Sabtu, 04 Februari 2017

DIKENAL OLEH PENDUDUK LANGIT -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Mawwaalah.

Ammaa Ba'du.

Abah Miftah, demikian orang-orang memanggilnya, dalam usia 63 tahun menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan sujud di dalam masjid. Di dalam Masjid Babussalam, Kabupaten Malang, ia bersujud lama sekali ketika melaksanakan shalat ba'diyah Isya. Satu persatu para jamaah meninggalkan Masjid Babussalam. Beberapa orang yang biasanya terakhir meninggalkan masjid, curiga dengan sujudnya Abah Miftah yang kelewat lama. Setelah diperiksa secara seksama oleh para pengurus DKM Masjid Babussalam, akhirnya diyakini bahwa Abah Miftah telah meninggal dunia. Allahu Akbar! Meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah Ta'ala, sebuah posisi akhir hayat yang banyak didambakan orang-orang yang beriman.

Abah Miftah adalah seorang sosok yang dikenal sangat sederhana dalam hidupnya. Orang-orang mengenalnya sebagai pedagang kambing. Namun ia mempunyai pekerjaan tambahan, yaitu memandikan jenazah. Sebenarnya ia bukanlah petugas memandikan jenazah, namun ia dengan tangan terbuka dan tanpa mengharapkan imbalan selalu membantu memandikan jenazah setiap kali ada orang yang meninggal dunia di lingkungannya.

Menurut keluarga dan orang-orang di lingkungannya, Abah Miftah tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah lima waktu, tentu saja di Masjid dekat rumahnya, Masjid Babussalam. Bahkan menurut penuturan istri almarhum, dalam keadaan gerimis pun ia tetap berangkat ke masjid setiap kali suara adzan memanggil. Walaupun tidak banyak bicara, para tetangganya mengenalnya sebagai sosok yang ramah. Abah Miftah telah dua kali menunaikan ibadah haji ke tanah suci, yang dananya berasal dari keberkahan berjualan kambing.

Berita meninggalnya Abah Miftah dalam posisi sujud sontak menjadi viral di media. Namun demikian, ketika banyak media yang ingin mewanwancarai keluarganya, yang bersangkutan menolak untuk diwawancarai lebih dalam, sebab bagi mereka kepopuleran bukanlah satu hal yang mereka cari. Keluarga Abah Miftah hanya menginginkan keberkahan dan kebersahajaan dalam hidup. Apalagi mereka sangat menghormati sosok almarhum yang sangat tulus dan tidak memiliki ambisi duniawi.

Sosok sederhana yang sama sekali bukan seorang tokoh tetapi dianggap tokoh oleh para malaikat penduduk langit pernah terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup.

Sosok itu bernama 'Uwais Al-Qarni (tinggal di Yaman), seorang Sahabat Rasulullah yang tidak pernah sempat berjumpa beliau dalam hidupnya tetapi sangat dikangeni oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alahi. Bahkan Malaikat Jibril 'alaihissalam memberitahukan Nabi bahwa 'Uwais Al-Qarni telah menjadi pembicaraan (bahasa sekarang telah menjadi viral) oleh para malaikat penghuni langit.

Ia hidup berdua dengan ibunya, dan hidupnya didedikasikan untuk merawat ibunya yang sudah tidak bisa lagi berjalan. Mata pencahariannya adalah menggembala ternak milik orang lain. Upah yang diterimanya digunakan untuk kehidupannya sehari-hari bersama ibunya, bila ada lebih ia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, walaupun ia sendiri masih termasuk dalam kategori "orang-orang yang membutuhkan".

Manakala ia tidak memiliki biaya yang cukup untuk melaksanakan ibadah haji bersama ibunya, ia menggendong ibunya pergi ke Baitullah dari Yaman negerinya.

Saking cintanya ia kepada Nabinya, ketika ia mendengar kabar bahwa gigi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tanggal pada saat perang uhud, ia langsung menggetok giginya hingga tanggal seperti halnya tanggalnya gigi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Satu ketika ia meminta izin kepada ibundanya untuk pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah. Sesampainya di Madinah, ia tidak mendapati Rasulullah, sebab beliau belum pulang dari peperangan. Akhirnya ia pun pulang ke Yaman, karena khawatir dengan keadaan ibunya. Malaikat Jibril memberitahukan Rasulullah bahwa 'Uwais Al-Qarni datang menemuinya di Madinah namun sudah pulang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun sampai bersabda bahwa barang siapa yang ingin dikabulkan do'anya, maka mintalah dido'akan oleh 'Uwais Al-Qarni. Rasulullah mengatakan seperti itu bukan tanpa sebab. 'Uwais Al-Qarni memang bukanlah orang yang sangat terpandang di antara manusia lingkungan sekitarnya, tetapi ia sangat terpandang di kalangan penduduk langit.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar