Selasa, 28 Februari 2017

RASA MALU KEPADA HEWAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahil Waahidil Qahhaar
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidil Khalaaiqi Wal Basyar
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Semua orang telah mengetahui bahwa manusia adalah genre makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Ta'ala. Maka dari itulah Allah Ta'ala menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun demikian, adakalanya manusia belajar dari makhluk ciptaan Allah lainnya, bahkan menjadikannya sebagai inspirasi.

Nabi Adam 'alaihissalam diajarkan secara langsung oleh Allah Ta'ala. Setalah istrinya, Siti Hawa, diciptakan olehNya, Nabi Adam 'alaihissalam lah yang mengajarkan istrinya. Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anaknya yang lahir dari rahim istrinya, diajarkan oleh kedua orang tua mereka.

Pasca terjadinya tragedi pembunuhan pertama dalam sejarah kehidupan manusia, Qabil yang baru saja  membunuh saudara kandungnya, duduk dengan perasaan takut dengan segala kegalauan dan kegundahkelanaannya. Ia terus menatap tubuh saudaranya yang sudah tak bernyawa dengan kebingungan yang sangat, akan diapakan mayat saudaranya ini. Peristiwa ini diabadikan di dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 30-31:
Fa Thawwa'at lahu nafsuhuu qatla akhiihi faqatalahuu fa ashbaha minal khaasiriin. Fa ba'atsallaahu ghuraabayyabhatsu fil ardhi liyuriyahuu kaifa yuwaarii sauata akhiih. Qaala yaa wailataa a'ajaztu an akuuna mitsla haadzal ghuraabi fa uwaariya sauata akhii. Fa ashbaha minannaadimiin. 
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi” Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal."
Burung gagak dikirim oleh Allah Ta'ala untuk memberikan inspirasi bagi manusia tentang bagaimana cara menguburkan mayat.

Gambar elang sedang terbang di angkasaManusia juga terinspirasi oleh hewan unggas berjenis burung untuk membuat kendaraan yang bisa terbang. Dibutuhkan beratus-ratus percobaan untuk berhasil membuat pesawat terbang. Pesawat, Lepas Landas, Langit

Ada pula inspirasi hewan yang tidak semua orang mau melakukannya disebabkan oleh egonya. Hewan itu adalah hewan unggas berjenis bebek. Inspirasinya adalah budaya antri. Tidak pernah kita lihat sekawanan bebek yang saling menyerobot satu sama lainnya. Semuanya berjalan beriringan dengan tertib. Bandingkan dengan iring-iringan kendaraan di jalan-jalan. Kendaraan-kendaraan yang telah rela untuk mengantri, acap kali "dikhianati" oleh kendaraan yang berada di belakang, atau dengan santainya kendaraan-kendaraan lain menyelonong maju dengan cara turun ke bahu jalan, atau bahkan masuk ke jalur arah berlawanan.  Sering kali beberapa kendaraa dengan santainya menyerobot atau mepet-mepet minta dikasih tempat. 

Banyak pula kasus antrian manusia yang berujung kepada kericuhan, bahkan memakan korban jiwa. Penyebabnya bisa karena kesalahan para pengantri yang lebih mengedepankan ego dan nafsu, serta "rasa takut tidak kebagian" yang berlebihan, bisa karena penyelenggaranya yang tidak sanggup menata dan mengelola antrian. Penyebab kedua inilah yang biasanya berakibat fatal. Ketidaksanggupan penyelenggara dalam menata dan mengelola antrian akan meyebabkan para pengantri seperti tidak diperlakukan manusiawi. Oleh karenanya, mari sama-sama kita menata dan mengelola diri.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Selasa, 21 Februari 2017

VARIABEL DAKWAH WALISONGO -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Mawwaalah

Ammaa Ba'du.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih memimpin kabilah dagang milik Khadijah ke Syam, sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, kerap kali beliau bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam.  Menurut penelitian yang dilakukan oleh G.R. Tibbetts hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara bahkan telah terjadi pada zaman pra Islam. Bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara memperkuat penemuannya.
Disebutkan pula dalam sebuah dokumen kuno yang berasal dari Tiongkok bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M , hanya selang 15 tahun pasca Rasulullah s.a.w. menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah melakukan aktivitas Dakwahnya, di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Itulah mengapa sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah s.a.w. masih hidup di Mekkah dan Madinah. Teori ini dalam sejarah Islam Nusantara disebut Teori Mekkah. Teori ini sekaligus mematahkan teori Van Erp yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 melalui pedagang Gujarat.
Para sejarawan sepakat bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia dilakukan dengan cara damai secara berangsur-angsur melalui perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren, penyebaran da’i, perkumpulan tarekat, penyuluhan pertanian, akulturasi seni dan budaya, dan sebagainya.
Setelah komunitas muslim Nusantara banyak terbentuk di beberapa tempat, muncullah para penyebar Islam di Pulau Jawa yang membentuk sebuah Dewan, yang kita kenal dengan Wali Songo (Wali Sembilan). Pada dasarnya Wali Songo adalah sebuah Dewan Wali yang terdiri dari sembilan Wali pada setiap angkatannya. Angkatan Pertama Wali Songo dimulai pada tahun 1404, dan angkatan ke-8 Wali Songo berakhir pada tahun 1650. Pada setiap angkatannya pasti ada anggota Wali Songo yang baru yang menggantikan anggota Wali Songo yang telah tiada. Dalam rentang waktu tersebut, Dewan Wali Songo telah berhasil membuat beberapa kerajaan Islam, salah satunya adalah kerajaan Islam Banten (termasuk Jayakarta atau Batavia masuk ke dalam wilayah kerajaan Islam Banten). Snock Horgrounje pernah mengatakan kepada pemerintah kerajaan Belanda, bahwa menguasai Nusantara harus dimulai dengan menguasai kerajaan Islam Banten. Artinya, kerajaan Islam Nusantara yang dibuat oleh anggota-anggota Dewan Wali Songo pada saat itu termasuk kerajaan besar yang sangat diperhitungkan oleh dunia.
Keberhasilan Dakwah para Wali Songo terletak pada variabel metode Dakwah mereka. Mereka adalah para Da’i yang sangat kreatif dengan mobilitas Dakwah yang tinggi.
Maulana Malik Ibrahim/Maulana Maghribi/Syekh Maghribi/Syekh Jumadil Kubra/Sunan Gresik membuka warung untuk berjualan kebutuhan sehari-sehari dengan harga murah, mengadakan pengobatan gratis, membangun pondok pesantren pertama di Pesucian. Dalam bidang kesenian ia membuat Tembang Suluk, Gundul-gundul pacul. Dalam bidang pendidikan ia membangun Pondok Pesantren di Leran, Gresik
Sunan  Ampel/ Raden Rahmat (Ampel, Surabaya) mendirikan pesantren Ampel. Ia adalah perancang kerajaan Islam Demak. Ia melakukan perkawinan dengan puteri   Manila. Ia membuat norma Molimo dalam masyarakat: Larangan berjudi, mabuk, mencuri, mabuk dan zina, moh main, ngombe, maling madat dan madon
Sunan Bonang/Raden Maulana Makdum Ibrahim (Surabaya), menyesuaikan Dakwahnya dengan kebudayaan masyarakat, dengan menciptakan gamelan Bonang/gending, Tombo Ati, dan Suluk. Ia mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama Malaikat. Ia pun ahli dalam pewayangan
-   Sunan Giri/Raden Paku/Raden Ainul Yakin (Giri), mendirikan pesantren Giri, menciptakan permainan anak-anak, mengirim juru dakwahnya yang terdidik ke berbagai pelosok daerah di luar Jawa, menciptakan permainan Jelungan, Gendi Ferit, Jor, Gula Anti, Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Gending Asmaran Dana, dan Pucung.
Sunan Drajad/Raden Qosim/Syarifudin (Surabaya), memberikan pengajaran Tauhid dan Akidah secara langsung. Orientasi dakwahnya adalah pada kegotong-royongan. Ia melakukan  pendekatan kultural dengan menciptakan tembang jawa. Ia menciptakan suluk petuah: “Berilah tongkat pada si buta, berilah makan pada yang lapar, berilah pakaian pada yang telanjang” Hasil karya seninya adalah Tembang Pangkur dan Gamelan Singomengkok
Sunan Kalijaga/Raden Mas Syahid bin RadenSahur (Tuban). Ia merancang masjid Demak (tata dan pecahan kayu). Gaya sufistiknya adalah berbasis salaf. Ia menggunakan wayang dan gamelan sebagai media dakwahnya. Ia mengarang cerita-cerita pewayangan, dan mengembangkan seni suara, seni ukir, busana, pahat, dan kesusastraan. Beberapa hasil karya seninya adalah Wayang Purwa, Cerita Pewayangan, Jamus Kalisada, Babat Alas Wonomarto, dan Wahyu Tohjali.
Sunan Kudus/Jafar Sadik/Waliyyul Ilmi (Jipang Panoalan, Blora), membuat cerita-cerita ketauhidan. Dalam berdakwah ia menggunakan pendekatan kurtural dengan memanfaatkan simbol Hindu-Budha. Ia membetulkan menara, gerbang, tempat wudhu. Ia juga menciptakan Gending. Karya-karya seninya adalah  Cerita Agama Maskumambang dan Mijil.
Sunan Muria/ Raden Umar Said/Raden Prawoto bin Sunan Kalijaga (Gunung Muria, Kudus), menjadikan desa-desa terpencil sebagai pusat dakwahnya Ia Mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, nelayan,dan rakyat biasa seperti berdagang, bercocok tanam, dan  melaut. Hasil karya seninya adalah Tembang dakwah Sinom dan Kinanti
Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah, cucu Prabu Silihwangi(Pangeran Sabakingking)
(Jawa Barat). Ia membanguin infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah, melakukan ekspedisi ke Banten. Ia memanfaatkan pengaruhnya sebagai cucu kerajaan Padjajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Sejak awal penyebarannya di Nusantara, Islam merepresentasikan sosoknya sebagai agama yang membangun, sejuk, inklusif, dan membumi dengan masyarakat. Secara historis, seperti inilah wajah Islam di Nusantara. Sejarah membuktikan pula bahwa spirit Islamlah yang berjuang habis-habisan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Kecintaan para Wali Songo terhadap bangsa dan negara tidak terbantahkan. Semangat membela bangsa dan negaranya sangat patut diacungi jempol. Penyebaran Islam ke Nusantara, benar-benar Rahmatan Lil ‘Alamin.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



Senin, 20 Februari 2017

KEKUATAN ADALAH KETIDAKBERDAYAAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Innal Hamda Lillaah
Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruh
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abdahuu Wa Rasuuluh
Allaahumma Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Setiap orang dan segala sesuatu pada hakekatnya tak memiliki daya ketika berhubungan dengan Allah Yang Maha Agung. Tiada seorang pun dan tiada sesuatu pun yang memiliki kekuatan tanpa pemberian Tuhan. Manakala Tuhan Yang Maha Agung memberikan kekuatan kepada hamba-hambaNya, niscaya mereka akan menjadi kuat. Namun demikian, hal itu justru merefleksikan totalitas  ketidakmampuan. Ketika seorang hamba menyatakan ketidakmampuannya di hadapan Tuhannya, inilah yang menjadi sebuah kehormatan bagi seorang hamba, dan sebagai akibat dari kerendahdiriannya maka Tuhan akan memberikannya kekuatan dan menyokongnya dalam segala situasi. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang pertama kali menyatakan ketidakberdayaannya pada saat merasakan kehadiran Tuhan. Oleh karenanya, Allah Ta'ala memberikannya karunia kekuatan yang lebih dibandingkan hamba-hamba lainnya yang pernah diberikan karunia olehNya.  Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi ummat manusia, bahwa jika kita ingin mencari dukungan Tuhan dan kekuatan spiritual yang lebih, yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengakui ketidakberdayaan kita.

Para ilmuwan fisika berusaha keras untuk membuka tabir alam semesta. Setelah terbuka tabirnya satu per satu, mereka mulai berusaha membuka tabir konsep dan pikiran Tuhan. Semakin keras usaha mereka membuka tabir konsep dan pikiran Tuhan, semakin mereka mengakui ketidakberdayaan mereka. Tabir alam semesta mampu mereka temukan jawaban-jawabannya walaupun tidak mampu menuntaskannya, namun mereka tidak pernah mampu sekali pun menganalisa pikiran Tuhan, Bahkan saking tidak berdayanya jangkauan akal pikiran mereka menembus konsep dan pikiran Tuhan, sampai ada yang frustasi dan mengambil kesimpulan yang salah, bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya. Yang seperti itu mungkin dapat kita sebut sebagai oknum ilmuwan fisika, sebab masih banyak ilmuwan fisika dunia lainnya yang semakin lama semakin takjub dan kagum semaksimal-maksimalnya dengan kebesaran Tuhan.  

 Hati serta pikiran, tubuh, dan jiwa, menjadi elemen-elemen penting dalam membangun kekuatan diri. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan itu semua sebagai modal penting kita bagi kita sebagai hamba-hambaNya. Kekuatan diri kita ditopang oleh spirit, itulah yang banyak orang sebut sebagai kekuatan spiritual. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa kekuatan spiritual bermula dari penanaman (peniupan) roh ketuhanan atau spirit Ilahi ke dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang unggul dan unik. (Qur'an Surah Shad : 71 - 72 dan Qur'an Surah Al-Mu'minun : 14)

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.



 



Minggu, 19 Februari 2017

MAKE EFFORT TO RUN TO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.

Ammaa Ba'du.



FA FIRRUU ILALLAAH.

"So ran towards God!" (Adh-Dzariyat: 50)

In Arabic, the word al-firar  means running normally which is used to express running from something to be feared. Running  which chased by lion, mad dog, or an enemy, for instance. The word al-firar is also used to run to catch something, or in other words: jara-yajri-jirayah.

If someone ran because he is chased by a lion, he would focus on efforts to rescue himself.  He would not care if, for instance, there are thorns or nails that pierced his leg. He will not care too if, for instance, someone asked him to stop and be given a pile of treasure. He will go on sprinting.

 Allah commands us to run toward  Him as if we run to escape a lion. Ibn Qayyim al-Jawziyah explained in Madarijus Salikin, the first step of running to Allah comprises three things: Running from ignorance towards science, running from laziness to the spirit, and running from narrow hearts toward airy hearts.

From ignorance towards science

The ignorant according to Islam is not just people who do not have knowledge about something. People whose knowledge and broad horizons of thinking can be ignorant. According to Islam, science includes the knowledge of truth and righteousness which have been known to it.

When Prophet Yusuf. being forced to do humiliating, he-as enshrined by Allah in Surah Yusuf: 33-pitted, "O my Lord, I prefer imprisonment more than fulfill their invitation to me. If you do not keep me from their guile, I would tend to (fulfill their wishes) and I certainly be among people who are ignorant. "


Amr ibn Hisham that before the advent of Islam was named by Abul Hakam because of the intelligence and the height of his knowledge, earned Abu Jahl because he did not want to follow the truth. Amr ibn Hisham certainly understood and was able to digest all the teachings delivered by the Prophet. But because the science was not followed by implementation, he was not considered a knowledgeable man. Instead, he was declared as the ignorant.

From laziness to the spirit

Ibn al-Qayyim stated that the nature of lazy, long wishes, and similar to them are very dangerous for a person. Laziness is like a tree that only led to a loss and regret.

There are several verses in the Qur`an that suggests that we accept all of the commandments with all sincerity, passion. Allah says,

Khudzuu maa aatainaakum biquwwatin wadzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquun.
"Hold firmly what We have given you and remember what is in it, that ye may fear Allah." (Al-Baqarah: 63)


Wa Katabnaa Lahuu Fil Al-waahi Min Kulli Syai-in Maw'idzatan Wa Tafshiilan Likulli Syai-in Fa Khudzhaa Bi Quwwah.
"Have We written to Moses on alwaah   everything as a lesson and an explanation for everything. Then (we say), 'Hold him firmly, command thy people to hold on (His commandments) with the best!'. "(Al-Araf: 145)





From Narrow Chest to Airy Chest

Later on, let any Muslim leave  narrow chest  as soon as possible to airy chest. Narrow chest comes to someone when he is worried and upset about the benefit of himself, his property, or his family. He would be  moody and bend his face if there is a threat comes to himself, his possessions, or his family.

The true threat  is actually the threat that comes from Allah 'Azza Wa Jalla. The threats come only if someone breaks God's rules. The threat comes from other than Allah is essentially nothing compared to his threats.

Actually, if someone tsiqah (trust) in  his God with truly trust, and have kind thought (positive thought) to his God after trying  best of his ability, his chest would undoubtedly be airy. It has been promised by Allah Ta'ala. He  will never break His promise.


Wan Man Yattaqillaah Yaj'al Lahuu Makhrajan Wa Yarzuqhu Min Haitsu Laa Yahtasib.

"Those who fear Allah, will hold the exit (of all matters) for him and be given sustenance from unexpected directions that no-but thought" (Ath-Thalaq: 2-3)


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

HOW TO RUN TO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Minggu, 12 Februari 2017

TAKE A RUN INTO ALLAH TA'ALA -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man, Working as Islamic Counselor at Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.


Al-Hamdu Lillaahi Rabbil ‘Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma’iin.

Ammaa Ba’du.


FI FIRRUU ILALLAAH. INNII LAKUM  NADZIIRUMMUBIIN. (Qur’an Surah Adzaariyat Verse 50).
“Therefore flee unto God! I am a clear warner from Him to you.”

At most of circumstances, people all around the world, whenever they confused they will be asking  themselves, “Where shall we run to?” Often we see people running away from one country to another country. They assume that by by running away they wil survive. Unfortunately, they can’t afford to run away. Because Allah is One everywhere actually. We can’t run away from Allah and go somewhere else. We have to think and do what we should do.

Allah Ta’ala gave us big grants. Iman-Islam-Ihsan. When we run after the world, we are going to be disgraced whenever we go. Sometimes we don’t think about hereafter, we only think about this world. When we do that, we don/t find goodness neither in this world, nor in the hereafter.

Run towards Allah is the only safe place to run away, and He is showing us. Very few people in this world are showed the right way by Him The Almighty.

Running to Allah is similar to worshipping Allah by releasing any other thing than Allah Ta’ala in our main goal. The main goal is merely to reach Allah in every aspect of our life. For Muslim, all his activities in his life are devoted to Allah Ta’ala, either in Hablumminallah  (connection to Allah) or Hablumminannas (relationship with human beings).

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.


Kamis, 09 Februari 2017

SABAR DALAM PROSES, AKAN DAHSYAT HASILNYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyarafil Anbiyaa-i Wal-Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Betapa pun beratnya ujian atau cobaan yang menimpa kita, itu semua sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang Allah, hal itu tergantung bagaimana kita menyikapi ujian itu. Setiap kali kita sabar dalam menerima ujian, yakinlah, pasti kita akan cepat menemukan jalan keluar, karena Allah Ta’ala akan bersama dan menemani orang-orang yang bersabar.
       Ada seorang pengusaha sukses yang tidak pernah mengenal kata pesaing dalam riwayat usahanya. Suatu ketika datanglah pesaing yang kuat dalam bisnisnya. Saking kuatnya pesaingnya ini, lama kelamaan omsetnya pun menurun dengan drastis, bahkan berada di ambang kebangkrutan. Dalam keadaan bingung dan gundah kelana, satu hal yang pengusaha ini pegang sebagai pedoman dan keyakinannya, bahwa semua kejadian pasti tidak luput dari kehendak Allah, apa pun dan bagaimana pun itu. Berbekal keyakinan yang mantap, ia mengembalikan semuanya kepada Allah sambil terus berusaha. Ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta akan menemani hambaNya yang sabar dalam menerima ujianNya. Ia terus berusaha menemukan jalan keluar dengan keyakinan dan kesabaran. Semua usahanya akhirnya dijawab olehNya. Allah S.W.T. mengetuk hatinya untuk segera membuka cabang di beberapa kota. Setelah membuka cabang di beberapa kota, ternyata omsetnya malah drastis berubah menjadi puluhan kali lipat dibandingkan sebelumnya. Omsetnya mencapai 1 milyar rupiah seminggu, padahal sebelumnya hanya ratusan juta rupiah per bulan. Dapat kita bayangkan seandainya Allah tidak memberi kesulitan dengan memberi pesaing bagi pengusaha tersebut, kemungkinan besar pengusaha itu tidak berpikir untuk secepat mungkin mendirikan cabang di beberapa kota sekaligus.
       Zaman sekarang dikenal sebagai zaman serba instan. Namun apakah kita tahu bahwa segala barang yang instan itu dihasilkan dari proses yang dilalui dengan penuh kesabaran. Semua jenis makanan yang instan,  barang instan, gadget instan, pada dasarnya tidak ada yang instan.  Hasilnya memang instan, tetapi proses pembuatan alat produksinya tidak ada yang instan.
       Suatu waktu kita mengembangkan sebuah bisnis, baik bisnis jasa mau pun bisnis kuliner di tempat tinggal kita. Melewati satu bulan, dua bulan, ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, konsumen yang datang masih sedikit, sedangkan karyawan mau tidak mau harus digaji, ditambah  lagi kerugian dari faktor produksi lainnya. Kemudian ada seseorang yang menasehati kita, “bersabarlah!”. Lalu Apakah lantas kita langsung membiarkan usaha kita begitu saja dan hanya menunggu usaha tersebut untuk berkembang dengan sendirinya karena kita bersabar? Jelas tidak. Hal  tersebut bukanlah bentuk kesabaran yang sebenarnya. Jika kita tidak merancang strategi pemasaran yang baru, memperbaharui rencana bisnis kita, atau terus mengembangkan bisnis kita,  hasilnya belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan. Sabar yang benar adalah berusaha bertahan untuk bekerja keras ketika sedang menunggu hasil. Inilah kesabaran yang benar. Jelas salah jika ada orang yang menyatakan bahwa ia sabar tapi tidak mau bekerja keras. Kesimpulannya, orang yang sabar adalah mereka yang mau bekerja keras dan tidak pasrah menunggu hasil.
Sabar tidak termasuk tindakan dalam menghadapi suatu hal, tapi sabar menjadi bahan bakar dalam menjalani sebuah aktivitas. Apa pun tidakan dan aktivitasnya, jika menggunakan bahan bakar sabar, maka tindakan dan aktivitas tersebut akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna.
Tidaklah tepat jika kita menilai bahwa orang yang sabar adalah orang yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Orang yang sabar bukan pula orang yang berbaring tidak berdaya, dan orang yang sabar bukanlah mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi kerasnya hidup. Sesungguhnya orang sabar adalah orang-orang yang hebat yang memiliki kekuatan dan ketangguhan untuk bertahan dan menyerang. Mereka mampu bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan daya tahan lebih seperti menahan emosi, menghadapi musibah atau menunggu sesuatu. Dan mereka akan “menyerang” atau bertindak super aktif ketika menghadapi hal-hal yang harus dituntaskan, seperti menyelesaikan tantangan, mengembangkan bisnis, belajar, atau menghadapi ujian. Oleh sebab itu, bisa kita simpulkan bahwa kesabaran dapat menunjukkan tingkat ketangguhan seseorang.
Manakala kita  diperintahkan untuk sabar menunggu bukan berarti kita harus bertahan menunggu hingga selesai, namun arti dari kesabaran di sini adalah kita mesti berjuang pantang menyerah untuk melawan keinginan berhenti menunggu. Itu sebabnya mengapa ketika menunggu kita harus sabar. Menunggu bukanlah berarti  kesabaran, tapi kunci untuk bisa menunggu adalah dengan kesabaran. Ketika kita mendapat cercaan dari orang lain, berusahalah untuk tetap bersabar. Maksud sabar di sini adalah terus berjuang pantang menyerah untuk menahan diri kita dari emosi negatif yang mengakibatkan situasi makin memburuk.  Menahan emosi bukanlah kesabaran, tapi sabar itulah yang menjadi kunci  untuk bisa menahan emosi. Ketika kita sedang ujian, berusahalah untuk tetap bersabar, maksudnya kita harus berjuang pantang menyerah untuk menghadapi ujian hingga mampu menyelesaikannnya. Menghadapi ujian bukanlah kesabaran, tapi sabar adalah kunci untuk bertahan menghadapi ujian.
        Untuk orang-orang yang menjadi korban PHK, sabar bukanlah bagaimana ia menerima nasibnya sebagai pengangguran, tapi bagaimnana ia tetap teguh untuk datang dari perusahaan ke perusahaan demi memperoleh pekerjaan baru. Untuk siswa yang mengalami  kegagalan dalam  ujiannya, sabar bukan berarti bagaimana ia rela tanpa respon dengan hasil ujiannya yang buruk, tapi bagaimana ia bisa bangkit kembali dan terus belajar agar sukses di lain hari. Sabar tidaklah identik dengan meratapi nasib, tapi sabar adalah perjuangan pantang menyerah menuju sesuatu yang baik dan positif.
Sabar merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan ketika keadaan semakin sulit. Sabar adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan, tantangan, dan kendala dalam hidup dengan tidak mengeluh dan putus asa. Sabar menjadi salah satu karakter yang sangat penting untuk mentransformasi kehidupan yang positif. Sabar menjadi hal yang sangat perlu untuk  diperjuangkan. Semakin lama kita berjuang untuk bersabar, semakin terbiasa kita dengan karakter positif. Untuk menjadikan sabar sebagai kebiasaan mulailah dengan mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan kita tidak sabar. Sering kali keadaan tertentu dapat langsung menyebabkan kita menjadi tidak sabar. Maka, identifikasilah penyebabnya. Jika kita telah mengidentifikasi penyebabnya secara spesifik, kita akan mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi. Kemudian gunakanlah strategi untuk mengatasi ketidaksabaran kita.
      Kita menjalani kehidupan ini dalam setiap episode kejadiannya. Hidup kita bagaikan film yang merupakan gabungan beberapa scene. Tapi dalam menjalani hidup ini, kita biasanya hanya fokus pada satu bagian atau beberapa bagian saja. Laksana seseorang yang sedang membaca buku, ketika membaca bab 2, ia fokus dengan apa yang ia baca di bab 2, dan tidak terlalu memperdulikan bab lainnya. Namun ketika kita menghadapi hal-hal yang sulit, kadang kita harus meluaskan sudut pandang dan pikiran kita agar tidak terperangkap dalam sempitnya potongan kejadian yang kita rasakan. Setiap kali kita merasa tidak sabar, luaskan sudut pandang kita. Tanyakan pada diri kita sendiri, “Apa yang menjadi  hal terpenting dalam hidup saya? Apa yang menjadi visi dan misi saya? Apa hal terbesar dan hal utama yang ingin saya raih?” Meluaskan sudut pandang akan membantu kesabaran kita.
     Tak dapat disangkal bahwa setiap diri kita memiliki keinginan terbesar dalam hidup.  Dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam merealisasikan keinginan dan tujuan. Namun sayangnya, terlalu fokus dengan tujuan bisa mengakibatkan kelelahan. Bahkan jika terlalu dipikirkan secara mendalam bisa berdampak kurang baik. Cobalah untuk menikmati proses yang kita lalui, kita bagi tujuan besar kita menjadi tujuan-tujuan kecil. Nikmati setiap momen perjuangan mengejar impian kita. Menikmati perjalanan hidup dan membiasakan nilai-nilai positif yang terpancar dalam diri adalah hal yang baik dan membuat kita semakin bersabar.
     Manakala kita menghadapi suatu hal yang membutuhkan kesabaran ekstra, luangkan waktu kita, hentikan aktivitas kita sejenak, lepaskan semua ganjalan di pikiran kita, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan sambil membayangkan bahwa permasalahan meninggalkan diri kita bersama dengan hembusan udara yang keluar dari organ pernafasan kita. Setelah itu tersenyumlah. Terapi ini mampu mengontrol keadaan dan memberikan ruang bagi pikiran kita  yang sebelumnya penuh dengan segala permasalahan.
    Seorang guru dalam menjalankan aktivitas mengajarnya membutuhkan kesabaran yang ekstra. Bukan hanya berhadapan dengan murid-muridnya, tetapi juga dengan orang tua murid, dengan pihak manajemen sekolah atau pun yayasan. Mereka wajib membuat banyak laporan dan mengejar target kurikulum. Kesabaran guru banyak diuji dalam proses pembelajaran. Jumlah murid yang begitu banyak dengan watak yang beragam, membuat guru harus pandai mengelola emosinya, demi tercapainya proses pembelajaran serta tujuan pembelajaran. Banyak teknik yang dipergunakan guru untuk bersabar dalam menjalankan proses pembelajaran, bahkan sampai ada yang menggunakan teknik hipnoterapi. Ada yang bersabar dengan cara selalu mengucapkan di dalam hatinya       “Rabbisyrahlii Shadrii Wa Yassir Lii Amrii Wahlul ‘Uqdatammillisaanii Yafqahuu Qaulii”, ada yang menggunakan teknik menciptakan suasana kehangatan kelas dan membangkitkan antusiasme siswa atau peserta didik, ada juga guru yang menggunakan teknik mind maping atau peta pikiran yang menggunakan unsur memori, asosiasi, lokasi, keistimewaan, serta mengerahkan otak kiri dan kanan. Bagaimana perjuangan guru untuk  mampu membawa siswa selalu berada dalam atmosfir proses pembelajaran, itulah bentuk kesabaran yang harus ditempuh oleh seorang guru.
      Ada seorang guru yang begitu dikangeni oleh murid-muridnya, padahal cara mengajarnya standar saja seperti halnya guru-guru yang lain. Ternyata ia mengajar murid-muridnya bukan hanya dengan hati, bahkan dengan segenap jiwa dan sepenuh hati. Selepas mengajar dalam setiap shalatnya, ia selalu mendo’akan kebaikan untuk murid-muridnya satu per satu. Rupanya pendekatan holistik yang ia lakukan menghasilkan energi yang luar biasa bagi murid-muridnya. Usaha kesabaran yang ia lakoni (bahkan kepada murid-muridnya yang paling badung sekali pun) dikombinasikan dengan kekuatan energi do’a yang selalu dipanjatkannya, sehingga menciptakan sugesti yang luar biasa bagi murid-muridnya.
      Bagi guru sejati, kepuasan batin dari keberhasilannya menjadi fasilitator ilmu serta keberhasilannya dalam mentransformasi mentalitas anak-anak didiknya jauh melebihi besarnya tunjangan-tunjangan apa pun yang ia terima. Bagi guru sejati, proses pembelajaran lebih penting daripada hasil-hasil berupa deret angka nilai, apalagi kalau hasil deret angka nilai itu manipulatif, yang melibatkan dan mempertaruhkan gengsi daerah dalam ujian berskala nasional, misalnya.
Kesabaran, keuletan, dan ketelatenan guru dalam mendidik murid-muridnya akan membuahkan hasil kelak setelah murid-muridnya dewasa. Pembentukan karakter dan mental spiritual akan berbicara banyak ketika murid-muridnya menghadapi dunia pekerjaan mereka. Dalam dunia nyata yang akan mereka hadapi kelak, baik itu dalam  bidang perniagaan atau pun bidang pekerjaan lainnya, bukan lagi kepintaran mengerjakan PR dan ujian yang menentukan keberhasilan murid-muridnya. PR adalah sarana melatih kedisiplinan, dan ujian adalah sarana untuk pembelajaran. Semua orang yang telah mengalami dunia perniagaan dan pekerjaan tahu bahwa orang-orang yang cerdas secara emosi, pintar secara personal maupun inter personal, dan memiliki daya kegigihan, itulah orang-orang yang nantinya akan unggul. Itu semua terangkum dalam pendidikan karakter. Guru-guru yang sabar, ulet, dan telaten dalam membentuk karakter murid-muridnya, merekalah yang mempunyai jasa besar bagi murid-muridnya di kemudian hari kelak. Bahkan Albert Einsten memberikan porsi hanya 1 persen untuk intelejensia, dan 99 persen untuk kerja keras dalam menentukan keberhasilan. Menurutnya, Success = 1 % IQ + 99% hard working.  
      Bagi orang yang mengejar karir, sebagus apa pun ia dalam merampungkan pekerjaannya, kemampuan inter personal tetap menjadi faktor penting dalam menapaki karirnya. Yang dibutuhkan oleh tempat kerjanya adalah team work atau kerja tim, sehingga ia juga harus seirama dalam pekerjaannya dengan atasan dan co-workers atau rekan-rekan kerjanya. Yang dibutuhkan adalah “nilai tambah”. Orang yang memiliki “nilai tambah” pada kepribadian dan pekerjaannya, pasti dibutuhkan oleh setiap cabang tempatnya bekerja. Bahkan ia akan memiliki bargaining position atau posisi tawar terhadap pimpinan-pimpinannya. Nilai tambah yang dimiliki seseorang, apa pun bentuknya, tidak mungkin dimiliki begitu saja tanpa melalui proses sebelumnya. Kesabarannya dalam mengasah diri tentu menghasilkan nilai tambah bagi dirinya.
      Fokus meningkatkan kualitas diri memang lebih baik daripada sibuk mengomentari kesuksesan orang lain. Namun lebih baik lagi jika kita memetik pelajaran dari kesuksesan orang lain. Semua orang tahu bahwa sukses itu membutuhkan proses. Tidak ada  kesuksesan yang diraih dengan sim salabim. Biasanaya kesuksesan yang terlalu mudah dan terlalu cepat diraih tidak akan langgeng. Kita akan lebih menikmati kesuksesan yang yang diraih dengan perjuangan mulai dari merangkak sampai berlari. Kesuksesan yang benar-benar nikmat dapat diibaratkan dengan orang menemukan air dalam keadaan yang sangat haus. Air yang diminumnya saat itu tentu terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dalam kondisi tidak terlalu haus.
      Ujian yang semakin berat yang kita alami dalam merintis dan membangun usaha, akan membuat kesuksesan yang akan diraih semakin besar pula. Kita hadapi dan jalani saja dengan sabar ujian yang menimpa kita dalam sebuah bisnis atau pun usaha. Pada hakekatnya kesabaran itu tak terbatas, mungkin hanya kita yang membuat batasannya. Kesabaran yang tidak ada batasnya itu, secara alamiah berbanding lurus dengan hasil gemilang kesabaran tersebut yang berlangsung lama, langgeng, dan tidak mudah terputus.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.

Selasa, 07 Februari 2017

THE DISTINCTION OF GOOD SCHOLARS (ULAMA-UL KHAIR) -- By: Shabrun Jamil (An Ordinary Man Working as PAIF of Religious Affair Ministry of Tangerang District)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil ‘Aalamiin
Wa Bihii Nasta’iin Wa ‘Alaa Umuuriddunyaa Waddiin
Wasshalaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrafil Anbiyaa-I Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma’iin.

Ammaa Ba’du.


Athii’ullaaha warrasuula la’allakum turhamuun. (Qur’an Surah Ali ‘Imron verse 132).
“And obey Allah and the Messenger so that you may be blessed.”

“The scholars (ulama) are the heirs of the Prophets,” Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam said in his hadits. The scholars (ulama) inherit the knowle3dge that the Prophets taught. In their communities, they succeed the Prophets in the sense of calling people to Allah and His obedience, prohibiting rebellion against Allah and defending His religion.

The Prophet Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam said, “May the mery of Allah be on my successor.” The Companions asked, “O Messenger of Allah, who are your successors?” He said, “Those who revive and teach my Sunnah after my passing.”

From this hadits, we may jump into conclusion that Ulama occupy the position of the Prophets in a noble sation between Allah Ta’ala and humanity. Ibn Al-Munkadir has said, “Indeed Ulama are between Allah Ta’ala and humanity, therefore, be careful how you approach them.”

Concerning this hadits, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah said, “This is from the greatest of the virtues of the scholars (ulama), since the Prophets ‘alaihimusshalaatu wassalaam are the best of Allah’s creation. So this means that their inheritors are the best of creation after them. Every one that leaves behind inheritance has his property transfer over to his heirs, since they are the ones who will take his place after him. They are the onew who have the most right to receive that inheritance. Allah Ta’ala specifies the granting of His Mercy to whom He will.”

The Ummah are guided by this hadits to obey the Good Scholars (Ulama-ul khair), respect them, have esteem for them, and honour them, since they are the inheritors and successors of those who possess these rights over the Ummah. Likewise, holding enmity for them and waging war against them is the same as holding enmity and waging war with Allah Ta’ala and His Messenger (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

The Good Scholars (Ulama-ul khair) are also reminded by this hadits to raise the Ummah just as a father brings up his child. So they should raise them step by step, starting with the small forms of knowledge an then progressing onto the bigger forms of knowledge, imposing as much knowledge into them as they can, just as a father does with his infant child when he brings his meal to him. Any soul that is not cultivated by the Messengers ‘alaihihusshalaatu wassalaam wil not be made upright.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  


Sabtu, 04 Februari 2017

DIKENAL OLEH PENDUDUK LANGIT -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Mawwaalah.

Ammaa Ba'du.

Abah Miftah, demikian orang-orang memanggilnya, dalam usia 63 tahun menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan sujud di dalam masjid. Di dalam Masjid Babussalam, Kabupaten Malang, ia bersujud lama sekali ketika melaksanakan shalat ba'diyah Isya. Satu persatu para jamaah meninggalkan Masjid Babussalam. Beberapa orang yang biasanya terakhir meninggalkan masjid, curiga dengan sujudnya Abah Miftah yang kelewat lama. Setelah diperiksa secara seksama oleh para pengurus DKM Masjid Babussalam, akhirnya diyakini bahwa Abah Miftah telah meninggal dunia. Allahu Akbar! Meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah Ta'ala, sebuah posisi akhir hayat yang banyak didambakan orang-orang yang beriman.

Abah Miftah adalah seorang sosok yang dikenal sangat sederhana dalam hidupnya. Orang-orang mengenalnya sebagai pedagang kambing. Namun ia mempunyai pekerjaan tambahan, yaitu memandikan jenazah. Sebenarnya ia bukanlah petugas memandikan jenazah, namun ia dengan tangan terbuka dan tanpa mengharapkan imbalan selalu membantu memandikan jenazah setiap kali ada orang yang meninggal dunia di lingkungannya.

Menurut keluarga dan orang-orang di lingkungannya, Abah Miftah tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah lima waktu, tentu saja di Masjid dekat rumahnya, Masjid Babussalam. Bahkan menurut penuturan istri almarhum, dalam keadaan gerimis pun ia tetap berangkat ke masjid setiap kali suara adzan memanggil. Walaupun tidak banyak bicara, para tetangganya mengenalnya sebagai sosok yang ramah. Abah Miftah telah dua kali menunaikan ibadah haji ke tanah suci, yang dananya berasal dari keberkahan berjualan kambing.

Berita meninggalnya Abah Miftah dalam posisi sujud sontak menjadi viral di media. Namun demikian, ketika banyak media yang ingin mewanwancarai keluarganya, yang bersangkutan menolak untuk diwawancarai lebih dalam, sebab bagi mereka kepopuleran bukanlah satu hal yang mereka cari. Keluarga Abah Miftah hanya menginginkan keberkahan dan kebersahajaan dalam hidup. Apalagi mereka sangat menghormati sosok almarhum yang sangat tulus dan tidak memiliki ambisi duniawi.

Sosok sederhana yang sama sekali bukan seorang tokoh tetapi dianggap tokoh oleh para malaikat penduduk langit pernah terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup.

Sosok itu bernama 'Uwais Al-Qarni (tinggal di Yaman), seorang Sahabat Rasulullah yang tidak pernah sempat berjumpa beliau dalam hidupnya tetapi sangat dikangeni oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alahi. Bahkan Malaikat Jibril 'alaihissalam memberitahukan Nabi bahwa 'Uwais Al-Qarni telah menjadi pembicaraan (bahasa sekarang telah menjadi viral) oleh para malaikat penghuni langit.

Ia hidup berdua dengan ibunya, dan hidupnya didedikasikan untuk merawat ibunya yang sudah tidak bisa lagi berjalan. Mata pencahariannya adalah menggembala ternak milik orang lain. Upah yang diterimanya digunakan untuk kehidupannya sehari-hari bersama ibunya, bila ada lebih ia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, walaupun ia sendiri masih termasuk dalam kategori "orang-orang yang membutuhkan".

Manakala ia tidak memiliki biaya yang cukup untuk melaksanakan ibadah haji bersama ibunya, ia menggendong ibunya pergi ke Baitullah dari Yaman negerinya.

Saking cintanya ia kepada Nabinya, ketika ia mendengar kabar bahwa gigi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tanggal pada saat perang uhud, ia langsung menggetok giginya hingga tanggal seperti halnya tanggalnya gigi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Satu ketika ia meminta izin kepada ibundanya untuk pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah. Sesampainya di Madinah, ia tidak mendapati Rasulullah, sebab beliau belum pulang dari peperangan. Akhirnya ia pun pulang ke Yaman, karena khawatir dengan keadaan ibunya. Malaikat Jibril memberitahukan Rasulullah bahwa 'Uwais Al-Qarni datang menemuinya di Madinah namun sudah pulang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun sampai bersabda bahwa barang siapa yang ingin dikabulkan do'anya, maka mintalah dido'akan oleh 'Uwais Al-Qarni. Rasulullah mengatakan seperti itu bukan tanpa sebab. 'Uwais Al-Qarni memang bukanlah orang yang sangat terpandang di antara manusia lingkungan sekitarnya, tetapi ia sangat terpandang di kalangan penduduk langit.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.