Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdulillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
The Isra and Mi'raj are two parts of a miraculous journey that Prophet Muhammad Shallallahu 'alaihi Wa Sallam took in one night from Mecca to Jerusalem and then ascended to The 'Arsh. Some of the Hadith scholars stated that the journey is believed to have taken place just over a year before Prophet Muhammad migrated (Hijra) from Mecca to Madina, on the 27th of Rajab. Most of Muslims celebrate this night by offering optional prayers during this night, and in many Muslim countries, by illuminating cities with electric lights and candles.
Quran Surah Al-Isra verse 1 mentions that the Prophet was taken from the Ka'bah to the mosque in Jerusalem, and specifies that the purpose of the journey was such that The Almighty Allah might "show him some of His signs". Beyond this, The Quran does not concern itself with any detail. However, according to Hadith reports, Jibril took the Prophet at night from the Ka'bah to the mosque in Jerusalem on Buraq (the vihicle used for the journey of Isra and Mi'raj). On reaching Jerusalem the Prophet along with other Prophets offered Prayers. (Al-Nasa'i, Sunan, Kitab as-Salah, 'Bab Fard al-Salah wa Dhikr Ikhtilaf al-Naqilin). Jibril then took him to the heavens and the Prophet met several great Prophets in different heavenly spheres. (See al-Nasa'i, Sunan, Kitab as-Salah, 'Bab Fard al-Salah').
Eventually, he reached the highest point in the heavens and was graced with an experience of the Divine Presence. The Prophet on that occassion received a number of directives including Prayers of obligatory five times a day. (Al-Bukhari, Kitab Manaqib al -Ansar, 'Bab al-Mi'raj ; K. al-Tawhid, 'Bab Kallama Musa Taklima'). Afterwards, the Prophet returned from the heavens to Jerusalem, and later on to the Holy Mosque in Mecca. Numerous reports on the subject reveal that the Prophet was also enabled on this occasion to observe Heaven and Hell. (Al-Bukhari, Kitab as-Salah, 'Bab Kayfa Furidat al-Salah fi al-Isra' and Ibn Hisham, Sirah, vol. I, p. 404)
According to authentic reports, when the Prophet narrated the incidents of this extraordinary journey the following day to the people in Mecca, the unbelievers found the whole narration utterly amusing. (Muslim, Kitab al-Iman, 'Bab Dhikr al-Masih ibn Maryam). In reality, even the faith of some Muslims was shaken because of the highly extraordinary nature of the account. (See Ibn Hisham, Sirah , vol. I, p.398 and al-Qurtubi, comments on verse 1 of the surah).
The incredible occurance of Isra and mi'raj has become the trial and measure of our faith in responding to the prophetic experience that we think is beyond the common sense of the people. By playing with our mind, we will be tempted not to believe in isra and mi'raj. But with the firmness of faith, we will increase the firmness of our faith.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Minggu, 23 April 2017
Jumat, 21 April 2017
TAHAN UJI : TANDA ORANG BERIMAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag Kab. Tangerang)
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
Siklus ujian yang dialami manusia adalah rasa takut, kekurangan pangan, krisis harta dan krisis identitas diri. Hanya orang-orang "kaya"lah yang bisa bertahan dari berbagai terpaan siklus ujian tersebut. Manakala harta seseorang habis, masih mungkinkah ia disebut orang kaya? Jawabannya adalah: Tentu saja masih bisa. Lalu timbul pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mungkin ia masih disebut orang kaya padahal hartanya sudah habis? Jawaban selanjutnya adalah: Hatinya masih lapang. Kelapangan hati itulah yang disebut kekayaan. Sebaliknya, kesempitan hati adalah kemiskinan.
Nabi Ayyub 'Alaihissalam menjadi contoh orang kaya yang sebenar-benarnya. Ketika ia masih kaya raya, hatinya sangat lapang. Bukti kelapangan hatinya adalah rasa syukurnya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta'ala (Ibadah vertikal) dan banyak menderma kepada orang-orang yang nasib ekonominya tidak seberuntung beliau 'Alaihissalam (Ibadah horizontal).
Banyak orang yang sangat kagum dengan kepribadiannya. Meskipun begitu, ada juga orang-orang yang iri dan dengki terhadap kekayaan dan keshalihannya. Selain para manusia pendengki, syetan-syetan pun merasakan hal yang sama dengan para manusia pendengki. Pada dasarnya mereka memang sama-sama syetan. Bedanya, ada yang berasal dari golongan jin dan ada pula yang berasal dari golongan manusia.
Dari sini, mulailah timbul tipu muslihat syetan. Si raja syetan, iblis La'natullah, memohon izin kepada Allah Ta'ala untuk memperdayai Nabi Ayyub 'Alaihissalam. Ia memohon kepada Allah Ta'ala, agar Ayyub diberikan ujian yang sangat berat, dengan diberikan penyakit yang berat, kehilangan harta dan keluarganya. Allah Ta'ala pun mengabulkan permohonannya. Atas izin Allah, Ayyub 'Alaihissalam diberikan ujian yang super berat. Ia mengalami penyakit yang sangat sukar disembuhkan, selama tujuh tahun lamanya. Hartanya semakin lama semakin habis. Anak-anaknya satu persatu meninggal dunia. Istri-istrinya satu persatu pun meninggalkannya. Hanya satu yang masih setia mengurusnya, Siti Rahmah namanya.
Ayyub 'Alaihissalam masih tetap berbaik sangka kepada Allah Ta'ala, Ia tetap bersabar, sehingga hatinya pun masih lapang. Ia menganggap durasi tujuh tahun masa penderitaannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan durasi delapan puluh tahun masa kejayaan hidupnya. Di tengah cercaan dan cibiran orang-orang yang menghinanya dengan label orang sakit dan orang miskin, ia merasa bahwa ia masih kaya. Perasaan dan hatinya tidak sempit dan miskin, bahkan ia merasa bahwa hatinya masih kaya.
Tiba-tiba, dengan mukjizat yang Allah berikan, dua ekor belatung yang terakhir kali menggerogoti tubuhnya, jatuh ke tanah, Setelah itu, memancarlah air dari tanah tersebut. Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Ayyub 'Alaihissalam untuk mandi dari air mancur tersebut. Seketika, atas mukjizat yang Allah Ta'ala berikan, sembuhlah ia.
Beberapa tahun setelah itu, harta dari hasil usahanya kembali melimpah. Ia kembali memiliki beberapa istri dan dikaruniai banyak keturunan. Dengan kesabaran dan rasa syukur dalam menjalani hidupnya, baik ketika kaya maupun ketika jatuh miskin, Nabi Ayyub 'Alaihissalam tetap merasa kaya, sebab kesabaran dan kelapangan hatinya sangat berlimpah.
Bila ingin sukses dan kaya, harus sabar dan tahan uji. Bermental sabar dan tahan uji, itulah tanda orang beriman.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
Siklus ujian yang dialami manusia adalah rasa takut, kekurangan pangan, krisis harta dan krisis identitas diri. Hanya orang-orang "kaya"lah yang bisa bertahan dari berbagai terpaan siklus ujian tersebut. Manakala harta seseorang habis, masih mungkinkah ia disebut orang kaya? Jawabannya adalah: Tentu saja masih bisa. Lalu timbul pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mungkin ia masih disebut orang kaya padahal hartanya sudah habis? Jawaban selanjutnya adalah: Hatinya masih lapang. Kelapangan hati itulah yang disebut kekayaan. Sebaliknya, kesempitan hati adalah kemiskinan.
Nabi Ayyub 'Alaihissalam menjadi contoh orang kaya yang sebenar-benarnya. Ketika ia masih kaya raya, hatinya sangat lapang. Bukti kelapangan hatinya adalah rasa syukurnya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta'ala (Ibadah vertikal) dan banyak menderma kepada orang-orang yang nasib ekonominya tidak seberuntung beliau 'Alaihissalam (Ibadah horizontal).
Banyak orang yang sangat kagum dengan kepribadiannya. Meskipun begitu, ada juga orang-orang yang iri dan dengki terhadap kekayaan dan keshalihannya. Selain para manusia pendengki, syetan-syetan pun merasakan hal yang sama dengan para manusia pendengki. Pada dasarnya mereka memang sama-sama syetan. Bedanya, ada yang berasal dari golongan jin dan ada pula yang berasal dari golongan manusia.
Dari sini, mulailah timbul tipu muslihat syetan. Si raja syetan, iblis La'natullah, memohon izin kepada Allah Ta'ala untuk memperdayai Nabi Ayyub 'Alaihissalam. Ia memohon kepada Allah Ta'ala, agar Ayyub diberikan ujian yang sangat berat, dengan diberikan penyakit yang berat, kehilangan harta dan keluarganya. Allah Ta'ala pun mengabulkan permohonannya. Atas izin Allah, Ayyub 'Alaihissalam diberikan ujian yang super berat. Ia mengalami penyakit yang sangat sukar disembuhkan, selama tujuh tahun lamanya. Hartanya semakin lama semakin habis. Anak-anaknya satu persatu meninggal dunia. Istri-istrinya satu persatu pun meninggalkannya. Hanya satu yang masih setia mengurusnya, Siti Rahmah namanya.
Ayyub 'Alaihissalam masih tetap berbaik sangka kepada Allah Ta'ala, Ia tetap bersabar, sehingga hatinya pun masih lapang. Ia menganggap durasi tujuh tahun masa penderitaannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan durasi delapan puluh tahun masa kejayaan hidupnya. Di tengah cercaan dan cibiran orang-orang yang menghinanya dengan label orang sakit dan orang miskin, ia merasa bahwa ia masih kaya. Perasaan dan hatinya tidak sempit dan miskin, bahkan ia merasa bahwa hatinya masih kaya.
Tiba-tiba, dengan mukjizat yang Allah berikan, dua ekor belatung yang terakhir kali menggerogoti tubuhnya, jatuh ke tanah, Setelah itu, memancarlah air dari tanah tersebut. Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Ayyub 'Alaihissalam untuk mandi dari air mancur tersebut. Seketika, atas mukjizat yang Allah Ta'ala berikan, sembuhlah ia.
Beberapa tahun setelah itu, harta dari hasil usahanya kembali melimpah. Ia kembali memiliki beberapa istri dan dikaruniai banyak keturunan. Dengan kesabaran dan rasa syukur dalam menjalani hidupnya, baik ketika kaya maupun ketika jatuh miskin, Nabi Ayyub 'Alaihissalam tetap merasa kaya, sebab kesabaran dan kelapangan hatinya sangat berlimpah.
Bila ingin sukses dan kaya, harus sabar dan tahan uji. Bermental sabar dan tahan uji, itulah tanda orang beriman.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Langganan:
Komentar (Atom)