bagi kita untuk bersyukur kepada Allah Ta'ala ketika mendapatkan keluasan nikmat hidup. Demikian pula halnya dengan sikap hidup Nabi Ayyub 'alaihissalam yang menjadi inspirator bagi kita ketika mengalami sempitnya hidup dan cobaan musibah yang datang bertubi-tubu.

Saat menulis blog ini saya hanya mampu menulis atau mengetik di komputer dengan tangan kiri, sebab tangan kanan saya masih bengkak sehingga belum bisa digunakan untuk mengetik. Namun Al-Hamdulillah keinginan untuk menuangkan ide kara tulis Dakwah ini tidak dapat dihalangi oleh kondisi bengkaknya tangan kanan saya.

Hanya sekedar menceritakan nikmat Allah Ta'ala, WA AMMAA BI NI'MATI RABBIKA FAHADDITS, statistik pembaca blog Majlis Ta'lim Beit Elhikma sejak November 2016 mencapai 18 ribu lebih pemirsa atau pembaca. Mereka bukan hanya berasal dari Indonesia, tapi juga dari Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Portugal, Malaysia, Saudi Arabia, Rusia, serta negara-negara lainnya. Itulah mengapa sebagian blog Majlis Ta'lim Beit Elhikma ini saya tulis dalam Bahasa Inggris, utamanya ditujukan untuk para pembaca dari luar negeri, syukur-syukur dibaca juga oleh saudara-saudaraku setanah air.

Kembali ke topik semula, kejadian yang menimpa saya dua hari yang lalu akan tetap membuat saya mengucapkan: ALHAMDULILLAAHIRABBIL 'AALAMIIN 'ALAA KULLI HAAL. Ternyata ALLAH TA'ALA menyuruh saya untuk lebih berintrospeksi diri.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Jumat, 23 Juni 2017

O THE ALMIGHTY ALLAH, PLEASE BRING US TO THE FOLLOWING YEARS OF RAMADHAN ! BY: SHABRUN JAMIL (AN ORDINARY, WORKING AS AN ISLAMIC COUNSELOR OF RELIGIOUS AFFAIR MINISTRY, TANGERANG DISTRICT, INDONESIA)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

We hardly believe that Ramadhan will announce his departure. This blessed month is so hard to be forgotten. Nevertheless, we ought not to lose hope from the mercy of Allah, by celebrating the end of Ramadhan with another deed of worship. We still thrive to be pious man and women, still seek for His forgiveness, not to forget to pay charity which is distributed at the end of the fast of Ramadhan, namely Zakatul Fithri. We give our effort to make our concluding deeds with Ramadhan perfectly. We definitely pray Eid on time. We address the departure of Ramadhan with Takbir, Dzikr, and Du'a.

We naturally need our deeds be taken on during our worship within Ramadhan. We always stay in touch with Ramadhan, start with the good work and proceed with the six days of Syawwal. We keep in touch with the beautiful memories of Ramadhan, which become the source of our inspiration.  

We love Allah Ta'ala sincerely, we are longing for the Prophet Muhammad shallallaahu 'alai wa sallam, as well as we love Ramadhan very much, and are longing for the beautiful moment of Ramadhan in the coming years.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Selasa, 20 Juni 2017

USIA BIASA DAN USIA LUAR BIASA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF di Kemenag. Kab. Tangerang, Indonesia)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaah Wassyukru Lillaah Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.

Tidak terasa 26 hari sudah kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tahun 1438 Hijriyah ini, dan malam nanti kita akan memasuki malam ke 27. Angka 27 adalah angka ganjil, dan masuk dalam kategori sepuluh angka terakhir dari hitungan satu bulan.

Mari bertanya kepada diri kita sendiri, sampai hari kedua puluh enam bulan Ramadhan ini, sudah maksimalkah ibadah kita selama bulan Ramadhan? Sudahkah kita khatam Al-Qur'an? Sudahkah kita merasakan kehadiran Allah Ta'ala selama bulan Ramadhan ini? Sudahkah kita memperbanyak sedekah kita selama bulan Ramadhan? Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menjemput malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan?

Di hadapan Allah Ta'ala, umur biasa tidaklah berlaku. Yang berlaku bagiNya adalah umur luar biasa.  
Menurut indeks Worlfram Mathematica, usia rata-rata harapan hidup manusia di Indonesia adalah 70,83 tahun (nomor 141 di dunia), sedangkan usia rata-rata harapan hidup manusia di Jepang adalah 82, 1 tahun (nomor 3 di dunia). Negara bagian China, Macau, memiliki usia rata-rata harapan hidup 84, 36 tahun, dan itu adalah yang tertinggi di dunia. Nomor duanya adalah Andorra, dengan usia rata-rata harapan hidup manusiana 82, 51 tahun.

Tidak ada satu pun negara yang memiliki usia rata-rata harapan hidup manusia di atas seratus tahun.

Itu semua disebut dengan umur biasa manusia. Lalu bagaimana dengan umur luar biasa manusia?

Umur luar biasa manusia, tidak lain dan tentu saja, adalah umur ibadah manusia.
Sudah efektifkah umur kita untuk beribadah? Katakan dalam satu hari kita beribadah minimal 100 menit, dengan asumsi shalat + dzikir dan lain-lain yang berdurasi 20 menit, kemudian dikalkulasi 20 x 5 = 100 menit. Misalkan dari akil baligh hingga tutup usia kita hidup selama 60 tahun. 60 x 12 bulan = 720. 30 hari x 720 = 21.600. Kemudian 1440 menit sehari x 21.600 = 30.110.400 menit selama enam puluh tahun.

100 menit waktu efektif ibadah x 21.600 menit = 216.000 menit. Total 30.110.400 menit dibagi 216.000 = 139 bulan. 139 : 12 = 11. Berarti waktu efektif kita beribadah hanyalah 11 tahun.! Itu artinya, umur luar biasa kita hanyalah 11 tahun bila kita diberikan kesempatan hidup oleh Allah Ta'ala selama 75 tahun dalam usia biasa.

Allah memberikan solusi TUTUP POIN, bahkan POIN BONUS. Mega Bonus yang diberikan olehNya adalah 85 tahun dalam ibadah satu malam setiap tahun yang kita lalui. Lalu kita kalikan dengan usia hidup kita sejak kita akil baligh dan masuk hitungan pahala ibadah, sehingga hasilnya akan menjadi beratus-ratus tahun.  Syaratnya: mendapatkan Lailatul Qadar. Caranya: sungguh-sungguh beribadah tepat pada saat malam Lailatul Qadar. Waktunya: sepuluh hari terakhir dan/atau sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Selamat menjemput malam Lailatul Qadar! Semoga menjadi orang yang beruntung!

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Jumat, 19 Mei 2017

MARHABAN YAA RAMADHAAN, THE HOLY FASTING MONTH ! By: Shabrun Jamil ( A MuslimPreuner, Working as An Islamic Conselour at Religious Affair Ministry of Tangerang District, Indonesia)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Wa Mawlaana Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.



The real spirit of social belonging, of unity and brotherhood, and of equality before God, is developed in a person by Fasting during The Holy Month of Ramadhan. This becomes the natural product of the fact that when people fast they feel that they are joining the whole Muslim society in  the same duty, and the same manner, at the same time, for the same motives, and for the same end. Never  have been at any period of history anything comparable to this powerful institution of Islam: Fasting in the The Holy Month of Ramadan.

There are abundant questions that can be raised from the context of the Holy Month of Ramadhan. "What is fasting?" "How does the fasting of Muslims in Ramadan differ from the fasting of other faiths?" "Why should one 'torture' one's body in the first place?" "What do you really gain from fasting in the end?"...This number of questions frequently asked by  non-Muslim friends and colleagues,along with fascination with this spiritually-uplifting practice of Islamic faith, and at times out of pity and sympathy for us, thinking, why should anyone suffer from hunger and thirst like Muslims?

By doing Fasting, we sharpen our patience, unselfishness, and gratitude. We feel the pains of deprivation and hunger when we fast, and learn how to endure it patiently. This powerful experience is so meaningful that in a social and humanitarian context is that we are much quicker than anybody else in sympathizing with the oppressed and needy around the world, and responding to their needs. .

In addition, fasting in the Holy Month of Ramadan enables us to master the art of mature adaptability and Time-Management. When we realize that fasting makes people change the entire course of their daily life, we can easily understand this point. Upon making the change, they naturally adapt themselves to a new system and schedule, and move along to satisfy the rules. Thus, it can develop in them a wise sense of adaptability and self-created power to overcome the unpredictable hardships of life.  It also cultivates in us the principle of sincere love. As when we observe fasting, we do it out of deep love for Allah Ta'ala. Such a person who loves The Almighty God, truly is a person who knows what love is and why everyone on this earth should be loved and treated justly, for the sake of The Almighty God.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA WA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 23 April 2017

MEMORIZING ISRA AND MI'RAJ -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man, Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdulillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.


The Isra and Mi'raj are two parts of a miraculous journey that Prophet Muhammad  Shallallahu 'alaihi Wa Sallam took in one night from Mecca to Jerusalem and then ascended to The 'Arsh. Some of the Hadith scholars stated that the journey is believed to have taken place just over a year before Prophet Muhammad  migrated (Hijra) from Mecca to Madina, on the 27th of Rajab. Most of Muslims celebrate this night by offering optional prayers during this night, and in many Muslim countries, by illuminating cities with electric lights and candles.

Quran Surah Al-Isra verse 1  mentions that the Prophet  was taken from the Ka'bah to the mosque in Jerusalem, and specifies that the purpose of the journey was such that The Almighty Allah might "show him some of His signs". Beyond this, The Quran does not concern itself with any detail. However, according to Hadith reports, Jibril took the Prophet  at night from the Ka'bah to the mosque in Jerusalem on  Buraq (the vihicle used for the journey of Isra and Mi'raj). On reaching Jerusalem the Prophet  along with other Prophets offered Prayers. (Al-Nasa'i, Sunan, Kitab as-Salah, 'Bab Fard al-Salah wa Dhikr Ikhtilaf al-Naqilin). Jibril then took him to the heavens and the Prophet  met several great Prophets in different heavenly spheres. (See al-Nasa'i, Sunan, Kitab as-Salah, 'Bab Fard al-Salah').

Eventually, he reached the highest point in the heavens and was graced with an experience of the Divine Presence. The Prophet  on that occassion received a number of directives including Prayers of obligatory five times a day. (Al-Bukhari, Kitab Manaqib al -Ansar, 'Bab al-Mi'raj ; K. al-Tawhid, 'Bab Kallama Musa Taklima').  Afterwards, the Prophet  returned from the heavens to Jerusalem, and later on to the Holy Mosque in Mecca. Numerous reports on the subject reveal that the Prophet  was also enabled on this occasion to observe Heaven and Hell. (Al-Bukhari, Kitab as-Salah, 'Bab Kayfa Furidat al-Salah fi al-Isra' and Ibn Hisham, Sirah, vol. I, p. 404)

According to authentic reports, when the Prophet  narrated the incidents of this extraordinary journey the following day to the people in Mecca, the unbelievers found the whole narration utterly amusing. (Muslim, Kitab al-Iman, 'Bab Dhikr al-Masih ibn Maryam). In reality, even the faith of some Muslims was shaken because of the highly extraordinary nature of the account. (See Ibn Hisham, Sirah , vol. I, p.398 and al-Qurtubi, comments on verse 1 of the surah).

The incredible occurance of Isra and mi'raj has become the trial and measure of our faith in responding to the prophetic experience that we think is beyond the common sense of the people. By playing with our mind, we will be tempted not to believe in isra and mi'raj. But with the firmness of faith, we will increase the firmness of our faith.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Jumat, 21 April 2017

TAHAN UJI : TANDA ORANG BERIMAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.

Siklus ujian yang dialami manusia adalah rasa takut, kekurangan pangan, krisis harta dan krisis identitas diri. Hanya orang-orang "kaya"lah yang bisa bertahan dari berbagai terpaan siklus ujian tersebut. Manakala harta seseorang habis, masih mungkinkah ia disebut orang kaya? Jawabannya adalah: Tentu saja masih bisa. Lalu timbul pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mungkin ia masih disebut orang kaya padahal hartanya sudah habis? Jawaban selanjutnya adalah: Hatinya masih lapang. Kelapangan hati itulah yang disebut kekayaan. Sebaliknya, kesempitan hati adalah kemiskinan.

Nabi Ayyub 'Alaihissalam menjadi contoh orang kaya yang sebenar-benarnya. Ketika ia masih kaya raya, hatinya sangat lapang. Bukti kelapangan hatinya adalah rasa syukurnya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta'ala (Ibadah vertikal) dan banyak menderma kepada orang-orang yang nasib ekonominya tidak seberuntung beliau 'Alaihissalam (Ibadah horizontal).

Banyak orang yang sangat kagum dengan kepribadiannya. Meskipun begitu, ada juga orang-orang yang iri dan dengki terhadap kekayaan dan keshalihannya. Selain para manusia pendengki, syetan-syetan pun merasakan hal yang sama dengan para manusia pendengki. Pada dasarnya mereka memang sama-sama syetan. Bedanya, ada yang berasal dari golongan jin dan ada pula yang berasal dari golongan manusia.

Dari sini, mulailah timbul tipu muslihat syetan. Si raja syetan, iblis La'natullah, memohon izin kepada Allah Ta'ala untuk memperdayai Nabi Ayyub 'Alaihissalam. Ia memohon kepada Allah Ta'ala, agar Ayyub diberikan ujian yang sangat berat, dengan diberikan penyakit yang berat, kehilangan harta dan keluarganya. Allah Ta'ala pun mengabulkan permohonannya. Atas izin Allah, Ayyub 'Alaihissalam diberikan ujian yang super berat. Ia mengalami penyakit yang sangat sukar disembuhkan, selama tujuh tahun lamanya. Hartanya semakin lama semakin habis. Anak-anaknya satu persatu meninggal dunia. Istri-istrinya satu persatu pun meninggalkannya. Hanya satu yang masih setia mengurusnya, Siti Rahmah namanya.

Ayyub 'Alaihissalam masih tetap berbaik sangka kepada Allah Ta'ala, Ia tetap bersabar, sehingga hatinya pun masih lapang. Ia menganggap durasi tujuh tahun masa penderitaannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan durasi delapan puluh tahun masa kejayaan hidupnya. Di tengah cercaan dan cibiran orang-orang yang menghinanya dengan label orang sakit dan orang miskin, ia merasa bahwa ia masih kaya. Perasaan dan hatinya tidak sempit dan miskin, bahkan ia merasa bahwa hatinya masih kaya.

Tiba-tiba, dengan mukjizat yang Allah berikan, dua ekor belatung yang terakhir kali menggerogoti tubuhnya, jatuh ke tanah, Setelah itu, memancarlah air dari tanah tersebut. Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Ayyub 'Alaihissalam untuk mandi dari air mancur tersebut. Seketika, atas mukjizat yang Allah Ta'ala berikan, sembuhlah ia.

Beberapa tahun setelah itu, harta dari hasil usahanya kembali melimpah. Ia kembali memiliki beberapa istri dan dikaruniai banyak keturunan. Dengan kesabaran dan rasa syukur dalam menjalani hidupnya, baik ketika kaya maupun ketika jatuh miskin, Nabi Ayyub 'Alaihissalam tetap merasa kaya, sebab kesabaran dan kelapangan hatinya sangat berlimpah.

Bila ingin sukses dan kaya, harus sabar dan tahan uji. Bermental sabar dan tahan uji, itulah tanda orang beriman.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Selasa, 28 Maret 2017

RICHNESS WITHIN SELF SATISFACTION -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working As An Islamic Counselor of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.


What can influence us in a positive way? The appropriate answer for this question is: Life Satisfaction. It can reflect experiences that have influenced a person in a positive way. Thus, it has the ability to motivate people to pursue and reach their goals. Two kinds of emotions that may influence how people perceive their lives, are Hope and Optimism. They are usually oriented towards the reaching of goals and the perception of those goals. On the contrary, pessimism is related to symptoms in depression.

Usually a person is deemed as rich if he owns lots of property, Indeed, everyone likes to be rich, Yet the richness in fact cause burden to human beings, for the wealth and property have to be looked after, it has to be taken care, Unless, it will be destroyed,

Therefore, what is the meaning of richness? Richness has to do with happiness, and happiness is closely related to Self Satisfaction. It means a feeling of being very pleased or satisfied with ourselves and what we have done

Anyone who  dissatisfies with his own condition will have the spark, the motivation, the will to take all effort to learn and try new things to improve himself.  He will be changing, growing, moving, and creating, to reach his self satisfaction. We lead our lives in various situation. Life always changes, grows, and moves all the time.

So, who are rich people? They are the ones who feel, sense, and experience self satisfation. For that reason, when we are not experiencing Self Satisfaction, even if we have big property and wealth, we never feel rich. Richness is deep inside Self Satisfaction.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.




Minggu, 19 Maret 2017

ENERGI DAN SINERGI TOLONG MENOLONG -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.


Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya satu sama lainnya. Oleh karenanya, kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa semua yang ada di alam ini adalah berpasang-pasangan dan berbeda-beda. Konsekwensinya adalah, semua energi yang ada di alam semesta ini saling bersinergi. Mengenal satu sama lainnya merupakan perintah Allah. Konsekwensi logisnya, tolong menolong menjadi sebuah keniscayaan. Namun demikian, tolong menolong dalam keburukan dan permusuhan sangat dilarang olehNya. Allah Ta'ala sangat menganjurkan, bahkan memerintahkan tolong menolong dalam kebaikan.

Diriwayatkan oleh 'Umar bin Jabir, bahwa pada suatu hari, di kala beliau ('Umar bin Jabir) sedang beristirahat bersama-sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang satu kaum yang sangat miskin dalam kehidupannya sehari-hari.  Pekerjaan mereka adalah sebagai pemburu, keadaan ekonomi mereka sangat lemah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam amat simpati dan berubah wajah menampakkan kesedihan. Oleh kerana kaum ini mengalami keterbelakangan ekonomi dan berhajat kepada pertolongan pada waktu itu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  masuk ke dalam rumah kediamannya, kemudian beliau keluar dan menyuruh Bilal mengumandangkan azan dengan tujuan memanggil orang ramai supaya berkumpul. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sunnah dua rakaat dan kemudian  berpidato dengan tujuan meminta orang ramai agar memberi pertolongan dan bantuan kepada kaum yang datang supaya dapat melapangkan keadaan ekonomi kaum tersebut. Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki bersedekah dengan memberi uang, pakaian dan juga bahan-bahan makanan, selepas itu diikuti beberapa orang lelaki yang terdiri dari  golongan Ansar dengan memberi bantuan seperti makanan, pakaian yang secukupnya kepada kabilah tersebut, sehinggalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Bersedekahlah kamu walaupun sebiji buah tamar (kurma)", kata kata Rasulullah itu memperlihatkan wajahnya kembali bersinar putih bersih tanda kegembiraan di atas sambutan oleh orang ramai itu, kemudian Rasulullah bersabda:‘Siapa saja yang menyumbang ke arah pembangunan Islam akan satu sumbangan yang baik, maka baginya pahala di atas apa yang disumbangkan dan pahala orang yang beramal dengan sumbangan tersebut dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka, dan siapa saja yang menyumbang dalam Islam ke arah keburukan adalah baginya dosa dan dosa orang yang beramal dengannya selepas dari mereka, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka yang sedia ada.’ (Riwayat Muslim).

Janji Allah Ta'ala untuk orang yang bersedekah adalah ditambahkan dan diberkahi hartanya. Sementara janji dan bisikan Iblis La'natullah kepada orang yang bersedekah adalah tertimpanya kemiskinan karena berkurangnya harta. Janji manakah yang kita yakini? Tentu saja janji Allah Ta'ala.

Percayakah kita bahwa jika kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 1 untuk bersedekah, hasilnya bukan 9? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 19? Percayakah kita bahwa bila kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 2 untuk bersedekah, hasilnya bukan 8? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 28?
Bagaimana bisa?
Janji Allah Ta'ala, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Berarti dua kebaikan akan dibalas dengan dua puluh kebaikan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Investasi sedekah bukan hanya investasi akhirat, tetapi terintegrasikan antara investasi dunia dan investasi akhirat. Allah Ta'ala menciptakan alam ini dengan hukum tarik menarik (law of attraction)nya. Dia telah menciptakan sistem kinerja alam. Frekwensi kebaikan maupun keburukan yang kita berikan akan disambut oleh alam, yang dengan sistem kinerjanya, akan bekerja untuk memberikan ganjaran.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



Rabu, 15 Maret 2017

PEMBERDAYAAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah.
Ammaa Ba'du.

Seorang mantan sopir angkot 07 yang sehari-hari nongkrong di lapangan masjid Ar-Royan pada suatu malam datang menghampiriku. Kebetulan aku memarkir mobilku di halaman masjid tersebut, dengan membayar infaq sebesar seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulannya. Setelah menyalamiku, ia menawarkan diri untuk menservice mobilku yang kebetulan memang sedang bermasalah dengan perangkatnya.
"Pak Haji, boleh saya membetulkan mobil pak haji, saya lihat sudah sebulan mobil Pak Haji diparkir saja dan tidak pernah keluar."
"Memangnya ente bisa sercive mobil?"
"Bisa dong Pak Haji, saya kan bekas sopir angkot"
"Yakin bisa?"
"Insya Alah, Pak Haji?"
"Ok kalau begitu, ini kuncinya. Kalau  ada yang harus dibeli, bilang ke saya."
"Siap Pak Haji."
Keesokan harinya ia datang ke rumahku.
"Sudah selesai Pak Haji," ujarnya seraya memberikan kunci mobil kepadaku.
"Apanya yang rusak, Mat?"
"Cuma kebel starternya saja yang putus."
"Pantasan akinya masih bagus tapi kok tidak bisa distarter. Kok kamu bisa ya, Mat?"
"Namanya juga pernah lama nyupir ankot, Pak Haji. Saya sudah pengalaman nyalain mobil tanpa starter, cuma nempelin kabel starter, terus nyala deh, he..he..he.."
"Berarti saya nyalain mobil harus nempelin kabel starter dulu?"
"Ya enggak, Pak Haji. Kan sudah saya rapihkan semua, jadi starter mobilnya pake kunci mobil."

Sehari-hari Amat hanya nongkrong saja di depan halaman masjid. Ia sudah berhenti dari dunia supir angkot. Sudah berbulan-bulan ia sama sekali tidak mempunyai pekerjaan yang pasti alias menganggur. Istrinya pun tidak bekerja. Dua-duanya tidak memiliki penghasilan yang pasti. Bersama kedua anak mereka, ia dan keluarganya hidup di bawah standar kehidupan primer.
Pernah satu waktu ia menawarkan dirinya menjadi supir pribadiku. Dari mana saya bisa menggajinya. Aku ini bukanlah seorang pejabat sekelas kepala kantor, pengusaha besar pun tidak.

Lama-lama aku kasihan juga melihatnya terus menganggur. Inilah sebenarnya kesempatan saya beribadah dan beramal sosial dengan cara memberdayakannya. Akhirnya ia kutawarkan untuk menjual fried chicken dengan gerobak stainless second yang dibeli seharga tiga juta rupiah. Memang modalnya cukup menguras isi tabunganku, lima juta delapan ratus ribu rupiah untuk membeli gerobak stainless beserta seluruh peralatannya. Tapi kalau dihitung-hitung, sejumlah uang yang aku keluarkan memiliki multi manfaat. Membantu saudara sesama ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memberdayakan ekonomi ummat.
Niat awal adalah pemberdayaan ekonomi ummat. Menurut sahabatku Habib Syakir yang sudah sukses dengan perusahaannya lewat success strory-nya, ibarat menyetir mobil, saya sudah masuk ke gigi satu. Jangan dulu berharap banyak untung pada masa-masa awal usaha, yang penting adalah sustainability ketersinambungan usaha dan perputaran serta jangan sampai terputus, apa pun yang terjadi, walau harus nombok sekalipun. Dalam bahasa agamanya adalah: ber-ISTIQOMAH. 
Dunia kewirausahaan menjadi dunia yang sama sekali baru bagiku.Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam lingkarannya. Bagaimana pun aku harus tetap istiqomah pada niat awalku, yaitu pemberdayaan ekonomi ummat.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. 

Selasa, 28 Februari 2017

RASA MALU KEPADA HEWAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahil Waahidil Qahhaar
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidil Khalaaiqi Wal Basyar
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Semua orang telah mengetahui bahwa manusia adalah genre makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Ta'ala. Maka dari itulah Allah Ta'ala menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun demikian, adakalanya manusia belajar dari makhluk ciptaan Allah lainnya, bahkan menjadikannya sebagai inspirasi.

Nabi Adam 'alaihissalam diajarkan secara langsung oleh Allah Ta'ala. Setalah istrinya, Siti Hawa, diciptakan olehNya, Nabi Adam 'alaihissalam lah yang mengajarkan istrinya. Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anaknya yang lahir dari rahim istrinya, diajarkan oleh kedua orang tua mereka.

Pasca terjadinya tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah kehidupan manusia, Qabil yang baru saja  membunuh saudara kandungnya, duduk dengan perasaan takut dengan segala kegalauan dan kegundahkelanaannya. Ia terus menatap tubuh saudaranya yang sudah tak bernyawa dengan kebingungan yang sangat, akan diapakan mayat saudaranya ini. Peristiwa ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 30-31:
Fa Thawwa'at lahu nafsuhuu qatla akhiihi faqatalahuu fa ashbaha minal khaasiriin. Fa ba'atsallaahu ghuraabayyabhatsu fil ardhi liyuriyahuu kaifa yuwaarii sauata akhiih. Qaala yaa wailataa a'ajaztu an akuuna mitsla haadzal ghuraabi fa uwaariya sauata akhii. Fa ashbaha minannaadimiin. 
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi” Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal."
Burung gagak dikirim oleh Allah Ta'ala untuk memberikan inspirasi bagi manusia tentang bagaimana cara menguburkan mayat.

Gambar elang sedang terbang di angkasaManusia juga terinspirasi oleh hewan unggas berjenis burung untuk membuat kendaraan yang bisa terbang. Dibutuhkan beratus-ratus percobaan untuk berhasil membuat pesawat terbang. Pesawat, Lepas Landas, Langit

Ada pula inspirasi hewan yang tidak semua orang mau melakukannya disebabkan oleh egonya. Hewan itu adalah hewan unggas berjenis bebek. Inspirasinya adalah budaya antri. Tidak pernah kita lihat sekawanan bebek yang saling menyerobot satu sama lainnya. Semuanya berjalan beriringan dengan tertib. Bandingkan dengan iring-iringan kendaraan di jalan-jalan. Kendaraan-kendaraan yang telah rela untuk mengantri, acap kali "dikhianati" oleh kendaraan yang berada di belakang, atau dengan santainya kendaraan-kendaraan lain menyelonong maju dengan cara turun ke bahu jalan, atau bahkan masuk ke jalur arah berlawanan.  Sering kali beberapa kendaraa dengan santainya menyerobot atau mepet-mepet minta dikasih tempat. 

Banyak pula kasus antrian manusia yang berujung kepada kericuhan, bahkan memakan korban jiwa. Penyebabnya bisa karena kesalahan para pengantri yang lebih mengedepankan ego dan nafsu, serta "rasa takut tidak kebagian" yang berlebihan, bisa karena penyelenggaranya yang tidak sanggup menata dan mengelola antrian. Penyebab kedua inilah yang biasanya berakibat fatal. Ketidaksanggupan penyelenggara dalam menata dan mengelola antrian akan meyebabkan para pengantri seperti tidak diperlakukan manusiawi. Oleh karenanya, mari sama-sama kita menata dan mengelola diri.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Selasa, 21 Februari 2017

VARIABEL DAKWAH WALISONGO -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Mawwaalah

Ammaa Ba'du.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih memimpin kabilah dagang milik Khadijah ke Syam, sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, kerap kali beliau bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam.  Menurut penelitian yang dilakukan oleh G.R. Tibbetts hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara bahkan telah terjadi pada zaman pra Islam. Bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara memperkuat penemuannya.
Disebutkan pula dalam sebuah dokumen kuno yang berasal dari Tiongkok bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M , hanya selang 15 tahun pasca Rasulullah s.a.w. menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah melakukan aktivitas Dakwahnya, di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Itulah mengapa sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah s.a.w. masih hidup di Mekkah dan Madinah. Teori ini dalam sejarah Islam Nusantara disebut Teori Mekkah. Teori ini sekaligus mematahkan teori Van Erp yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 melalui pedagang Gujarat.
Para sejarawan sepakat bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia dilakukan dengan cara damai secara berangsur-angsur melalui perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren, penyebaran da’i, perkumpulan tarekat, penyuluhan pertanian, akulturasi seni dan budaya, dan sebagainya.
Setelah komunitas muslim Nusantara banyak terbentuk di beberapa tempat, muncullah para penyebar Islam di Pulau Jawa yang membentuk sebuah Dewan, yang kita kenal dengan Wali Songo (Wali Sembilan). Pada dasarnya Wali Songo adalah sebuah Dewan Wali yang terdiri dari sembilan Wali pada setiap angkatannya. Angkatan Pertama Wali Songo dimulai pada tahun 1404, dan angkatan ke-8 Wali Songo berakhir pada tahun 1650. Pada setiap angkatannya pasti ada anggota Wali Songo yang baru yang menggantikan anggota Wali Songo yang telah tiada. Dalam rentang waktu tersebut, Dewan Wali Songo telah berhasil membuat beberapa kerajaan Islam, salah satunya adalah kerajaan Islam Banten (termasuk Jayakarta atau Batavia masuk ke dalam wilayah kerajaan Islam Banten). Snock Horgrounje pernah mengatakan kepada pemerintah kerajaan Belanda, bahwa menguasai Nusantara harus dimulai dengan menguasai kerajaan Islam Banten. Artinya, kerajaan Islam Nusantara yang dibuat oleh anggota-anggota Dewan Wali Songo pada saat itu termasuk kerajaan besar yang sangat diperhitungkan oleh dunia.
Keberhasilan Dakwah para Wali Songo terletak pada variabel metode Dakwah mereka. Mereka adalah para Da’i yang sangat kreatif dengan mobilitas Dakwah yang tinggi.
Maulana Malik Ibrahim/Maulana Maghribi/Syekh Maghribi/Syekh Jumadil Kubra/Sunan Gresik membuka warung untuk berjualan kebutuhan sehari-sehari dengan harga murah, mengadakan pengobatan gratis, membangun pondok pesantren pertama di Pesucian. Dalam bidang kesenian ia membuat Tembang Suluk, Gundul-gundul pacul. Dalam bidang pendidikan ia membangun Pondok Pesantren di Leran, Gresik
Sunan  Ampel/ Raden Rahmat (Ampel, Surabaya) mendirikan pesantren Ampel. Ia adalah perancang kerajaan Islam Demak. Ia melakukan perkawinan dengan puteri   Manila. Ia membuat norma Molimo dalam masyarakat: Larangan berjudi, mabuk, mencuri, mabuk dan zina, moh main, ngombe, maling madat dan madon
Sunan Bonang/Raden Maulana Makdum Ibrahim (Surabaya), menyesuaikan Dakwahnya dengan kebudayaan masyarakat, dengan menciptakan gamelan Bonang/gending, Tombo Ati, dan Suluk. Ia mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama Malaikat. Ia pun ahli dalam pewayangan
-   Sunan Giri/Raden Paku/Raden Ainul Yakin (Giri), mendirikan pesantren Giri, menciptakan permainan anak-anak, mengirim juru dakwahnya yang terdidik ke berbagai pelosok daerah di luar Jawa, menciptakan permainan Jelungan, Gendi Ferit, Jor, Gula Anti, Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Gending Asmaran Dana, dan Pucung.
Sunan Drajad/Raden Qosim/Syarifudin (Surabaya), memberikan pengajaran Tauhid dan Akidah secara langsung. Orientasi dakwahnya adalah pada kegotong-royongan. Ia melakukan  pendekatan kultural dengan menciptakan tembang jawa. Ia menciptakan suluk petuah: “Berilah tongkat pada si buta, berilah makan pada yang lapar, berilah pakaian pada yang telanjang” Hasil karya seninya adalah Tembang Pangkur dan Gamelan Singomengkok
Sunan Kalijaga/Raden Mas Syahid bin RadenSahur (Tuban). Ia merancang masjid Demak (tata dan pecahan kayu). Gaya sufistiknya adalah berbasis salaf. Ia menggunakan wayang dan gamelan sebagai media dakwahnya. Ia mengarang cerita-cerita pewayangan, dan mengembangkan seni suara, seni ukir, busana, pahat, dan kesusastraan. Beberapa hasil karya seninya adalah Wayang Purwa, Cerita Pewayangan, Jamus Kalisada, Babat Alas Wonomarto, dan Wahyu Tohjali.
Sunan Kudus/Jafar Sadik/Waliyyul Ilmi (Jipang Panoalan, Blora), membuat cerita-cerita ketauhidan. Dalam berdakwah ia menggunakan pendekatan kurtural dengan memanfaatkan simbol Hindu-Budha. Ia membetulkan menara, gerbang, tempat wudhu. Ia juga menciptakan Gending. Karya-karya seninya adalah  Cerita Agama Maskumambang dan Mijil.
Sunan Muria/ Raden Umar Said/Raden Prawoto bin Sunan Kalijaga (Gunung Muria, Kudus), menjadikan desa-desa terpencil sebagai pusat dakwahnya Ia Mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, nelayan,dan rakyat biasa seperti berdagang, bercocok tanam, dan  melaut. Hasil karya seninya adalah Tembang dakwah Sinom dan Kinanti
Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah, cucu Prabu Silihwangi(Pangeran Sabakingking)
(Jawa Barat). Ia membanguin infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah, melakukan ekspedisi ke Banten. Ia memanfaatkan pengaruhnya sebagai cucu kerajaan Padjajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam merepresentasikan sosoknya sebagai agama yang membangun, sejuk, inklusif, dan membumi dengan masyarakat. Secara historis, seperti inilah wajah Islam di Nusantara. Sejarah membuktikan pula bahwa spirit Islamlah yang berjuang habis-habisan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Kecintaan para Wali Songo terhadap bangsa dan negara tidak terbantahkan. Semangat membela bangsa dan negaranya sangat patut diacungi jempol. Penyebaran Islam ke Nusantara, benar-benar Rahmatan Lil ‘Alamin.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



Senin, 20 Februari 2017

KEKUATAN ADALAH KETIDAKBERDAYAAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Innal Hamda Lillaah
Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruh
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abdahuu Wa Rasuuluh
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Setiap orang dan segala sesuatu pada hakekatnya tak memiliki daya ketika berhubungan dengan Allah Yang Maha Agung. Tiada seorang pun dan tiada sesuatu pun yang memiliki kekuatan tanpa pemberian Tuhan. Manakala Tuhan Yang Maha Agung memberikan kekuatan kepada hamba-hambaNya, niscaya mereka akan menjadi kuat. Namun demikian, hal itu justru merefleksikan totalitas  ketidakmampuan. Ketika seorang hamba menyatakan ketidakmampuannya di hadapan Tuhannya, inilah yang menjadi sebuah kehormatan bagi seorang hamba, dan sebagai akibat dari kerendahdiriannya maka Tuhan akan memberikannya kekuatan dan menyokongnya dalam segala situasi. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang pertama kali menyatakan ketidakberdayaannya pada saat merasakan kehadiran Tuhan. Oleh karenanya, Allah Ta'ala memberikannya karunia kekuatan yang lebih dibandingkan hamba-hamba lainnya yang pernah diberikan karunia olehNya.  Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi ummat manusia, bahwa jika kita ingin mencari dukungan Tuhan dan kekuatan spiritual yang lebih, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengakui ketidakberdayaan kita.

Para ilmuwan fisika berusaha keras untuk membuka tabir alam semesta. Setelah terbuka tabirnya satu per satu, mereka mulai berusaha membuka tabir konsep dan pikiran Tuhan. Semakin keras usaha mereka membuka tabir konsep dan pikiran Tuhan, semakin mereka mengakui ketidakberdayaan mereka. Tabir alam semesta mampu mereka temukan jawaban-jawabannya walaupun tidak mampu menuntaskannya, namun mereka tidak pernah mampu sekali pun menganalisa pikiran Tuhan, Bahkan saking tidak berdayanya jangkauan akal pikiran mereka menembus konsep dan pikiran Tuhan, sampai ada yang frustasi dan mengambil kesimpulan yang salah, bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya. Yang seperti itu mungkin dapat kita sebut sebagai oknum ilmuwan fisika, sebab masih banyak ilmuwan fisika dunia lainnya yang semakin lama semakin takjub dan kagum semaksimal-maksimalnya dengan kebesaran Tuhan.  

 Hati serta pikiran, tubuh, dan jiwa, menjadi elemen-elemen penting dalam membangun kekuatan diri. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan itu semua sebagai modal penting kita bagi kita sebagai hamba-hambaNya. Kekuatan diri kita ditopang oleh spirit, itulah yang banyak orang sebut sebagai kekuatan spiritual. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa kekuatan spiritual bermula dari penanaman (peniupan) roh ketuhanan atau spirit Ilahi ke dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang unggul dan unik. (Qur'an Surah Shad : 71 - 72 dan Qur'an Surah Al-Mu'minun : 14)

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



 



Minggu, 19 Februari 2017

MAKE EFFORT TO RUN TO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.



FA FIRRUU ILALLAAH.

"So ran towards God!" (Adh-Dzariyat: 50)

In Arabic, the word al-firar  means running normally which is used to express running from something to be feared. Running  which chased by lion, mad dog, or an enemy, for instance. The word al-firar is also used to run to catch something, or in other words: jara-yajri-jirayah.

If someone ran because he is chased by a lion, he would focus on efforts to rescue himself.  He would not care if, for instance, there are thorns or nails that pierced his leg. He will not care too if, for instance, someone asked him to stop and be given a pile of treasure. He will go on sprinting.

 Allah commands us to run toward  Him as if we run to escape a lion. Ibn Qayyim al-Jawziyah explained in Madarijus Salikin, the first step of running to Allah comprises three things: Running from ignorance towards science, running from laziness to the spirit, and running from narrow hearts toward airy hearts.

From ignorance towards science

The ignorant according to Islam is not just people who do not have knowledge about something. People whose knowledge and broad horizons of thinking can be ignorant. According to Islam, science includes the knowledge of truth and righteousness which have been known to it.

When Prophet Yusuf. being forced to do humiliating, he-as enshrined by Allah in Surah Yusuf: 33-pitted, "O my Lord, I prefer imprisonment more than fulfill their invitation to me. If you do not keep me from their guile, I would tend to (fulfill their wishes) and I certainly be among people who are ignorant. "


Amr ibn Hisham that before the advent of Islam was named by Abul Hakam because of the intelligence and the height of his knowledge, earned Abu Jahl because he did not want to follow the truth. Amr ibn Hisham certainly understood and was able to digest all the teachings delivered by the Prophet. But because the science was not followed by implementation, he was not considered a knowledgeable man. Instead, he was declared as the ignorant.

From laziness to the spirit

Ibn al-Qayyim stated that the nature of lazy, long wishes, and similar to them are very dangerous for a person. Laziness is like a tree that only led to a loss and regret.

There are several verses in the Qur`an that suggests that we accept all of the commandments with all sincerity, passion. Allah says,

Khudzuu maa aatainaakum biquwwatin wadzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquun.
"Hold firmly what We have given you and remember what is in it, that ye may fear Allah." (Al-Baqarah: 63)


Wa Katabnaa Lahuu Fil Al-waahi Min Kulli Syai-in Maw'idzatan Wa Tafshiilan Likulli Syai-in Fa Khudzhaa Bi Quwwah.
"Have We written to Moses on alwaah   everything as a lesson and an explanation for everything. Then (we say), 'Hold him firmly, command thy people to hold on (His commandments) with the best!'. "(Al-Araf: 145)





From Narrow Chest to Airy Chest

Later on, let any Muslim leave  narrow chest  as soon as possible to airy chest. Narrow chest comes to someone when he is worried and upset about the benefit of himself, his property, or his family. He would be  moody and bend his face if there is a threat comes to himself, his possessions, or his family.

The true threat  is actually the threat that comes from Allah 'Azza Wa Jalla. The threats come only if someone breaks God's rules. The threat comes from other than Allah is essentially nothing compared to his threats.

Actually, if someone tsiqah (trust) in  his God with truly trust, and have kind thought (positive thought) to his God after trying  best of his ability, his chest would undoubtedly be airy. It has been promised by Allah Ta'ala. He  will never break His promise.


Wan Man Yattaqillaah Yaj'al Lahuu Makhrajan Wa Yarzuqhu Min Haitsu Laa Yahtasib.

"Those who fear Allah, will hold the exit (of all matters) for him and be given sustenance from unexpected directions that no-but thought" (Ath-Thalaq: 2-3)


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

HOW TO RUN TO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Minggu, 12 Februari 2017

TAKE A RUN INTO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man, Working as Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.


Al-Hamdu Lillaahi Rabbil ‘Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma’iin.

Ammaa Ba’du.


FI FIRRUU ILALLAAH. INNII LAKUM  NADZIIRUMMUBIIN. (Qur’an Surah Adzaariyat Verse 50).
“Therefore flee unto God! I am a clear warner from Him to you.”

At most of circumstances, people all around the world, whenever they confused they will be asking  themselves, “Where shall we run to?” Often we see people running away from one country to another country. They assume that by by running away they wil survive. Unfortunately, they can’t afford to run away. Because Allah is One everywhere actually. We can’t run away from Allah and go somewhere else. We have to think and do what we should do.

Allah Ta’ala gave us big grants. Iman-Islam-Ihsan. When we run after the world, we are going to be disgraced whenever we go. Sometimes we don’t think about hereafter, we only think about this world. When we do that, we don/t find goodness neither in this world, nor in the hereafter.

Run towards Allah is the only safe place to run away, and He is showing us. Very few people in this world are showed the right way by Him The Almighty.

Running to Allah is similar to worshipping Allah by releasing any other thing than Allah Ta’ala in our main goal. The main goal is merely to reach Allah in every aspect of our life. For Muslim, all his activities in his life are devoted to Allah Ta’ala, either in Hablumminallah  (connection to Allah) or Hablumminannas (relationship with human beings).

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Kamis, 09 Februari 2017

SABAR DALAM PROSES, AKAN DAHSYAT HASILNYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal-Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Betapa pun beratnya ujian atau cobaan yang menimpa kita, itu semua sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang Allah, hal itu tergantung bagaimana kita menyikapi ujian itu. Setiap kali kita sabar dalam menerima ujian, yakinlah, pasti kita akan cepat menemukan jalan keluar, karena Allah Ta’ala akan bersama dan menemani orang-orang yang bersabar.
       Ada seorang pengusaha sukses yang tidak pernah mengenal kata pesaing dalam riwayat usahanya. Suatu ketika datanglah pesaing yang kuat dalam bisnisnya. Saking kuatnya pesaingnya ini, lama kelamaan omsetnya pun menurun dengan drastis, bahkan berada di ambang kebangkrutan. Dalam keadaan bingung dan gundah kelana, satu hal yang pengusaha ini pegang sebagai pedoman dan keyakinannya, bahwa semua kejadian pasti tidak luput dari kehendak Allah, apa pun dan bagaimana pun itu. Berbekal keyakinan yang mantap, ia mengembalikan semuanya kepada Allah sambil terus berusaha. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta akan menemani hambaNya yang sabar dalam menerima ujianNya. Ia terus berusaha menemukan jalan keluar dengan keyakinan dan kesabaran. Semua usahanya akhirnya dijawab olehNya. Allah S.W.T. mengetuk hatinya untuk segera membuka cabang di beberapa kota. Setelah membuka cabang di beberapa kota, ternyata omsetnya malah drastis berubah menjadi puluhan kali lipat dibandingkan sebelumnya. Omsetnya mencapai 1 milyar rupiah seminggu, padahal sebelumnya hanya ratusan juta rupiah per bulan. Dapat kita bayangkan seandainya Allah tidak memberi kesulitan dengan memberi pesaing bagi pengusaha tersebut, kemungkinan besar pengusaha itu tidak berpikir untuk secepat mungkin mendirikan cabang di beberapa kota sekaligus.
       Zaman sekarang dikenal sebagai zaman serba instan. Namun apakah kita tahu bahwa segala barang yang instan itu dihasilkan dari proses yang dilalui dengan penuh kesabaran. Semua jenis makanan yang instan,  barang instan, gadget instan, pada dasarnya tidak ada yang instan.  Hasilnya memang instan, tetapi proses pembuatan alat produksinya tidak ada yang instan.
       Suatu waktu kita mengembangkan sebuah bisnis, baik bisnis jasa mau pun bisnis kuliner di tempat tinggal kita. Melewati satu bulan, dua bulan, ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, konsumen yang datang masih sedikit, sedangkan karyawan mau tidak mau harus digaji, ditambah  lagi kerugian dari faktor produksi lainnya. Kemudian ada seseorang yang menasehati kita, “bersabarlah!”. Lalu Apakah lantas kita langsung membiarkan usaha kita begitu saja dan hanya menunggu usaha tersebut untuk berkembang dengan sendirinya karena kita bersabar? Jelas tidak. Hal  tersebut bukanlah bentuk kesabaran yang sebenarnya. Jika kita tidak merancang strategi pemasaran yang baru, memperbaharui rencana bisnis kita, atau terus mengembangkan bisnis kita,  hasilnya belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan. Sabar yang benar adalah berusaha bertahan untuk bekerja keras ketika sedang menunggu hasil. Inilah kesabaran yang benar. Jelas salah jika ada orang yang menyatakan bahwa ia sabar tapi tidak mau bekerja keras. Kesimpulannya, orang yang sabar adalah mereka yang mau bekerja keras dan tidak pasrah menunggu hasil.
Sabar tidak termasuk tindakan dalam menghadapi suatu hal, tapi sabar menjadi bahan bakar dalam menjalani sebuah aktivitas. Apa pun tidakan dan aktivitasnya, jika menggunakan bahan bakar sabar, maka tindakan dan aktivitas tersebut akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna.
Tidaklah tepat jika kita menilai bahwa orang yang sabar adalah orang yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Orang yang sabar bukan pula orang yang berbaring tidak berdaya, dan orang yang sabar bukanlah mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi kerasnya hidup. Sesungguhnya orang sabar adalah orang-orang yang hebat yang memiliki kekuatan dan ketangguhan untuk bertahan dan menyerang. Mereka mampu bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan daya tahan lebih seperti menahan emosi, menghadapi musibah atau menunggu sesuatu. Dan mereka akan “menyerang” atau bertindak super aktif ketika menghadapi hal-hal yang harus dituntaskan, seperti menyelesaikan tantangan, mengembangkan bisnis, belajar, atau menghadapi ujian. Oleh sebab itu, bisa kita simpulkan bahwa kesabaran dapat menunjukkan tingkat ketangguhan seseorang.
Manakala kita  diperintahkan untuk sabar menunggu bukan berarti kita harus bertahan menunggu hingga selesai, namun arti dari kesabaran di sini adalah kita mesti berjuang pantang menyerah untuk melawan keinginan berhenti menunggu. Itu sebabnya mengapa ketika menunggu kita harus sabar. Menunggu bukanlah berarti  kesabaran, tapi kunci untuk bisa menunggu adalah dengan kesabaran. Ketika kita mendapat cercaan dari orang lain, berusahalah untuk tetap bersabar. Maksud sabar di sini adalah terus berjuang pantang menyerah untuk menahan diri kita dari emosi negatif yang mengakibatkan situasi makin memburuk.  Menahan emosi bukanlah kesabaran, tapi sabar itulah yang menjadi kunci  untuk bisa menahan emosi. Ketika kita sedang ujian, berusahalah untuk tetap bersabar, maksudnya kita harus berjuang pantang menyerah untuk menghadapi ujian hingga mampu menyelesaikannnya. Menghadapi ujian bukanlah kesabaran, tapi sabar adalah kunci untuk bertahan menghadapi ujian.
        Untuk orang-orang yang menjadi korban PHK, sabar bukanlah bagaimana ia menerima nasibnya sebagai pengangguran, tapi bagaimnana ia tetap teguh untuk datang dari perusahaan ke perusahaan demi memperoleh pekerjaan baru. Untuk siswa yang mengalami  kegagalan dalam  ujiannya, sabar bukan berarti bagaimana ia rela tanpa respon dengan hasil ujiannya yang buruk, tapi bagaimana ia bisa bangkit kembali dan terus belajar agar sukses di lain hari. Sabar tidaklah identik dengan meratapi nasib, tapi sabar adalah perjuangan pantang menyerah menuju sesuatu yang baik dan positif.
Sabar merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan ketika keadaan semakin sulit. Sabar adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan, tantangan, dan kendala dalam hidup dengan tidak mengeluh dan putus asa. Sabar menjadi salah satu karakter yang sangat penting untuk mentransformasi kehidupan yang positif. Sabar menjadi hal yang sangat perlu untuk  diperjuangkan. Semakin lama kita berjuang untuk bersabar, semakin terbiasa kita dengan karakter positif. Untuk menjadikan sabar sebagai kebiasaan mulailah dengan mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan kita tidak sabar. Sering kali keadaan tertentu dapat langsung menyebabkan kita menjadi tidak sabar. Maka, identifikasilah penyebabnya. Jika kita telah mengidentifikasi penyebabnya secara spesifik, kita akan mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi. Kemudian gunakanlah strategi untuk mengatasi ketidaksabaran kita.
      Kita menjalani kehidupan ini dalam setiap episode kejadiannya. Hidup kita bagaikan film yang merupakan gabungan beberapa scene. Tapi dalam menjalani hidup ini, kita biasanya hanya fokus pada satu bagian atau beberapa bagian saja. Laksana seseorang yang sedang membaca buku, ketika membaca bab 2, ia fokus dengan apa yang ia baca di bab 2, dan tidak terlalu memperdulikan bab lainnya. Namun ketika kita menghadapi hal-hal yang sulit, kadang kita harus meluaskan sudut pandang dan pikiran kita agar tidak terperangkap dalam sempitnya potongan kejadian yang kita rasakan. Setiap kali kita merasa tidak sabar, luaskan sudut pandang kita. Tanyakan pada diri kita sendiri, “Apa yang menjadi  hal terpenting dalam hidup saya? Apa yang menjadi visi dan misi saya? Apa hal terbesar dan hal utama yang ingin saya raih?” Meluaskan sudut pandang akan membantu kesabaran kita.
     Tak dapat disangkal bahwa setiap diri kita memiliki keinginan terbesar dalam hidup.  Dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam merealisasikan keinginan dan tujuan. Namun sayangnya, terlalu fokus dengan tujuan bisa mengakibatkan kelelahan. Bahkan jika terlalu dipikirkan secara mendalam bisa berdampak kurang baik. Cobalah untuk menikmati proses yang kita lalui, kita bagi tujuan besar kita menjadi tujuan-tujuan kecil. Nikmati setiap momen perjuangan mengejar impian kita. Menikmati perjalanan hidup dan membiasakan nilai-nilai positif yang terpancar dalam diri adalah hal yang baik dan membuat kita semakin bersabar.
     Manakala kita menghadapi suatu hal yang membutuhkan kesabaran ekstra, luangkan waktu kita, hentikan aktivitas kita sejenak, lepaskan semua ganjalan di pikiran kita, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan sambil membayangkan bahwa permasalahan meninggalkan diri kita bersama dengan hembusan udara yang keluar dari organ pernafasan kita. Setelah itu tersenyumlah. Terapi ini mampu mengontrol keadaan dan memberikan ruang bagi pikiran kita  yang sebelumnya penuh dengan segala permasalahan.
    Seorang guru dalam menjalankan aktivitas mengajarnya membutuhkan kesabaran yang ekstra. Bukan hanya berhadapan dengan murid-muridnya, tetapi juga dengan orang tua murid, dengan pihak manajemen sekolah atau pun yayasan. Mereka wajib membuat banyak laporan dan mengejar target kurikulum. Kesabaran guru banyak diuji dalam proses pembelajaran. Jumlah murid yang begitu banyak dengan watak yang beragam, membuat guru harus pandai mengelola emosinya, demi tercapainya proses pembelajaran serta tujuan pembelajaran. Banyak teknik yang dipergunakan guru untuk bersabar dalam menjalankan proses pembelajaran, bahkan sampai ada yang menggunakan teknik hipnoterapi. Ada yang bersabar dengan cara selalu mengucapkan di dalam hatinya       “Rabbisyrahlii Shadrii Wa Yassir Lii Amrii Wahlul ‘Uqdatammillisaanii Yafqahuu Qaulii”, ada yang menggunakan teknik menciptakan suasana kehangatan kelas dan membangkitkan antusiasme siswa atau peserta didik, ada juga guru yang menggunakan teknik mind maping atau peta pikiran yang menggunakan unsur memori, asosiasi, lokasi, keistimewaan, serta mengerahkan otak kiri dan kanan. Bagaimana perjuangan guru untuk  mampu membawa siswa selalu berada dalam atmosfir proses pembelajaran, itulah bentuk kesabaran yang harus ditempuh oleh seorang guru.
      Ada seorang guru yang begitu dikangeni oleh murid-muridnya, padahal cara mengajarnya standar saja seperti halnya guru-guru yang lain. Ternyata ia mengajar murid-muridnya bukan hanya dengan hati, bahkan dengan segenap jiwa dan sepenuh hati. Selepas mengajar dalam setiap shalatnya, ia selalu mendo’akan kebaikan untuk murid-muridnya satu per satu. Rupanya pendekatan holistik yang ia lakukan menghasilkan energi yang luar biasa bagi murid-muridnya. Usaha kesabaran yang ia lakoni (bahkan kepada murid-muridnya yang paling badung sekali pun) dikombinasikan dengan kekuatan energi do’a yang selalu dipanjatkannya, sehingga menciptakan sugesti yang luar biasa bagi murid-muridnya.
      Bagi guru sejati, kepuasan batin dari keberhasilannya menjadi fasilitator ilmu serta keberhasilannya dalam mentransformasi mentalitas anak-anak didiknya jauh melebihi besarnya tunjangan-tunjangan apa pun yang ia terima. Bagi guru sejati, proses pembelajaran lebih penting daripada hasil-hasil berupa deret angka nilai, apalagi kalau hasil deret angka nilai itu manipulatif, yang melibatkan dan mempertaruhkan gengsi daerah dalam ujian berskala nasional, misalnya.
Kesabaran, keuletan, dan ketelatenan guru dalam mendidik murid-muridnya akan membuahkan hasil kelak setelah murid-muridnya dewasa. Pembentukan karakter dan mental spiritual akan berbicara banyak ketika murid-muridnya menghadapi dunia pekerjaan mereka. Dalam dunia nyata yang akan mereka hadapi kelak, baik itu dalam  bidang perniagaan atau pun bidang pekerjaan lainnya, bukan lagi kepintaran mengerjakan PR dan ujian yang menentukan keberhasilan murid-muridnya. PR adalah sarana melatih kedisiplinan, dan ujian adalah sarana untuk pembelajaran. Semua orang yang telah mengalami dunia perniagaan dan pekerjaan tahu bahwa orang-orang yang cerdas secara emosi, pintar secara personal maupun inter personal, dan memiliki daya kegigihan, itulah orang-orang yang nantinya akan unggul. Itu semua terangkum dalam pendidikan karakter. Guru-guru yang sabar, ulet, dan telaten dalam membentuk karakter murid-muridnya, merekalah yang mempunyai jasa besar bagi murid-muridnya di kemudian hari kelak. Bahkan Albert Einsten memberikan porsi hanya 1 persen untuk intelejensia, dan 99 persen untuk kerja keras dalam menentukan keberhasilan. Menurutnya, Success = 1 % IQ + 99% hard working.  
      Bagi orang yang mengejar karir, sebagus apa pun ia dalam merampungkan pekerjaannya, kemampuan inter personal tetap menjadi faktor penting dalam menapaki karirnya. Yang dibutuhkan oleh tempat kerjanya adalah team work atau kerja tim, sehingga ia juga harus seirama dalam pekerjaannya dengan atasan dan co-workers atau rekan-rekan kerjanya. Yang dibutuhkan adalah “nilai tambah”. Orang yang memiliki “nilai tambah” pada kepribadian dan pekerjaannya, pasti dibutuhkan oleh setiap cabang tempatnya bekerja. Bahkan ia akan memiliki bargaining position atau posisi tawar terhadap pimpinan-pimpinannya. Nilai tambah yang dimiliki seseorang, apa pun bentuknya, tidak mungkin dimiliki begitu saja tanpa melalui proses sebelumnya. Kesabarannya dalam mengasah diri tentu menghasilkan nilai tambah bagi dirinya.
      Fokus meningkatkan kualitas diri memang lebih baik daripada sibuk mengomentari kesuksesan orang lain. Namun lebih baik lagi jika kita memetik pelajaran dari kesuksesan orang lain. Semua orang tahu bahwa sukses itu membutuhkan proses. Tidak ada  kesuksesan yang diraih dengan sim salabim. Biasanaya kesuksesan yang terlalu mudah dan terlalu cepat diraih tidak akan langgeng. Kita akan lebih menikmati kesuksesan yang yang diraih dengan perjuangan mulai dari merangkak sampai berlari. Kesuksesan yang benar-benar nikmat dapat diibaratkan dengan orang menemukan air dalam keadaan yang sangat haus. Air yang diminumnya saat itu tentu terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dalam kondisi tidak terlalu haus.
      Ujian yang semakin berat yang kita alami dalam merintis dan membangun usaha, akan membuat kesuksesan yang akan diraih semakin besar pula. Kita hadapi dan jalani saja dengan sabar ujian yang menimpa kita dalam sebuah bisnis atau pun usaha. Pada hakekatnya kesabaran itu tak terbatas, mungkin hanya kita yang membuat batasannya. Kesabaran yang tidak ada batasnya itu, secara alamiah berbanding lurus dengan hasil gemilang kesabaran tersebut yang berlangsung lama, langgeng, dan tidak mudah terputus.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Selasa, 07 Februari 2017

THE DISTINCTION OF GOOD SCHOLARS (ULAMA-UL KHAIR) -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil ‘Aalamiin
Wa Bihii Nasta’iin Wa ‘Alaa Umuuriddunyaa Waddiin
Wasshalaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrafil Anbiyaa-I Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma’iin.

Ammaa Ba’du.


Athii’ullaaha warrasuula la’allakum turhamuun. (Qur’an Surah Ali ‘Imron verse 132).
“And obey Allah and the Messenger so that you may be blessed.”

“The scholars (ulama) are the heirs of the Prophets,” Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam said in his hadits. The scholars (ulama) inherit the knowle3dge that the Prophets taught. In their communities, they succeed the Prophets in the sense of calling people to Allah and His obedience, prohibiting rebellion against Allah and defending His religion.

The Prophet Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam said, “May the mery of Allah be on my successor.” The Companions asked, “O Messenger of Allah, who are your successors?” He said, “Those who revive and teach my Sunnah after my passing.”

From this hadits, we may jump into conclusion that Ulama occupy the position of the Prophets in a noble sation between Allah Ta’ala and humanity. Ibn Al-Munkadir has said, “Indeed Ulama are between Allah Ta’ala and humanity, therefore, be careful how you approach them.”

Concerning this hadits, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah said, “This is from the greatest of the virtues of the scholars (ulama), since the Prophets ‘alaihimusshalaatu wassalaam are the best of Allah’s creation. So this means that their inheritors are the best of creation after them. Every one that leaves behind inheritance has his property transfer over to his heirs, since they are the ones who will take his place after him. They are the onew who have the most right to receive that inheritance. Allah Ta’ala specifies the granting of His Mercy to whom He will.”

The Ummah are guided by this hadits to obey the Good Scholars (Ulama-ul khair), respect them, have esteem for them, and honour them, since they are the inheritors and successors of those who possess these rights over the Ummah. Likewise, holding enmity for them and waging war against them is the same as holding enmity and waging war with Allah Ta’ala and His Messenger (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

The Good Scholars (Ulama-ul khair) are also reminded by this hadits to raise the Ummah just as a father brings up his child. So they should raise them step by step, starting with the small forms of knowledge an then progressing onto the bigger forms of knowledge, imposing as much knowledge into them as they can, just as a father does with his infant child when he brings his meal to him. Any soul that is not cultivated by the Messengers ‘alaihihusshalaatu wassalaam wil not be made upright.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.