Jumat, 20 Januari 2017

KORIDOR TRAVELING DALAM AGAMA (BAGIAN Ke-1) -- Oleh: Shabrun Jamil (Pegiat Dakwah Yang Masih Awam, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiya-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Traveling atau Rihlah menjadi bagian penting dari sebuah proses pembelajaran. Kita dapat memetik pelajaran baru ketika kita pergi ke beberapa tempat, atau mengunjungi beberapa orang. Orang selalu datang dan pergi dan waktu selalu silih berganti. Jangankan pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, ke tempat yang pernah kita kunjungi pun, bila lama tak kita datangi, pasti akan ditemukan banyak perubahan.

Ada banyak manfaat traveling yang dirasakan banyak orang, seperti mengunjungi tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, belajar mandiri, lebih mengenal sifat asli diri sendiri maupun rekan perjalanan, menghilangkan stres akibat kesibuka sehari-hari, menambah wawasan, memotivasi diri sendiri, dan menyadari betapa kecilnya kita di dunia ini.

Sebelum menerima tugas kenabian, Rasulullah shallaahu 'alaihi wa sallam telah banyak melakukan traveling dalam ekspedisi dagangnya. Pekerjaannya sebagai penggembala pada masa kecilnya, traveling ke berbagai negara dalam rangka ekspedisi dagang ketika remaja, membuatnya menjadi pribadi yang matang setelah dewasa.

Pada masa awal penyebaran Islam, traveling menjadi salah satu unsur yang menyebabkan tersebar luasnya Islam. Makam Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah seorang Sahabat Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, menjadi salah satu contoh bukti kegiatan traveling yang dilakukan oleh Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk menyebarkan agama Islam. Hingga akhirnya peradaban Cina atau Tiongkok pernah dibangun oleh Dinasti Ming yang merupakan Kekaisaran Muslim selama hampir 300 tahun (1368-1644). Bahkan pada masa itu, kalender Islam menjadi kalender resmi selama Dinasti Ming. Di antara masa-masa kejayaan Dinasti Ming, Laksamana Cheng Ho (1371 - 1435) mengembara ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Nusantara, hingga akhirnya ia menemukan benua Amerika.

Kegiatan traveling juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Imam Bukhari memverifikasi ribuan Hadits dengan melakukan traveling. Begitu juga dengan Imam Muslim. Keduanya menghasilkan Kitab kumpulan Hadits "Shahih Bukhari Muslim."

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar