Selasa, 10 Januari 2017

MENEMPATKAN SABAR PADA POSISINYA YANG BENAR -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaaahi Rabbil 'Aalamiin.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaahu Wahdahuu Laa Syariika Lah
Irghaaman Li Man Jahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh
Sayyidul Khalaa-iqi Wal Basyar
Allaahumm Fa Shalli Wa Sallim Wa Baarik 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.


Allah S.W.T menciptakan, memelihara dan membina alam semesta ini (termasuk manusia sebagai makhlukNya) dengan keMahaSabaranNya. Allah S.W.T. amatlah Sabar dengan segenap kekuasaan dan kehebatanNya. Dia Maha Sabar sekalipun kesabaranNya tidak akan pernah mampu memberikan ancaman bahaya dan rasa sakit terhadap diriNya. Sangat berbeda dengan TuhanNya, kesabaran manusia kadang disebabkan karena kelemahannya menghadapi sesuatu atau bisa pula ketika takut terhadap seseorang. Namun demikian, kelemahan manusia yang seperti itu dapat ditutupi dengan kesabaran. Kesabaran pada dasarnya akan menguatkan manusia, bukan melemahkan. Sabar merupakan sebuah kekuatan, dan tidaklah sabar itu menjadi sebuah kelemahan. Ada “rahasia di balik rahasia” dalam kesabaran itu sendiri. Ada kekuatan dahsyat yang akan muncul dari kesabaran yang dilakoni.

Generasi sebelum kita telah mengajarkan bahwa kesabaran adalah sebuah kebajikan. Kesabaran menjadi sebuah kebajikan yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Amat mudah diucapkan kepada orang lain, tapi sulit dilakukan oleh diri sendiri. Tantangannya pun terasa amat berat, terutama ketika kita masuk ke dalam lingkaran krisis. Namun setelah kita keluar dari pusaran krisis, dan setelah berterima kasih kepada Allah Ta’ala, tidak salah rasanya bila kita  juga ingin memberikan apresiasi kepada “kesabaran” itu sendiri.  Sabar amat identik dengan memaafkan. Walaupun keduanya amat sulit untuk dilakukan, namun buah dan hasil keduanya akan kembali kepada diri sendiri dan menjelma sebagai sebuah kekuatan dan hasil yang dahsyat. Bahkan Allah S.W.T. menyebutkan dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 43 bahwa “sabar” dan “memaafkan” adalah termasuk sebuah kebajikan yang amat mulia. Artinya, jika kita ingin melakukan sebuah kebajikan yang amat mulia, maka sifat “sabar” dan sifat “memaafkan” harus melekat pada diri kita.

Kesabaran dalam mencapai tujuan strategis menjadi faktor terpenting dalam hidup kita. Jika kita ingin sukses di dunia dan di akhirat kita harus bersabar. Secara transendental sabar dijadikan separuhnya iman. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahwa iman itu terbagi dua, separuhnya ada pada sabar dan separuhnya lagi terdapat di dalam syukur (Hadits Riwayat Al-Baihaqi). Pertanyaannya sekarang adalah, apakah yang dimaksud dengan sabar? Banyak teori yang menjelaskan tentang sabar. Pada umumnya orang-orang menstigmakan sabar sebagai keadaan menunggu dalam sebuah kesulitan. Biasanya  seseorang akan menghindari sesuatu yang dinamakan sabar, kecuali bila ia berada dalam keadaan terdesak dan tidak punya pilihan lain.  Dalam melakoni kesabaran itu sendiri, dibutuhkan proses waktu untuk melewati hadangan-hadangan yang sulit.
 Ketika ditimpa beragam masalah dan kesulitan, sikap sabar menjadi sebuah kebutuhan  akhlak dan etika yang terbentuk dari sebuah kombinasi antara ketenangan dan keberanian. Bisa juga sikap sabar dianggap sebagai sebuah kekuatan untuk melawan kesedihan dan derita.  Manakala kita melihat masalah sebagai sebuah sumber musibah, maka jiwa kita akan jauh dari rasa tenang dan selalu diliputi rasa kecemasan. Namun jika kita menganggap masalah sebagai pembelajaran atau guru kehidupan yang dapat menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka jiwa kita akan menjadi jiwa yang tenang dalam menghadapi problematika kehidupan dalam bentuk apa pun. Dekati masalah yang kita hadapi dan jadikan masalah itu sebagai sahabat, bukan sebagai musuh yang harus dijauhi. Kehidupan membawa jutaan masalah. Kematian pun tetap membawa  masalah. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menjauhi masalah.

Kesabaran dan kedisiplinan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Kita harus bersabar untuk menjadi sabar. Ketika seseorang bertahan menghadapi masalah dalam situasi yang sulit, bukan berarti dia hanya duduk berpangku tangan dan hanya menunggu keajaiban yang akan terjadi. Kesabaran tidaklah sama dengan mengabaikan waktu. Untuk mencapai kemajuan dan kemenangan, kesabaran harus dibarengi dengan daya tahan sabar itu sendiri, juga persiapan untuk membuat langkah selanjutnya ataupun move on.

 Allah S.W.T. telah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imron ayat 200, bahwa empat kunci kemenangan dan keberhasilan adalah: SABAR, DAYA TAHAN SABAR,  PERSIAPAN UNTUK MEMBUAT LANGKAH SELANJUTNYA alias move on, dan setelah itu:  TAQWA.  Kesabaran yang tanpa move on tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Allah S.W.T. telah menciptakan alam semesta, dan alam semesta ini selalu bergerak. Ada hukum tarik menarik (Law of Attraction) di alam semesta ini, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kita pun harus mengikuti hukum alam tersebut. Untuk itu kita harus selalu bergerak mengikuti irama alam ini. Apakah sama kesabaran yang selalu bergerak (dinamis dan move on) dengan kesabaran yang hanya berdiam diri (statis)?

Tangkaplah cahaya Ilahi dengan kesabaran. Kesabaran bagi manusia merupakan Dhiya (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan hidup di dunia. Demikian pesan Nabi Muhammad s.a.w. melalui riwayat Imam Muslim. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengagumi seorang mukmin yang bila ia memperoleh kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur, dan bila ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan ia bersabar. Berarti bukan hanya ketika bersyukur kita memuji Allah S.W.T., ketika bersabar (karena ditimpa musibah) pun kita tetap memuji Allah. Dalam Hadits riwayat Turmudzi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka.”

Kesabaran amat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, dan bahkan menjadi kunci penting untuk mencapai kebahagiaan kita. Bersabar juga berarti mampu menunggu dengan tenang dan khidmat di tengah rasa frustasi dan tekanan. Di mana pun ada rasa frustasi dan rasa tertekan, maka di situlah kesempatan kita untuk melatih kesabaran. Kesabaran akan menjadi pembeda antara rasa khawatir dan rasa tenang. Agamawan maupun filosof, semuanya telah lama memberikan angka kredit yang sangat tinggi kepada kesabaran sebagai sebuah kebajikan. Penelitian-penelitian masa kini telah menemukan bahwa  hal-hal positif dan baik akan benar-benar datang kepada orang-orang yang mampu bersabar.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa kita harus menggali  lebih dalam kesabaran kita dalam hidup. Orang-orang yang bersabar akan menikmati kesehatan mental yang lebih baik. Orang-orang yang bersabar tidak akan banyak mengalami depresi dan emosi negatif, sebab mereka mampu mengatasi situasi-situasi yang membuat orang emosi dan tertekan. Mereka juga memposisikan diri mereka untuk berpikir waras dan merasa terkoneksi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan, serta memiliki perasaan yang lebih lepas dan bebas. Orang-orang yang bersabar akan menjadi teman yang lebih baik dan tetangga yang lebih baik. Dalam hubungan atau relasi antar personal, kesabaran akan membentuk sebuah kebaikan. Bayangkanlah seorang sahabat yang dapat membuat kita merasa nyaman ketika kita berada dalam keadaan hati yang sedang remuk dirundung masalah yang sangat berat yang sepertinya sulit untuk dihilangkan. Bahkan orang-orang yang sabar cenderung lebih kooperatif, memiliki rasa empati, dan biasanya lebih pemaaf. Dalam hubungan berkelompok, kesabaran dapat menjadi salah satu dari fondasi masyarakat yang berperadaban. Kesabaran akan menjadi perekat kebersamaan dalam bermasyarakat.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar