Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaah
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Rasuulillaah
Sayyidinaa Muhammad ibni 'Abdillaah
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Wa Man Waalah.
Ammaa Ba'du.
Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Kitabnya Al-Muqaddimah, mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat, umat manusia, peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat, seperti kelahiran, keramah tamahan, dan solidaritas golongan, tentang revolusi dan pemberontakan rakyat melawan golongan lain. akibat timbulnya kerajaan-kerajaan dan negara dengan tingkatan bermacam-macam kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencapai kemajuan kehidupannya, berbagai macam ilmu pengetahuan, dan pada umumnya tentang segala macam perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.
Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan sosiologi dengan observasi sejarah. Menurut Ibnu Khaldun, suatu fenomena sosial mustahil muncul dengan sendirinya. Selalu ada faktor pemicu seseorang atau sekumpulan masyarakat untuk melakukan perbuatan tersebut. Selain itu, suatu peristiwa juga pasti memiliki kaitan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya, yang menjadi faktor pemicu dari rangkaian peristiwa tersebut.
Rangkaian peristiwa yang terjadi akan memberikan makna pada sejarah. Sejarah adalah hasil dari proses dialektika manusia dengan sesamanya serta dengan alam tempat manusia tinggal. Sejarah bukanlah dongeng yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebaliknyam, ia adalah realitas empiris yang benar-benar terjadi. Untuk menjadi otentitasnya, sejarah perlu pembuktian. Karena dengan begitu banyaknya versi-versi sejarah yang berseliweran, dikhawatirkan akan mencederai sejarah itu sendiri.
Banyak kata dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Arab. Salah satu contohnya adalah kata "kursi" yang berasala dari kursiyyun, sebuah kata dalam Bahasa Arab. Demikian pula hanya dengan kata "sejarah". Secara etimologi, "sejarah" berasal dari Bahasa Arab, yaitu syajaratun atau syarajah, yang artinya adalah pohon. Pohon adalah simbol kehidupan. Di dalam pohon terdapat bagian-bagian seperti batang, ranting, daun, akar, dan buah. Bagian-bagian dari pohon itu memiliki hubungan yang sangat terkait dan membentuk pohon tersebut menjadi hidup. Ada dinamika yang bersifat aktif. Dinamika tersebut terus-menerus terjadi beriringan dengan waktu dan ruang di mana kehidupan itu ada. Sama seperti pohon, sejarah bersifat dinamis. Tidak ada sejarah yang bersifat statis. Dinamika sejarah adalah sebuah keniscayaan.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar