Selasa, 13 Desember 2016

ANTITESA TERHADAP AGAMA ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 1)-- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammad
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Ketika saya kecil, banyak orang yang mengakronimkan ISLAM sebagai singkatan dari I(Isya), S(Shubuh). L(Lohor atau Dzuhur), A(Ashar), dan M(Maghrib)."Plesetan positif" ini seperti layaknya "ijtihad" khayalak umum. Sah-sah saja mereka memberikan stigma seperti itu, sebab tiang-tiang Agama Islam adalah 5 shalat fardhu tadi.

Kata ISLAM secara lughawiy adalah bentuk mashdar (infinitive) dari kata aslama -yuslimu. Islam memiliki beberapa makna, yaitu damai, penyerahan total kepada Allah, bersih dan suci, serta selamat dan sejahtera.

Dalam kaca mata terminologi, Islam diistilahkan sebagai "ketundukan seorang hamba kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul khususnya Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam yang dijadikan pedoman hidup, juga sebagai hukum atau aturan Allah Ta'ala yang dapat membimbing ummat manusia ke jalan yang lurus, menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat."

Banyak orang yang berusaha untuk mengorek-ngorek Agama Islam, ajaran Islam, Kitab Suci Agama Islam, hukum Islam, bahkan mengulitinya, hanya dengan satu tujuan, yaitu menemukan kelemahan Islam untuk mengolok-oloknya. Kenyataannya, semakin Islam dipelajari dengan benar, semakin mereka menemukan kebenaran Islam, kesesuaian hukum Islam dengan fitrah manusia. Semakin mereka mengorek-ngorek Kitab Suci Agama Islam (Al-Qur'an Al-Karim), semakin mereka menemukan kesesuaian Al-Qur'an dengan fenomena alam semesta dan fenomena makhluk yang ada di muka bumi, khususnya makhluk yang bernama manusia.

Itulah mengapa Islam dianggap sebagai sebuah tesis kebenaran. Namun demikian, banyak orang yang berusaha membuat antitesis terhadap Islam. Upaya-upaya membuat antitesis terhadap Islam bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bukan pemeluk Agama Islam, bahkan sekelompok pemeluk Agama Islam pun melakukannya.

Islam adalah Islam, agama yang rahmatan lil 'aalamiin. Islam tidak bisa diaduk dengan kapitalis, sekularis, liberalis, sosialis, dan komunis.  Tesis kebenaran Islam adalah Islam itu sendiri. Antitesis terhadap Islam adalah ajaran-ajaran yang sudah disebutkan tadi. Al-Qur'an adalah Al-Qur'an, dan memiliki metodologi penafsirannya sendiri. Al-Qur'an tidak bisa digiring kepada metodologi penafsiran heurmeneutika, sebuah metodologi penafsiran Bibel.

Begitu besarnya dana yang digelontorkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk membalikkan tesis kebenaran menjadi antitesis. Gelontoran dana super besar itu diterima dengan sigap dan cepat para sarjana dan tokoh muslim. Tanpa kebulatan iman di dada, hukum supply and demand proyek besar penggerusan Agama Islam pun jadi berlaku. Ada yang awalnya hanya dijebak saja, tapi lama kelamaan semakin ketagihan dan semakin padam cahaya Islam di dalam dadanya.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.  

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar