Senin, 09 Januari 2017

SABAR BEGITU INDAHNYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Nahmaduhuu Wa Nasta'iinuhuu Wa Nastaghfiruhuu Wa Natuubu Ilahi
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Ya’qub a.s. pernah mengatakan bahwa kesabaran itu indah. Fashabrun Jamiil, maka itulah kesabaran yang indah, demikian ujarnya dalam kesedihan yang mendalam. Saudara-saudara Yusuf berpura-pura menangis di depan ayahanda mereka, Ya’qub a.s., seraya memberikan baju yang tadinya dikenakan oleh Yusuf. Baju tersebut dilumuri darah, lalu kakak-kakaknya yang berjumlah sepuluh orang itu mengatakan bahwa Yusuf telah dimakan serigala. Padahal sesungguhnya Yusuf dibuang ke sebuah dasar sumur yang terletak sangat jauh dari kota tempat tinggal mereka. Sementara adik Yusuf, Bunyamin, tidak diajak oleh mereka.

Suatu ketika Yusuf menceritakan kepada ayahandanya, bahwa ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semuanya bersujud kepadanya. Lalu Ya’qub menyuruh Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya, karena dikhawatirkan dengan kedengkian kepada Yusuf mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakannya.

Kakak-kakak Yusuf  merasa bahwa ayah mereka lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin adiknya dibandingkan mereka. Sebenarnya bukan seperti itu. Kakak-kakak Yusuf memiliki sifat dan watak yang kurang baik lagi sombong. Sementara Yusuf dan Bunyamin memiliki watak dan sifat yang baik. Orang tua mana pun di dunia ini pasti lebih mencintai anaknya yang dinilai baik di mata orang tuanya.

Mereka bersekongkol untuk membunuh Yusuf, tetapi salah seorang di antara mereka tidak setuju dan memberikan saran agar Yusuf dimasukkan saja ke dasar sumur supaya dipungut oleh musafir yang kebetulan lewat. Setelah selesai merencanakan makar, mereka menghadap ayahanda mereka dan membujuknya habis-habisan agar mau mengizinkan mereka membawa Yusuf pergi bermain. Ya’qub keberatan, khawatir bila Yusuf ikut bersama mereka, satu waktu mereka lengah, Yusuf menghilang dan akhirnya dimakan serigala. Dengan segala daya dan upaya mereka meyakinkan ayahanda mereka bahwa mereka akan selalu menjaganya. Bahkan mereka mengatakan bahwa tidak mungkin Yusuf dimakan serigala karena mereka adalah orang-orang yang kuat.

Setelah melaksanakan makar, mereka datang kepada ayah mereka pada petang harinya sambil menangis. “Maafkan kami ayah. Kami pergi berlomba dengan meninggalkan Yusuf di belakang barang-barang kami, lalu ia dimakan serigala. Kami tahu, ayah tidak akan percaya kepada kami sekali pun kami berkata benar,” ujar salah seorang di antara mereka sambil pura-pura menangis sesunggukan.

Mereka menunjukkan baju Yusuf yang sebenarnya telah mereka lumuri dengan darah palsu. Sang ayah dengan kesedihannya yang mendalam berkata kepada mereka, “sabarlah yang terbaik bagiku. Hanya kepada Allah lah aku memohon pertolonganNya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

Singkat cerita, Yusuf kecil dijual oleh musafir yang menemukannya di sumur. Ia lalu dibeli dan diangkat anak oleh pembesar Mesir. Setelah  besar, karena kelebihan ilmunya dan kemampuan takwil mimpinya, ia diberikan kepercayaan jabatan. Ia menapaki karirnya hingga akhirnya ia diangkat menjadi seorang perdana menteri. Semua itu ia dapatkan setelah melalui banyak cobaan dan penderitaan. Bahkan ia sempat dipenjara karena difitnah oleh Zulaikha. Yusuf a.s. tetap sabar menjalani lika-liku hidup karena yakin Allah masih memberikan kasih sayangNya.

Ketika sebelas saudaranya datang menghadap sang perdana menteri untuk meminta bantuan pangan karena di kampung halamannya sedang paceklik, saudara-saudaranya belum mengetahui bahwa ia adalah Yusuf yang pernah mereka musuhi dan mereka buang ke dasar sumur. Akan tetapi Yusuf, dengan firasat dan intuisinya yang tajam, mengetahui bahwa mereka adalah saudara-saudanya. Terlebih setelah mengetahui asal daerah mereka, yang memang menjadi kampung halaman dan tempat tinggal Yusuf ketika ia masih kecil. Mereka diperintahkan oleh Yusuf untuk kembali ke Palestina dengan membawa baju miliknya untuk diberikan kepada ayahanda mereka. Yusuf juga memerintahkan saudara-saudaranya untuk membawa serta ayah mereka ketika kembali ke Mesir. Sementara adiknya, Bunyamin, tetap tinggal di istana atas perintah Yusuf dan tidak diperbolehkan pulang. Bunyamin dituduh mencuri barang istana, padahal barang tersebut sengaja ditaruh oleh Yusuf agar Bunyamin bisa tinggal bersamanya di istana.

Setelah sampai di Palestina, saudara-saudara Yusuf memberikan baju titipan Yusuf kepada ayah mereka. Seraya memegang baju Yusuf, ia mencium baju tersebut seraya berkata, “sesungguhnya aku mencium bau Yusuf. Ini pasti baju Yusuf.” Intuisi sang ayah langsung muncul. Air matanya bercucuran tak tertahankan. Saudara-saudara Yusuf saling berpandangan satu sama lain dengan wajah kaget. Apakah benar yang menjadi Perdana Menteri itu Yusuf? Demikian pertanyaan yang terbersit dalam hati dan pikiran masing-masing.

Saudara-saudara Yusuf dan ayahnya pergi ke Mesir untuk menemui perdana menteri. Sesampainya mereka di sana, berkatalah Yusuf, “Aku adalah Yusuf yang dulu hilang.” Makin tegang saja wajah saudara-saudaranya. Setelah mendengar ucapan sekaligus pengakuan Yusuf dan yakin akan kebenaran ucapannya, kesebelas saudara Yusuf beserta ayahnya langsung sujud sebagai tanda penghormatan mereka kepada Yusuf. Benarlah apa yang dilihat oleh Yusuf dalam mimpinya ketika masih kecil dulu. Sebelum saudara-saudaranya minta maaf, Yusuf berkata: “Aku telah memaafkan apa yang telah kalian perbuat kepadaku saat aku masih kecil dulu.” Mereka pun akhirnya berpelukan dengan keharuan yang luar biasa.

Sungguh kesabaran itu sebenarnya indah. Memang proses menjalankan kesabaran itu pahit. Tapi pahitnya itu seperti jamu yang menyehatkan, atau seperti buah pare yang memiliki gizi, bisa juga seperti kopi yang nikmat dan memberikan banyak manfaat untuk kesehatan, tentu dengan porsinya yang tidak berlebihan. Mengkonsumsi kopi, asalkan diimbangi dengan minum air putih dan diminum setelah mengkonsumsi makanan agar lambung tidak kaget, ternyata memberikan beberapa manfaat untuk kesehatan kita. Kopi bisa meningkatkan energi, dapat membantu membakar lemak. Kafein di dalam kopi bisa meningkatkan kinerja fisik. Kopi juga mengandung nutrisi penting dalam bijinya, yaitu vitamin B2, vitamin B5, dan vitamin B3. Kopi bisa menurunkan resiko diabetes dan menurunkan resiko Parkinson. Peminum kopi juga memiliki resiko rendah dari beberapa jenis kanker. Kopi tidak menyebabkan penyakit jantung, malahan dapat menurunkan resiko stroke. Kopi juga merupakan salah satu sumber antioksidan.

Sabar pun asal dilakukan dengan benar dan tahu ilmunya, akan meningkatkan energi kita dan menghancurkan mental block (penghalang dan perintang mentalitas). Sabar juga dapat meningkatkan kinerja fisik kita. Sabar dapat menjadi bahan bakar untuk etos kerja dan perjuangan kita. Sabar dapat menjadi “antioksidan” untuk penyakit stes, depresi, jantung, dan “penuaan dini”.

Masih banyak orang yang mempersepsikan sabar sebagai sebuah kenyataan pahit, padahal pahitnya itu ibarat pahitnya rasa kopi yang sebenarnya nikmat dan bermanfaat. Sabar itu juga seperti struktur bagian lidah, yang pahit di pangkal tetapi manis di ujung. Allah Ta’ala menciptakan anatomi lidah kita dengan rasa pahit di bagian belakang atau pangkal, asam dan asin di bagian samping, dan manis di bagian ujungnya. Walau pun ada teori yang menyatakan bahwa varian rasa tidak terfokus pada bagian-bagian tertentu di lidah, tetap saja semua rasa yang masuk ke dalam mulut, sensornya terdapat pada lidah, bukan pada gigi atau pun gusi. Demikian pula halnya dengan hidup kita. Hari ini merasakan pahit, esoknya merasakan manis, esoknya lagi merasakan asam, manis lagi, pahit lagi, asin lagi, asam lagi, manis lagi, dan seterusnya…dan seterusnya. Kita nikmati saja semua varian rasa hidup tersebut. Bila semua varian rasa hidup itu dinikmati dengan kesabaran, maka hasilnya akan luar biasa. Al-Hasan Zainal Abidin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya kesabaran adalah salah satu harta simpanan kebaikan, dan Allah hanya akan memberikannya kepada hamba yang mulia di sisiNya.”              

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar