Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Muhammad ibni 'Abdillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba'du.
Siklus ujian yang dialami manusia adalah rasa takut, kekurangan pangan, krisis harta dan krisis identitas diri. Hanya orang-orang "kaya"lah yang bisa bertahan dari berbagai terpaan siklus ujian tersebut. Manakala harta seseorang habis, masih mungkinkah ia disebut orang kaya? Jawabannya adalah: Tentu saja masih bisa. Lalu timbul pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mungkin ia masih disebut orang kaya padahal hartanya sudah habis? Jawaban selanjutnya adalah: Hatinya masih lapang. Kelapangan hati itulah yang disebut kekayaan. Sebaliknya, kesempitan hati adalah kemiskinan.
Nabi Ayyub 'Alaihissalam menjadi contoh orang kaya yang sebenar-benarnya. Ketika ia masih kaya raya, hatinya sangat lapang. Bukti kelapangan hatinya adalah rasa syukurnya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta'ala (Ibadah vertikal) dan banyak menderma kepada orang-orang yang nasib ekonominya tidak seberuntung beliau 'Alaihissalam (Ibadah horizontal).
Banyak orang yang sangat kagum dengan kepribadiannya. Meskipun begitu, ada juga orang-orang yang iri dan dengki terhadap kekayaan dan keshalihannya. Selain para manusia pendengki, syetan-syetan pun merasakan hal yang sama dengan para manusia pendengki. Pada dasarnya mereka memang sama-sama syetan. Bedanya, ada yang berasal dari golongan jin dan ada pula yang berasal dari golongan manusia.
Dari sini, mulailah timbul tipu muslihat syetan. Si raja syetan, iblis La'natullah, memohon izin kepada Allah Ta'ala untuk memperdayai Nabi Ayyub 'Alaihissalam. Ia memohon kepada Allah Ta'ala, agar Ayyub diberikan ujian yang sangat berat, dengan diberikan penyakit yang berat, kehilangan harta dan keluarganya. Allah Ta'ala pun mengabulkan permohonannya. Atas izin Allah, Ayyub 'Alaihissalam diberikan ujian yang super berat. Ia mengalami penyakit yang sangat sukar disembuhkan, selama tujuh tahun lamanya. Hartanya semakin lama semakin habis. Anak-anaknya satu persatu meninggal dunia. Istri-istrinya satu persatu pun meninggalkannya. Hanya satu yang masih setia mengurusnya, Siti Rahmah namanya.
Ayyub 'Alaihissalam masih tetap berbaik sangka kepada Allah Ta'ala, Ia tetap bersabar, sehingga hatinya pun masih lapang. Ia menganggap durasi tujuh tahun masa penderitaannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan durasi delapan puluh tahun masa kejayaan hidupnya. Di tengah cercaan dan cibiran orang-orang yang menghinanya dengan label orang sakit dan orang miskin, ia merasa bahwa ia masih kaya. Perasaan dan hatinya tidak sempit dan miskin, bahkan ia merasa bahwa hatinya masih kaya.
Tiba-tiba, dengan mukjizat yang Allah berikan, dua ekor belatung yang terakhir kali menggerogoti tubuhnya, jatuh ke tanah, Setelah itu, memancarlah air dari tanah tersebut. Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Ayyub 'Alaihissalam untuk mandi dari air mancur tersebut. Seketika, atas mukjizat yang Allah Ta'ala berikan, sembuhlah ia.
Beberapa tahun setelah itu, harta dari hasil usahanya kembali melimpah. Ia kembali memiliki beberapa istri dan dikaruniai banyak keturunan. Dengan kesabaran dan rasa syukur dalam menjalani hidupnya, baik ketika kaya maupun ketika jatuh miskin, Nabi Ayyub 'Alaihissalam tetap merasa kaya, sebab kesabaran dan kelapangan hatinya sangat berlimpah.
Bila ingin sukses dan kaya, harus sabar dan tahan uji. Bermental sabar dan tahan uji, itulah tanda orang beriman.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar