Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal-Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Betapa pun beratnya ujian atau cobaan yang menimpa kita, itu semua sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang Allah, hal itu tergantung bagaimana kita menyikapi ujian itu. Setiap kali kita sabar dalam menerima ujian, yakinlah, pasti kita akan cepat menemukan jalan keluar, karena Allah Ta’ala akan bersama dan menemani orang-orang yang bersabar.
Ada seorang pengusaha sukses yang tidak pernah mengenal kata pesaing dalam riwayat usahanya. Suatu ketika datanglah pesaing yang kuat dalam bisnisnya. Saking kuatnya pesaingnya ini, lama kelamaan omsetnya pun menurun dengan drastis, bahkan berada di ambang kebangkrutan. Dalam keadaan bingung dan gundah kelana, satu hal yang pengusaha ini pegang sebagai pedoman dan keyakinannya, bahwa semua kejadian pasti tidak luput dari kehendak Allah, apa pun dan bagaimana pun itu. Berbekal keyakinan yang mantap, ia mengembalikan semuanya kepada Allah sambil terus berusaha. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta akan menemani hambaNya yang sabar dalam menerima ujianNya. Ia terus berusaha menemukan jalan keluar dengan keyakinan dan kesabaran. Semua usahanya akhirnya dijawab olehNya. Allah S.W.T. mengetuk hatinya untuk segera membuka cabang di beberapa kota. Setelah membuka cabang di beberapa kota, ternyata omsetnya malah drastis berubah menjadi puluhan kali lipat dibandingkan sebelumnya. Omsetnya mencapai 1 milyar rupiah seminggu, padahal sebelumnya hanya ratusan juta rupiah per bulan. Dapat kita bayangkan seandainya Allah tidak memberi kesulitan dengan memberi pesaing bagi pengusaha tersebut, kemungkinan besar pengusaha itu tidak berpikir untuk secepat mungkin mendirikan cabang di beberapa kota sekaligus.
Zaman sekarang dikenal sebagai zaman serba instan. Namun apakah kita tahu bahwa segala barang yang instan itu dihasilkan dari proses yang dilalui dengan penuh kesabaran. Semua jenis makanan yang instan, barang instan, gadget instan, pada dasarnya tidak ada yang instan. Hasilnya memang instan, tetapi proses pembuatan alat produksinya tidak ada yang instan.
Suatu waktu kita mengembangkan sebuah bisnis, baik bisnis jasa mau pun bisnis kuliner di tempat tinggal kita. Melewati satu bulan, dua bulan, ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, konsumen yang datang masih sedikit, sedangkan karyawan mau tidak mau harus digaji, ditambah lagi kerugian dari faktor produksi lainnya. Kemudian ada seseorang yang menasehati kita, “bersabarlah!”. Lalu Apakah lantas kita langsung membiarkan usaha kita begitu saja dan hanya menunggu usaha tersebut untuk berkembang dengan sendirinya karena kita bersabar? Jelas tidak. Hal tersebut bukanlah bentuk kesabaran yang sebenarnya. Jika kita tidak merancang strategi pemasaran yang baru, memperbaharui rencana bisnis kita, atau terus mengembangkan bisnis kita, hasilnya belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan. Sabar yang benar adalah berusaha bertahan untuk bekerja keras ketika sedang menunggu hasil. Inilah kesabaran yang benar. Jelas salah jika ada orang yang menyatakan bahwa ia sabar tapi tidak mau bekerja keras. Kesimpulannya, orang yang sabar adalah mereka yang mau bekerja keras dan tidak pasrah menunggu hasil.
Sabar tidak termasuk tindakan dalam menghadapi suatu hal, tapi sabar menjadi bahan bakar dalam menjalani sebuah aktivitas. Apa pun tidakan dan aktivitasnya, jika menggunakan bahan bakar sabar, maka tindakan dan aktivitas tersebut akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna.
Tidaklah tepat jika kita menilai bahwa orang yang sabar adalah orang yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Orang yang sabar bukan pula orang yang berbaring tidak berdaya, dan orang yang sabar bukanlah mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi kerasnya hidup. Sesungguhnya orang sabar adalah orang-orang yang hebat yang memiliki kekuatan dan ketangguhan untuk bertahan dan menyerang. Mereka mampu bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan daya tahan lebih seperti menahan emosi, menghadapi musibah atau menunggu sesuatu. Dan mereka akan “menyerang” atau bertindak super aktif ketika menghadapi hal-hal yang harus dituntaskan, seperti menyelesaikan tantangan, mengembangkan bisnis, belajar, atau menghadapi ujian. Oleh sebab itu, bisa kita simpulkan bahwa kesabaran dapat menunjukkan tingkat ketangguhan seseorang.
Manakala kita diperintahkan untuk sabar menunggu bukan berarti kita harus bertahan menunggu hingga selesai, namun arti dari kesabaran di sini adalah kita mesti berjuang pantang menyerah untuk melawan keinginan berhenti menunggu. Itu sebabnya mengapa ketika menunggu kita harus sabar. Menunggu bukanlah berarti kesabaran, tapi kunci untuk bisa menunggu adalah dengan kesabaran. Ketika kita mendapat cercaan dari orang lain, berusahalah untuk tetap bersabar. Maksud sabar di sini adalah terus berjuang pantang menyerah untuk menahan diri kita dari emosi negatif yang mengakibatkan situasi makin memburuk. Menahan emosi bukanlah kesabaran, tapi sabar itulah yang menjadi kunci untuk bisa menahan emosi. Ketika kita sedang ujian, berusahalah untuk tetap bersabar, maksudnya kita harus berjuang pantang menyerah untuk menghadapi ujian hingga mampu menyelesaikannnya. Menghadapi ujian bukanlah kesabaran, tapi sabar adalah kunci untuk bertahan menghadapi ujian.
Untuk orang-orang yang menjadi korban PHK, sabar bukanlah bagaimana ia menerima nasibnya sebagai pengangguran, tapi bagaimnana ia tetap teguh untuk datang dari perusahaan ke perusahaan demi memperoleh pekerjaan baru. Untuk siswa yang mengalami kegagalan dalam ujiannya, sabar bukan berarti bagaimana ia rela tanpa respon dengan hasil ujiannya yang buruk, tapi bagaimana ia bisa bangkit kembali dan terus belajar agar sukses di lain hari. Sabar tidaklah identik dengan meratapi nasib, tapi sabar adalah perjuangan pantang menyerah menuju sesuatu yang baik dan positif.
Sabar merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan ketika keadaan semakin sulit. Sabar adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan, tantangan, dan kendala dalam hidup dengan tidak mengeluh dan putus asa. Sabar menjadi salah satu karakter yang sangat penting untuk mentransformasi kehidupan yang positif. Sabar menjadi hal yang sangat perlu untuk diperjuangkan. Semakin lama kita berjuang untuk bersabar, semakin terbiasa kita dengan karakter positif. Untuk menjadikan sabar sebagai kebiasaan mulailah dengan mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan kita tidak sabar. Sering kali keadaan tertentu dapat langsung menyebabkan kita menjadi tidak sabar. Maka, identifikasilah penyebabnya. Jika kita telah mengidentifikasi penyebabnya secara spesifik, kita akan mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi. Kemudian gunakanlah strategi untuk mengatasi ketidaksabaran kita.
Kita menjalani kehidupan ini dalam setiap episode kejadiannya. Hidup kita bagaikan film yang merupakan gabungan beberapa scene. Tapi dalam menjalani hidup ini, kita biasanya hanya fokus pada satu bagian atau beberapa bagian saja. Laksana seseorang yang sedang membaca buku, ketika membaca bab 2, ia fokus dengan apa yang ia baca di bab 2, dan tidak terlalu memperdulikan bab lainnya. Namun ketika kita menghadapi hal-hal yang sulit, kadang kita harus meluaskan sudut pandang dan pikiran kita agar tidak terperangkap dalam sempitnya potongan kejadian yang kita rasakan. Setiap kali kita merasa tidak sabar, luaskan sudut pandang kita. Tanyakan pada diri kita sendiri, “Apa yang menjadi hal terpenting dalam hidup saya? Apa yang menjadi visi dan misi saya? Apa hal terbesar dan hal utama yang ingin saya raih?” Meluaskan sudut pandang akan membantu kesabaran kita.
Tak dapat disangkal bahwa setiap diri kita memiliki keinginan terbesar dalam hidup. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam merealisasikan keinginan dan tujuan. Namun sayangnya, terlalu fokus dengan tujuan bisa mengakibatkan kelelahan. Bahkan jika terlalu dipikirkan secara mendalam bisa berdampak kurang baik. Cobalah untuk menikmati proses yang kita lalui, kita bagi tujuan besar kita menjadi tujuan-tujuan kecil. Nikmati setiap momen perjuangan mengejar impian kita. Menikmati perjalanan hidup dan membiasakan nilai-nilai positif yang terpancar dalam diri adalah hal yang baik dan membuat kita semakin bersabar.
Manakala kita menghadapi suatu hal yang membutuhkan kesabaran ekstra, luangkan waktu kita, hentikan aktivitas kita sejenak, lepaskan semua ganjalan di pikiran kita, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan sambil membayangkan bahwa permasalahan meninggalkan diri kita bersama dengan hembusan udara yang keluar dari organ pernafasan kita. Setelah itu tersenyumlah. Terapi ini mampu mengontrol keadaan dan memberikan ruang bagi pikiran kita yang sebelumnya penuh dengan segala permasalahan.
Seorang guru dalam menjalankan aktivitas mengajarnya membutuhkan kesabaran yang ekstra. Bukan hanya berhadapan dengan murid-muridnya, tetapi juga dengan orang tua murid, dengan pihak manajemen sekolah atau pun yayasan. Mereka wajib membuat banyak laporan dan mengejar target kurikulum. Kesabaran guru banyak diuji dalam proses pembelajaran. Jumlah murid yang begitu banyak dengan watak yang beragam, membuat guru harus pandai mengelola emosinya, demi tercapainya proses pembelajaran serta tujuan pembelajaran. Banyak teknik yang dipergunakan guru untuk bersabar dalam menjalankan proses pembelajaran, bahkan sampai ada yang menggunakan teknik hipnoterapi. Ada yang bersabar dengan cara selalu mengucapkan di dalam hatinya “Rabbisyrahlii Shadrii Wa Yassir Lii Amrii Wahlul ‘Uqdatammillisaanii Yafqahuu Qaulii”, ada yang menggunakan teknik menciptakan suasana kehangatan kelas dan membangkitkan antusiasme siswa atau peserta didik, ada juga guru yang menggunakan teknik mind maping atau peta pikiran yang menggunakan unsur memori, asosiasi, lokasi, keistimewaan, serta mengerahkan otak kiri dan kanan. Bagaimana perjuangan guru untuk mampu membawa siswa selalu berada dalam atmosfir proses pembelajaran, itulah bentuk kesabaran yang harus ditempuh oleh seorang guru.
Ada seorang guru yang begitu dikangeni oleh murid-muridnya, padahal cara mengajarnya standar saja seperti halnya guru-guru yang lain. Ternyata ia mengajar murid-muridnya bukan hanya dengan hati, bahkan dengan segenap jiwa dan sepenuh hati. Selepas mengajar dalam setiap shalatnya, ia selalu mendo’akan kebaikan untuk murid-muridnya satu per satu. Rupanya pendekatan holistik yang ia lakukan menghasilkan energi yang luar biasa bagi murid-muridnya. Usaha kesabaran yang ia lakoni (bahkan kepada murid-muridnya yang paling badung sekali pun) dikombinasikan dengan kekuatan energi do’a yang selalu dipanjatkannya, sehingga menciptakan sugesti yang luar biasa bagi murid-muridnya.
Bagi guru sejati, kepuasan batin dari keberhasilannya menjadi fasilitator ilmu serta keberhasilannya dalam mentransformasi mentalitas anak-anak didiknya jauh melebihi besarnya tunjangan-tunjangan apa pun yang ia terima. Bagi guru sejati, proses pembelajaran lebih penting daripada hasil-hasil berupa deret angka nilai, apalagi kalau hasil deret angka nilai itu manipulatif, yang melibatkan dan mempertaruhkan gengsi daerah dalam ujian berskala nasional, misalnya.
Kesabaran, keuletan, dan ketelatenan guru dalam mendidik murid-muridnya akan membuahkan hasil kelak setelah murid-muridnya dewasa. Pembentukan karakter dan mental spiritual akan berbicara banyak ketika murid-muridnya menghadapi dunia pekerjaan mereka. Dalam dunia nyata yang akan mereka hadapi kelak, baik itu dalam bidang perniagaan atau pun bidang pekerjaan lainnya, bukan lagi kepintaran mengerjakan PR dan ujian yang menentukan keberhasilan murid-muridnya. PR adalah sarana melatih kedisiplinan, dan ujian adalah sarana untuk pembelajaran. Semua orang yang telah mengalami dunia perniagaan dan pekerjaan tahu bahwa orang-orang yang cerdas secara emosi, pintar secara personal maupun inter personal, dan memiliki daya kegigihan, itulah orang-orang yang nantinya akan unggul. Itu semua terangkum dalam pendidikan karakter. Guru-guru yang sabar, ulet, dan telaten dalam membentuk karakter murid-muridnya, merekalah yang mempunyai jasa besar bagi murid-muridnya di kemudian hari kelak. Bahkan Albert Einsten memberikan porsi hanya 1 persen untuk intelejensia, dan 99 persen untuk kerja keras dalam menentukan keberhasilan. Menurutnya, Success = 1 % IQ + 99% hard working.
Bagi orang yang mengejar karir, sebagus apa pun ia dalam merampungkan pekerjaannya, kemampuan inter personal tetap menjadi faktor penting dalam menapaki karirnya. Yang dibutuhkan oleh tempat kerjanya adalah team work atau kerja tim, sehingga ia juga harus seirama dalam pekerjaannya dengan atasan dan co-workers atau rekan-rekan kerjanya. Yang dibutuhkan adalah “nilai tambah”. Orang yang memiliki “nilai tambah” pada kepribadian dan pekerjaannya, pasti dibutuhkan oleh setiap cabang tempatnya bekerja. Bahkan ia akan memiliki bargaining position atau posisi tawar terhadap pimpinan-pimpinannya. Nilai tambah yang dimiliki seseorang, apa pun bentuknya, tidak mungkin dimiliki begitu saja tanpa melalui proses sebelumnya. Kesabarannya dalam mengasah diri tentu menghasilkan nilai tambah bagi dirinya.
Fokus meningkatkan kualitas diri memang lebih baik daripada sibuk mengomentari kesuksesan orang lain. Namun lebih baik lagi jika kita memetik pelajaran dari kesuksesan orang lain. Semua orang tahu bahwa sukses itu membutuhkan proses. Tidak ada kesuksesan yang diraih dengan sim salabim. Biasanaya kesuksesan yang terlalu mudah dan terlalu cepat diraih tidak akan langgeng. Kita akan lebih menikmati kesuksesan yang yang diraih dengan perjuangan mulai dari merangkak sampai berlari. Kesuksesan yang benar-benar nikmat dapat diibaratkan dengan orang menemukan air dalam keadaan yang sangat haus. Air yang diminumnya saat itu tentu terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dalam kondisi tidak terlalu haus.
Ujian yang semakin berat yang kita alami dalam merintis dan membangun usaha, akan membuat kesuksesan yang akan diraih semakin besar pula. Kita hadapi dan jalani saja dengan sabar ujian yang menimpa kita dalam sebuah bisnis atau pun usaha. Pada hakekatnya kesabaran itu tak terbatas, mungkin hanya kita yang membuat batasannya. Kesabaran yang tidak ada batasnya itu, secara alamiah berbanding lurus dengan hasil gemilang kesabaran tersebut yang berlangsung lama, langgeng, dan tidak mudah terputus.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.