Jumat, 16 Desember 2016

ANTITESA TERHADAP AJARAN ISLAM, BERMUARA KEPADA SU'UL KHATIMAH, MAKA HINDARILAH (Bagian 2) -- Oleh: Shabrun Jamil (PAIF Kemenag. Kab. Tangerang)

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Al-Hamdu Lillaahilladzii Arsala Rasuulahuu Bil Hudaa Wa Diinil Haqq
Liyudzhirahuu 'Aladdiini Kullihii Wa Kafaa Billaahi Syahiidaa
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Irghaaman Liman Jaahada Bihii Wa Kafar
Wa Asyhadu Anna Muhammadan 'Abduhuu Wa Rasuuluh Sayyidul Khalaaiqi Wal Basyar
Allaahumma Fashalli Wa Sallim 'Alaa Haadzannabiyyil Kariim
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.

Ammaa Ba'du.

Pasca Perang Salib I & II serta pasca Perang Dunia kesatu dan kedua, orang-orang Barat sangat intens mempelajari Islam tanpa perlu memeluk agama Islam terlebih dahulu. Tujuannya adalah menguliti ajaran-ajaran Islam untuk kemudian merusak Islam dari dalam.  Kenyataannya, semakin mereka mempelajari Islam, semakin mereka menemukan kebenaran Islam. Namun demikian, tesis kebenaran ajaran Islam selalu mereka counter dengan membuat antitesis terhadap ajaran Islam. Orang-orang Barat yang mempelajari Islam kita sebut sebagai orientalis. Walaupun sebenarnya arti orientalis adalah orang-orang yang mempelajari masalah ketimuran (orientalisme), namun stigma orang-orang Barat yang mempelajari Islam telah terlanjur mengakar.

Para orientalis, menurut Edward W Said yang juga seorang orientalis, memiliki beberapa kelemahan. Satu kelemahan yang paling mendasar adalah para orientalis tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab (sastra dan gramatikanya) yang memadai, sehingga tidak memiliki sense of language atau rasa bahasa yang cukup, dan membuat konteksnya tidak sesuai dengan sumber utama ajaran Islam, Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Pada hakikatnya, pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun Al-Qur'an juga dipelajari oleh orang-orang Yahudi Madinah. Mereka mempelajari Al-Qur'an bukan untuk mengimaninya, tetapi malah mengolok-oloknya. Olokan-olokan kaum Yahudi terhadap ayat-ayat Allah dalam Kitab-kitab suciNya sudah dilakukan sejak zaman para Nabi terdahulu. Bahkan mereka sengaja merubah ayat-ayat Allah. Kitab Injil telah menjadi korban kejahilan mereka, apalagi Kitab Taurat. Bahkan akhirnya kaum Yahudi menggunakan Kitab karangan mereka sendiri, yaitu Tabut.

Afatathma'uuna ayyu'minuu lakum wa qad kaana fariiqumminhum yasma'uuna kalaamallaahi tsumma yuharrifuunahuu mimba'di maa 'aqaluuhu wa hum ya'lamuun. (Q.S. 2: 75)
"Maka apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya."

Adakah Al-Qur'an dan As-Sunnah mengalami perubahan sampai saat ini. Seringkali Al-Qur'an dinistakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab, baik dengan dalih ilmiah maupun dengan dalih politik. Tapi tetap, Al-Qur'an terjaga keasliannya.

Iblis la'natullah dan syetan-syetan akan terus berusaha dengan segala upaya untuk membuat kita ragu dengan tesis kebenaran ajaran Islam. Sampai saat menjelang sakaratul maut, syetan akan terus berusaha untuk menggelincirkan keyakinan kita terhadap ajaran Islam. Di situlah pertarungan seorang manusia dalam melepas masa hidup di dunia, apakah husnul khatimah ataukah suu-ul khatimah.

Mudah-mudahan kehidupan kita berakhir dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar