Senin, 23 Januari 2017

DIA MEMBERIKAN SURPRISE KEPADA HAMBANYA -- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF Kementerian Agama Kabupaten Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Wa 'Alaa Aaalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah

Ammaa Ba'du.

Allah Ta'ala menjamin rezeki setiap makhluk hidup yang terlahir di dunia ini. Meskipun begitu, Allah Ta'ala memerintahkan setiap makhluknya untuk menjemput rezeki yang telah disediakan.
Hal ini membuat manusia menjadi giat mengais rezeki, bahkan tanpa terasa sampai saling berlomba-lomba untuk medapatkannya. Manusia usia produktif yang malas berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rezeki, biasanya mendapatkan "hukuman alam", dan pasti akan mendapatkan peringatan dari lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerjanya.

Secara normatif rezeki akan kita dapat setelah kita berusaha, dan takaran rezekinya bisa diukur. Dengan berusaha untuk menghasilkan penjualan sekian, akan mendapatkan sekian. Dengan bekerja akan mendapatkan gaji bulanan.

Namun demikian ada kalanya penghasilan dan rezeki manusia tidak mampu dicerna oleh logika kita.
Hukum ekonomi rezeki tidaklah seragam, dan tidaklah sama antara segolongan manusia dengan segolongan manusia lainnya.

Belum tentu manusia pandai memiliki penghasilan yang lebih besar dari manusia yang tidak pandai. Seringkali orang bodoh dalam hal ilmu malah memiliki harta yang melimpah ruah sehingga melebihi harta orang pintar dalam hal ilmu dan pengetahuan. Memang betul ada segelintir orang pintar yang memiliki limpahan harta. Tetapi realitanya, orang yang pintar tidak serta merta menjamin akan menjadi kaya raya. Mengapa demikian? Orang pintar tidak memberikan rezeki. Allah Ta'ala lah yang memberikan rezeki. Seandainya orang berilmu mampu memberikan rezeki, maka semua orang akan meminta rezeki kepada orang berilmu. Nyatanya, rezeki dan harta melimpah adalah kuasa Allah Ta'ala.  

Itulah mengapa Allah Ta'ala menjadikan segolongan manusia berkelebihan dibandingkan segolongan manusia lainnya. Orang yang tidak berkelebihan harta, tidak perlu minder kepada orang yang berkelibahan harta, apalagi sampai hasad dan dengki.

Bagi orang beriman, kekayaan bukanlah harta dalam bentuk materi, melainkan kekayaan ada dalam iman dan hati. Belum tentu orang kaya raya secara materi akan bahagia, dan belum tentu pula orang yang tidak kaya atau orang memiliki keterbatasan harta akan menderita. Orang yang kaya dengan iman dan kaya dengan hatinya pasti akan selalu mengingat Tuhannya, sehingga selalu memohon ampun kepada Tuhannya. Orang-orang yang seperti ini yang selalu diberikan pemberian yang mengejutkan atau pun surprise oleh Allah ta'ala, dalam bentuk apa pun, baik dalam bentuk materi maupun bentuk immateri. Allah Ta'ala selalu memberikan hadiah surprise kepada hamba-hambaNya, sebab Dia menjamin rezeki dari arah yang tak terduga kepada hamba-hambaNya yang selalu beristighfar (memohon ampunanNya) dan bertawakkal (berserah diri kepadaNya dalam setiap usahanya).

Kita sebagai manusia yang dhaif kadang kala tidak sanggup menepati semua janji kita, tetapi Allah Ta'ala tidak pernah ingkar terhadap seluruh janjiNya. Dia pasti menepati semua janjiNya. Terkadang kita tidak sabar menunggu janjiNya, padahal Dia selalu memberikan surprise  kepada hamba-hambaNya.


SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar