Rabu, 15 Maret 2017

PEMBERDAYAAN -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kemenag Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah.
Ammaa Ba'du.

Seorang mantan sopir angkot 07 yang sehari-hari nongkrong di lapangan masjid Ar-Royan pada suatu malam datang menghampiriku. Kebetulan aku memarkir mobilku di halaman masjid tersebut, dengan membayar infaq sebesar seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulannya. Setelah menyalamiku, ia menawarkan diri untuk menservice mobilku yang kebetulan memang sedang bermasalah dengan perangkatnya.
"Pak Haji, boleh saya membetulkan mobil pak haji, saya lihat sudah sebulan mobil Pak Haji diparkir saja dan tidak pernah keluar."
"Memangnya ente bisa sercive mobil?"
"Bisa dong Pak Haji, saya kan bekas sopir angkot"
"Yakin bisa?"
"Insya Alah, Pak Haji?"
"Ok kalau begitu, ini kuncinya. Kalau  ada yang harus dibeli, bilang ke saya."
"Siap Pak Haji."
Keesokan harinya ia datang ke rumahku.
"Sudah selesai Pak Haji," ujarnya seraya memberikan kunci mobil kepadaku.
"Apanya yang rusak, Mat?"
"Cuma kebel starternya saja yang putus."
"Pantasan akinya masih bagus tapi kok tidak bisa distarter. Kok kamu bisa ya, Mat?"
"Namanya juga pernah lama nyupir ankot, Pak Haji. Saya sudah pengalaman nyalain mobil tanpa starter, cuma nempelin kabel starter, terus nyala deh, he..he..he.."
"Berarti saya nyalain mobil harus nempelin kabel starter dulu?"
"Ya enggak, Pak Haji. Kan sudah saya rapihkan semua, jadi starter mobilnya pake kunci mobil."

Sehari-hari Amat hanya nongkrong saja di depan halaman masjid. Ia sudah berhenti dari dunia supir angkot. Sudah berbulan-bulan ia sama sekali tidak mempunyai pekerjaan yang pasti alias menganggur. Istrinya pun tidak bekerja. Dua-duanya tidak memiliki penghasilan yang pasti. Bersama kedua anak mereka, ia dan keluarganya hidup di bawah standar kehidupan primer.
Pernah satu waktu ia menawarkan dirinya menjadi supir pribadiku. Dari mana saya bisa menggajinya. Aku ini bukanlah seorang pejabat sekelas kepala kantor, pengusaha besar pun tidak.

Lama-lama aku kasihan juga melihatnya terus menganggur. Inilah sebenarnya kesempatan saya beribadah dan beramal sosial dengan cara memberdayakannya. Akhirnya ia kutawarkan untuk menjual fried chicken dengan gerobak stainless second yang dibeli seharga tiga juta rupiah. Memang modalnya cukup menguras isi tabunganku, lima juta delapan ratus ribu rupiah untuk membeli gerobak stainless beserta seluruh peralatannya. Tapi kalau dihitung-hitung, sejumlah uang yang aku keluarkan memiliki multi manfaat. Membantu saudara sesama ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memberdayakan ekonomi ummat.
Niat awal adalah pemberdayaan ekonomi ummat. Menurut sahabatku Habib Syakir yang sudah sukses dengan perusahaannya lewat success strory-nya, ibarat menyetir mobil, saya sudah masuk ke gigi satu. Jangan dulu berharap banyak untung pada masa-masa awal usaha, yang penting adalah sustainability ketersinambungan usaha dan perputaran serta jangan sampai terputus, apa pun yang terjadi, walau harus nombok sekalipun. Dalam bahasa agamanya adalah: ber-ISTIQOMAH. 
Dunia kewirausahaan menjadi dunia yang sama sekali baru bagiku.Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam lingkarannya. Bagaimana pun aku harus tetap istiqomah pada niat awalku, yaitu pemberdayaan ekonomi ummat.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar