Sabtu, 07 Januari 2017

MENATA DAN MENGELOLA SABAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.



Mengelola sabar berbanding simetris dengan mengelola emosi. Emosi amat erat hubungannya dengan daya ingat dan pengalaman kita. Bila hal buruk terjadi pada diri kita, maka kemungkinan besar akan merangsang respon emosi kita. Emosi bisa juga berhubungan erat dengan apa yang kita anggap sebagai nilai kehidupan. Ketika terjadi tantangan terhadap nilai kehidupan kita, maka respon emosi kita akan muncul.

Emosi adalah sebuah energi yang dapat mempengaruhi kehidupan kita. Itulah mengapa kepandaian emosi memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan seseorang. Kita mengalami dan menghasilkan segala bentuk energi yang mempengaruhi perasaan kita dan apa yang kita jalani dalam hari-hari kita. Sebagian energi memiliki cukup kekuatan dan mudah dikenali.  Sedangkan energi yang lain seringkali hanya dirasakan berdasarkan intuisi. Segala hal yang diucapkan, segala hal yang dipikirkan, dan segala hal yang dilakukan, semuanya menghasilkan energi yang mempengaruhi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ada dua kutub energi yang mempengaruhi emosi, yaitu kutub energi positif dan kutub energi negatif. Sebagian orang menghasilkan energi positif, sedangkan sebagian lainnya menghasilkan energi negatif. Ukurannya tergantung kualitas hidup seseorang. Inilah yang mereflesikan perbuatan atau pun pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang. Pikiran, tujuan, dan perilaku akan memicu emosi yang memberikan label kepada energi, yaitu label positif dan label negatif.

Seringkali kita menghadapi situasi negatif dalam hidup kita. Bereaksi negatif dalam situasi negatif tentu akan membuang energi. Ada baiknya kita belajar mengubah sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif. Nabi Muhammad s.a.w. yang dilempari batu oleh penduduk Thaif ketika berdakwah di sana bahkan membalas perlakuan negatif mereka dengan do’a beliau: “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Kekuatan energi positif yang terpancar dari do’a Sang Nabi akhirnya mampu membuat semua penduduk Thaif di kemudian hari mendapatkan hidayah dari Allah S.W.T.

Seorang Imam Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman As-Sudais, masa kecilnya terkenal dengan kenakalannya dan selalu membuat ulah sehingga membuat pusing kedua orang tuanya. Namun di setiap ulah kenakalannya, ibunya selalu berkata walaupun hatinya menahan kesal, “Abdurrahman, kelak kamu akan menjadi Imam Masjidil Haram, sudah jangan nakal, diam.” Ternyata,  kekuatan energi perkataan seorang ibu yang diucapkan berulang-ulang menjadi kenyataan. Setelah dewasa Abdurrahman As-Sudais menjadi Imam Masjidil Haram. Mungkin jika yang diucapkan oleh ibunda Abdurrahman As-Sudais adalah kata-kata negatif dan sumpah serapah selama bertahun-tahun,  Abdurrahman As-Sudais tidak akan mendapatkan pencapaian positif seperti sekarang ini.

Pancaran energi positif sebagai reaksi dari energi negatif juga terjadi pada ibunda Thomas Alva Edison. Dianggap sebagai anak bodoh di sekolahnya, Edison dikembalikan oleh pihak sekolah kepada orang tuanya. Guru kelas Edison menuliskan sepucuk surat kepada ibunda Edison yang isinya, “didiklah anakmu, karena anakmu memiliki kecerdesan yang khusus.” Pada awalnya ibunda Edison merasa kaget dan agak tersinggung setelah anaknya dikembalikan kepadanya oleh pihak sekolah. Dengan telaten dan tekun ibunda Edison mendidik anaknya. Ia berkeyakinan bahwa anaknya tidak sebodoh asumsi pihak sekolahnya. Dan akhirnya fakta berbicara, Thomas Alva Edison menjadi penemu lampu pijar yang jasanya masih dirasakan sampai sekarang dan bahkan sampai nanti. Setelah melakukan seribu kali eksperimen dan baru berhasil pada eksperimen yang terakhir, ia mengatakan bahwa ia tidak melakukan sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali percobaan yang gagal, tapi ia melakukan sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali percobaan yang belum tuntas.

Setiap orang pasti memiliki emosi positif dan menginginkan emosi positif tersebut tidak terganggu dengan emosi negatif. Kesenangan adalah emosi positif. Rasa terima kasih juga emosi positif. Demikian pula dengan ketertarikan, harapan, kebanggaan, inspirasi, kekaguman, cinta, semua itu termasuk emosi positif.

Sebaliknya, tidak ada orang yang menginginkan emosi negatif, walaupun emosi negatif telah menjadi keniscayaan yang pasti terjadi pada manusia. Tak seorang pun menginginkan rasa frustasi, rasa khawatir, rasa amarah, rasa benci, dan rasa kecewa.

Orang yang tersisihkan dari tempat dan posisinya pasti merasakan emosi negatif. Namun demikian, menuruti emosi negatif tentu akan menambah penderitaan. Bila kita mampu mengelola kesabaran kita dalam menghadapi emosi negatif, maka emosi negatif tersebut akan mampu kita konversikan menjadi emosi positif.

Sejarah merekam perjalanan Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. yang dibantu para Sahabat, mengalami situasi terisolir dan bahkan seperti terusir dari Mekkah kota kelahirannya. Nabi s.a.w. dan para Sahabat tetap sabar dan move on dalam menghadapi situasi yang sangat sulit. Sifat sabar mereka refleksikan dengan mengatasi rasa frustasi, fokus kepada mindset mereka, mengatur dan mendisain kembali arah dan tujuan mereka, serta menghadapi situasi yang sulit dengan kelapangan hati.  Kemudian mereka move on dan mengambil keputusan untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah). Apa yang terjadi kemudian? Di Madinah mereka berhasil membuat tatanan kenegaraan yang bersifat civil society atau masyarakat yang berperadaban, bahkan mereka mampu merebut kembali Kota Makkah. Sepeninggal Nabi Muhammad s.a.w., pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., Ummat Islam mampu menaklukkan Romawi dan Persia. Luar biasa dahsyatnya energi sabar yang mampu mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Manakala kita menemukan gejala ketidaksabaran, maka langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah menemukan penyebab ketidaksabaran yang sesungguhnya. Banyak hal yang menjadi pemicu ketidaksabaran kita. Bisa jadi penyebabnya adalah orang-orang yang kita temui, ucapan-ucapan yang terdengar di telinga kita, atau situasi-situasi tertentu. Pada hakikatnya penyebab ketidaksabaran itu adalah diri kita sendiri dalam menghadapi pemicu-pemicu ketidaksabaran. Kita membutuhkan pendingin ketika menghadapi cuaca panas. Kita butuh pakaian hangat ketika menghadapi cuaca dingin. Ketika hujan kita membutuhkan payung. Dalam keadaan paceklik kita harus hemat. Peluru tidak akan lepas jika tidak ditarik pemantiknya oleh kita. Pemicu-pemicu ketidaksabaran diibaratkan sebagai pemantik puluru. Kitalah yang memutuskan apakah akan menarik pemantik senjata atau tidak.

Kuasailah amarah sebelum rasa amarah itu menguasai kita. Memang betul rasa amarah adalah suatu rasa yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Tetapi bila rasa amarah  terlepas dari kontrolnya dan berubah menjadi destruktif, maka akan menjadi masalah baru buat kita, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam kehidupan kita secara luas. Bagaimana cara menguasai amarah kita? Pertama, atur dulu irama nafas kita yang sempat terengah-engah karena rasa amarah kita. Tempo nafas sangat mempengaruhi suasana hati dan alur pikiran kita. Kedua, ucapkanlah kalimat-kalimat yang dapat menenangkan hati kita. Banyak-banyaklah menyebut Asma Allah atau bershalawatlah kepada Nabi. Ketiga, mainkan imajinasi kita. Bukalah memori kita saat kita merasakan senang atau merasakan pengalaman yang menyenangkan. Lepaskanlah tangan kita dari pelatuk atau pemantik peluru amarah, agar peluru amarah tidak terlepas dan melukai siapa pun.

Frustasi dan rasa amarah memberikan dampak yang cukup besar bagi emosi dan fisik kita. Mencurahkan isi hati dan perasaan amarah kita dengan membicarakannya dengan seseorang atau mengalihkannya kepada kegiatan lain dapat meringankan beban perasaan tersebut. Jangan biarkan rasa amarah dan rasa frustasi menjadi berkembang hingga kita tidak mampu lagi mengatasinya.

Rasa frustasi, rasa khawatir, rasa amarah, rasa kecewa, tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Perasaan-perasaan itu bisa juga menghasilkan sesuatu yang positif. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Caranya? Ubah perasaan-perasaan negatif itu sehingga bertransformasi menjadi energi emosi positif. Maksudnya? Jangan mengkonsumsi dan menelan perasaan-perasaan negatif tersebut, tapi gunakan perasaan-perasaan negatif itu untuk menginspirasi diri kita ke arah yang lebih baik. Bersikap kreatif, ya, sekali lagi, bersikap kreatif! Berfikir kreatif, itu sudah biasa. Namun bersikap kreatif, itu luar biasa. Berfikir kreatif dan bersikap kreatif, keduanya akan menjadi satu kombinasi yang dahsyat dan luar biasa.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA
ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar