Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya satu sama lainnya. Oleh karenanya, kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa semua yang ada di alam ini adalah berpasang-pasangan dan berbeda-beda. Konsekwensinya adalah, semua energi yang ada di alam semesta ini saling bersinergi. Mengenal satu sama lainnya merupakan perintah Allah. Konsekwensi logisnya, tolong menolong menjadi sebuah keniscayaan. Namun demikian, tolong menolong dalam keburukan dan permusuhan sangat dilarang olehNya. Allah Ta'ala sangat menganjurkan, bahkan memerintahkan tolong menolong dalam kebaikan.
Diriwayatkan oleh 'Umar bin Jabir, bahwa pada suatu hari, di kala beliau ('Umar bin Jabir) sedang beristirahat bersama-sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang satu kaum yang sangat miskin dalam kehidupannya sehari-hari. Pekerjaan mereka adalah sebagai pemburu, keadaan ekonomi mereka sangat lemah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam amat simpati dan berubah wajah menampakkan kesedihan. Oleh kerana kaum ini mengalami keterbelakangan ekonomi dan berhajat kepada pertolongan pada waktu itu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah kediamannya, kemudian beliau keluar dan menyuruh Bilal mengumandangkan azan dengan tujuan memanggil orang ramai supaya berkumpul. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sunnah dua rakaat dan kemudian berpidato dengan tujuan meminta orang ramai agar memberi pertolongan dan bantuan kepada kaum yang datang supaya dapat melapangkan keadaan ekonomi kaum tersebut. Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki bersedekah dengan memberi uang, pakaian dan juga bahan-bahan makanan, selepas itu diikuti beberapa orang lelaki yang terdiri dari golongan Ansar dengan memberi bantuan seperti makanan, pakaian yang secukupnya kepada kabilah tersebut, sehinggalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Bersedekahlah kamu walaupun sebiji buah tamar (kurma)", kata kata Rasulullah itu memperlihatkan wajahnya kembali bersinar putih bersih tanda kegembiraan di atas sambutan oleh orang ramai itu, kemudian Rasulullah bersabda:‘Siapa saja yang menyumbang ke arah pembangunan Islam akan satu sumbangan yang baik, maka baginya pahala di atas apa yang disumbangkan dan pahala orang yang beramal dengan sumbangan tersebut dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka, dan siapa saja yang menyumbang dalam Islam ke arah keburukan adalah baginya dosa dan dosa orang yang beramal dengannya selepas dari mereka, tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka yang sedia ada.’ (Riwayat Muslim).
Janji Allah Ta'ala untuk orang yang bersedekah adalah ditambahkan dan diberkahi hartanya. Sementara janji dan bisikan Iblis La'natullah kepada orang yang bersedekah adalah tertimpanya kemiskinan karena berkurangnya harta. Janji manakah yang kita yakini? Tentu saja janji Allah Ta'ala.
Percayakah kita bahwa jika kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 1 untuk bersedekah, hasilnya bukan 9? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 19? Percayakah kita bahwa bila kita memiliki harta sejumlah 10, kemudian dikurangi 2 untuk bersedekah, hasilnya bukan 8? Percayakah kita bahwa hasilnya akan menjadi 28?
Bagaimana bisa?
Janji Allah Ta'ala, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Berarti dua kebaikan akan dibalas dengan dua puluh kebaikan, dan seterusnya, dan seterusnya.
Investasi sedekah bukan hanya investasi akhirat, tetapi terintegrasikan antara investasi dunia dan investasi akhirat. Allah Ta'ala menciptakan alam ini dengan hukum tarik menarik (law of attraction)nya. Dia telah menciptakan sistem kinerja alam. Frekwensi kebaikan maupun keburukan yang kita berikan akan disambut oleh alam, yang dengan sistem kinerjanya, akan bekerja untuk memberikan ganjaran.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar