Rabu, 04 Juli 2018

FANATISME BUKAN AKAR RADIKALISME -- Oleh: Shabrun Jamil Baharun (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Pada Kementerian Agama Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Hamdu Lillaah Was Shalaatu Was Salaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.


Banyak pihak yang memaksakan opini bahwa fanatik adalah akarnya radikal. Namun bagi orang-orang yang memiliki sudut pandang yang jernih dan tidak sempit tetap berkeyakinan bahwa fanatisme sama sekali bukan akar radikalisme. Para pengamat dan pembuat kebijakan bisa menjadi keliru bila masih mempersamakan antara radikal dan fanatik. Yang harus kita hindari adalah menyelesaikan masalah dengan mengorbankan orang atau kelompok yang sebenarnya tidak bersalah. 

Kerancuan istilah yang digunakan akan menciptakan stigma negatif. Hal inilah yang sangat perlu kita luruskan. Pengertian fanatik dan radikal sangatlah berbeda. Istilah radikal berada setingkat di bawah istilah teroris, dan selalu menjadi konotasi negatif. Sedangkan fanatik bukanlah radikal. Bisa dimungkinkan  bahwa  orang yang fanatik memiliki sikap dan pikiran yang moderat bahkan mungkin agak liberal. Bandingkan dengan radikal yang sama sekali tidak mau bersikap dan berpikir moderat apalagi liberal. 

Dalam sebuah sidang umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres pernah mengingatkan agar berhati-hati menggunakan terminologi radikalisme. Ia menyatakan bahwa terminologi radikalisme dipakai oleh dunia global, dan penafsiran dari kata tersebut ada yang mengandung perspektif positif. Pada abad ke 18, kelompok yang dicap radikal oleh pihak Kerajaan Inggris justru membawa kemajuan bagi bangsa Britania Raya. Saat itu kelompok yang dianggap radikal berhadapan langsung dengan konservatisme Kerajaan.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fanatik adalah kepercayaan dan keyakinan yang teramat kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan arti radikalisme menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Fanatik lebih berkonotasi kepada gairah, atau gairah yang sangat kuat. Suka atau tidak harus kita akui bahwa justru fanatisme agama menjadi modal besar bagi kemerdekaan Indonesia. "Hubbul Wathan Minal Iman" (Cinta negara sebagian dari iman) menjadi ruh perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Agama tidak membuat masyarakat menjadi radikal. Orang menjadi radikal karena menggunakan agama untuk membenarkan ideologi mereka sendiri.

Agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Semakin fanatik seseorang dalam beragama, maka semakin kuat ia menebarkan rahmat kepada sesama.

Fanatisme merupakan ruh yang teramat kuat terhadap kepercayaan atau pun keyakinan. Sedangkan radikalisme adalah  egoisme tingkat tinggi dari sebuah ideologi yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara ekstrim, apa pun agama, kelompok, suku, dan rasnya.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.