Jumat, 23 Juni 2017

O THE ALMIGHTY ALLAH, PLEASE BRING US TO THE FOLLOWING YEARS OF RAMADHAN ! BY: SHABRUN JAMIL (AN ORDINARY, WORKING AS AN ISLAMIC COUNSELOR OF RELIGIOUS AFFAIR MINISTRY, TANGERANG DISTRICT, INDONESIA)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaai Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Mawlaanaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

We hardly believe that Ramadhan will announce his departure. This blessed month is so hard to be forgotten. Nevertheless, we ought not to lose hope from the mercy of Allah, by celebrating the end of Ramadhan with another deed of worship. We still thrive to be pious man and women, still seek for His forgiveness, not to forget to pay charity which is distributed at the end of the fast of Ramadhan, namely Zakatul Fithri. We give our effort to make our concluding deeds with Ramadhan perfectly. We definitely pray Eid on time. We address the departure of Ramadhan with Takbir, Dzikr, and Du'a.

We naturally need our deeds be taken on during our worship within Ramadhan. We always stay in touch with Ramadhan, start with the good work and proceed with the six days of Syawwal. We keep in touch with the beautiful memories of Ramadhan, which become the source of our inspiration.  

We love Allah Ta'ala sincerely, we are longing for the Prophet Muhammad shallallaahu 'alai wa sallam, as well as we love Ramadhan very much, and are longing for the beautiful moment of Ramadhan in the coming years.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Selasa, 20 Juni 2017

USIA BIASA DAN USIA LUAR BIASA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF di Kemenag. Kab. Tangerang, Indonesia)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al Hamdu Lillaah Wassyukru Lillaah Wa Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.

Tidak terasa 26 hari sudah kita melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tahun 1438 Hijriyah ini, dan malam nanti kita akan memasuki malam ke 27. Angka 27 adalah angka ganjil, dan masuk dalam kategori sepuluh angka terakhir dari hitungan satu bulan.

Mari bertanya kepada diri kita sendiri, sampai hari kedua puluh enam bulan Ramadhan ini, sudah maksimalkah ibadah kita selama bulan Ramadhan? Sudahkah kita khatam Al-Qur'an? Sudahkah kita merasakan kehadiran Allah Ta'ala selama bulan Ramadhan ini? Sudahkah kita memperbanyak sedekah kita selama bulan Ramadhan? Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menjemput malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan?

Di hadapan Allah Ta'ala, umur biasa tidaklah berlaku. Yang berlaku bagiNya adalah umur luar biasa.  
Menurut indeks Worlfram Mathematica, usia rata-rata harapan hidup manusia di Indonesia adalah 70,83 tahun (nomor 141 di dunia), sedangkan usia rata-rata harapan hidup manusia di Jepang adalah 82, 1 tahun (nomor 3 di dunia). Negara bagian China, Macau, memiliki usia rata-rata harapan hidup 84, 36 tahun, dan itu adalah yang tertinggi di dunia. Nomor duanya adalah Andorra, dengan usia rata-rata harapan hidup manusiana 82, 51 tahun.

Tidak ada satu pun negara yang memiliki usia rata-rata harapan hidup manusia di atas seratus tahun.

Itu semua disebut dengan umur biasa manusia. Lalu bagaimana dengan umur luar biasa manusia?

Umur luar biasa manusia, tidak lain dan tentu saja, adalah umur ibadah manusia.
Sudah efektifkah umur kita untuk beribadah? Katakan dalam satu hari kita beribadah minimal 100 menit, dengan asumsi shalat + dzikir dan lain-lain yang berdurasi 20 menit, kemudian dikalkulasi 20 x 5 = 100 menit. Misalkan dari akil baligh hingga tutup usia kita hidup selama 60 tahun. 60 x 12 bulan = 720. 30 hari x 720 = 21.600. Kemudian 1440 menit sehari x 21.600 = 30.110.400 menit selama enam puluh tahun.

100 menit waktu efektif ibadah x 21.600 menit = 216.000 menit. Total 30.110.400 menit dibagi 216.000 = 139 bulan. 139 : 12 = 11. Berarti waktu efektif kita beribadah hanyalah 11 tahun.! Itu artinya, umur luar biasa kita hanyalah 11 tahun bila kita diberikan kesempatan hidup oleh Allah Ta'ala selama 75 tahun dalam usia biasa.

Allah memberikan solusi TUTUP POIN, bahkan POIN BONUS. Mega Bonus yang diberikan olehNya adalah 85 tahun dalam ibadah satu malam setiap tahun yang kita lalui. Lalu kita kalikan dengan usia hidup kita sejak kita akil baligh dan masuk hitungan pahala ibadah, sehingga hasilnya akan menjadi beratus-ratus tahun.  Syaratnya: mendapatkan Lailatul Qadar. Caranya: sungguh-sungguh beribadah tepat pada saat malam Lailatul Qadar. Waktunya: sepuluh hari terakhir dan/atau sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Selamat menjemput malam Lailatul Qadar! Semoga menjadi orang yang beruntung!

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.