Bismillahirrahmanirrahim.
Asslamu'alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh.
Alhamdu Lillaahilladzii 'allamal insaana bil qolami wa 'allamal insaana maa lam ya'lam.
Allaahumma Shalli wa Salllim wa Baarik 'alaa Sayyidinaa Muhammadin al-faatihi limaa ughliqa wal khaatimi limaa sabaqa wannaashiril haqqi bil haqqi wal haadii ilaa shiraathikal mustaqiim, Shallaahu 'alaihi wa 'alaa Aalihii wa Ashhaabihii haqqa qadrihii wa miqdaarihil 'adziim.
Ammaa ba'du.
ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 2)
Begitu istimewanya adab bertetangga dalam etika Islam, hingga Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam bersaba dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar dan 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma: "maa zaala Jibriilu yuushiinii bil jaari hattaa dzanantu annahuu sayuuritsuhu (rawaahul bukhaary wa muslim)", yang artinya: "Selalu Jibril menasehatiku tentang tetangga hingga aku berprasangka seakan-akan Jibril akan memberikan warisan kepada tetangga (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallaahu 'alaihi wa sallam juga menganjurkan untuk tidak malu memberikan hadiah kepada tetangga, dan menganjurkan untuk tidak minder dalam memberikan hadiah. Tujuannya tentu saja untuk memperkuat ikatan silaturrahmi antar tetangga sehingga menciptakan spirit yang harmonis dalam tatanan kehidupan bertetangga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Yaa nisaa-ul muslimaat: laa tahqiranna jaaratun lijaaratihaa wa lau firsanu syaatin (rawaahul bukhaary wa muslim)", yang artinya: "Wahai wanita-wanita muslimat, janganlah sekali-kali seorang tetangga merasa terhina dengan tetangga lainnya walaupun hanya dengan kikil kambing (HR. Bukhari dan Muslim)"
Berkenaan dengan memberikan hadiah kepada tetangga, Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah dinasehati oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Yaa Abaa Dzarrin, idzaa thabakhta maraqatan faaktsir maa-haa wa ta'aahad jiiraanaka (rawaahu muslim)", yang artinya: "Wahai Abu Dzar, jika engkau masak sayuran maka perbanyaklah kuahnya dan bagikannlah kepada tetanggamu (HR. Muslim)"
Tidak bisa kita pungkiri dalam hidup ini, terkadang kita harus berhadapan dengan orang yang kita anggap tidak baik di ligkungan sekitar, termasuk tetanggga. Sindiran, cibiran, hingga tak diajak bertegur sapa, barangkali pernah kita alami. Cukup bisa dimaklumi sebenarnya. Namanya juga kehidupan dunia, pasti ada "lover", "follower", bahkan mungkin "hater".
Terkadang hidup ini bagaikan lelucon. Bisa jadi orang yang tadinya baik-baik kepada kita, tiba-tiba menjadi benci kepada kita. Dari sini muncul sebuah pertanyaan, kenapa seseorang bisa tiba-tiba benci kepada orang lain? Menurut ilmu psikologi, hal ini terjadi dari pikiran sadar kita yang menyerap atau menerima respon dan masuk ke dalam otak, kemudian lambat laun tertanam dalam syaraf-syaraf pikiran kita dan akhirnya sampai masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Pikiran kita pada akhirnya sedikit demi sedikit terkontaminasi oleh perasaan tersebut.
Hendaknya kita tetap bersabar dan berlapang dada menghadapi tetangga yang berperilaku negatif kepada kita. Sebelum kita terbawa emosi, kita analisa dulu perbuatan mereka. Bisa saja mereka mengalami himpitan-himpitan psikologis sehingga mereka mereka berperilaku kepada kita seperti orang stres. Namun demikian, tidak perlu kita khawatir dan terlena dengan keadaan tersebut. Manakala kita memberikan radiasi energi perilaku positif kepada energi perilaku negatif mereka, maka yakinlah bahwa lambat laun energi negatif yang melekat kepada perilaku mereka pasti akan sirna.
Do'a para malaikat selalu mengiringi orang-orang yang bersabar. Kuantum energi do'a yang luar biasa ini menjadi sugesti yang sangat dahsyat, sehingga orang yang bermaksud menghinakan kita justru justru bisa berbalik kepadanya. Tapi buka itu yang kita harapkan. Yang kita harapkan adalah kembalinya tetangga yang berperilaku negatif tersebut ke jalan yang benar.
Tentu sabar yang dimaksud dalam hal ini adalah sabar dalam menjalani sebuah kebenaran, dan bukan sabar dalam mempertahankan kesalahan. Sabar adalah sebuah keniscayaan yang harus ditempuh dalam hidup bertetangga. Prinsip bertetangga bukanlah prinsip "menang atau kalah", tetapi prinsip bertetangga adalah prinsip win-win solution atau sama-sama menang.
Sungguh Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala urusan agama dan dunianya. Perkara besar hingga perkara kecil, semua dijelaskan oleh Islam.
SubhaanaKallaahumma wa bihamdiKa, asyhadu allaa ilaaha illaa ANTA, astaghfiruKa wa atuubu ilaiK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar