Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Al-Hamdu Lillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Wasshalaatu Wassalaamu 'Alaa Asyrafil Anbiyaa-i Wal Mursaliin.
Sayyidinaa Wa Nabiyyinaa Muhammadin.
Wa 'Alaa Aalihii Wa Shahbihii Ajma'iin.
Ammaa Ba'du.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullaahu berkata: "Sesungguhnya aku sedang menasehati kamu, bukanlah berarti akulah yang terbaik dalam kalangan kamu. Bukan juga yang paling shaleh dalam kalangan kamu, karena aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu menyampaikan dakwah apabila dia sempurnya, niscaya tidak akan ada pendakwah.Maka akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan."
Seringkali Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada Abu Dzar Al-Ghifari. Nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari bukan semata hanya untuk dirinya saja, tetapi juga untuk ummat Nabi Muhammad shallaahu 'alaihi wa sallam.
Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyampaikan empat poin penting sebagai nasehat kepada Abu Dzar Al-Ghifary, yang menjadi bekal yang sangat berharga dalam hidup.
Empat hal tersebut adalah:
1. Yaa Abaa Dzarrin, jaddidissafiinata fa innal bahra 'amiiqun.
Wahai Abu Dzar, perbaikilah perahumu, karena lautan ini teramat dalam.
2.Wa Khudzizzaada kaamilan, fa innassafara ba'iidun.
Persiapkanlah bekal yang cukup, karena perjalanan ini teramat jauh.
3. Wa khaffifil hamla fa innal 'aqabata ku'uudun.
Ringankanlah beban bawaanmu, karena pendakian ini akan sangat melelahkan.
4. Wa akhlishil 'amala, fa innannaaqida bashiirun.
Dan ikhlaskanlah perbuatanmu karena Sang Maha Peneliti Amal (Allah Ta'ala) Maha Melihat.
"Kendaraan" untuk perjalanan mengarungi kehidupan ini harus kita rawat secara apik. Rusak sedikit saja "kendaraan" kita, akan membuat perahu tenggelam, pesawat oleng dan jatuh, mobil akan mogok di tengah jalan. Yang dimaksud dengan "kendaraan" di sini adalah hati yang lapang.
Yang menjadi bahan bakarnya adalah sabar, syukur, ikhlas, dan tawakkal.
Bekalnya adalah ilmu dan amal. Ilmu yang diamalkan dan amaliah yang berdasarkan ilmu. Ilmu tanpa amal akan lumpuh. Amal tanpa ilmu akan buta.
Syarat diterimanya amal perbuatan yang berdasarkan ilmu adalah ikhlas, dan itu tidak bisa ditawar-tawa lagi. Ikhlas adalah urusan hati. Yang menguasai hati manusia adalah Allah Ta'ala. Para malaikat hanya bertugas mencatat amal perbuatan manusia saja. Para malaikat tidak tahu menahu soal hati manusia. Mungkin saja para malaikat ditipu oleh manusia dengan banyak amal perbuatan yang kelihatan baik, tetapi Allah 'Azza Wa Jalla sama sekali tidak akan pernah ditipu. Kesombongan (takabbur, kibriya) akan menghancurkan amal baik. Sifat hasad dan dengki akan membakar amal baik. Celaan yang menyertai sedekah akan menghapus amal sedekah.
Sifat riya (hanya semata-mata mengharapkan pujian manusia) juga akan menghapus amal perbuatan baik. Namun harus dibedakan, antara sifat riya dan menceritakan nikmat Allah. Menceritakan nikmat Allah yang kita terima adalah sebuah perintah, dan itu disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Addluha.
Ya Allah Ya Rabb! Jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Amin.
SUBHAANAKALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar