Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahilladzii Shadaqa Wa'dah Wa Nashara 'Abdah
Wa A'azza Jundahuu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Karakteristik sebagai katalisator dan problem solver melekat pada diri junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua orang mengakui kesuksesannya mendominasi Jazirah Arab. Ia dinobatkan sebagai ahli perang yang cerdik, seorang manusia yang penuh loyalitas terhadap kemanusiaan, seorang yang ma'shum, juga kesetiaannya menghadapi penindasan dan penganiayaan. Ia dikenal sebagai sosok yang al-amin (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), tabligh (penyampai wahyu dan risalah kenabian), dan shiddiq (perkataannya selalu benar).
Bila kita ingin melihat egalitarianisme atau persamaan hak asasi manusia dalam Islam, maka lihatlah sosok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam merumskan sebuah Piagam yang kemudian disebut dengan Piagam Madinah, sebuah Piagam atau Pakta yang mengatur hak dan kewajian seluruh warga negara dan hubungan antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sifatnya yang al-amin ketika mengemban amanah, membuat Piagam Madinah benar-benar teraplikasikan untuk rakyat Madinah secara keseluruhan. Ini adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
Berapa banyak Piagam atau Pakta atau pun Charter yang hanya tinggal tulisan dan tanda tangan di atas kertas. Banyak Nota-nota Kesepahaman yang awalnya sangat kencang dilaksanakan tapi lama kelamaan implementasinya menjadi melempem.
Shahiifatul Madiinah atau Konstitusi Madinah (Piagam Madinah) yang implementasinya sangat kuat menjadi tonggak sejarah awal egalitarianisme, empat belas abad sebelum adanya Universal Declaration of Human Rights.
Allah Ta'ala mengutus seorang manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ke muka bumi sebagai penutup Para Nabi dan Rasul. Egalitarianisme yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah egalitarianisme yang berdasarkan Wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Egalitarianisme transendetal tidaklah berlawanan dengan kehidupan dunia ini. Keilahian bukan semata masuk dalam ranah spiritual yang bersifat pribadi. Keilahian juga mencakup Spiritual Madani. Itulah mengapa bangunan egalitarianisme di negara Madinah disebut Civil Society atau masyarakat yang berperadaban.
Ketidaksamaan dalam kesamaan, dan kesamaan dalam ketidaksamaan, adalah sebuah keniscayaan hidup yang harus diakomodir. Saling mengisi, itulah kuncinya, untuk menjaga harmoni dalam irama hidup. Keadilan yang sebenarnya adalah mutlak milik Allah Ta'ala. Banyak hal dalam hidup ini yang kadang kala tak mampu dicerna oleh keterbatasan logika kita. Nabi Musa 'alahissalam pun akhirnya menyerah untuk mengikui Nabi Khidir 'alaihissalam. Allah Ta'ala menyuruh Nabi Musa 'alaihissalam untuk belajar kepada Nabi Khidir 'alahissalam dengan mengikuti perjalanannya. Namun apa daya, ilmu yang Allah Ta'ala berikan kepada Nabi Khidir 'alaihissalam tak mampu dicerna oleh logika berpikir Nabi Musa 'alaihissalam, walaupun pada zamannya Nabi Musa adalah orang yang paling pintar dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BI HAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar