Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh.
Al-Hamdulillahilladzii khalaqal insaan, wa 'allamahul bayaan.
Wasshalaatu wassalamu 'alaa Sayyidinaa wa Nabiyyinaa Muhammadin
wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa mawwaalah.
Ammaa ba'du.
ADAB BERTETANGGA DALAM ISLAM (BAGIAN 1)
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Sebagai konsekuensinya, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Tetangga menjadi sosok yang akrab dalam keseharian kehidupan kita. Maka tak heran bila tetangga kita lebih mengetahui keadaan kita ketimbang kerabat yang tempat tinggalnya jauh dari tempat tinggal kita. Bahkan ketika kita sakit dan ditimpa musibah, tetanggalah yang pertama kali mengulurkan tangan untuk membantu kita.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 36: "Wa'budullaaha wa laa tusyrikuu bihii syaiawwa bil waalidaini ihsaanawwa bidzil qurbaa wal yataamaa wal masaakiini wal jaari dzil qurbaa wal jaaril junubi wasshaahibi bil janbi wabnissabiili wa maa malakat aimaanukum. Innallaaha laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuraa." (Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan), dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri).
Islam sangat menekankan kepada kita untuk berbuat baik kepada tetangga. Harmonisnya hubungan antar tetangga mendatangkan mashlahat yang begitu besar. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Man kaan yu'minu billaahi wal yaumil akhiri falyuhsin ilaa jaarihi, yang artinya: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berbuat baiklah kepada tetangga." (HR Bukhari no: 4787 dan Muslim no: 69 lafadz hadits milik Muslim).
Kehidupan manusia yang baik dipenuhi dengan spirit tasamuh (toleransi), serta ta'awun (tolong menolong) dalam kebaikan dan taqwa. Dengan demikian, keamanan, keterntraman, dan roda kehidupan yang didasari rasa saling menghormati dapat semakin kokoh.
Sebaliknya, sikap ananiyyah (egoisme), su-uzzhan (berburuk sangka), tajassus (saling mata-mematai), ghibah (menggunjing aib orang lain), serta sederet akhlaqul madzmumah (etika tercela) lainnya akan merusak tatanan kehidupan bertetangga.
Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa menyakiti tetangga adalah sebab terjerumusnya seseorang dalam neraka walalaupun dia adalah ahli ibadah.
Dalam hadits lain dikatakan: 'An Abii Syuraih radhiyallahu 'anhu annannabiyya Shallallaahu 'alaihi wa sallama qaala; wallaahi laa yu'min, wallaahi laa yu'min, wallaahi laa yu'min, qiila; man yaa Rasuulallah? qaala alladzii laa ya'manu bawaa-iquhu (rawaahul bukhaary), yang artinya: "Dari Abi Syuraih radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanyakan kepada beliau: siapakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu orang yang membuat tetangganya tidak aman. (HR. Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar