Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni Abillaah
Wa ‘alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah
Ammaa Ba’du.
Setelah akad dan resepsi nikah, sepasang pengantin baru dari Riyadh, ibu kota Saudi Arabia, memutuskan tinggal di sebuah apartemen. Baru saja selesai merapihkan sedikit barang yang mereka bawa ke apartemen tersebut, tiba-tiba HP sang pengantin lelaki berdering.
“Halo Aiman, kamu sekarang tinggal di mana?”
“Di apartemen.”
“Apartemen apa?”
“Apartemen El-Rasheed di Corniche Street.”
“Bersama istrimu?”
“Ya, tentu saja. Aku kan sekarang sudah punya istri.”
“Baiklah. Begini kawan. Kami sedang dalam perjalanan menuju Jeddah. Kami ingin sekali mampir di apartemenmu. Apakah kamu keberatan?”
“Apakah kalian tahu apartemen tempat kami tinggal sekarang?”
“Tentu saja kawan. Kami sudah hafal Corniche Street.”
Pengantin wanita yang mendengar pembicaraan suaminya via HP jelas kaget mendengarnya. Malam-malam begini mampir di tempat pengantin baru, mengganggu saja. Demikian kira-kira ucapan batinnya.
Setengah jam kemudian HP pengantin pria kembali berdering.
“Kami sudah sampai, sobat!”
Tak berselang lama bel pun berbunyi. Ternyata sahabat pengantin pria tersebut menelpon tepat di depan pintu apartemen tempatnya tinggal. Ketika pintu dibuka, ia masih menempelkan HP di daun telinganya.
Ternyata yang datang bukan satu orang, tapi sepuluh orang kawan-kawan akrabnya. Lalu mereka saling berpelukan dan memberikan ucapan selamat kepada sahabat mereka, sang pengantin baru.
“Nura, tolong siapkan makanan untuk sebelas orang!” ujar pengantin pria kepada istrinya.
Tentu saja sang istri geram bukan kepalang, ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya, tapi malu karena banyak tamu. Ingin sekali ia minta dipulangkan ke rumah orang tuanya.
Betapa tidak, pengantin baru yang seharusnya menikmati malam pertama malah disuruh masak untuk sebelas orang.
“Aiman, mohon maaf telah merepotkan. Terima kasih atas jamuan makan yang telah diberikan. Kami tahu kalau malam-malam begini mengganggu kalian sebagai pengantin baru. Tapi kami bersepuluh telah nazar tanpa sepengetahuanmu, jika kamu langsung tinggal di apartemen setelah menikah, kami akan mengumpulkan uang masing-masing lima ribu riyal untuk diberikan kepada kamu.”
Mereka lalu berpamitan pulang. Mendengar pembicaraan tadi, istri Aiman benar-benar tak kuasa menahan tumpahan air matanya. Ia menangis sesunggukan bukan karena minta dipulangkan ke rumah orang tuanya. Hatinya trenyuh dengan kenyataan yang dialaminya bahwa sedekah memuliakan tamu langsung dibayar kontan oleh Allah Ta’ala.
Sepuluh orang sahabat Aiman memberikan uang 50.000 riyal kepada suaminya, sungguh tidak diduga-duga. Dengan kurs rupiah sekarang, mereka mendapatkan rezeki tak terduga setara dengan 180 juta rupiah. Masya Allah!
Seraya memeluk suaminya sambal menangis, sang pengantin wanita menyesal karena telah berburuk sangka terhadap para tamu yang notabene adalah sahabat karib suaminya. Ia baru ‘ainul yaqin, menjadi yakin karena membuktikan dengan mata kepala sendiri, bahwa sedekah memuliakan tamu memiliki keutamaan yang besar, sebagai wujud dari keimanan seseorang, bahkan kali ini Allah Ta’ala langsung membayarnya dengan kontan.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar