Minggu, 25 Desember 2016

SEMUA TAK SAMA, EGALITARISME DALAM PANDANGAN ALLAH YANG TAK MAMPU DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA (Bagian I)-- Oleh: Shabrun Jamil (Orang Awam Pegiat Dakwah, Bekerja Sebagai PAIF di Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Seorang anak SD kelas lima mendapatkan nilai bagus ketika menerima rapor semesternya. Nilai itu ia dapatkan setelah belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Sementara adiknya yang masih kelas dua SD, mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengan abangnya ketika menerima rapor semesternya. Setelah mengetahui adiknya mendapatkan nilai yang sama bagusnya dengannya, kakaknya seketika melayangkan protes kepada orang tuanya. Isi dari protesnya itu adalah, mengapa adiknya yang belajarnya santai dan tidak sungguh-sungguh mendapatkan nilai yang sama bagus dengannya yang telah sangat giat dan sungguh-sungguh dalam belajar.

Tentu kedua orang tuanya dibuat bingung untuk menemukan jawaban yang tepat serta memuaskan anaknya yang masih duduk di kelas lima SD tersebut. Yang mampu dilakukan oleh kedua orang tuanya hanyalah mencari dan memberikan jawaban yang terbaik dan terbijak untuk anak mereka. Tapi untungnya, sang anak yang duduk di kelas lima SD tersebut karakternya lebih easy going dibandingkan adiknya yang masih duduk di kelas dua SD. Kejadian yang dirasakannya dianggapnya hanya sebagai angin lalu saja. Ia tetap menjadi dirinya sendiri yang tetap giat dan sungguh-sungguh dalam belajar, walaupun mungkin di dalam hatinya ia mengakui bahwa adiknya memang lebih pintar dari dirinya. Mungkin batinnya mengatakan bahwa adiknya yang biasa-biasa saja dalam belajar mendapatkan nilai bagus, apalagi jika adiknya belajar dengan sungguh-sungguh, bisa cumlaude nilainya. Namun demikian, ada dua nilai kelebihan yang dimiliki sang kakak, yaitu nilai kerja keras dan sifat easy going nya.

Dalam hidup ini, semua memang tak sama. Adil memang bukan berarti sama rata. Perpektif keadilan menurut manusia berbeda dengan keadilan Allah. Manusia menuntut egalitarisme dalam segala hal, namun kenyataannya situasi, keadaan, dan fakta yang terjadi sering kali tidak sama dan tidak sesuai dengan tuntutan manusia akan egalitarisme. Jangkauan akal manusia tentang keadilan Tuhan ternyata amat sangat terbatas. Akal manusia hanya mampu menjangkau keadilan dalam tataran perspektif, paradigma, dan stigma. Sedangkan keadilan Allah bersifat absolut. Tak ada yang sanggup masuk ke dalam absolutisme keadilan Tuhan. Allah bersifat AL-HAQQ (Yang Maha Benar). Manusia hanya sanggup mendekati nilai kebenaran, tapi bukan nilai kebenaran mutlak, sebab nilai kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Ta'ala. Allah telah menetapkan Syari'atNya untuk dijalankan oleh hamba-hambaNya sebagai sebuah batasan norma-norma kehidupan. Namun demikian, Rahmat Allah yang begitu luas dan Kasih SayangNya membuat kita banyak mendapatkan keringanan dariNya.
Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat. Rabbanaa laa tu'aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa in nasiinaa aw akhtha'naa. Rabbanaa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih. Wa'fu'annaa waghfir lanaa war hamnaa. Anta Maulaanaa fanshurnaa 'alal qoumil kaafiriin. (Q.S. Al-Baqarah : 286).   

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar