Senin, 28 Agustus 2017

"CASING" TETAP SAJA SAMA, WALAUPUN "DALEMAN"NYA BISA TERTUKAR -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Pada Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim. Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu "Alaa Rasuulillaah Wa 'Alaa Aalihii Wa Man Waalah. Ammaa Ba'du. Perubahan zaman telah membawa kita kepada perubahan pola hidup serta cara pandang hidup. Allah Ta'ala menciptakan kita berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan, ada tua, ada muda, dan seterusnya. "Casing" manusia yang diciptakan olehNya telah dibuat permanen, ada "casing" laki-laki, ada "casing" perempuan. Namun dalam realitanya, "spec" atau pun isinya bisa juga tertukar. Ada yang "casing"nya laki-laki tapi "spec" atau "daleman"nya perempuan. Sebaliknya, ada pula yang "casing"nya perempuan namun "spec" atau "daleman"nya laki-laki. Dalam kehidupan kita, hal-hal seperti itu bukanlah sesuatu yang "absurd", sebab dalam hidup ini ada hukum "probabilitas" atau "ketermungkinan". Normalnya satu ditambah satu menghasilkan angka dua. Namun dalam kehidupan nyata, ada saja kasus yang terjadi bahwa satu ditambah satu tetap menghasilkan angka satu, atau mungkin nol, atau minus, atau bisa juga menjadi seratus. Fisik laki-laki tapi pembawaan perempuan, atau sebaliknya fisik perempuan tapi pembawaan laki-laki, mungkin sejak zaman dahulu kala memang sudah ada. Di era modern sekarang ini, banyak peran laki-laki yang diambil alih oleh perempuan, khususnya peran pencari nafkah. Tuntutan kesetaraan gender(walaupun dalam beberapa kasus malah "kebablasan"), juga telah setaranya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan, memperkuat hal ini. Dalam beberapa kasus, berapa banyak laki-laki yang masih dalam usia produktif tidak memiliki kesempatan bekerja. Biasanya mereka kena PHK dan sudah "mentok" melamar pekerjaan ke sana ke mari. Mau berdagang juga tak punya modal. Kalau pun punya modal, sulit menjalankan roda perniagaannya karena tidak punya bakat berdagang dan intuisi dagangnya pun sangat lemah. Yang terjadi malah kehabisan modal, bahkan hutang ke sana ke mari. Akhirnya istrinyalah yang bekerja, sementara suaminya di rumah menjaga anak-anaknya. Apalagi biasanya perusahaan dan pabrik yang lebih membutuhkan tenaga kerja wanita dibanding tenaga kerja pria. Bahkan banyak yang mengadu nasib menjadi TKW di luar negeri, dengan meninggalkan suami dan anak-anaknya selama bertahun-tahun, walaupun dalam banyak kasus sangatlah beresiko. Umumnya, pasangan suami istri yang mengalami hal seperti di atas pada awalnya mengalami disorientasi gender, seperti "casing" yang tertukar "spec" atau "daleman"nya. Yang perempuan seperti menjalani peran sebagai "suami" yang mencari nafkah, dan yang laki-laki seperti menjalankan peran sebagai "istri" yang menjaga dan merawat anak-anaknya. Setelah lama beradaptasi, memang seperti biasa saja rasanya. Tapi tetap saja masih tersisa rasa canggung, masing-masing merasa seperti tertukar "daleman". Walaupun "daleman" seperti tertukar, tetap saja "casing" tidak akan bisa tertukar sampai bumi berhenti berputar. "Daleman" bisa direkayasa, tapi "casing" hanya Allah Ta'ala yang mampu merekayasa. Tertukarnya "daleman" hanyalah bersifat kasuistik, tidak bisa disandarkan sebagai sebuah pembenaran. Allah Ta'ala telah menciptakan "casing" manusia dengan proporsinya sekaligus. Ada "casing" laki-laki dengan sifat-sifatnya yang telah Allah rancang, dan ada "casing" perempuan dengan sifat-sifatnya yang telah Allah tentukan. "Casing" itulah yang kita kenal dengan kodrat. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Sabtu, 26 Agustus 2017

DUNIA VIRTUAL ITU NYATA, BERDAKWAHLAH DI SANA -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai Penyuluh Agama Islam Pada Kementerian Agama Kab. Tangerang)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. AL-HAMDU LILLAAH WASSHALAATU WASSALAAMU ‘ALAA RASUULILLAAH WA ‘ALAA AALIHII WA MAN WAALAH. AMMAA BA’DU. Tugas Penyuluh Agama adalah menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat dalam bahasa agama. Analoginya dalam bahasa Agama Islam, tugas Penyuluh Agama Islam adalah Dakwah. Secara epistimologi, Dakwah memiliki arti menyeru. Ada tiga variable Dakwah yang harus dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Islam, yaitu Dakwah secara verbal (Da’wah billisan), Dakwah dengan pelaksanaan kegiatan (Da’wah bil hal), dan Dakwah dengan tulisan (Da’wah bil qalam). Variabel Dakwah yang pertama dan kedua (Da’wah bil lisan dan Da’wah bil hal) sudah sangat sering dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Namun variabel Dakwah yang terakhir disebut (Da’wah bil qalam), amat sangat jarang dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Dakwah dengan tulisan (Da’wah bil qalam) termasuk dalam kategori Kalimah Thayyibah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24 sampai 26: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya, dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan Kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” Nabi Muhammad S.A.W. bersabda bahwa ketika kita menyampaikan sesuatu kepada publik maka penyampaiannya harus sesuai dengan kadar akal pikiran mereka. Untuk publik yang masih konvensional, sampaikan dengan cara yang konvensional. Namun bagi publik yang sudah sangat familiar dengan media online, maka disampaikan dengan cara digital pula. Dakwah harus mampu mengimbangi era digital, maka tak heran jika lahir pula Dakwah online. Hal ini tentu saja terdengar sangat tidak lazim. Mengapa tak lazim? Sebab Dakwah online masih jarang dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam buku (kitab)nya yang berjudul As-Shahwah Al-Islamiyyah Dhawabith Wa Tawjihat menyatakan bahwa, “wajib menggunakan sarana-sarana informasi dan media dalam berdakwah, karena hal itu termasuk yang dapat menegakkan hujjah (argumentasi).” Seorang Penyuluh Agama harus memiliki “senjata pamungkas” untuk melakukan “counter” terhadap serangan dekadensi moral dan bibit-bibit penyelewengan agama yang datang bertubi-tubi melalui dunia online atau dunia maya. Bisa dengan membuat penyuluhan agama dalam bentuk parodi di channel youtube, bisa pula dengan membuat blog yang mengkhususkan diri pada penyuluhan-penyuluhan permasalahan sosial keagamaan. Mengapa masalah keagamaan dijadikan satu paket dengan masalah sosial? Sebab segala hal pasti bermuara kepada masalah sosial, karena kita adalah makhluk sosial. Matematika, fisika, kimia, bahkan teknologi pun ujung-ujungnya adalah untuk kemaslahatan sosial. Ketika urusan-urusan sosial tatanannya dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka tugas kita adalah memperbaiki kebocoran-kebocoran tatanan sosial tersebut. Dakwah kreatif melalui Media Sosial perlu dilakukan oleh seorang Penyuluh Agama Islam. Prinsipnya adalah universalime, sebab Islam adalah Agama yang universal. Bila sudah membuat akun blog, cara-cara yang mesti ditempuh adalah; membuat konten yang bermanfaat, menyesuaikan dengan trend yang ada, serta mengemasnya secara menarik. Jadilah motivator bagi pembaca blog. Hindari konflik antar golongan agama dan jangan mencela antar golongan agama, sebab bila seorang Penyuluh Agama Islam melakukannya, maka ia sudah tidak lagi melakukan pesan pembangunan dalam Bahasa Agama. Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam merepresentasikan sosoknya sebagai agama yang membangun, sejuk, inklusif, dan membumi dengan masyarakat. Secara historis, seperti inilah wajah Islam di Nusantara. Dakwah secara online sama pentingnya dengan Dakwah konvensional melalui tatap muka. Hal-hal yang berhubungan dengan dunia maya seperti media sosial atau media online memiliki payung hukum yang kuat, yakni Undang-Undang Informasi Teknologi Elektronik (UU ITE), sama halnya dengan kehidupan konvensional di dunia nyata, yang memiliki payung hukum KUHP dan KUHAP. Saat ini ada kecenderungan masyarakat yang belajar agama melalui google. Kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, sebab google sendiri hanyalah mesin pencari segala informasi. Ibarat HP dan televisi, google hanyalah berfungsi sebagai pemancar. Lebih dari itu, google adalah “mesin ajaib” penyimpan data dan informasi. Di sinilah sebenarnya peran Penyuluh Agama Islam sangat dibutuhkan. Para Penyuluh seyogyanya banyak menyimpan data dan informasi keagamaan di mesin google, dengan cara banyak menulis masalah-masalah sosial keagamaan di media online, sehingga hak para pengguna mesin google untuk mencari pencerahan secara online pun masih bisa dipenuhi. SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Minggu, 20 Agustus 2017

دع ما يريبك (محرر:صبرجميل باھرون – رجل عادي,الجاھل إلى الله والفقيرإلى الله)

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد. دع ما يريبك (محرر:صبرجميل باھرون – رجل عادي,الجاھل إلى الله والفقيرإلى الله) إن لدينا ھمة وعزم في أن نحصل على تطورات وآفاق المستقبل, فخبرة الحياة االلتي سرنا بھا تعلمنا دروسا ثمينة في مجال شتى, حيث أن التركيز مھم جدا في المناھج اللتي نستخدمھا. كنا في بعض الأحيان حيرانين وغير متأكدين في تطبيق الإجراءات رغم أن الشك والريب لا ينفعانا أبدا, فعلينا التفاؤل في كل النشاطات ولا ينبغي لنا التشاؤم فيھا. (دع ما يريبك إلى ما لا يريبك) ھذا ما قاله النبي صلى الله عليه وسلم في حديثه الكريم, و قال الإمام الشافعي رحمه الله في قاعدة أصول الفقه: اليقين لا يزال باالشك, حيث أن اليقين ھواليقين في البروليس اليقين في الإثم. اليقين ھو مبدأ من مبادئ الحياة, والشك مفسدھا. اليقين لابد مع الإحتياط, فھل يستوى الإحتياط والشك, إنما الإحتياط يمشي مع اليقين ويوجد الشك بسبب الإستعجال من غير اليقين والإحتياط. سبحانك اللھم وبحمدك أشھد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.